My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Dalam Guyuran Air



Begitu sampai rumah dan belum sempat melangkah lebih dalam, kedatangan Jelita dan Radit langsung disambut pelukan hangat Surya dan Laura. Mereka dapat bernafas lega begitu melihat kedua anaknya itu pulang ke rumah. Terutama untuk Jelita, baik Surya dan Laura sedikit takut putrinya itu tidak ingin kembali setelah tahu kenyataan yang sebenarnya.


"Jelita, kamu anak papa dan mama" tekan Surya untuk yang ke sekian kalinya.


Baginya kenyataan jika Jelita bukanlah darah dagingnya tidak akan merubah apapun. Jelita akan tetap jadi putri kesayangan mereka sampai kapan pun.


"Pa, ma, apa kalian akan tetap menganggap Jelita seperti Jelita yang dulu?" tanya Jelita merasa minder. Ia merasa haknya di rumah ini sudah tidak sama lagi setelah mengetahui status dirinya yang sebenarnya.


"Tentu saja sayang" timpal Laura sambil membelai halus rambut sang putri.


Jelita tersenyum tipis. Namun tampak ada ruang kosong di matanya. Seperti orang kebingunan. Ini seperti shock terapi baginya. Tiba-tiba dirinya menjadi orang asing di dalam lingkungan keluarganya sendiri.


"Dit, terima kasih sudah membawah Jelita kembali" ucap Surya sambil menepuk pelan pundak putra kebanggaannya.


Radit hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kecil.


"Pa, aku langsung ke kamar ya. Ngantuk" Radit berlalu ke kamarnya. Di ruang privasi itu ia langsung merebahkan diri di kasur. Semalam ia tidak bisa tidur hingga pagi menjelang karena terus kepikiran dengan Jelita.


Bahkan kemarin, setengah malamnya dihabiskan di atas jalanan aspal untuk mencari keberadaan Jelita. Ini tidak berlebihan karena bagi Radit, apapun yang menyangkut tentang Jelita akan ia taruh dalam urutan teratas. Ia tidak peduli dengan yang lainnya sebelum memastikan gadis kecilnya itu aman dan selamat.


Di kamar yang lain, Jelita terlihat sudah tertidur nyenyak. Bukan hanya raganya tapi pikirannya juga lelah. Berpuluh tahun ia hidup bersama keluarganya sekarang dan selalu beranggapan jika keluarganya adalah yang terharmonis di dunia tapi nyatanya ada rahasia besar di dalamnya dimana ia yang menjadi tokoh utama yang menyedihkan. Andai saja waktu bisa diputar kembali maka Jelita tidak akan pernah masuk ke ruang kerja papanya malam itu. Dengan begitu ia tidak akan tahu kenyataan pahit ini.


Hari berangsur malam, seperti rutinitas biasanya, kali ini pun Surya, Laura, Radit, dan Jelita berkumpul di meja makan dan siap menyantap makanan yang sedang dihidangkan Laura dan bi Asmi. Melihat kesibukan dua wanita berumur itu membuat Jelita yang merasa tidak enak hati. Ia pun segera bangun dari duduknya dan ikut membantu menyiapkan makanan.


Sontak hal itu membuat Laura dan yang lain terkejut. Makhlum saja, Jelita tidak pernah serajin ini. Gadis pemalas itu biasanya tinggal makan saja dan setelah makan biasanya langsung nyelonong ke kamar tanpa menghantarkan piring miliknya ke wastafel.


"Tumben" ucap Laura saat sang putri membantunya membawahkan sup panas.


"Anggap saja Jelita lagi rajin, ma" ujar Jelita tersenyum manis.


"Awas supnya nangis" sambung Radit bergurau.


Dahi Jelita langsung mengernyit dengan tatapan membidik tajam kepada Radit.


"Apaan, sih? Gak usah ngajak ribut deh" sela Jelita tahu ada maksud lain dari ucapan Radit.


Surya pun tertawa kecil melihat kelakuan dua anaknya itu. Ia sangat senang karena tidak ada kecanggungan antara Radit dan Jelita setelah semuanya terbongkar. Itu artinya memang tidak ada yang berubah seperti harapannya.


...***...


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Surya dan Laura meninggalkan rumah, bahkan tidak sempat sarapan. Mereka akan menghadiri sebuah event dimana Surya menjadi salah satu tamu penting. Dan untuk mengantisipati dari kemacetan, mereka memutuskan berangkat lebih awal agar tidak terlambat tiba ke lokasi acara.


"Bi, papa sama mama mana?" tanya Jelita sesaat setelah mereguh segelas air putih.


"Bapak dan ibu sudah berangkat, non" jawab bi Asmi seadanya.


"Kemana?"


"Kalau itu bibi gak tahu, non. Bibi gak berani nanya" ucap bi Asmi merasa segan kepada majikan super baiknya itu. "Non, bibi mau langsung ke pasar ya. Bahan di kulkas sudah habis. Sarapannya sudah bibi siap kan"


"Oh gitu. Terima kasih ya, bi. Sama pak Sopian saja ya ke pasarnya" ucap Jelita menawarkan sopir pribadinya untuk mengantarkan bi Asmi ke pasar.


Tentu saja bi Asmi menolak tegas. Ia tidak pantas memakai sopir pribadi majikannya.


"Udah gak papa, bi. Gak usah takut. Ntar Jelita bilangin sama papa. Jelita bisa berangkat kuliah pakai taksi" tuturnya.


"Hmm"


Radit berdehem nyaring saat baru saja sampai di dapur. Baginya aneh melihat Jelita mencuci piring. Entah apakah ia melewatkan ini saat kuliah di New York tapi seingatnya baru kali ini ia melihat gadis manja itu mencuci piring.


"Gak usah bikin mood gue rusak deh" ucap Jelita jengkel. Ia tahu Radit sedang merangkai kata untuk meledeknya.


"Wah sepertinya hari ini akan hujan deras" Radit menghampiri Jelita dan melipatkan tangannya di dada.


Jelita memandang sekilas pria menyebalkan yang berdiri di sebelahnya, kemudian kembali fokus ke piring yang ada dalam genggamannya.


"Wuiih seram banget mata lo. Kayak pisau tajam banget. Lo kayaknya punya jiwa psikopat deh" Radit terus memancing keributan.


Tak tahan, Jelita akhirnya memercikkan air busa sabun ke bagian wajah Radit.


"Aahh mata gue" ringis Radit mengucek-ucek matanya.


Radit merasa pedih di bagian retinanya. Sepertinya air sabun itu sudah bercampur dengan sisa sambal, pikir Radit.


"Dihh lebay banget sih. Cuman gitu doang" Jelita merasa Radit hanya pura-pura sakit.


"Mata gue beneran pedih. Lo pasti gak misahan sisa sambal ke dalam sabun"


Seketika Jelita menutup mulutnya. Ucapan Radit benar adanya.


"Ya ampun, berarti lo gak pura-pura. Sini ikut gue" Jelita menarik lengan Radit membawahnya ke kamar mandi.


Jelita menguyuri Radit di bawah shower. Ia memutar-mutar tubuh berotot itu layaknya mainan anak.


"Aisshh lo pikir gue anak kecil pakai dimandiin segala" ucap Radit kesal. Ia pikir Jelita ingin membantunya tapi ternyata ia sedang dikerjain. Ia salah sempat memuji adiknya itu dalam hati.


Jelita tertawa lepas dan menghina kepolosan sang kakak. Bisa-bisanya Radit tidak menaruh curiga sama sekali kepadanya.


"Bodoh banget sih lo, kak" maki Jelita lagi. Ia sangat puas melihat raut wajah kesal dan marah pria yang sudah basah kuyup di hadapannya.


Namun gelak tawa itu seketika berhenti begitu Radit memeluk Jelita erat dan menuntun gadis itu ke bawah air yang sedang mengalir. Jelita memberontak ingin melepaskan diri. Ia tidak mau basah seperti Radit mengingat sebelumnya ia sudah mandi. Masa mandi lagi!


"Rasain lo. Kalau gue basah, lo harus basah juga" ucap Radit balas dendam sambil tertawa ngeri.


Radit menyilangkan tangan Jelita ke belakang agar tidak bisa kabur. Jelita yang terus melawan dan air yang terus menguyuri tubuh keduanya membuat nafas kakak adik itu tersengal.


Dada keduanya bergerak naik turun. Pandangan mereka bertemu di tengah bunyi air mengalir. Dua raga yang menempel lekat itu memercikkan gesekan berbeda. Jelita yang hanya mengenakan kaos oblong putih membuat Radit dapat melihat tonjolan dada yang berukuran tidak terlalu besar namun terlihat pas milik gadis di depan matanya. Menyadari mata Radit yang sedang memperhatikan dirinya, Jelita pun mendorong tubuhnya sendiri ke dalam dekapan Radit.


"Jangan melihat apapun, gue malu" ucap Jelita berdebar.


Radit meluruskan lengan panjangnya dan menekan tombol yang terletak di bawah shower. Air pun berhenti mengalir.


Ia melengos sembari mengambil handuk yang tergantung di belakangnya. Kemudian melingkari handuk putih itu ke tubuh Jelita.


"Ganti pakaian. Setelah itu kita makan. Gue akan antar lo kuliah"


Jelita terduduk lemas di lantai. Ia menepuk-nepuk dadanya. Debaran itu masih bersisa.


Apaan sih lo, Ta? Jangan punya perasaan yang aneh-aneh deh. Radit tetap kakak lo, batin Jelita lirih.