
Krekkk
Radit tiba-tiba masuk ke kamar Jelita. Ia mendorong pintu dengan kuat. Pintu tertutup lagi.
"Kak, lo kena....
Belum sempat Jelita menyelesaikan ucapannya, bibir merah alaminya sudah dibungkam oleh bibir padat berisi milik Radit.
Jelita gelagapan dengan cumbuan Radit yang super cepat itu. Sementara Radit seperti kesetanan, ia melahap dan melibas habis bibir kesukaaannya itu ke dalam mulutnya. Ditengah kecupan Radit yang semakin bringas, Jelita merasa ada sesuatu yang aneh.
"Kak" Jelita mendorong tubuh Radit pelan. Nafasnya tersengal. "Lo lagi marah sama gue?"
Tatapan Radit tajam menghujam. Ekspresinya sangat menakutkan dan membuat ngeri siapa saja yang menatap.
"Gue gak suka lo jalan sama dia?"
"Zain?" sahut Jelita menduga.
Radit menarik pinggang ramping itu kemudian kembali mengigit bibir merah Jelita dengan brutal. Tubuh Jelita blingsatan dibuatnya, ia mendesis lalu membuka matanya perlahan. Sorot matanya lurus kepada pria yang sedang menahan dan menyentuh bagian sensitifnya tubuhnya. Jelita berusaha mengimbangi pergerakan Radit yang semakin tidak terarah.
"Kak, gue kehabisan nafas" gumam Jelita lirih sambil menepuk punggung Radit. Setelah beberapa saat, Jelita pun dapat menguasai diri.
Radit bukan kakak lo, Ta.
Bisikan itu menuntun kedua lengan Jelita melingkar ke belakang tengkuk Radit. Keraguan di benaknya pudar seketika. Jelita akhirnya membalas kecupan panas Radit takkala ganas. Sepasang bibir yang menempel lengket itu saling memaut liar dan bertukar saliva.
Gairah yang semakin berkobar membuat keduanya tak sadar jika sepasang tubuh yang sedang menempel erat itu, kini sudah berada di atas kasur. Entah sejak kapan itu terjadi. Keringat mengujur dari pelipis Radit. Pendingin ruangan tak mampu menurunkan suhu tubuh yang semakin panas itu.
Radit pun melepaskan pakaiannya dan memperlihat tubuh seksinya yang atletis, begitu menggoda. Pria itu semakin tidak sabar. Lidahnya menjulur menghisap setiap inci leher jenjang Jelita dan tidka lupa meninggalkan jejak merah di sana. Mendapati sentuhan membuai itu membuat Jelita tidak mampu lagi mengeluarkan erangan sensualnya. Tubuhnya menggeliat hebat seperti cacing kepanasan. Dahinya mulai dihiasi bulir keringat.
"Kak, aaahh" erang Jelita sesaat sebelum bibir jontornya kembali dihisap kuat oleh pria di atasnya.
Erangan gadis di bawahnya semakin membuat Radit terpacu. Sisi gelap kelakiannya semakin menuntut lebih . Tangannya tidak diam begitu saja dan ikut andil memberikan sentuhan pada kulit gadis yang kini dalam belenggunya.
"Ta, lo mau?" tanya Radit berhenti sejenak.
Tubuh Jelita mendadak kaku seperti patung. Ia terdiam. Bola matanya berputar cepat, seperti orang yang sedang berpikir keras. Jantungnya berdetak semakin kencang dan hatinya terus berdebar tak karuan.
Kebisuan Jelita menjawab pertanyaan Radit. Pria dengan dada tanpa busana itu mendaratkan kecupan lembut dan halus. Ia memutar bibirnya perlahan untuk meresapi setiap balasan cumbuan gadis yang terbaring tak berdaya di bawahnya.
Tok! Tok! Tok!
Jelita tersentak. Khayalan liarnya pun langsung buyar menjadi serpihan rasa. Jelita tersadar jika semua itu hanya ilusi kotornya saja.
"Astaga. Otak gue mesum banget sih. Sinting lo, Ta" maki Jelita untuk dirinya sendiri atas pikiran panasnya beberapa saat yang lalu.
Tok! Tok! Tok!
Tubuh Jelita kembali bergedik refleks saat pintu kamarnya diketuk untuk yang kedua kali.
"Lo ngelamunin apa?" tanya Radit masuk ke dalam kamar.
"Lo apaan sih, kak? Kaget tahu gak gue" sahut Jelita melengos.
" Makanya gue tanya. Lo lagi mikirin apa sampe gak sadar gue di depan kamar lo" Radit duduk di samping Jelita.
"Gak ada mikirin apa-apa. Gue cuman lagi pusing saja sama tugas kuliah"
"Tentang?"
"Seni"
"Mana nyambung. Gue kuliah jurusan manajemen bisnis. Lo jurusan seni. Ya jelas gak masuklah. Susah gue mau bantu lo. Lagian lo aneh. Papa, mama, gue, pas kuliah ambil jurusan yang ada kaitannya sama bisnis. Karena keluarga kita kan berkecimpung di dunia bisnis. Nah lo ambil jurusan seni. Aneh" tutur Radit panjang lebar. Ia duduk di tepi kasur Jelita.
Jelita pun tertunduk murung.
"Jelaslah beda. Kan gue bukan adik lo, kak" ucap Jelita samar-samar.
Meskipun seperti orang berbisik namun Radit masih bisa mendengar apa yang Jelita katakan. Radit merasa sedikit bersalah.
"Hmmm" dehem Radit panjang sambil merebahkan diri di kasur.
"Kak, lo ngapain guling di kasur gue. Keluar lo, gue mau tidur"
"Gak akan. Gue mau tidur di sini" tolak Radit seraya membungkus tubuhnya dengan selimut.
Pikiran Jelita mengawan. Ia mengigit dan memainkan bibirnya manyun ke depan. Pikirannya ngeblenk, kosong begitu saja. Ia ragu untuk mengambil sikap. Jelita akhirnya ikut berbaring di sebelah Radit.
"Kak"
"Apa?"
"Gue mau ngomong serius"
"Sejak kapan lo bisa serius?" timpal Radit.
"Sejak sekarang"
Radit membuka matanya perlahan.
"Gue pernah bilang kan, gue deg degan saat kita sedekat ini. Lebih baik lo tidur di kamar lo sendiri, kak"
"Ucapan lo kepotong. Sebelum lo nyuruh gue balik ke kamar, lo mau bilang apa?" Radit merasa ada ucapan Jelita yang sengaja dipotong.
"Kita tidak bisa sedekat dulu, kak. Gue gak mau mengkhiati papa sama mama. Kita harus jaga jarak, kak" ucap Jelita belum berani mengutarakan isi hatinya secara gamblang.
Radit memandang dalam sepasang retina dengan bulatan coklat di tengah yang ada di hadapannya. Keresahan Jelita saat ini sama dengannya. Ia pun tidak akan sanggup membuat orangtuanya kecewa. Biar bagaimanapun antara dirinya dengan Jelita berada dalam kartu keluarga yang sama. Meskipun tidak sedarah tapi Jelita tetap adiknya. Itulah yang semua orang tahu.
"Kak" Jelita menempelkan telapak tangannya di dada Radit.
Radit menatap penuh pertanyaan. Belum lama gadis di depannya meminta untuk menjaga jarak tapi sekarang justru gadis itulah yang menghapus jarak. Sebenarnya apa yang Jelita inginkan?
"Kalau gue menyentuh lo seperti ini, lo merasakan sesuatu gak?" tanya Jelita gugup.
Radit menurunkan tangan itu.
"Lo pernah tanya. Kenapa gue cium lo? Jawabannya ini" balas Radit sambil meletakkan tangan Jelita ke dada bidangnya.
Suasana kamar senyap seketika. Hanya terdengar deruan nafas sepasang insan yang sedang saling memandang dan denting jarum jam yang menempel di dinding.
"Lupakan ini. Setelah itu keluarlah dari sini" Jelita berjinjit dan mencium bibir Radit penuh tekanan dalam. Ia segera mengurai diri begitu tangan kekar Radit menyentuh pundaknya.
Jelita berbalik badan. Kemudian berjalan ke arah balkon. Sedangkan Radit masih tertegun di tempatnya.
Krekkk
Pintu kembali tertutup rapat setelah Radit meninggalkan kamar tanpa berkata apapun.
...***...
"Pagi pa, ma" sapa Jelita dengan senyum manis yang menghiasi paras cantiknya.
"Pagi. Wajah putri papa fresh banget hari ini" puji Surya.
"Masa sih, pa? Perasaan biasa saja" sahut Jelita sambil duduk.
"Pagi pa, ma" sambar Radit ikut bergabung.
"Pagi sayang. Kamu mau telur dadar atau telur ceplok?" tanya Laura.
"Dadar, ma" jawab Jelita spontan. Ia sudah hafal betul selera kakaknyan itu.
Seketika Radit tertegun, begitupun Jelita. Keduanya sempat memandang sekilas lalu masing-masing berusaha mengendalikan diri. Jelita merasa serba canggung. Apalagi Radit duduk di sebelahnya yang membuatnya tidak berani menoleh sedikitpun.
"Dit, kamu ingat Nayla yang di pesta kemarin?" tanya Surya di sela sarapan mereka.
"Ingat, pa. Kenapa?" sambung Radit balik bertanya.
Jelita memperlambat kunyahannya. Ia seksama mendengarkan percakapan papanya dan sang kakak. Mendadak perasaannya tidak enak. Siapa itu Nayla? Baru kali ini Radit bicara tentang wanita.
"Cantik kan dia?" tanya Surya lebih dalam.
Radit bergerak gelisah. Ia melirik Jelita sebentar lalu meraih teh hangat yang berada di sisi kanan piringnya dan menyeruputnya perlahan.
"Iya" balas Radit singkat.
"Gini, Dit. Papa dan orangtuanya Nayla sepakat untuk menjodohkan kalian....
Radit yang sedang mengunyah makanan langsung tersedat. Ia menepuk-nepuk dadanya dan merasa pedas di bagian tenggorokkannya. Mungkin karena ada bumbu cabai dari makanan yang ia telan.
"Minum ini sayang" Laura menyodorkan segelas air putih yang langsung Radit reguh tak bersisa. "Papa juga sih gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba bahas perjodohan. Bikin orang kaget saja" ucap Laura kesal.
"Kamu kan sudah tahu" timpal Surya.
"Ya tapi pelan-pelan ngomongnya"
"Papa gak suka basa-basi. Buang-buang waktu" sahut Surya tak ingin disalahkan persis seperti sifat Jelita.
Seperti mendapat kabar paling buruk dalam hidupnya, pikirannya berputar hebat seperti pusaran angin tak tentu arah. Jelita kikuk dan matanya terus berkedip-kedip.
"Hmm pa, ma, Jelita langsung ke kampus ya. Dahh"
"Gue antar" tawar Radit.
"Gak usah"
"Tunggu sebentar. Gue ambil kunci mobil" Radit menaiki tangga menuju kamar.
"Ma bilang sama kak Radit, Jelita tunggu di luar" Jelita pergi ke teras rumah. Beberapa kali ia mengurungkan niatnya namun pada akhirnya ia memutuskan berangkat ke kampus sendiri.
Radit yang baru saja tiba tidak melihat Jelita dimanapun. Ia mengusap kasar wajahnya.
"Hah! Kenapa semuanya semakin rumit" ucapnya sembari menengadahkan kepala ke langit.
Mendekati pukul 19.00, Jelita turun ke bawah untuk makan malam. Tibanya di meja makan, ia hanya melihat papa dan mamanya saja.
"Ma, kak Radit mana?"
"Pergi makan malam sama Nayla. Mereka ngedate" ucap Laura terlihat antusias. Baginya melihat Radit jalan berdua dengan wanita, itu sebuah impian yang menjadi nyata. Makhlum saja, selama ini Radit tidak pernah sekalipun membawah wanita ke rumah.
Selesai makan malam, Jelita langsung kembali ke kamarnya. Di ruangan pribadinya itu, ia menjatuhkan diri di atas kasur sambil membaca ulang pesan yang Radit kirimkan pagi tadi. Dari sekian banyaknya pesan yang masak, ada satu pesan yang membuatnya tersenyum getir.
Sebagai adik, lo harus nurut sama gue, kakak lo.
Pesan itu begitu menohok. Benar yang papanya katakan, tidak akan ada yang berubah. Jelita adik Radit. Dan Radit kakak Jelita. Mungkin ikatan tanpa darah itu tidak dapat diputuskan meskipun dengan perasaan yang berbeda.
"Jelita lo gak boleh nangis. Lo harus ingat posisi lo di rumah ini. Lo gak bisa protes dan harus terima. Bahkan jika lo tersiksa dengan perasaan terlarang itu, lo tetap tidak bisa bicara" gumam Jelita berperang dengan batinnya.
...***...
Tok! Tok! Tok!