My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Pengaruh Alkohol



Hari ini Jelita hanya memiliki satu mata kuliah saja. Menjelang pukul 11.45 siang, ia segera bergegas ke perusahaan papanya. Bukan untuk menemui papanya tapi untuk bertemu Radit. Sebelum sampai di kantor, Jelita terlebih dahulu berhenti di sebuah toko untuk membeli buah tangan. Bukan barang mewah tapi hanya sebuah dasi biasa saja. Ia berharap dasi yang baru saja berpindah ke tangannya dapat menyempurnakan penampilan Radit nantinya.


Pukul 12.50 Jelita baru sampai di kantor. Saat jam makan siang, jalanan memang selalu padat kendaraan baik itu kendaraan roda dua ataupun roda empat. Belum lagi para pejalan kaki yang terkadang suka menyebrang sembarang hingga membuat jalanan semakin macet. Jika biasanya jarak tempu hanya 30 menit saja maka di saat jam makan siang dengan jalanan yang super macet, Jelita butuh waktu satu jam lamanya untuk sampai ke tempat tujuannya saat ini.


Jelita mengarahkan matanya ke meja kerja Radit begitu sampai di ruangan karyawan. Di sana terlihat beberapa meja sudah kosong. Begitupun meja Radit. Tidak ada sosok kakaknya di situ.


"Kak Radit kemana ya? Apa dia masih makan siang?" Jelita melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum pendek baru saja berada di angka 13.00 pm. Harusnya para karyawan kembali ke tempatnya masing-masing karena waktu istirahat sudah habis, pikirnya.


Jelita berjalan menghampiri meja kerja Radit dan duduk di sana. Sekitar 10 menit lamanya, Radit tak kunjung datang. Ternyata ucapannya tepat sekali, menunggu memang pekerjaan yang sangat membosankan. Jelita pun bangkit dari duduknya lalu mengikuti langkah kecilnya menuju kantin. Mungkin saja ia bisa menemukan Radit di sana.


Ia menyusuri lorong yang mana di kedua sisi kanan kirinya dibayangi dinding beton yang kokoh. Ada beberapa karyawan yang melintas dengan langkah terburu-buru. Jelita hanya melirik mereka sekilas. Sebenarnya ia tidak suka melihat karyawan yang tidak disiplin. Harusnya kalau sudah habis jam istirahat, segeralah kembali bekerja. Bukannya duduk berleha-leha di kantin.


Tiba-tiba langkahnya terhenti begitu saja saat sepasang netranya melihat sang kakak dari kejauhan.


Deg!


Seketika hatinya berdebar tak karuan.


Radit sedang bersama seorang wanita. Mereka terlihat cukup akrab. Obrolan mereka tampak serius. Jelita terus memperhatikan dua orang itu yang berjalan sangat pelan seperti keong. Detak jantungnya semakin kencang begitu melihat senyum ramah Radit kepada wanita itu.


Gue kenapa sih?, batin Jelita tidak mengerti.


Jelita berputar arah. Ia berlari kecil keluar dari lorong. Kotak dasi di tangannya diletakkan di atas meja Radit. Kemudian ia pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan dongkol. Lebih tepatnya marah.


"Apa ini?" dahi Radit mengernyit sambil meraih kotak kecil di atas meja kerjanya. " Dasi. Dari siapa?" lanjutnya bingung.


...***...


Sudah lewat pukul sembilan malam, Laura dan Surya dibuat semakin khawatir. Jelita putri mereka satu-satunya tidak kunjung pulang. Ditelepon tidak pernah diangkat dan pesan mereka pun sampai saat ini belum dibaca. Sepasang suami istri itu tidak tahu harus mencari putri mereka kemana. Ini pertama kalinya Jelita seperti ini. Biasanya setiap pulang telat, Jelita selalu memberi kabar. Dan kalau pun ditelepon pasti langsung diangkat.


"Ma, pa, Jelita sudah pulang?" tanya Radit yang baru saja sampai.


"Belum" balas Laura cemas.


"Aku pergi dulu" pamit Radit tanpa memberitahu tujuannya yang kemana.


"Tunggu, Dit. Memangnya kamu tahu Jelita dimana?" tanya Surya nyaring.


"Gak tahu, pa. Aku akan cari Jelita ke tempat yang biasa ia datangi. Oh ya, mama sudah telepon Zain?" tanya Radit.


"Sudah. Zain juga gak tahu. Katanya seharian ini dia belum bertemu Jelita. Mama juga sudah telepon Agnes tapi dia juga tidak tahu" sahut Laura bingung.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Radit melihat keluar mobil. Barangkali Jelita melintas di sisi jalan. Malam semakin kelam namun Jelita belum juga ada kabarnya. Sudah beberapa tempat yang ia datangi namun rimba sang adik tidak terlihat sedikitpun. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Jelita"


📞 Ta, lo dimana?"


📞 Kak, lo bisa jemput gue gak?


Suara Jelita terdengar parau. Tak lama sambungan terputus.


Di jalanan lain, Zain terlihat tidak menyerah mencari keberadaan Jelita. Ia cemas memikirkan kekasihnya itu. Apalagi malam semakin larut. Zain takut terjadi apa-apa pada Jelita. Pikirannya sudah memikirkan yang bukan-bukan. Bagaimana jika ternyata Jelita dijahati seseorang?


Tidak butuh waktu lama dengan kecepatan penuh, Radit sampai di suatu tempat yang Jelita sebutkan tadi. Banyak wanita berpakain mini berlalulalang. Pria pun juga takkala banyak. Pencahayaan di luar gedung sangat minim. Dan dentuman musik terdengar samar sampai keluar gedung.


"Ta, lo ngapain di tempat seperti ini?" Radit sedikit prihatin melihat keadaan Jelita yang tak berdaya itu.


"Kepala gue pusing, kak" ucap Jelita dengan mata sedikit terbuka.


"Itu karena ini" Radit merebut botol yang berisi minuman alkohol itu lalu melemparnya sembarang.


"Nyebelin lo, kak. Kenapa dibuang? Ntar kepala gue pusing lagi. Ambilin gak" racau Jelita dengan sisa kesadarannya.


"Lo lagi ada masalah sama Zain? Gila lo ya sampai mabuk begini" hardik Radit geram.


Jelita memukul sembarang ke area tubuh Radit.


"Kalau lo datang cuman mau marahin gue. Mending lo pergi sana. Gue harusnya telepon Zain bukan lo" Jelita kembali memukul Radit tak jelas. Ia merogoh ponselnya di dalam tas. Lalu mendial nama Zain. Namun Radit dengan sigap merebut ponsel itu dan mematikan sambungan.


Radit menarik paksa tangan Jelita. Tapi mendadak kesadaran Jelita hilang seutuhnya. Tubuh itu jatuh terkulai lemah dan dengan sigap Radit menangkap Jelita kemudian memboyongnya ke dalam mobil. Radit membawah Jelita ke apartementnya. Ia tidak ingin nantinya banyak pertanyaan yang diajukan orangtuanya jika membawah Jelita pulang ke rumah dalam kondisi bau alkohol.


Sampainya di apartement, tubuh lemah itu terbaring di atas kasur. Radit menyempatkan waktu menelpon papanya untuk memberitahu jika Jelita sudah bersamanya.


Hah! Desis Radit seraya melucuti kemeja yang dikenakannya. Tubuhnya panas dan berkeringat. Ia menarik selimut yang mengumpul di ujung kasur. Kemudian melindungi tubuh Jelita dari terpaan angin malam dengan selimut itu. Radit memandang gadis yang sedang tidur itu sejenak. Matanya menyoroti setiap inci wajah Jelita.


"Terima kasih sudah menelpon gue" ucapnya sendu sambil mengelus pipi Jelita.


Setelah itu Radit beranjak dari kasur namun...


"Lo mau kemana, kak?"


Radit terkejut begitu Jelita mengenggam jemarinya.


"Gue mau tidur di luar"


"Kenapa gak di sini saja?"


Radit tersenyum tipis sambil mengusap wajah lelahnya.


"Lo gak lupa kan? Gue cowok...


"Lo bukan cowok. Lo kakak gue" sambung Jelita dengan mata merem melek. Alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya telah mengikis hampir 100% kesadaraannya.


"Lo mau bukti kalau gue laki-laki" ucap Radit sembari duduk di atas kasur.


Jelita menggelengkan kepala. Ia masih pusing. "Maksudnya?"


"Sekarang lupain kalau gue ini kakak lo. Jika suka, lo boleh membalasnya"


Jelita membuka mulutnya sedikit. Belum sempat ia bicara, bibirnya telah disumbat oleh daging kenyal berisi milik pria di atasnya.


Bagaimana ini? Ini beneran kak Radit kan?, batin Jelita dengan mata melotot.


Ah, rasanya. Gue mau membalas ini, lanjutnya masih dalam pengaruh alkohol.


Permainan bibir Radit membuat Jelita tidak tahan hanya diam saja. Ia pun menyilangkan kedua lengannya ke belakang punggung pria di atasnya dan memyambut hangat sentuhan di area bibirnya.