My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Membuang Keraguan



Radit menyatukan kesepuluh jarinya lalu menarik tangannya ke atas hingga menimbulkan bunyi khas. Kemudian melakukan gerakan patah ke kiri dan kanan pada lehernya sambil menguap lebar. Ia milirik jam yang menempel di dinding. Baru pukul 09.00 pagi namun sinar matahari tampak begitu terik menusuk wajah lusuhnya.


"Hmmm" dehem Jelita menggeliat malas.


Radit menoleh kepada pemilik suara deheman itu. Ia tersenyum tipis lalu beranjak dari kasur untuk menyingkap horden. Seketika cahaya yang tadinya malu-malu, kini masuk bebas menerangi kamar. Dahi Jelita mengernyit. Ia berusaha melindungi wajahnya dari sinar matahari menggunakan lengannya.


"Bangun" seru Radit keras seraya duduk di atas kasur.


"Kak, aduh apaan sih kak. Gue masih ngantuk. Aahh lo reseh banget sih" ucap Jelita dongkol sambil menghentakkan kakinya ke ujung kasur.


"Ayo bangun. Kita jogging"


"Ogah. Lo jangan aneh-aneh deh, kak. Sejak kapan hari minggu gue jogging. Udah lo keluar dari kamar gue, gue mau tidur lagi" Jelita melambaikan tangan, menyuruh Radit segera enyah dari hadapannya.


"Lo gak usah ngarang. Sejak kapan sabtu jadi hari minggu?" Radit geleng-geleng kepala menghadapi sifat malas sang adik yang sudah mendarah daging. Jika sudah seperti ini, mau tidak mau ia harus pakai cara mengejutkan untuk membangun Jelita.


Radit pergi menuju kamar mandi kemudian keluar dengan segayung air. Dengan senyum seringainya, gayung dalam genggaman Radit menumpahkan isinya. Wajah Jelita pun seketika basah kuyub beserta kasur yang ia tempati. Radit melempar gayung sembarang kemudian menghilang dengan jurus langkah seribunya.


"Kak Raditttt" teriak Jelita frustasi. "Mama papa cepat balik" rengeknya sambil menyeka sisa air di wajah.


Pukul 10.00 pagi, Jelita baru keluar dari kamarnya. Ia mengikuti langkah kecil kakinya, turun ke lantai satu. Matanya mengedar memperhatikan keadaan rumah yang begitu senyap seperti kuburan.


"Kok sepi banget sih. Kak Radit kemana ya? Katanya mau jogging" Jelita berjalan ke arah dapur. Ia butuh air putih untuk membasahi tenggorokannya yang kering.


"Non Jelita"


"Astaga" ucapnya terkejut. "Bi Asmi ngejutin aja" sambungnya sambil mengelus dada. Untung saja ia tidak tersedak.


"Maaf non" sesal bi Asmi menahan tawa. "Deng Radit tadi berpesan, katanya non Jelita jangan pergi kemana-mana"


"Memangnya kak Radit kemana, bi?"


"Deng Radit gak bilang mau kemana. Dia hanya berpesan seperti itu" jawab bi Asmi apa adanya.


"Tadi pas kak Radit pergi, pakaiannya gimana bi?" tanya Jelita menelisik.


"Deng Radit rapi banget non. Dia pakai jas"


"Berarti dia gak jogging. Terus kemana? Apa mungkin interview? Tapi kan kak Radit disuruh mama kerja di perusahaan papa. Apa harus interview juga? Hah" Jelita lelah sendiri dengan berbagai pertanyaan di kepalanya. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia merasa kakaknya itu suka menghilang tiba-tiba.


Jelita merasa Radit menyimpan sesuatu darinya. Karena sikap Radit sekarang sama sekali bukan Radit yang ia kenal lima tahun yang lalu. Tepatnya Radit sebelum kuliah di New York. Radit yang dulu adalah Radit yang selalu terbuka dalam segala hal tanpa ada yang disembunyikan.


...***...


Radit duduk bertumpuh di bebatuan yang ada di sisi makam. Ia mengusap nisan itu dan mencabut rerumputan liar yang tumbuh di sekitaran makam. Matanya menatap sendu nama yang tertera di nisan. Nama yang akan selalu mengingatkannya pada rasa kehilangan yang teramat menyesakkan.


"Maaf ya, aku jarang datang kesini. Tapi mulai sekarang, aku akan mengusahakan untuk datang kesini. Kamu bahagia kan disana?" tanyanya tersenyum getir.


Hampir satu jam lamanya Radit duduk di sisi makam sambil menceritakan hal-hal apa saja yang terjadi dalam hidupnya. Setelah puas mengeluarkan segala keluh kesahnya, Radit pun berdiri dan tersenyum sekilas sebelum akhirnya meninggalkan makam.


Di kamarnya, Jelita terlihat merenung dengan raut wajah penuh keraguan. Setelah menjawab panggilan Zain barusan, kini ia menjadi bimbang. Radit sudah mengingatkannya agar tidak pergi kemana-mana. Tapi di lain pihak, ajakan Zain di telepon tadi terdengar sangat memohon. Zain sepertinya ingin sekali merayakan pertambahan umur Jelita yang akan terjadi setelah jam 12.00, malam ini.


"Gimana dong? Kalau gue izin dulu sama kak Radit, dia pasti gak bolehin apalagi jalannya sama Zain. Tapi gue gak enak sama Zain. Kasihan dia" Jelita menghentakkan kepalanya di bantal. Ia bingung harus mengambil keputusan yang mana.


"Ya sudahlah. Gue sudah gede. Gue bukan anak kecil lagi. Gue juga gak harus dengerin kak Radit terus? Kakak nyebelin gitu, ngapain harus dituruti" kata Jelita sudah yakin dengan keputusannya.


Jelita bangkit dan mulai memilah jajaran baju di lemarinya. Ini akan menjadi malam yang spesial baginya terutama untuk hubungannya dengan Zain. Malam yang spesial, tentunya harus dengan baju yang spesial juga. Setelah bolak balik berganti baju, akhirnya Jelita memilih dress hitam yang sedikit terbuka di bagian atas.


"Kamu cantik banget, Ta" puji Zain terpana dengan paras menawan gadis di hadapannya.


Mata Zain tak berkedip memandang salah satu keindahan cipta'an Tuhan yang kini sedang berdiri di depannya. Yang mungkin saja keindahan itu diciptakan untuk dirinya. Ya, Zain berharap suatu hari nanti, Jelita akan benar-benar menjadi miliknya. Menyatu abadi dalam ikatan pernikahan suci.


"Kamu cantik banget" puji Zain tak bosan.


"Kamu sudah mengatakannya lebih dari sepuluh kali" ucap Jelita tersipu.


Sepasang kekasih itu berdansa mesra di bawah sinar bulan purnama dan diiringi alunan musik klasik romantis. Dan tepat pukul 12.00 dinihari, langit dipenuhi cahaya kembang api yang melayang tinggi di udara.


"Happy birthday" ucap Zain manis sambil mencium lembut kening Jelita.


"Thank you" balas Jelita dengan senyuman termanisnya.


Malam semakin larut. Jalanan mulai sepi. Baik kendaraan roda empat maupun roda dua tidak terlalu padat memenuhi jalan. Mobil Zain pun dapat melaju cepat tanpa hambatan.


"Thank's ya buat surprisenya malam ini" ucap Jelita sebelum masuk ke rumah.


"Aku yang seharusnya terima kasih"


"Kok gitu?"


"Terima kasih sudah mengizinkan aku sebagai pria yang pertama kali mengucapkan happy birthday sama kamu"


"Apaan sih. Lebay banget" sahut Jelita tersipu malu. Tangannya refleks menutupi wajah. "Good night"


Saat Jelita baru saja berbalik, mendadak Zain menarik tangannya.


"Hmmm"


Zain perlahan mendekatkan wajahnya. Bola mata indahnya menatap intens bibir ranum berwarna merah muda milik gadis di hadapannya.


"Zain, aku ngantuk"


Jelita selalu merasa tidak enak hati setiap kali menolak bibir Zain. Ia sendiri tidak mengerti. Rasa nyaman itu sudah ada. Tapi entah kenapa, dirinya seakan menolak dengan sendirinya setiap kali Zain akan melakukan sentuhan intim itu.


"Ok. Good night" balas Zain sekuat hati menekankan egonya. Ia akan menunggu sampai Jelita siap menerimanya sepenuh hati.


...***...


De! Deg! Deg!


Jantung Jelita berdetak keras. Itu sangat terasa saat ia baru saja memasuki rumah. Matanya melirik setiap sudut dengan rasa takut luar biasa. Ini benar-benar gila. Padahal ia tidak melakukan kesalahan tapi entah kenapa ia merasa sangat takut bertemu Radit.


Jelita yakin sekali, kakaknya itu akan memarahinya sepanjang malam bahkan mungkin sampai pagi.


"Hah. Untung saja kak Radit gak nunggu gue pulang" ucapnya lega.


Jelita pun melenggang tanpa beban menuju kamarnya. Ia merasa bebas sekarang. Radit sudah tidur. Ia tidak perlu takut, setidaknya untuk malam ini dirinya aman. Sambil bersenandung ria, Jelita melepaskan aksesoris yang melekat di beberapa bagian tubuhnya. Namun saat akan melepaskan anting sebelah kanan, tiba-tiba pemilik suara yang sangat Jelita takutkan datang.


"Kemana saja, lo?" dari intonasi bicaranya saja, sudah sangat jelas ada amarah di dalamnya.


"Kak Radit, lo belum tidur?"


"Kenapa? Lo ngarepnya gue tidur. Biar lo bisa bebas jalan sama laki-laki sampai selarut ini"


"Lo apaan sih. Ngomongnya gitu banget. Ya terserah gue lah mau jalan sama siapa. Gue punya kaki kali" ucap Jelita dengan wajah malasnya.


Radit mengunci pintu kamar kemudian berjalan mendekati Jelita.


"Terserah? Lo bilang terserah. Selama mama sama papa gak ada, lo itu tanggung jawab gue. Jadi lo harus...


"Ya udahlah. Apa yang harus diributin. Toh gue udah balik kan?" sambar Jelita memotong ucapan Radit.


Radit mengepalkan buku-buku tangannya. Ia geram setiap kali mendengar jawaban adiknya itu. Betapa ia sangat mengkhawatirkan Jelita. Betapa ia ingin sekali pergi mencari Jelita walaupun ia tidak tahu harus mencari kemana. Ia bahkan tidak bisa tidur karena menunggu adiknya itu pulang. Jelita tidak akan tahu itu dan seperti tidak ingin tahu.


"Lo ya benar-benar gak bisa dibilangi. Gue sudah bilang kan jangan pergi...


"Kak gue bukan anak kecil lagi. Berapa kali gue bilang, gue udah gede. Memangnya gue gak boleh ngelakuin yang gue mau" lagi-lagi Jelita memotong ucapan Radit.


"Setidaknya lo kasih gue kabar kalau mau pergi" sahut Radit sambil memukul dinding kamar.


"Gak enak kan? Itu juga yang lo lakuin sama gue, kak. Saat lo telat jemput gue, lo gak kasih kabar. Gue telpon gak diangkat. Tadi pagi lo pergi gitu aja. Padahal lo bilang mau ajak gue jogging. Ada gak lo ngasih kabar sama gue?" Jelita diam sejanak. "Lo gak suka kan urusan lo diurusin orang lain. Sama, gue juga gak suka. Dan mending lo gak usah urusin gue lagi" lanjutnya sambil membuang muka.


Radit tertegun beberapa saat. Perlahan ia mundur sambil tersenyum miris. Jujur ia kecewa dengan pernyataan yang keluar dari mulut Jelita.


"Ok, sekarang terserah lo. Gue gak akan ngurus lo lagi" ucap Radit berbalik badan.


Jelita memejamkan mata dan mengepalkan jarinya erat.


"Kak Radit" Jelita berlari kecil dan memeluk kakaknya itu dari belakang. "Lo jangan bilang gitu. Maafin gue, kak"


"Lepasin gue"


"Gak mau. Gue gak akan lepasin lo sebelum lo maafin gue" tolak Jelita semakin mengeratkan pelukannya.


Radit berbalik dan mendorong tubuh ramping itu ke daun pintu.


"Lo janji gak akan ngelakuin ini lagi? Kalau gue bilang jangan pergi, itu artinya lo gak boleh pergi"


Jelita mengangguk mengiyakan.


"Gue mau lo selalu ngurusin gue. Gue sayang sama lo, kak" Jelita merasa dirinya tidak akan bisa jauh-jauh dari sang kakak. Ia sangat tidak rela saat Radit mengatakan tidak akan mengurusnya lagi. Kata terserah itu lebih menakutkan daripada semua tingkah nyebelin Radit padanya.


Gue juga sayang sama lo, Ta, batin Radit lirih.


Radit menangkup hangat wajah Jelita. Ia mengelus pipi lembut itu kemudian memainkan jemarinya di leher jenjang gadis di depannya.


Entah apa yang merasukkinya. Ini sudah kesekian kalinya, Jelita terbuai dengan sentuhan pria yang ia panggil kakak itu. Matanya terpejam begitu saja tanpa intruksi.


Seandainya lo bukan adik gue, Ta. Tapi lo kan....


Radit membuang segala keraguannya dan melesatkan kecupan dalam di bibir hangat Jelita. Punggung gadis itu terhentak ke belakang begitu Radit semakin berani memainkan lidahnya ke dalam mulut Jelita. Anehnya bukannya menolak seperti yang ia lakukan pada Zain, tubuh Jelita membalas kecupan itu penuh gairah.


"Kak" ucap Jelita lirih. "Ini salah"


"Mau berhenti sekarang? Hmm"


Jelita hanya diam membisu dengan wajah menunduk. Jari-jari lentiknya memainkan kancing kemeja yang Radit kenakan.