My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Rasa Takut Dan Bersalah



Selesai jogging Radit dan Jelita tidak langsung pulang ke rumah. Mereka pergi ke sebuah gedung sekolah dimana keduanya sempat menuntut ilmu di sana. Kala itu Radit duduk di bangku kelas tiga SMA dan Jelita kelas satu. Keduanya pergi ke sana tanpa terencana, hanya sekedar mengisi waktu libur.


Perjalanan menuju ke sekolah lumayan jauh. Jika saja mereka tidak pindah rumah, hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai ke sana. Namun setelah pindah, kira-kira butuh waktu kurang lebih satu jam untuk tiba ke lokasi penuh kenangan tersebut. Itupun jika tidak macet.


"Kak, tempat ini sedikit berubah ya?" Jelita menengadahkan kepala sambil berputar memperhatikan gedung berlantai tiga itu.


"Iya. Sayang sekali" sesal Radit seksama memperhatikan gedung yang menjulang di sekitarnya.


Radit dan Jelita sangat menyayangkan dengan beberapa bagian gedung yang berubah. Salah satunya taman mini yang ada di tengah lapangan sekolah. Padahal taman itu sering mereka jadikan tempat untuk makan siang. Di tempat itu pula, mereka sering bersenda gurau kala jam istirahat tiba. Keduanya memang selalu bersama seperti anak kembar siam yang tak terpisahkan. Terkadang kebersamaan itu sering menjadi bahan candaan anak-anak yang lain. Mereka sering dijadikan bahan gosip. Bahkan beberapa siswa-siswi yang tidak tahu jika keduanya kakak adik sering menggosipkan mereka berpacaran. Namun layaknya kodrat manusia pada umumnya, Radit dan Jelita hanya punya dua tangan, mereka tidak bisa menutup mulut semua orang. Sesekali mereka bersedia menjelaskan namun pada akhirnya, gosip serta candaan itu dibiarkan saja. Dan seiring waktu semua kesalahfahaman orang-orang jahil itu menguap begitu saja.


"Oh iya, kira-kira pohon besar di belakang sudah ditebang belum ya?" Jelita berlari kencang menuju area belakang sekolah.


Ha...hah..hahh


Nafas Jelita tersengal, begitupun Radit yang tadi juga ikut berlari.


"Lo kencang banget larinya kayak dikejar maling" ucap Radit ngos-ngosan sambil menyeka keringat di keningnya.


Kemudian Radit memutar badan Jelita dan menghapus keringat yang mengucur di kening sang adik. Mendapat perlakukan selembut ini membuat dada gadis itu bergemuruh seperti angin ribut. Tidak perlu ditanya lagi, tubuhnya saat ini mematung kaku. Dan anehnya hanya Radit yang mampu membuat Jelita diam seribu bahasa. Padahal ia sendiri sudah punya Zain, kekasihnya yang juga takkala romantis dan lembut.


"Udah ah, gue bisa sendiri" Jelita menyingkirkan tangan Radit dari keningnya.


Radit menenteng tangannya dipinggang sambil menyipitkan mata, menangkap raut wajah malu gadis di hadapannya.


"Canggung ya?"


"Banget" sahut Jelita sembari melangkah ke arah pohon besar yang ia sebut tadi.


Radit tersenyum tipis dengan bibir terkulum sembari mengikuti langkah gadis di depannya.


"Yah...rumah pohonnya juga sudah tidak ada" keluh Jelita menyayangkan rumah pohon yang sempat menjadi tempat mereka bermain kini juga telah lenyap. Mungkin karena rumah pohon itu sudah usang atau memang sengaja dihancurkan.


Tiba-tiba mata Jelita terbelalak begitu tubuhnya dipeluk dari arah belakang. Gadis itu terdiam sejenak saat sepasang lengan kekar semakin erat mengikat pinggangnya. Hembusan nafas yang berat serta aroma tubuh dari pria yang memeluknya itu membuat Jelita terlena. Sentuhan ini bukan yang pertama baginya namun kali ini ada rasa yang berbeda. Rasanya canggung dan sangat aneh.


Di bawah pohon besar itu, di tengah semilir angin yang menerpa kulit, keduanya tidak bersuara dan hanya memandang pohon rindang yang tumbuh kokoh tepat di depan mereka. Rasa nyaman dari pelukan hangat pria di belakangnya membuat Jelita enggan melepaskan diri dan membiarkan tubuh rampingnya tenggelam dalam belenggu pria bertubuh kekar itu.


"Kak"


"Hmm"


"Gue takut"


"Takut apa?" timpal Radit.


"Papa, mama" ucapnya gelisah.


Radit menarik wajah Jelita lalu mengecup lama bibir ranum kesukaannya. Jika harus jujur, ia pun merasakan perasaan yang sama. Hubungan ini pasti akan ditentang keras oleh orangtua mereka. Apapun alasannya Surya dan Laura tidak akan bisa menerima. Yang mereka inginkan Radit dan Jelita terikat dalam hubungan kakak dan adik semata. Bukan terikat dalam hubungan sepasang kekasih.


"Kita nikmati waktu yang ada sekarang. Yang nanti tidak perlu dipikirkan" ujar Radit setelah mengurai cumbuannya.


Jelita mengangguk tegas walaupun sebenarnya pikirannya terus diganggu oleh rasa takut. Ia juga merasa bersalah kepada papa dan mamanya yang sudah bersusah payah membesarkannya serta memberikan fasilitas yang mewah. Ia tidak pernah kekurangan apapun sejak kecil, baik dari finansial maupun kasih sayang. Semuanya cukup bahkan berlebih. Lalu haruskah perasaannya terhadap Radit sekarang mengharuskannya mengkhianati dua orang yang juga sangat dicintainya itu? Rasanya itu tidak mungkin!


...***...


Radit dan Jelita saling bertukar cerita sepanjang perjalanan pulang. Sesekali keduanya tertawa lepas setiap kali ada lelucon hadir di sela pembicaraan mereka. Jelita bahkan sampai sakit perut karena terus-terusan tertawa. Suasana di dalam mobil yang sedang melaju itu sangat cair seakan penumpang di dalamnya tidak menyimpan beban apapun.


"Ah perut gue sakit. Udah kak cukup ceritanya, bisa-bisa gue sakit beneran" Jelita melambaikan tangannya tidak kuat. Sejak dulu gadis itu memang sangat mudah tertawa bahkan untuk hal kecilpun bisa membuatnya tertawa walaupun sebenarnya tidak ada yang lucu dari cerita yang ia dengar.


"Oke. Kita nyanyi saja. Gue juga sudah capek jadi penghibur lo" ucap Radit sambil menekan tombol power tape recorder mobilnya.


Satu lagu melow dari penyanyi luar mengalun syahdu, menemani perjalanan mereka yang tinggal 20 menit lagi akan sampai tujuan jika tidak ada kendala. Alunan musik mendayu itu membuat Jelita diserang kantuk mendadak.


"Kak, gue jadi ngantuk. Lo ngapain sih muterin lagu melow gini? Ganti ah" protes Jelita sambil meraih ponsel Radit dan mulai memilih playlist lagu.


"Sambungkan dulu bluetoothnya kalau lo mau cari lagu di HP gue" ucap Radit yang langsung dipatuhi gadis di sebelahnya.


Tak lama musik pun berganti genre yang lebih up beat. Jelita ikut bergoyang dan bersendung riang. Sementara itu, Radit yang sedang fokus menyetir hanya tersenyum lebar melihat tingkah lucu gadis yang duduk di sampingnya. Ia bahagia melihat adiknya itu tidak murung lagi.


Namun sayang belum juga tubuh Jelita panas, mobil yang membawanya sudah berhenti di halaman rumah.


"Yah, sudah sampai" sesal gadis itu belum puas.


Jelita menekan handle pintu mobil tapi saat pintu baru terbuka sedikit, tiba-tiba tangan Radit menyelusup diantara sela jemari Jelita lalu menarik handle pintu kembali.


"Kenapa, kak?" tanyanya sembari membenarkan posisi duduknya berhadapan dengan Radit.


"Kak, lo gak bisa cium gue di sini?" ujar Jelita menarik diri.


"Siapa yang mau cium lo" sahut Radit mengerutkan dahi.


"Barusan apa? Lo nyentuh muka gue, terus maju gitu" Jelita mempraktikkan gerakan Radit beberapa detik yang lalu.


"Gue cuman mau lepasin seatbelt lo doang" Radit tersenyum menggoda kemudian melepaskan seatbelt yang melekat di perut gadis yang sedang salah tingkah itu.


Jelita menarik nafas dalam lalu melepasnya perlahan. Sebenarnya ia ingin sekali berteriak karena ini terlalu memalukan. Tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Radit pasti semakin besar kepala jika sampai itu terjadi.


"Terus gue bisa cium lo dimana?" tanya Radit menyambungkan ucapan Jelita sebelumnya.


"Dih, apaan sih?" balas Jelita tersipu malu dan wajah bersemu merah. "Udah ah gue mau turun" lanjutnya keluar dari mobil.


"Lo turun duluan. Gue mau masukin mobil ke garasi dulu"


Baru saja pijakan pertamanya mendarat melewati pintu, Jelita langsung dikejutkan dengan sosok pria tak asing baginya. Pria itu sedang duduk bersama papanya di ruang tamu.


"Zain"


Seketika dua pria yang sedang berbincang itu menoleh kepada Jelita.


"Jelita, sini sayang" ajak Surya sambil melambaikan tangan.


Jelita mengangguk patuh sambil melangkah ke arah ruang tamu dengan hati berdebar keras. Seketika rasa bersalah hinggap di hatinya begitu saja. Perasaannya kepada Radit, suatu saat akan sangat menyakiti kekasihnya itu.


"Hmm om, aku mau ngajakin Jelita nonton. Boleh gak om?" ucap Zain meminta izin sesaat setelah Jelita duduk di sebelahnya.


"Tentu saja boleh. Ini kan hari minggu. Memang sudah saat untuk pasangan muda seperti kalian jalan bareng" kata Surya tak keberatan sama sekali. "Tapi awas jangan sampai Jelita lecet" sambungnya wanti-wanti.


"Pasti om. Aku pastikan Jelita aman seratus persen. Jelita, kamu mau kan?"


Jelita terdiam. Dia bingung harus bicara apa. Menolak ajakan Zain atau menerimanya? Tapi tidak ada alasan untuknya menolak. Lalu bagaimana dengan hatinya juga Radit? Kenapa berat sekali mengatakan iya?


"Hemm" dehem Radit yang baru saja masuk. Ia ikut bergabung duduk di ruang tamu.


Kehadiran Radit membuat Jelita semakin berat mengiyakan ajakan Zain.


"Gimana, Ta?" tanya Zain lagi.


"Sudah, Jelita pasti mau. Iya kan sayang?" tanya Surya.


"Iya, pa. Jelita mau" angguknya ragu. "Tapi Zain, aku mau mandi dulu. Gak papa kan nunggu sebentar?"


"Seharian nunggu di sini pun aku mau" jawab Zain tersenyum lembut.


"Aduh romantis sekali. Lihat kalian bikin papa mau balik muda lagi" sambar Surya salah tingkah sendiri.


Jelita melirik Radit sekilas sebelum beranjak dari duduknya. Ia menangkap segurat kecewa dari raut muka kakaknya itu.


"Lo beneran mau pergi dengannya?" tanya Radit sesaat setelah menyelinap ke kamar Jelita tanpa izin.


"Iya" jawab gadis itu singkat sambil mengalungkan arloji di pergelangan tangannya.


Radit mengangguk pelan dengan ekspresi datar.


"Hah Oke, have fun buat kalian" ucap Radit berusaha menyembunyikan rasa cemburunya.


"Kak, jangan bikin gue bingung" ucap Jelita mengaitkan jari lentiknya di sela-sela jemari Radit.


"Maksudnya?" tanya Radit tidak mengerti.


"Kenapa lo ngomong begitu? Lo seharusnya cegah gue" kata sang gadis dengan tatapan sendu.


"Baiklah, kalau itu yang lo mau. Jangan pergi"


Jelita menghela nafas berat lalu menghempaskan kasar tangan pria di hadapannya. Ia merasa pria bermata coklat itu tidak serius memintanya agar tidak pergi.


"Lo nyebelin, kak" ucapnya sambil meraih tas kecil di atas kasur lalu melebarkan kaki ke arah pintu.


"Gue serius. Jangan pergi...Jelita" seru Radit dengan binar penuh harap di matanya.