
Tepat pukul enam pagi terdengar bunyi nyaring dari sebuah ponsel yang tergeletak di sisi bantal. Pemilik ponsel itupun terbangun. Tubuhnya menggeliat hebat untuk meregangkan otot-otot yang kaku.
"Ahh jam berapa sih?" Jelita meraba-raba area sekitar bantalnya. Matanya terbuka sedikit saat melihat layar ponselnya yang menyala. "Kok cepat banget sih paginya" keluhnya malas beranjak.
Jelita meletakkan ponselnya kembali lalu mengganti posisi menghadap ke kanan.
Betapa terkejutnya gadis itu saat melihat sosok pria yang sedang terlelap tidak jauh dari posisi tempat tidurnya. Ia mengusap mata untuk memastikan penglihatannya masih berfungsi dengan baik.
"Kak Radit. Dia tidur di mes juga" gumamnya seraya bangkit dan melangkah mendekati pria itu.
Ia berjongkok tepat di hadapan sang pria agar bisa lebih leluasa melihat wajah tampan di depannya.
"Hmm untung wajahnya tidak berubah. Dia masih tampan seperti dulu. Malah sekarang semakin tampan" puji Jelita sembari membelai wajah Radit.
Tiba-tiba Jelita menarik tangannya. Ia tersentak dan tertampar akan sesuatu.
"Gak...gak lo gak boleh baper Ta" ucapnya menggelengkan kepala. "Kak Radit sudah menikah. Lo tidak berhak lagi memiliki perasaan untuknya" tambahnya sembari berdiri.
"Mending gue pulang dulu. Sekarang baru jam enam. Gue punya waktu dua jam untuk siap-siap" Jelita meraih ponselnya dan memandang Radit sekilas sebelumnya akhirnya pergi.
Radit membuka mata perlahan tak lama setelah gadis yang sempat membelai pipinya pergi. Ia merenung sejenak dengan mimik datar. Pandangannya tampak kosong jika dilihat dari luar namun sebenarnya pria itu menyimpan perdebatan batin yang teramat menyakitkan.
...***...
"Hah...untung bu Retno pintar nyariin gue kontrakan gak jauh dari kantor. Jadi gue bisa lebih santai walaupun waktu sudah mepet" ujar Jelita bersyukur dengan satu keberuntungan kecil dalam hidupnya.
"Masih 30 menit lagi. Mending gue masak mie dulu deh. Lumayanlah buat ganjal perut sampai siang nanti" katanya sembari memanaskan air.
Selesai makan, Jelita langsung bergegas ke kantor. Begitu tiba di depan pintu utama, lagi-lagi tak sengaja berpapasan dengan Radit, si pria galak menyebalkan.
"Kenapa harus selalu kebetulan gini sih?" gumam Radit melengos, pura-pura tidak melihat.
"Sampai kapan dia mau menghindari gue?" ucap Jelita sedikit berlari mengikuti Radit dari belakang ke arah lift.
Keduanya langsung masuk begitu lift terbuka. Di dalam kotak besi itu, mereka tidak saling bertegur sapa. Mata keduanya fokus ke depan tanpa melirik sedikitpun. Situasi antara insan yang memiliki kenangan manis di masa lampau itu tampak begitu canggung dan dingin. Seakan kebersamaan mereka dulu tidak membekas sama sekali.
"Kak"
Pintu lift tiba-tiba terbuka saat Jelita baru saja membuka mulutnya.
"Kamu di lantai ini kan? Keluar dan bekerjalah dengan benar" ucap Radit menasehati namun terkesan kasar kasar.
Gadis itu menghela nafas berat. Kemudian mengambil langkah pendek keluar dari lift. Pintu lift kembali menutup rapat membawa Radit ke lantai yang lebih tinggi. Ia bersandar dan menengadahkan kepala. Semua kata seakan tersangkut di tenggorokannya dan tidak bisa ia utarakan. Hanya tersimpan di lubuk hati.
Lo sudah berjanji dengan seseorang Dit. Jadi jangan melihatnya lagi, batinnya resah.
Krekk
"Bisa gak kalau masuk ketuk pintu...
Celotehan Radit mendadak terhenti begitu tahu sosok yang telah lancang masuk ke ruangannya.
"Mama"
"Jadi mama harus ketuk pintu juga ni?" tanya Laura bercanda.
"Gak ma. Aku pikir yang masuk orang lain. Mama bawah apa?"
"Makan siang" sahut Laura seraya mengeluarkan kotak bekal dari mini bag.
Radit membalas dengan senyuman tipis. Mamanya itu masih saja menganggapnya seperti anak kecil yang apa-apa harus disiapkan termasuk bekal makan siang.
"Ma, aku kan sudah bilang gak usah. Aku bisa makan di kantin. Lagian mama jadi repot kan harus bolak balik gini"
"Ma, sudah" sambar Radit memotong. Ia tidak ingin mendengar kalimat selanjutnya dari wanita yang semakin menua itu.
"Iya...iya. Ya sudah berhenti dulu kerjanya. Ayo makan" sambar Laura.
"Nanti saja ma. Aku belum lapar"
"Gak...gak makan sekarang. Ini pasti makanan, kamu dibawa pulang lagi" ucap Laura curiga.
"Ma, aku janji. Pasti makanannya aku makan. Sekarang mama pulang, istirahat. Ingat kata dokter, mama gak boleh capek" tutur Radit mengingatkan tentang kondisi mamanya yang tidak sekuat dulu lagi.
Laura mengangguk pasrah. Saat ini Raditlah satu-satunya orang yang harus ia dengar.
Radit beranjak dari duduknya untuk mengantarkan mamanya ke depan. Ia sangat khawatir dengan kesehatan wanita yang melahirkannya itu. Sejak satu tahun yang lalu, kesehatan Laura terus menurun. Hal itu membuat Radit harus extra hati-hati menjaga mamanya tersebut. Ia akan meminilisir apa saja yang dapat membuat kesehatan mamanya memburuk.
Saat tiba di lantai satu, tak sengaja Jelita melihat Radit dan Laura dari kejauhan. Begitupun dengan Radit, ia juga melihat gadis itu. Sontak Jelita jadi kikuk. Ia segera bersembunyi di balik tiang besar sebelum Laura melihatnya.
"Gue belum siap bertemu mama. Gue gak tahu apa tanggapan mama tentang gue sekarang. Mungkin saja mama membenciku" duga Jelita membatin.
Ibu dan anak itu melewati dinding tempat Jelita bersembunyi. Radit sempat memandang Jelita sekilas sembari mengikuti mamanya menuju mobil yang terparkir tepat di depan pintu masuk.
"Gue kangen banget mama. Ma, Jelita kangen pelukan hangat mama" kenangnya dengan tatapan sendu. Ia kemudian melangkah menuju pantry.
Mata gadis itu menjelajah isi lemari. Ia pun meraih mie instan yang tersimpan di sana. Setelah itu ia menaiki lift menuju tingkat gedung paling atas.
"Hah...disini anginnya enak banget" ucapnya memejamkan mata sejenak untuk meresapi angin yang menyapu kulit.
Angin sejuk dan mie hangat, kombinasi yang sangat pas. Jelita tampak begitu menikmati makan siang sederhananya. Tak butuh waktu lama, tetes terakhir dari kuah mie nya lenyap, lolos ke dalam perutnya.
Setelah makanan itu habis, samar Jelita mendengar derap langkah kaki berjalan ke arahnya. Namun tiba-tiba langkah itu berhenti.
"Kak Radit" seru Jelita meninggikan volume suaranya agar pria yang berdiri di depan pintu rooftop dapat mendengarnya. "Maaf maksud saya pak Radit" tambahnya meralat ucapannya barusan.
Seperti biasa, Radit selalu bersikap acuh. Ia seakan tidak mendengar suara yang memanggilnya.
"Saya sudah selesai pak. Pak Radit mau di sini kan?" timpalnya berbicara cepat saat Radit melangkah mundur ingin meninggalkan rooftop.
Gadis itu berjalan dengan wajah sedikit tertunduk. Sementara itu, Radit melebarkan kakinya ke arah pagar pembatas rooftop.
"Pak Radit. Bisakah sekarang, saya bicara sebagai adik?"
"Saya bukan kakak kamu. Bicaralah formal kepada saya" bantah Radit tanpa melihat gadis di belakangnya yang berjarak satu meter darinya.
Jelita menelan salivanya susah payah. Ia jengah. Sampai kapan Radit akan bersikap dingin padanya?
"Baiklah. Hmm...tadi saya lihat pak Radit sama mama. Gimana keadaan mama?" tanyanya gugup.
Radit menundukkan kepala sambil tersenyum sinis.
"Setahu saya, mama hanya punya satu anak dan itu saya" Radit berbalik menghadap gadis itu. "Sejak kapan kamu jadi anak mama saya?" tambahnya.
Jelita menghela nafas sejenak. Mimik wajahnya tampak murung dan memelas.
"Kak, jelasin sama gue, apa yang terjadi? Gue tahu gue salah tapi tidak bisakah kak Radit...
"Sekali lagi kamu bicara tidak sopan, saya akan pecat kamu dan saya pastikan, kamu tidak akan kembali ke kantor cabang. Berhenti bertanya yang akan membuat saya semakin muak. Ini kantor, di sini semua orang harus bekerja keras. Jangan pernah bahas soal pribadi di sini. Dan jangan berpikir, masa lalu kita akan membuat saya lunak. Saya pemilik perusahaan dan kamu bawahan saya. Hubungan kita hanya sebatas itu" ujar Radit panjang lebar dan jelas.
Tak terasa airmata gadis itu menitih sesaat setelah pria berperawakan tinggi itu pergi. Ia duduk lemah di tepian pagar sambil memeluk lututnya.
Benarkah perasaan lo sudah berubah kak? Lo tahu kak, selama 4 tahun ini, gue tidak pernah melewati waktu untuk tidak memikirkan lo, kak. Gue bahkan meninggalkan semuanya. Semuanya terasanya sulit tanpa lo kak, batin gadis itu pilu.