My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
SAH



Satu persatu para tamu mulai berdatangan. Tidak banyak yang diundang untuk acara akad nikah. Radit dan Jelita sepakat untuk mengundang kerabat dekat saja di acara sakral yang beberapa jam lagi akan terlaksana. Dekorasi ruangan terlihat indah dengan aksen bunga segar yang didominasi warna putih. Sementara itu di dalam kamar, Jelita sudah siap dengan riasan pengantinnya. Ia terlihat sangat cantik dan menawan di hari pernikahannya ini.


"Lo cantik banget, Ta" puji Agnes yang sejak pagi selalu setia mendampingi Jelita. Kecantikan Jelita benar-benar terpancar di hari pernikahannya. Wajahnya tampak sempurna dilapisi bedak yang tidak terlalu tebal, dipadu dengan riasan mata simpel namun tetap cantik, bibirnya juga diolesi lipstik warna merah muda yang semakin menyempurnakan penampilannya hari itu.


"Terima kasih banyak, Nes. Ntar kalau lo nikah, gue juga akan selalu dampingi lo" balas Jelita sembari memeluk teman terbaiknya itu.


Dua teman karib sejak masa perkuliahan itu saling berpelukan untuk yang terakhir kalinya dengan status keduanya masih lajang. Setelah ini tentunya, mereka akan punya kesibukan masing-masing dan mungkin saja hal itu membuat mereka jarang bertemu nantinya.


Di bilik lain, Radit juga sudah siap dengan pakaian pengantinnya. Ia begitu gagah dan mempesona. Berbeda dengan Jelita yang sedikit lebih tenang, Radit justru merasakan deg-degan yang luar biasa. Sembari berkaca di depan cermin, mulutnya tidak berhenti komat kamit melafalkan kalimat ijab kabul. Bahkan ia sampai menyeka keringat di area mata karena terlalu gugup.


"Santai saja. Kalau lo panik begini, lo pasti salah bicara nanti" ucap Zain berusaha menenangkan.


Radit menghela nafas pendek sambil menoleh ke arah Zain.


"Lo mau nenangi gue atau nyumpahin gue?" Radit menggoyangkan jari-jarinya sembarang untuk mengurangi rasa gugup.


Zain hanya tersenyum tipis menanggapi tuduhan Radit. "Radit, ada yang mau gue katakan" Zain berjalan mendekati calon pengantin itu.


"Apa? Buruan, sebentar lagi acaranya mulai" sahut Radit sambil melirik waktu di ponselnya.


"Jaga Jelita. Dia sudah memilih lo untuk mendampinginya seumur hidup. Jadi buat dia bahagia" ujar Zain dengan tatapan serius.


Radit membenarkan posisi berdirinya berhadapan dengan mantan calon istrinya itu.


"Lo gak perlu ngajarin gue soal itu. Jelita selalu jadi prioritas utama gue. Gue pasti akan membuatnya bahagia" balas Radit takkala serius. Ia sedikit tidak suka dengan sikap Zain barusan.


Zain mengangguk cepat. "Terima kasih untuk bantuannya. Karena lo, kafe gue gak jadi tutup"


"Gue melakukan itu karena Jelita" ucap Radit menimpali.


Pukul 10.00 am calon pengantin pria dan wanita memasuki lokasi acara. Keduanya terlihat sangat serasi dengan warna baju senada. Visual serta riasan pengantin yang sangat pas membuat para tamu yang hadir menatap penuh kekaguman.


"Kamu cantik banget" puji Radit setengah berbisik.


"Lo juga tampan banget kak" balas Jelita tersipu malu.


"Kok masih lo sih?"


"Maaf, lupa. Maksudnya kamu ganteng banget kak" ralat Jelita dengan senyum menawan yang selalu merekah di wajahnya.


Pundak keduanya bergetar sesaat, berusaha keras menahan tawa. Tak lama setelah penghulu selesai menyiapkan semua berkas pernikahan, acara sakral itupun dimulai. Radit menyalami tangan penghulu sesuai intruksi.


"Saya terima nikah dan kawinnya Jelita Aliska.....


Sah...sah...sah


Sahut para tamu serempak. Sepasang pengantin baru itu saling menatap haru dan tersenyum simpul begitu lantunan doa selesai dibacakan. Di rangkaian terakhir setelah ijab kabul, tak lupa Jelita mencium punggung jemari Radit dengan status baru sebagai istri.


Acara langsung dilanjutkan dengan agenda berikutnya hingga resepsi di malam hari.


"Selamat malam istriku" sapa Radit memeluk Jelita dari arah belakang setelah keluar dari kamar mandi.


"Kak, jangan sekarang. Kita harus siap-siap buat acara resepsi" ucap Jelita berusaha menyingkirkan lengan sang suami dari pinggangnya.


"Gak mau. Aku mau terus meluk kamu begini" Radit tampak sangat manja bergelayut dipunggung sang istri.


Tok! Tok! Tok!


"Tu dengar kan? Itu pasti perias pengantin kita" Jelita melebarkan kaki ke arah pintu namun Radit menarik kembali tubuhnya ke belakang.


Tanpa kata-kata Radit langsung menyerobot bibir Jelita tanpa ampun. Pengantin wanita itu gelagapan dan berusaha menyeimbangkan gerakan liar suaminya.


Tok! Tok! Tok!


"Kak, sabar" ucapnya seraya mendorong pelan dada pria yang sedang dirasuki hasrat birahi itu. Ia kemudian melangkah ke arah pintu.


Krekkk


"Silakan masuk mbak. Maaf agak lama" sesal Jelita merasa tidak enak hati.


"Gak papa mbak. Kami ngerti kok" balas perias pengantin rancu.


Radit dan Jelita saling memandang lalu tertawa kecil. Hampir satu jam lebih, akhirnya pengantin baru itu siap turun ke bawah untuk menyapa para tamu yang datang.


Acara berlangsung sangat meriah. Berbeda dengan siang tadi, malam ini lebih banyak tamu yang datang. Tidak hanya kerabat dekat tapi sebagian karyawan dari perusahan yang Radit pimpin pun turut hadir. Namun seperti biasa, pasti ada pro dan kontra. Radit dan Jelita pun tidak luput dari itu. Ada sedikit bisik-bisik diantara mereka saat melihat Jelita yang berdiri disamping Radit. Meskipun sudah tahu sebelumnya tapi tetap saja pertanyaan-pertanyaan menganggu menyertai acara itu. Mereka bertanya-tanya apakah Jelita menjadi orang ketiga? Karena yang mereka tahu, Radit sudah beristri.


"Kak, pasti mereka bingung" ucap Jelita sambil melirik ke arah Laras, Dian, dan yang lainnya.


"Kenapa?"


"Mereka kan tahunya kamu sudah nikah, kak. Pasti aku di kira pelakor. Pokoknya aku gak mau tahu. Kamu harus jelasin sama mereka nanti" tuntutnya memaksa.


Mendekati pukul 11.00 pm, acara baru benar-benar selesai. Radit dan Jelita kembali ke kamar dengan kaki dan tangan pegal. Gara-gara banyak yang datang, keduanya hampir tiga jam berdiri untuk menyalami para tamu.


"Kak, aku mandi duluan ya. Gerah banget"


"Mau ditemanin?" tanya Radit dengan lirikan yang sulit dijelaskan.


"Gak usah kak. Aku mandinya lama"


"Justru bagus kalau lama" Radit beranjak dari kasur dan mendekati Jelita yang berdiri di depan cermin. "Sini aku bantu lepasin" tambahnya memutar tubuh sang istri yang masih dibaluti gaun pengantin.


Sembari menurunkan resleting, tangan Radit mulai bergerilya meraba punggung polos yang baru terbuka sedikit itu. Sentuhan halus dari tangan kekar Radit seketika membuat Jelita terbuai. Tak butuh waktu lama, kini gaun pengantin itu tidak lagi menutupi tubuh bagian atasnya. Beberapa saat kemudian, suara lenguhan pendek keluar dari bibir manis Jelita saat lehernya dikecup dalam oleh pria yang sudah sah menjadi suaminya. Matanyapun refleks terpejam meresapi hisapan memabukkan itu.


"Kak, aku mau mandi" selanya dengan nafas memburu.


"Nanti saja" Radit mengankat bridal tubuh pengantin wanitanya dan membaringkannya dengan penuh kelembutan di atas kasur.


Gerakan bercinta pengantin baru itu semakin tidak terkendali. Birahi yang membakar hasrat membuat mereka semakin liar. Entah sejak kapan dada Jelita tidak terbungkus sehelai benangpun. Kini tangan keras Radit begitu lihai mempermainkan daging kembar polos tersebut. Sekarang bibir tebalnya beralih objek, bermain di bagian puncak daging kenyal itu.


"Kak" nafas Jelita tersengal. Spontan ia menarik leher Radit saat merasa akan ada yang keluar dari bagian vitalnya.


Lenguhan panjang dan sensual Jelita memenuhi ruangan. Ia mendapatkan pelepasan pertamanya. Melihat tubuh sang istri yang menggeliat panas membuat Radit semakin terpacu untuk memberikan ******* berikutnya. Ia melucuti seluruh pakaiannya dan juga celana pendek yang masih Jelita kenakan.


Jelita membuka mata perlahan setelah nafasnya stabil. Matanya melotot kagum saat melihat perut kotak-kotak pria di atasnya. Spontan tangannya bergerak meraba perut seksi itu. Tak berlangsung lama, Radit kemudian memasukkan jari-jari lentik itu ke dalam mulut dan mengulumnya dengan gerakan sensual.


"Bersiaplah" bisik Radit dengan nafas menggebu.


Lidah panjangnya kembali beraksi. Setiap bagian tubuh wanita tak berdaya itu, tidak ada yang terlewatkan oleh indera perasanya. Kembali suara-suara lenguhan menggoda menyeruak. Suara yang semakin membuat Radit terpacu untuk melakukan hal lebih.


"Ini akan sedikit sakit" ujarnya sambil mengarahkan miliknya ke depan alat vital sang istri.


"Aahh" lenguh Jelita meringis kesakitan. "Aahhh" lenguhnya lebih panjang sambil menggigit kuat bibir bawahnya saat milik Radit berhasil mengoyak selaput darahnya.


"Aahh" sahut Radit mendesis nikmat.


Ia diam sesaat membiarkan miliknya beradaftasi dengan milik sang istri terlebih dahulu. Sementara memberi Jelita waktu, tangannya dengan mahir membelai lembut paras cantik itu. Mata keduanya bertemu menatap intim penuh gairah.


"Kak"


"Hmm"


"Apa aku akan hamil?"


Radit terkekeh geli kemudian mengecup sebentar bibir ranum kesukaannya. "Tentu saja" jawabnya mulai bergerak naik turun untuk memulai permainannya lagi.


Ia menambah tempo permainan setelah melihat ekspresi sang istri yang sudah tidak kesakitan lagi. Menit berikutnya, Jelita kembali melenguh panjang menandakan ia mendapat pelepasan lagi. Melihat wajah lelah sang istri, Radit mempercepat gerakan sensualnya. Hal itu membuat Jelita meracau tidak karuan. Tubuhnya blingsatan seperti cacing kepanasan. Radit semakin menggila. Keringatnya menetes melewati rahang kerasnya.


"Aahhh...aahh" lenguh penjang keduanya secara bersamaan. Setelah itu, Radit ambruk menindih tubuh sang istri yang dipenuhi keringat seperti dirinya.


Radit mencium kepala Jelita. "Kamu nikmat sekali sayang" gumamnya membuat wajah Jelita bersemu merah bak kepiting rebus.


Kulit sepasang pengantin baru itu tampak mengkilat oleh pelu sisa percintaan panas mereka tadi. Radit kemudian menarik selimut menutupi tubuh tanpa busananya dengan sang istri. Raga yang lelah dan malam yang sudah larut membuat mereka akhirnya terlelap dengan cepat dengan posisi Radit memeluk tubuh polos Jelita.


Keesokan harinya....


Jelita membuka mata malas. Pandangannya langsung disajikan pada sosok pria tangguh yang membuatnya kelelahan semalam.


Pemandangan yang indah, pujinya dalam hati saat melihat wajah sang suami.


"Morning my wife" sapa Radit tersenyum hangat sambil melesatkan morning kiss pertamanya sebagai suami.


"Morning my husband. Hmm...kamu mau aku masakin apa?" tanyanya sambil meraba dada sang suami.


"Apapun yang kamu masak, pasti akan aku makan" jawab Radit tak ingin merepotkan Jelita di hari pertamanya menjadi istri.


"Yakin?"


"Tentu saja"


"Beneran yakin?"


Radit terdiam. Ia menyoroti wajah istrinya itu dengan perasaaan curiga. "Mau ngerjain ya?"


"Gak" sahut Jelita menggelengkan kepala. Ia berusaha tetap santai agar niat jahatnya tidak ketahuan.


"Gak...gak...kamu pasti punya rencana buruk" Radit menarik pinggang ramping Jelita lalu menggelitiknya rutin.


"Kak, geli banget" balasnya melawan.


Keduanya lalu terlibat perkelahian kecil layaknya kucing dan tikus yang tidak pernah akur. Tawa keras juga mengiringi interaksi itu di hari pertama mereka setelah sah menjadi suami istri.


"Kamu ya, baru hari pertama jadi istri sudah punya niat buruk sama suami" Radit mengacak-acak rambut Jelita geram.


"Kak, siapa yang mau ngerjain" timpal Jelita membalas dengan menarik rambut suaminya.


Sepasang suami istri konyol itupun sama-sama meringis kesakitan. Setelah beberapa saat, keduanya telentang lelah sembari memandang langit-langit kamar.


"Aku jadi ingat dengan masa kecil kita dulu, kak. Kita tidak pernah akur dan selalu berantem seperti tadi" ujarnya mengenang masa lalu. "Dan sekarang, kita sudah jadi suami istri. Aku gak nyangka, kita bisa sejauh ini kak" tambahnya setengah duduk agar dapat melihat wajah pria yang telah menjadi miliknya itu.


"Kata-kata yang bagus" balas Radit mengankat jempolnya.


"Iiih nyebelin banget sih. Aku udah ngomong panjang lebar gitu terus dibalas segitu doang" timpalnya merengut kesal.


Radit hanya tersenyum tipis. Kemudian membanting tubuh Jelita jadi di bawahnya. "Harusnya gimana?"


"Hmmm" Jelita menggerakkan bibirnya ke kiri dan ke kanan. "Begini mungkin" lanjutnya sedikit membusungkan dada lalu mengecup bibir suaminya itu. Ia menjulurkan lidah dan membasahi bibir pria di atasnya dengan saliva.


Radit menekankan bahu Jelita. "Mau lagi?" tanyanya dengan alis kanan tertarik ke atas menampilkan lirikan devil mematikan.


"Mau, tapi tidak sekarang. Kita mandi dulu terus nemuin mama sama papa. Kita harus kasih tahu mereka kalau kita sudah menikah "


...***...


Plakkkk


"Anak tidak tahu diri. Mulai sekarang kamu bukan lagi anak mama"


"Ma, jangan pukulin kak Radit lagi. Dia suamiku"


"Thank you sayang" balas Radit tersenyum simpul.


Radit dan Jelita bergenggaman tangan erat.