
Jemari Radit yang keras membelai lembut tengkuk Jelita. Tangannya kembali menangkup wajah cantik itu dan menatap dalam sepasang bola mata indah milik gadis muda di hadapannya. Dengan penuh kehangatan, Radit menyingkirkan anak rambut yang jatuh menutupi bagian kening Jelita.
Sentuhan yang begitu lembut membuat Jelita terbuai dan tak berkutik. Tubuhnya berdiri kaku layaknya pajangan patung di tengah museum. Jelita seakan tidak punya daya untuk sekedar menepis belaian sensual jari-jari Radit yang kini bermain di bibirnya. Hati dan pikirannya berjalan di jalan yang berbeda. Otaknya tetap berpegang teguh menyatakan, Radit kakaknya. Tidak seharusnya ia memiliki rasa nyaman dan menuntut seperti ini. Tapi di belahan lain, hatinya justru terus mendorong untuk melawan norma itu.
Jelita bingung dan bimbang. Ia tidak mengerti dengan hati dan pikiran gilanya. Sentuhan yang ia dapatkan dari Radit lebih menyentuh dari yang Zain berikan. Dirinya yang selalu menolak sentuhan Zain selaku pacarnya, kini justru menuntut sentuhan yang selalu ia tolak itu dari Radit yang nyatanya kakaknya sendiri. Ini sangat gila bukan? Tidak waras. Kotor dan tak beradab.
"Kak, hentikan" Jelita mengucapkan kalimat itu susah payah. Ia meminta Radit berhenti mengusap pipinya.
Jelita mendorong bahu Radit pelan namun dengan cekatan Radit mengembalikan posisi Jelita ke hadapannya.
"Kak, minggir gak" suruh Jelita mendelik.
Radit mendorong tubuhnya maju. Wajahnya berhenti tepat di muara mulut Jelita. Hanya dengan satu gerakan saja maka sepasang bibir itu akan menyatu.
Refleks Jelita mencengkram bagian dressnya yang menjuntai. Ia gugup setengah mati. Debaran di dadanya membuatnya tak mampu menatap wajah pria tampan penuh kharisma itu. Matanya yang terus berkedip cepat menandakan dengan sangat jelas rasa gugup yang menyerang dadanya.
"Happy birthday, Jelita" ucap Radit berbisik lirih.
Seperti alunan lagu kesukaannya, suara lembut Radit menembus ke ulu hati. Hatinya tersentuh dengan kalimat singkat itu. Kalimat yang tadinya ia pikir tidak akan dapat ia dengar dari mulut Radit malam ini.
Tiba-tiba ponsel Jelita berdering.
"Hhmm itu pasti Zain" gumamnya.
Jelita melebarkan kaki untuk menjawab panggilan yang masuk namun Radit meraih pundak Jelita dan tanpa sengaja menarik tali dress yang melingkar di bagian bahu sang adik. Sontak Jelita terkejut melihat tali dress yang dikenakannya lolos dari pundaknya hingga menampakkan sedikit belahan dada mulusnya.
"Kak"
Seandainya lo bukan adik gue, Ta. Tapi lo kan....
Radit membuang segala keraguannya, ia mendorong kasar tubuh Jelita ke dinding lalu melesatkan kecupan liarnya di bibir ranum itu sekali lagi. Jelita gelagapan, tubuhnya tidak siap dengan serangan yang Radit lakukan. Setiap kali Jelita mencoba mengendalikan dirinya, saat itu pula Radit semakin menggila. Setiap inci bibir Jelita tidak luput dari cumbuannya. Punggung gadis itu terhentak ke belakang begitu Radit semakin mempermainkan bibirnya seperti mainan anak-anak. Awalnya Jelita ragu dan bimbang, namun tiba-tiba hasrat terpendamnya meninggi dan menyambut permainan lidah Radit di dalam mulutnya.
Gak...gak...ini gak benar, batin Jelita.
"Kak, ahh" desis Jelita dengan nafas tersengal. Dadanya bergemuruh keras dengan gerakan naik turun. Ia mendorong pria di depannya dengan segenap kekuatannya.
Radit melebarkan kaki, menempel tanpa sekat pada Jelita sekali lagi. Ia memukul dinding dengan raut wajah frustasi. Hal itu membuat tangan Jelita gemetar. Kemudian Radit mengankat wajah Jelita yang selalu ditekuk itu. Keduanya saling menatap intens.
Masing-masing tak ada yang bersuara. Sepi dan senyap, hanya terdengar deruan nafas yang tak stabil dalam ruangan itu.
Kenapa lo harus jadi adik gue? Kenapa mama harus....., Radit menghentikan pertanyaan di hatinya. Apapun itu tidak akan merubah status kakak adik antara dirinya dan Jelita. Mau tidak mau. Suka tidak suka, ia harus menerima kenyataan itu.
"Tidurlah" ucap Radit seraya menekan handle pintu.
Jelita menahan tangan Radit. Pintu yang sempat terbuka sedikit itu kembali tertutup rapat.
"Kak, kenapa lo cium gue?" pertanyaan ini selalu berputar di kepala Jelita sejak ciuman pertamanya dirampas.
"Kenapa? Waktu kecil, kita sering ciuman begini. Lo adik gue" balas Radit enteng seakan semua yang terjadi tidaklah berarti baginya.
"Lo bohong kak. Ciuman lo barusan, bukan karena lo nganggap gue adik. Gue bukan adik kecil lo lagi. Gue udah gede, udah kuliah, gue juga udah punya pacar"
Radit mengecup bibir Jelita lagi dan lagi, kecupan ringan dan singkat. Membiarkan sepasang bibir itu menempel beberapa saat. Radit ingin melihat reaksi gadis yang kini dalam belenggunya.
"Kenapa lo gak nolak?" tanyanya mengurai diri.
Lagi-lagi Jelita berdiri kaku seperti patung. Ia hanya memutar bola matanya, bingung. Ia sendiri tidak mengerti dan hampir depresi memikirkan gemuruh rasa di sanubarinya. Radit kakaknya. Dan kenapa ia membiarkan bibirnya dipermainkan liar oleh pria yang sejak kecil ia panggil kakak itu?
Kebisuan Jelita membuat Radit mengerti. Ia harus menghentikan ini. Sikapnya sekarang hanya akan membuat adiknya itu semakin bingung. Biar bagaimanapun ada perasaan yang harus ia jaga. Membuat Jelita terlalu larut dalam hubungan aneh ini, hanya akan mendatangkan penderitaan nantinya. Tugasnya menjaga Jelita sebagai adik bukan untuk yang lainnya.
Radit memandang sesaat belahan dada yang terbuka itu. Ia menarik tali dress yang menjuntai di lengan Jelita kembali ke posisi yang benar.
"Jangan memakai baju seperti ini lagi" ucap Radit sebelum kembali ke kamarnya.
Jelita terduduk lemas setelah Radit pergi. Sejuta pertanyaan memenuhi kepalanya. Kenapa dirinya ada dalam situasi aneh ini?
Radit kakak gue...Radit kakak gue...Radit kakak gue..., ucap Jelita menekankan kalimat yang sama.
...***...
Pagi itu, Jelita pergi sendiri ke kampus. Ia sengaja tidak menunggu Radit karena belum bisa melupakan kejadian semalam. Ia juga menolak tawaran Zain yang ingin menjemputnya untuk pergi ke kampus bersama. Karena jujur ia merasa bersalah dengan kekasihnya itu.
"Bi Asmi, Jelita mana?" tanya Radit sembari duduk.
"Non Jelita sudah berangkat kuliah, deng" Radit menurunkan kembali secangkir teh hangat di tangannya. "Dia sarapan dulu gak bi?"
"Gak. Katanya mau sarapan di kampus saja"
Radit menyandarkan punggungnya ke kursi lalu memejamkan mata sejenak. Berulang kali Radit memukul kepalanya pelan. Seharusnya semalam ia bisa mengontrol diri. Sekarang semuanya akan menjadi serba canggung, pikir Radit. Mungkin adiknya itu akan menghindarinya nanti.
"Ta, lo kenapa? Kok dari tadi muka lo ditekuk gitu. Lo lagi ada masalah? Cerita dong" ucap Agnes yang selalu setia menemani Jelita di kampus.
"Gak ada, Nes" balas Jelita singkat.
"Tapi lo gak biasanya gini. Lo biasanya cerewet, gak bisa diam"
"Lo nanya, apa ngeledek gue sih" sahutnya cemberut.
"Dua-duanya"
"Masalah gue ini rumit banget, Nes. Bahkan lebih rumit dari rumus fisika. Gue gak tahu caranya keluar dari masalah ini" ujar Jelita sendu.
"Ya masalah lo apa? Cerita sama gue. Siapa tahu gue bisa kasih lo solusi. Gini-gini gue pintar loh nyelesain masalah"
"Alah lo aja lima kali lima gak tahu" sahut Jelita tidak percaya.
"Sialan lo, Ta. Tahu gue gila"
"Berapa?"
"Lima puluh"
Seketika dua sekawan itu tertawa lepas. Agnes memang sekonyol itu. Gadis sederhana dan manis itu selalu punya cara untuk menghibur orang-orang di sekitarnya. Itulah yang membuat Jelita sangat betah berteman dengan gadis sederhana ini. Mereka memiliki frekuensi yang sama. Tidak suka sepi tapi tidak terlalu suka keramaian. Suka makan apa saja tapi tetap pilih-pilih soal makanan. Kesamaan itu membuat pertemanan mereka tetap terjalin sampai sekarang. Dari segi ekonomi keduanya memang jauh berbeda. Agnes berasal dari keluarga yang sangat-sangat sederhana bahkan ia kuliah juga karena mendapatkan beasiswa dari kampus. Namun Jelita tidak peduli dengan itu semua. Jika sudah nyaman maka ia akan tetap bertahan dengan orang tersebut. Tidak peduli biarpun semua orang menentang.
"Hai" entah sejak kapan Zain tiba. Pria itu ada dimana-mana.
"Hai. Kamu sudah selesai kelasnya?" tanya Jelita.
"Sudah. Kamu mau langsung pulang atau...
"Langsung pulang saja" sambar Jelita. "Hmm Zain, Agnes boleh kan ikut kita? Kamu gak keberatan kan antar Agnes dulu?"
"Tentu saja boleh. Kita pulang sekarang atau mau makan dulu?" tawar Zain bersahaja.
Jelita menatap haru pada Zain. Pria baik dan setulus ini, kenapa sulit sekali meruntuhkan dinding pembatas di hatinya?
Sekitar 30 menit, mobil Zain akhirnya terparkir di depan rumah Agnes yang sederhana.
"Sampai jumpa besok, Nes. Oh ya ntar malam jangan lupa kirim ya jawabannya sama gue"
Agnes melotot kesal.
"Lo minta Zain ngasih gue tumpangan karena ini kan?" tanya Agnes curiga.
"Emang" Jelita tertawa geli. " Tapi gue beneran sayang kok sama lo, Nes" timpalnya lagi.
"Ya udah balik lo sana. Ntar malam gue kirim. By the way, Zain terima kasih ya tumpangannya"
Zain mengacungkan jempolnya sambil menganggukkan kepala.
Terima kasih banyak, Zain. Hah! Seandainya lo bukan pacar Jelita. Tapi walaupun bukan, lo tetap gak akan suka sama gue, batin Agnes sembari memandang mobil Zain yang kian menjauh.
Pukul 05.00 sore, Jelita tiba di rumah. Seperti biasa keadaan rumah sangat sepi. Jelita bosan dengan keadaan rumah yang seperti ini. Ia ingin mama dan papanya segera pulang. Saat Jelita menaiki anak tangga tepat di pertengahan, Radit tiba-tiba muncul di hadapan Jelita. Pria itu menuruni tangga dan melewati Jelita tanpa menyapa. Baik Radit dan Jelita melangkah mengikuti tujuannya masing-masing.
Pukul 19.00 pm, Jelita turun ke bawah untuk makan malam. Ia pikir di ruang makan ini akan melihat Radit namun ternyata kakaknya itu tidak terlihat sedikitpun batang hidungnya.
"Bi, kak Radit sudah turun belum?"
"Sudah. Setelah makan, deng Radit langsung balik ke kamarnya, non" tutur bi Asmi.
Jelita menggaruk kepalanya. Belum hilang frustasinya atas apa yang terjadi malam kemarin. Kini ia dibuat gondok dengan sikap Radit yang mengabaikannya.
"Ini gak bisa di biarin. Gue yang dicium. Kenapa dia yang marah?" Jelita berjalan cepat menuju kamar Radit.
Tok! Tok! Tok!
Karena tidak ada sahutan dari dalam. Jelita pun nekad menerobos masuk.
"Yeahhh" teriak Radit buru-buru menarik celananya ke atas.
Jelita langsung berbalik badan. Sama seperti Radit, ia juga terkejut. Untung saja Radit sudah memakai ****** *****. Jika tidak, ia pasti sudah melihat semuanya.
"Sudah belum?" tanya Jelita.
"Apanya?"
"Ya celana lo sudah dipakai belum?"
"Lo ngapain ke kamar gue?" Radit duduk di ujung kasur.
"Kak, kita harus nyelesain masalah ini" ucap Jelita sambil melangkah menghampiri Radit.
"Masalah apa?"
"Soalnya ciuman itu"
"Masih mau dibahas?" tanya Radit malas.
Wajah Jelita terasa panas begitupun kupingnya. Bisa-bisa Radit bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Wahh, lo emang nyebelin ya. Gak salah gue bilang begitu. Lo udah buat gue bingung. Udah buat gue gak bisa tidur. Udah buat gue seharian ini gelisah. Dan sekarang lo ngomong gitu. Lo itu ya....
Radit menarik paksa tangan Jelita hingga duduk di pangkuannya. Tangan kanannya menahan punggung Jelita agar tidak jatuh.
"Terus mau lo apa?" tanya Radit dengan suara beratnya, khas suara laki-laki.
"Gue gak mau apa-apa" ucap Jelita gagap. "Gue cuman mau nanya, kenapa lo cium gue?" sambungnya gugup setengah mati.