My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Rahasia Terkuak



Meskipun sudah memilih tinggal sendiri di apartement tapi seperti biasa setiap weekend, Radit tidak pernah lupa untuk kembali ke rumah. Bercengkrama dengan kedua orangtuanya, bercerita tentang kesulitan yang dihadapinya di kantor atupun sekedar mengutarakan keluh kesahnya selama tinggal sendiri di apartement.


Meja makan selalu menjadi saksi bisu kebersamaan itu. Di sanalah mereka menghabiskan banyak waktu untuk saling bertukar pikiran tentang apa saja. Satu-satunya yang tidak bisa Radit sampaikan kepada mereka ialah mengenai perasaannya pada Jelita yang kini telah berubah menjadi rasa cinta seorang pria kepada wanita. Sulit bahkan mungkin tidak akan bisa mengatakan yang sebenarnya pada Laura dan Surya. Akan banyak perdebatan dan penolakan tentunya. Bukan keutuhan keluarga yang akan terpecah tapi nama baik keluarga juga akan tercoreng jika suatu saat nanti ia menuntut Jelita untuk berada di sisinya sebagai wanita bukan sebagai adik.


"Jelita ngapain ya di kamar? Kenapa belum turun juga?" gumam Laura gelisah.


"Mungkin Jelita tidur, ma. Sudah biarkan saja, ma jangan di bangunin, kasian" ujar Radit sembari menghabiskan sisa makan siangnya.


Laura mengangguk setuju. Kalau dipikir-pikir sudah seminggu ini Jelita tidak sempat tidur siang karena terlalu sibuk dengan segala aktivitas di kampus. Selain disibukkan tugas-tugas kuliah, Jelita juga disibukkan dengan aktivitas organisasi kampus. Saking sibuknya, terkadang Jelita harus pulang lebih lambat daripada anak-anak yang lain.


Tok! Tok! Tok!


"Ta, lo tidur ya?"


Radit diam sejenak menunggu sahutan dari dalam.


"Ta, gue masuk ya" karena tidak sahutan, Radit pun menerobos masuk.


Benar dugaannya, gadis malas itu sedang tidur nyenyak. Tubuhnya bahkan tidak bergerak sama sekali saat Radit menggugah pundak sang adik. Ya jangan heran, Jelita si pemalas memang seperti kerbau kalau sudah tidur. Bahkan jika ada kebakaran, mungkin ia tidak akan menyadari itu.


"Dasar kerbau, susah banget dibangunin" Radit mentoyor pipi kenyal sang adik tapi tindakan sepeleh itu, tentu saja tidak akan ampuh untuk membangunkan Jelita.


Jelita hanya menggeliat kecil hingga membuat posisi tidurnya telentang. Posisi ini membuat Radit bisa melihat wajah polos Jelita lebih leluasa. Tak ada sedikitpun yang lolos dari sorot matanya. Layaknya kamera, Radit merekam setiap inci wajah Jelita ke dalam memorinya.


"Gue pulang dulu ya" ucap Radit lirih sambil mengelus ujung kepala Jelita.


Tiba-tiba Jelita membuka matanya. Entah ini kebetulan atau memang ikatan batin itu sudah terlalu dalam, Jelita dapat merasakan saat Radit menyentuhnya.


"Kak Radit" ucap Jelita parau.


"Ko lo bangun?"


"Lo nyumpahin gue mati?" tanya Jelita manyun.


Garis lengkungan di wajahnya memperlihatkan senyum Radit yang menawan. Radit tidak mengerti, mengapa adiknya ini selalu menuduhnya yang bukan-bukan.


"Baru bangun udah ngajak ribut" sahut Radit. "Gue pulang ya" lanjutnya.


"Kok cepat banget?"


"Bukan guenya yang kecepaan, lo tidurnya kelamaan. Besok gue kesini lagi" kata Radit sambil menyentil kening Jelita.


"Sakit" keluh Jelita seraya menggosok keningnya. "Kak, kenapa sih lo gak tinggal disini aja? Gue tu sekarang lagi ribet banget sama tugas-tugas kuliah. Gue butuh lo disini. Lo kan pintar, lulusan luar negeri pula. Lo pasti bisa kan bantuin gue. Lo gak kasian sama gue kak?" Jelita duduk bersandar.


"Kalau lo butuh gue, lo yang datang. Samperin gue di apartement. Lo pikir lo doang yang sibuk. Gue juga banyak urusan lain" tutur Radit.


"Ah lo mah payah. Gak bisa diandelin. Ya sudah, balik lo sana ke apartement. Gue mau tidur lagi" usir Jelita jengkel. Ia pun menarik selimut sampai menutupi seluruh bagian tubuhnya.


Radit tersenyum sekilas kemudian melebarkan kaki ke arah pintu.


"Kak, gue sayang sama lo" seru Jelita dari balik selimutnya.


"Gue juga, Ta" sahut Radit lirih.


Bahkan lebih dari itu, sambungnya membatin dengan tatapan sendu.


...***...


"Ta, mama sama papa pergi dulu ya. Mungkin kita agak malam pulangnya karena kan pasti banyak rekan-rekan papa kamu yang datang" ujar Laura sambil mengecek lagi penampilannya di pantulan kaca.


"Iya tapi jangan malam-malam banget ya, ma. Jelita takut sendiri di rumah"


"Kan ada bi Asmi" sambung Laura.


"Iya sih tapi tetap saja takut. Kalau kemarin-kemarin kan biasanya kak Radit" sela Jelita.


"Kamu sih diajak gak mau ikut. Padahal Radit datang juga loh. Kalau kamu mau ikut sekarang ayo. Masih ada waktu buat kamu berhias" bujuk Laura.


"Gak ah, ma. Jelita tu bosan dengan acara begitu. Pasti yang dibicarain gak jauh-jauh dari bisnis" tolak Jelita tidak berminat sama sekali dengan rayuan mamanya.


"Kamu itu ya, beda banget sama kakak kamu. Radit sangat tertarik dengan bisnis seperti papa kamu. Kamu nya malah tertarik dengan dunia seni. Mama suka heran sama kamu"


Jelita hanya menganggukkan kepala mendengar celotehan sang mama. Ia sendiri juga bingung. Padahal sejak kecil ia dibesarkan dalam lingkup keluarga yang berkecimpungan di dunia bisnis. Saat memasuki bangku SMA ia bahkan sempat diajar sang papa bagaimana caranya berbisnis yang baik namun anehnya ia tetap tidak ada minat ke arah sana. Terkadang sempat terbersit di benaknya, bertanya pada diri sendiri. Apakah ia bukan anak dari papa mamanya?


"Ma, kita berangkat sekarang. Sudah siap kan?" tanya Surya sambil mengaitkan kancing lengan kemejanya.


"Sudah pa"


Malam ini Surya dan Laura akan menghadiri pertemuan dengan para pemegang saham sekaligus merayakan hari jadi perusahaan. Jika di tahun-tahun sebelumnya, Jelita selalu ikut tapi tidak untuk tahun ini. Gadis itu lebih memilih mengurung diri di kamar sambil mengerjakan beberapa tugas kuliah yang belum selesai sejak kemarin. Apalagi tugas kuliah itu harus dikumpul hari Jum'at sebelum memasuki ujian harian Senin nanti.


Tidak terasa malam berlalu terlalu cepat. Kini sudah pukul 21.30. Jelita mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


"Selamat malam pak Surya"


"Malam pak Roby" sahut Surya tersenyum ramah sambil menyalami tangan temannya itu. "Perkenalkan ini putra saya, Radit"


"Oh ini nak Radit yang kejar-kejaran di TK sama Nayla itu kan? Terus nabrak dinding sampai Radit dilarikan ke rumah sakit karena lututnya berdarah" tutur Roby mengingat kejadian lampau.


Roby menyambut uluran tangan Radit.


"Iya, benar sekali pak. Hmm Nayla nya mana? Pasti sekarang dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik" sahut Surya antusias.


Roby mengedarkan mata.


"Itu dia. Nayla, sini sayang" pekik Roby sambil melambaikan tangan.


Gadis bernama Nayla itu melangkah dengan anggun ke arah papanya. Gaun putih yang melekat di tubuhnya sangat serasi dengan kulit putih susunya.


"Nayla, perkenalkan ini Radit. Kamu pasti gak ingat karena waktu itu kalian berdua masih kecil sekali. Dia anaknya pak Surya"


"Hai. Nayla" sapanya tersenyum manis.


"Radit" balas Radit dengan senyum takkala manis.


Di kamarnya Jelita tampak kebingunan. Ia menggaruk kepalanya berulang kali. Padahal tinggal sedikit lagi tugas kuliahnya selesai tapi karena tidak teliti, ia salah menulis jawaban bahkan sampai salah satu kalimat. Yang membuatnya bingung, harus dihapus dengan apa tulisan salah itu. Sedangkan tip ex miliknya sudah kering. Mau pergi ke toko ATK tapi sudah terlalu malam.


"Oh iya, kenapa gue gak cari di ruang kerja papa saja? Biasakan semua alat tulis ada di sana. Kan papa selalu nyetok buat gue" Jelita langsung turun ke lantai bawah dimana ruang kerja papanya berada.


Di sana ia mulai membuka laci satu persatu namun benda yang dicarinya belum ketemu juga. Jelita pun membuka lemari arsip. Saat sedang mencari, tak sengaja matanya melihat berkas bertuliskan surat adopsi. Karena penasaran, Jelita lancang membaca surat itu.


"Surat adopsi Mutiara Intan. Tanggal lahir 25 Oktober 1998" Jelita tampak sangat serius membaca isi surat.


"Tanggal, bulan, dan tahunnya kok sama kayak gue. Tapi disini namanya Mutiara. Sedangkan gue Jelita. Berarti surat adopsi ini bukan gue dong" ucap Jelita masih berpikir positif dengan senyum ceria tanpa rasa curiga.


Namun Jelita masih penasaran. Ia membuka lembar di belakang surat adopsi itu. Dan menemukan surat lain yang seketika membuat matanya melotot bulat.


"Surat perubahan nama dari Mutiara Intan menjadi Jelita Aliska Wiratan"


Seperti disambar petir di siang bolong, Jelita dibuat tak berkutik setelah membaca isi surat perubahan nama itu. Tangannya gemetar dan bibirnya keluh. Tatapannya menjadi kosong. Kepalanya dipenuhi pertanyaan besar.


"Jelita"


Suara berat itu mengejutkan Jelita hingga surat di tangannya jatuh ke lantai.


"Apa yang kamu lakuin di ruang kerja papa?" tanya Surya seketika dihinggapi cemas saat melihat surat yang berserakan di lantai. "Lancang kamu ya masuk kesini tanpa izin" lanjutnya maju beberapa langkah dan mengambil surat itu.


Jelita terlihat sekali sangat shock. Tubuhnya kaku seperti patung.


"Pa, ada apa?" sambar Laura yang langsung terdiam melihat surat adopsi di tangan sang suami. Ia sadar rahasia yang mereka sembunyikan bertahun-tahun sudah terbongkar .


Rasa sesak di dada Jelita membuat airmatanya mengalir begitu saja.


"Jadi Jelita bukan anak papa sama mama?" tanyanya setelah bisa menguasai perasaan yang bergejolak di dada.


"Jelita sayang, apapun itu kamu tetap anak mama sama papa. Tidak akan ada yang berubah sayang" ucap Laura berusaha menenangkan sambil membelai halus rambut putrinya.


Ucapan Laura semakin membuat sakit Jelita sakit. Itu artinya benar, ia memang bukan anak dari pasangan yang selama ini ia panggil papa dan mama. Jelita masih tidak mengerti. Ia benar-benar bingung. Bagaimana mungkin cerita hidupnya sangat dramatis seperti drama yang pernah ia tonton?


"Jadi Jelita memang bukan anak mama sama papa. Terus Jelita anak siapa?"


"Kamu anak papa sama mama. Papa kecewa kamu bertanya seperti itu" sahut Surya dengan tatapan sendu.


"Jelita pa yang harusnya kecewa" sambungnya sambil menyeka airmata.


Jelita melepaskan genggaman tangan mamanya dan pergi meninggalkan rumah di tengah malam yang kelam.


...***...


📞 Ya, ma ada apa?


📞 Dit, Jelita sudah tahu semuanya.