
Tibanya di lobby hotel, Jelita baru sadar, ponselnya jatuh di kamar lantai dua tadi. Ia menggerutuki diri sendiri atas keteledorannya itu. Sebenarnya masalah ini mudah, ia tinggal kembali saja ke kamar tadi. Namun masalahnya di kamar itu ada Radit. Pria beristri yang hampir saja mencumbunya. Dan gilanya ia juga menginginkan itu.
"Duh gimana ya? Gue balik gak ya ke kamar itu? Kalau gue balik, ntar ketemu kak Radit lagi. Ah males banget. Kalau dia melakukannya lagi, gue gak yakin bisa menahannya" gumam Jelita meragukan diri sendiri.
Bugg
Kepala Jelita berbentur dengan dada seorang pria saat ia berbalik. Ia mendongak sambil menggosok keningnya yang sedikit pusing.
"Pak Radit" ucapnya terkejut. Sejak kapan pria dingin ini ada di belakangnya.
"HP kamu" Radit menyodorkan ponsel ke depan sang gadis.
"Terim kasih pak" sahutnya bergedik ngeri saat melihat tatapan tajam pria itu.
Setelah ponsel beralih tangan, Radit langsung pergi tanpa berkata apapun. Acara sudah selesai dan satu persatu para tamu terlihat mulai meninggalkan gedung. Di tengah hiruk pikuk itu, mata Jelita mengerling memandang punggung lebar Radit yang kian menjauh.
Ia menghela nafas berat lalu cemberut. "Aneh banget tu orang. Tadi dia mau cium gue. Sekarang jadi dingin lagi kayak gak kenal gue saja" ucapnya sambil melirik waktu di layar ponsel. "Sudah jam sepuluh. Malam-malam gini masih ada taksi gak ya?" tambahnya gelisah.
Gadis itu mengikuti langkah kecilnya dengan perasaan bingung. Ada dua opsi untuk masalahnya sekarang. Mencari taksi biasa atau memesan taksi online. Namun dua opsi itu sama-sama tidak terlalu baik untuk gadis muda sepertinya. Kejahatan kriminal dan seksual bisa terjadi kapan saja tanpa mengenal umur si korban. Apalagi Jelita tergolong gadis berparas rupawan dengan body aduhai yang dapat membuat mata keranjang laki-laki tergiur.
Begitu tiba di luar gedung, Jelita berdiri cukup lama di sana. Matanya menyoroti pekatnya malam dengan raut datar. Anehnya saat ada sopir yang menawarkan tumpangan, Jelita dengan tegas menggelengkan kepala, tanda ia menolak. Padahal saat ini ia sedang butuh mobil dengan logo burung berwarna biru itu untuk mengantarnya pulang. Entah apa yang ia tunggu!
"Berhenti di sini pak"
Sang sopir dari mobil bermerk warna hitam legam itu menurut patuh. Kendaraan roda empat itupun berhenti tepat di depan seorang gadis. Sontak sang gadis memicingkan mata ke arah mobil hitam tersebut.
"Itu kan mobil kak Radit. Ah tapi kan mobil kayak gak cuman satu" gumamnya tetap menyoroti benda tak bergerak itu.
Detik berikutnya, kaca mobil mewah itu diturunkan perlahan dan memperlihatkan orang di dalamnya.
"Tu kan benar mobil kak Radit. Ngapain dia di situ?" Jelita melengos malas.
Masuklah.
Jelita tersenyum puas setelah membaca pesan singkat yang masuk di aplikasi hijaunya beberapa detik yang lalu. Ia pun langsung berlari kecil menuju mobil yang berada di seberang sana.
"Jalan pak" perintah Radit.
Jelita menggaruk-garuk tengkuknya setelah mobil melaju. Suasana di dalam mobil ini sangat membosankan. Senyap sekali padahal ada tiga orang disini. Bahkan kuburan pun kalah heningnya.
"Boleh saya bertanya pak?" tanya Jelita memecah keheningan.
"Tentang?"
Gadis itu tertegun. Niatnya maju mundur. Apakah ia harus bertanya soal sikap Radit di kamar tadi?
"Tidak jadi pak" balasnya gugup, lebih tepatnya takut.
Jika Radit masih sama dengan yang dulu, mungkin pertanyaan yang ada di kepalanya bisa secara gamblang ia utarakan. Sayangnya pria berwajah tampan itu sudah berubah. Tidak hanya mimik wajah tapi sikap dan sifatnya jauh berbeda dari yang dulu.
"Kejadian di kamar tadi, jangan diungkit. Saya pikir kamu istri saya. Mungkin karena saya sedang merindukannya jadi saya melihat wajah kamu berubah jadi wajahnya" tutur Radit tanpa menoleh.
Jadi dia melakukan itu bukan karena gue Jelita, batinnya lirih.
Pertanyaan-pertanyaan yang ingin gadis itu tanyakan seketika lenyap. Rasa berbunga yang sempat mewarnai hatinya telah hilang entah kemana.
Gadis itu melempar pandangan keluar mobil sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan airmata agar tidak menitih ke pipi. Sementara itu, Radit yang juga fokus melihat barisan lampu jalan, tampak berusaha keras tidak menoleh pada gadis yang duduk di sebelahnya. Kini sepasang insan yang dulu sangat mesra itu tampak seperti orang asing yang tidak saling bertegur sapa.
...***...
Hingga pukul 00.00, Jelita belum juga memejamkan mata. Ia tidak bisa tidur. Kepalanya bersandar di ujung kasur dengan pikiran kusut seperti benang jahit. Sesekali ia memejamkan mata sebentar untuk mencari kemana pikirannya akan berlabuh. Namun semakin sering ia melakukan itu, justru pikirannya semakin kacau . Tidak ada jalan lain untuknya selain melakukan kebiasaan buruk itu lagi.
"Baru segitu tapi hati gue sudah sesakit ini. Sadarlah Jelita. Dia sudah punya istri. Tidak baik mencintai suami orang. Buang perasaan lo" ujarnya mengingatkan diri sendiri.
Jelita melirik jam duduk di atas nakas.
"Sudah jam satu pagi. Tapi kenapa mata gue masih segar banget? Kalau begini, gue gak akan bisa tidur. Kayaknya gue harus minum obat tidur lagi" Jelita menghela nafas sejenak kemudian merogoh obat tidur di dalam laci. Kali ini bukan satu pil tapi tiga pil sekaligus meluncur mulus ke tenggorokannya.
Bukan baru ini saja gadis itu mengalami insomia. Hal tidak baik ini sudah terjadi 4 tahun lamanya. Keputusan besar yang diambilnya telah merubah total hidup juga pola tidurnya. Rasa bersalah pada orangtua yang sudah merawatnya sejak kecil dan tentu saja rasa bersalah pada pria yang telah memberinya cinta begitu besar membuat hari-hari yang dijalaninya terasa sangat sulit. Pernah terbersit di pikiran gadis itu untuk mengakhiri hidup. Tapi kenangan indahnya bersama Radit telah mengurungkan niatnya itu. Ia telah berjanji tidak akan mati sebelum mendapatkan maaf dari pria tersebut.
Pagi menyapa dengan sinar yang teramat sombong membuat tidur nyenyak seorang gadis jadi terganggu. Tubuhnya menggeliat saat sinar terik itu menyapu wajah polosnya tanpa permisi.
"Kok panas sih? Jam berapa sekarang?" tangan Jelita meraba-raba kasur mencari ponselnya berada.
Sontak matanya terbelalak begitu melihat waktu sudah jam 09.15 am.
"Ah gila. Gue udah telat banget. Kalau ke kantor sekarang, gue pasti dimarahin abis-abisan. Ini pasti karena efek 3 pil yang gue telan semalam" Jelita diam sejenak coba mencari solusi.
Jelita akhirnya memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dan tidak juga memberi kabar meskipun ia tahu resiko apa yang akan diterima nanti. Yang terburum, mungkin ia akan dipecat mengingat Radit memang sedang mencari cela untuk memecatnya.
"Sekarang keputusan ada di lo kak. Apapun keputusannya akan gue terima. Termasuk kalau lo mecat gue" ucapnya pasrah, kemudian masuk ke kamar mandi.
Lagi-lagi gadis itu menyerah terlalu cepat. Sudah cukup rasanya ia menahan sakit dan menahan rindu pada sang kekasih selama bertahun-tahun. Namun pahitnya saat takdir mempertemukan kembali, pria yang dicintainya itu sudah menjadi milik orang lain. Rasanya tidak mungkin ia memperjuangkan cinta dari raga yang sudah menjadi milik wanita lain.
Di tempat lain, Radit bolak balik ke lantai dua hanya untuk mengecek apakah Jelita sudah datang atau belum. Ada rasa marah dan kesal namun rasa khawatir ternyata lebih mendominasi relung hatinya. Kepalanya tidak bisa berhenti memikirkan Jelita hingga membuatnya tidak fokus bekerja.
"Apa dia sengaja melakukan ini untuk membuat gue marah?" tanyanya menduga.
Radit meraih ponselnya lalu mendial nama Jelita terburu-buru.
📞 Ya pak Radit.
📞 Dimana kamu sekarang?
📞 Saya lagi jalan-jalan di mall pak.
Radit mengusap kasar wajahnya. Enteng sekali gadis itu mengatakan sedang jalan-jalan.
📞 Kamu mau dipecat, hah? Kembali sekarang.
📞 Saya tidak akan kembali pak. Hmm maksud saya...saya tidak bisa kembali. Saya akan kembali jika kak Radit memintanya.
Jelita memutuskan sambungan sepihak. Tubuhnya terhuyun lemah di lantai. Isak tangisnya selalu tak terbendung setiap kali mengingat status Radit yang sudah beristri.
Salahkah kalau gue berharap lo bercerai kak?, batinnya kejam.
Sementara itu, Radit terlihat mematung di kursi kebesarannya. Ia sedang berpikir keras. Mampukah ia memenuhi permintaan gadis itu? Jika iya jawabannya lalu bagaimana dengan janji yang telah mengikatnya selama 4 tahun itu? Tegakah ia mengkhiati wanita yang sudah melahirkannya?