
"Maksud lo apa sih kak?" tanyanya sambil menyeka airmata.
"Jangan minum obat itu lagi. Gue tidak masalah. Kita bisa terus bersama tanpa anak. Yang terpenting, lo selalu ada di sampingku" ujar Radit seraya mengenggam jemari lentik pujaan hatinya itu.
Airmata Jelita semakin berderai. Pipi halusnyapun sudah benar-benar basah.
"Sejak kapan lo tahu kak?"
"Saat lo ke ruangan dokter, gue ada di belakang dan mendengar semuanya"
Mata Jelita melotot bulat. "Lo tega kak. Gue hampir gila mikirin gimana caranya kasih tahu lo. Gue takut lo kecewa. Gue takut lo ninggalin gue. Gue takut...hah" Jelita tercekat dan menghela nafas sejenak. "Gue pasti terlihat sangat menyedihkan sekarang" tambahnya sambil menutupi wajah dengan tangan.
"Karena gue mau lo jujur. Untuk memulai hubungan baru harus diawali dengan kejujuran. Saling terbuka agar hubungan kita tidak berjalan masing-masing" ujar Radit.
"Lo gak ngerasain kak di posisi gue. Menjadi wanita tidak sempurna itu sangat menyiksa. Gue gak bisa kasih lo anak kak" ucapnya tampak frustasi.
"Menikahlah denganku. Gue akan buat lo hamil"
Hah!
Jelita tercengang atas apa yang baru saja ia dengar. Ia berusaha mencerna kalimat itu yang terdengar seperti lelucon.
"Lo gak salah dengar. Kita menikah dulu dan gue pastiin lo akan hamil" ajak Radit sangat yakin dengan kemampuannya.
"Kak, lo serius atau bercanda sih?"
"Apa gue lagi ketawa? Gue bukan orang bodoh yang tidak tahu sikon. Apa pantas gue bercanda di saat seperti ini?" sahut Radit dengan mimik super serius.
"Lo dengar kan apa yang dokter bilang. Gue susah hamil kak dan kemungkinan besar gue gak akan bisa kasih lo keturunan. Lo mau punya anak kan? Dan sayangnya, gue gak bisa kasih lo anak" timpal Jelita coba memberi penjelasan.
"Bisa. Dokter bilang lo susah hamil bukan tidak bisa punya anak. Kita menikah dan kita lakukan itu setiap hari. Gue yakin, gue bisa bikin lo hamil"
Jelita menatap aneh wajah pria di hadapannya. Ia berusaha mencari, apakah ada candaan dari raut pria itu namun pencariaannya menemukan jawaban sesuai harapannya. Radit memang serius mengatakan kalimat yang terdengar seperti guyonan itu.
"Kak please jangan bikin gue makin pusing. Lo pikir semudah itu? Lo paham gak sih dengan penyakit gue?" cercanya heran.
"Memamg mudah. Yang bikin susah itu mindset lo. Lo gak percaya gue bisa bikin lo hamil? Kita akan punya anak" Radit menekankan setiap ucapannya.
"Lo bisa kak tapi gue yang gak bisa. Gue yang gak sempurna....
"Itu sama saja lo gak percaya sama gue. Berapa kali lagi gue harus bilang, gue bisa bikin lo hamil. Apa kita perlu mencobanya sekarang?" Radit menarik leher sang gadis dan mengulum liar bibir yang diolesi lipstik warna merah muda itu.
Jelita mendorong keras tubuh pria yang sedang bringas mengecup bibirnya. "Kak, gue serius?"
"Gue juga serius. Mau sampai kapan masalah ini terus dibahas, hah? Kuncinya satu, lo gak percaya sama gue. Itu sama saja lo meragukan kejantan...aishh
Ucapan radit terputus. Ia mengacak rambutnya frustasi. Ia seakan kehabisan cara untuk meyakinkan kekasihnya itu.
"Dengar, gue mau menikahi lo karena gue sangat mencintai lo, Jelita. Gue memang mau punya anak tapi jika kita tidak diberi anugrah itu maka gue akan tetap ada di sisi lo. Tapi gue sangat yakin, Tuhan tidak akan menghukum kita seberat itu. Percaya sama gue, gue akan buat lo hamil" sambungnya lantang dan yakin.
Sang gadis menggelengkan kepala. Jujur ia meragukan ucapan Radit, meskipun perkataan kekasihnya itu terdengar sangat meyakinkan. Jelita diam sesaat sambil menatap dalam wajah pria di hadapannya. Sorot mata penuh percaya diri itu membuatnya luluh dan tumbuh sedikit rasa percaya. Selama ini yang ia tahu, ucapan Radit jarang meleset.
"Lo yakin kak?" tanyanya ragu-ragu.
"Sangat yakin. Asalkan lo mau melakukan itu setiap hari" kali ini Radit bicara agak asal.
"Memangnya harus setiap hari biar hamil?" tanya Jelita polos.
"Iya tentu saja" sahut Radit antusias.
Jelita menundukkan wajah dengan bibir manyun dan mimik bimbang.
"Gue takut kak?"
"Tentang apa lagi?" sambung Radit sembari meletakkan kedua tangannya di pundak sang gadis.
Jelita menatap intim, kemudian bergerak maju dan menyelusupkan wajahnya ke ceruk pria tinggi itu.
"Katanya kalau pertama kali itu sakit ya?" tanyanya setengah berbisik di depan telinga Radit.
"Gue gak tahu. Gue bukan cewek" balas Radit berbisik. "Tapi kalau lo penasaran, kita bisa melakukannya sekarang" sambungnya tersenyum menggoda.
Gadis itu tersipu malu dengan wajah merona.
"Dasar mesum. Gitu aja langsung kepancing. Udah ah gue mau turun. Jam istirahat sudah habis" ucapnya sambil melirik arloji.
Radit menggapai pinggang ramping Jelita. Ia masih ingin berlama-lama menghabiskan waktu bersama sang gadis.
"Sebentar lagi. Gue kangen banget sama lo" ungkapnya dengan wajah bergelayut manja di pundak Jelita.
"Aneh! Kita kan bertemu setiap hari. Kok bisa kangen?"
"Gue kangen kehangatan ini" sahut Radit mengeratkan lingkaran tangannya di tubuh Jelita. Ia memejamkan mata meresapi rasa nyaman yang selalu membuatnya damai. Rasa seperti ini sangat langkah dan hanya bisa ia dapatkan dengan memeluk sang kekasih.
Kak, lo segalanya bagi gue. Kalau gak ada lo, mungkin gue akan kesulitan menjalani ini semua, batin Jelita tersenyum damai.
"Kak, apa kita akan menikah tanpa restu papa sama mama?"
"Sepertinya begitu. Lo gak papa kan?"
Jelita diam beberapa detik sebelum menjawab. Jauh di lubuk hatinya, ia ingin ada sosok orangtua hadir di hari paling bahagianya nanti.
"Gak papa" jawabnya tak jujur.
...***...
Hah!
Agnes menganga saat Jelita memberi sebuah kartu undangan pernikahan. Ia terkejut dan tidak percaya sebelum akhirnya melihat nama calon pengantin yang tertera di halaman depan undangan itu.
"Ta, ini serius? Undangan ini asli kan? Atau lo nyetak ini cuman buat ngagetin gue doang?" Agnes belum sepenuhnya percaya. Ia bahkan membolak balikkan undangan berulang kali.
"Lo kira gue segabut itu ya? Sampai gue harus nyetak undangan cuman buat ngeprank lo doang" sahutnya sewot.
"Iya, gue kaget. Kan yang sedang rencanain nikah gue. Tapi malah lo yang nikah duluan" sambar Agnes setelah menyeruput kopi hangatnya.
"Lo sekarang percaya kan dengan istilah kalau rezeki gak kemana"
Agnes termenung sejenak. Ia sedang mencerna ucapan Jelita barusan.
"Gitu ya" balasnya linglung.
"Lo sendiri kapan nikah sama Zain? Katanya sebentar lagi tapi sampai sekarang, gue belum terima undangan" tanya Jelita seraya meniup teh hangat miliknya.
Raut wajah Agnes berubah murung. Kepalanya sedikit ditekuk. Helaan nafas gadis itupun terdengar sangat berat.
"Kenapa muka lo gitu? Ada masalah?" sambung Jelita.
"Lo tahu kan Zain owner kafe Mentari. Kafe itu sekarang terlilit hutang di bank. Partner Zain yang sama-sama mengelola kafe Mentari kabur setelah ia berhutang ke bank dengan jaminan kafe. Karena masalah itu, rencana pernikahan kami ditunda. Ta, gue kasihan banget lihat Zain. Dia kebingunan sekarang buat cari pinjaman. Karena minggu depan hutangnya sudah jatuh tempo dan kalau tidak dibayar, kafe akan ditutup" tutur Agnes dengan muka memelas kasihan.
Mendengar cerita teman karibnya itu membuat Jelita terdorong ingin membantu. Namun ia tidak tahu harus menolong dengan apa selain kata-kata motivasi belaka. Karena dirinya sekarang bukanlah Jelita yang dulu. Jelita yang sekarang hanyalah gadis yang sedang berjuang untuk mendapatkan uang guna mengisi perut.
Keduanya berpisah di pinggir jalan. Jelita pulang lebih dulu dengan memakai jasa sopir taksi. Di tengah perjalanan, ia meminta pada sopir untuk mengganti arah ke apartement Radit.
Begitu langkah pertamanya memijaki lantai apartement, tubuhnya langsung ditarik ke dalam dekapan hangat yang menenangkan.
"Ada apa kak? Kenapa tadi telpon?" tanya sang gadis membalas dekapan itu.
"Kangen" Radit mengeratkan pelukan hingga benar-benar tidak ada sekat antara dirinya dan Jelita. "Seharusnya hari minggu ini jadi hari kita" tambahnya.
"Manja banget sih" sahut Jelita dengan senyum merekah. "Kak tadi gue ketemu Agnes. Dan dia lagi ada masalah"
Keduanya duduk santai di sofa. Jelita mulai bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi Zain dan Agnes. Setelah bercerita, tak lupa ia meminta Radit untuk membantu dua temannya itu. Namun Jelita tidak mau berharap banyak. Ia ragu apakah calon suaminya itu mau membantu mengingat Zain bukanlah orang asing.
"Kak, gue ke dapur dulu ya" melihat Radit yang lama membisu setelah ia selesai bercerita membuat Jelita semakin yakin jika pria itu tidak berniat ingin membantu.
"Berapa uang yang Zain butuhkan?" tanya Radit lantang.
Seketika Jelita langsung menghambur ke dalam pelukan Radit. Senyumnya mengembang lebar. Hatinya lega sekarang. Ia tidak salah menilai. Ternyata jiwa sosial Radit masih sangat tinggi.
"Gue gak salah pilih calon suami" ucapnya bahagia seraya menyentil dagu pria itu.
"Masa?" sahut Radit sambil mengankat tubuh Jelita ke pangkuannya.
"Iya. Gue gak sabar jadi istri lo kak"
Radit mengedipkan mata kirinya pada sang gadis. Tampak sangat menggoda dan mengairahkan. Dalam sekejab, bibir keduanya menempel lekat seperti dua sisi kertas yang diolesi lem. Di sela cumbuan panas, pasangan kekasih itu menyelipkan obrolan ringan disertai sentuhan-sentuhan intim.
"Mungkin kita harus merubah panggilan keseharian kita"
"Kenapa?" sahut Jelita dengan nafas terengah dan bibir sedikit membengkak akibat gigitan pria yang saat ini sedang mengurungnya dalam belenggu.
"Tiga hari lagi kita akan menikah. Bukankah tidak baik kalau bicara pakai gue, lo?"
...***...
Next,
"Saya terima nikah dan kawinnya Jelita Aliska....
SAH....
Sahut para tamu serempak.