My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
EPILOG



Di sebuah pedalaman hutan yang tertutup oleh salju putih, nampak seekor rubah tengah meringkuk di atas tumpukan salju. Warna bulunya yang putih terlihat seolah menyatu dengan salju putih. Jika tidak memperhatikan dengan teliti, tidak akan ada yang menyadari keberadaan rubah itu. Dari kejauhan tampak dua orang pria sedang bersembunyi di balik pohon Pinus besar. Kedua orang itu sudah cukup lama memperhatikan keberadaan rubah itu.


"Malam ini kita bisa makan enak," kata pria bernama Charlie itu.


Sementara pria satunya mulai membidik dengan senapan yang diarahkan ke rubah malang itu. Dengan sekali tembakan rubah malang itu langsung tidak berkutik.


"Yes, dapat!" ucap Zack, pria yang menembak rubah.


Kedua pria itu langsung mendekati tempat rubah itu terkapar. Rubah malang itu diam tidak bergerak karena yang ditembakkan Zack merupakan panah yang berisi obat bius. Charlie mengangkat tubuh rubah itu.


"Kecil sekali! Apa ada cukup daging untuk dimakan?" tanya Charlie dengan kecewa.


"Kita bawa saja dulu," jawab Zack.


Kedua pria itu pun membawa pergi rubah tersebut kembali ke cottage mereka. Sesampai di cottage, Charlie menjatuhkan tubuh rubah malang itu begitu saja di atas tumpukan salju. Dia sudah kecewa duluan karena ternyata hasil buruannya tidak sesuai dengan harapan. Setelah menyimpan senapannya, Zack mendekati rubah itu. Dia mencabut panah bius yang masih tertancap di tubuh rubah. Kemudian memasukkan rubah itu ke dalam kandang di luar cottage yang telah disediakan.


Hari menjelang malam, udara juga semakin mendingin. Charlie menyalakan api unggun di depan cottage. Zack ikut bergabung kemudian.


"Di mana rubah itu?" tanya Charlie.


"Aku memasukkannya ke dalam kandang,"jawab Zack.


"Bawa kemari, Zack!" suruh Charlie.


Zack pun segera pergi mengambil rubah yang ada di dalam kandang. Saat Zack meraihnya, rubah itu terbangun. Sepasang mata merah membola menatap Zack seperti meminta belas kasihan. Zack sampai terpukau dengan mata rubah itu. Belum pernah dirinya melihat rubah dengan mata merah yang indah seperti rubah ini. Zack seperti tersihir oleh rubah itu.


"Zack!" Charlie mulai berteriak karena Zack tak muncul juga.


"Ya, aku datang!" balas Zack. Dan diapun membawa rubah itu ke dalam gendongan untuk dibawa kepada Charlie.


"Lama sekali! Di mana rubahnya?" gerutu Charlie.


"Ini," jawab Zack.


Saat Charlie ingin mengambil rubah itu dari tangan Zack, rubah itu meringsut lebih dalam ke pelukan Zack seolah tak ingin pergi. Zack yang seperti memahami mencoba menghindar dari Charlie.


"Charlie, kau yakin ingin memasak rubah ini?" tanya Zack.


"Ya. Memangnya kenapa? Kan itu alasan kita menangkapnya," jawab Charlie.


"Rubah ini terlalu kecil dan kurus. Tidak akan cukup untuk kita berdua jika kita memasaknya sekarang," jelas Zack.


"Jadi?"


"Bagaimana kalau kita lepaskan saja? Lihatlah, wajah rubah cantik ini sangat kasihan. Aku benar-benar tidak tega memakannya," kata Zack sambil menunjukkan wajah rubah yang kemudian menatap Charlie.


Charlie juga seperti tersihir oleh mata merah indah milik rubah.


"Benar. Rubah yang sangat cantik. Kita tidak boleh memakannya. Kalau begitu kita pelihara dia," usul Charlie.


"Lalu, apa yang kita makan malam ini?" tanya Zack.


"Kita masih punya sedikit persediaan makanan kaleng. Malam ini kita makan itu dulu. Besok kita pergi lagi ke hutan mencari buruan," jawab Charlie.


"Baiklah!"


Kedua pria itu pun menyantap makanan kaleng yang mereka bawa dari kota sambil menikmati api unggun. Sementara rubah putih itu berada di pangkuan Zack. Rubah itu memperhatikan apa yang dilakukan kedua pria tersebut. Malam harinya Zack tidur bersama rubah. Sebelum tidur Zack masih bercanda dengan rubah itu. Berbicara dengannya seperti seorang manusia.


"Kau rubah yang sangat cantik. Mulai hari ini kau akan tinggal di sini Aku akan memberikan nama untukmu. Emm... kira-kira nama apa yang bagus, ya?!" Zack berpikir menemukan sebuah nama untuk rubah putih.


"Ah, aku akan memberikanmu nama Eira. Eira itu artinya salju. Kau memiliki bulu seputih salju, nama itu sangat cocok untukmu," kata Zack kepada rubah itu.


"Hei, Zack, kau tidak mengembalikan rubah itu ke kandang?" tanya Charlie yang baru hendak tidur.


"Eira akan tidur denganku di sini," jawab Zack.


"Eira adalah nama yang kuberikan untuk rubah cantik ini," jelas Zack.


"Yang benar saja?! Kau memberikan nama untuk makanan kita? Kekeke...," kata Charlie sambil terkekeh merasa Zack sangat lucu.


Zack tidak menanggapi ucapan Charlie.


"Terserah kau sajalah. Yang penting jaga baik-baik rubah itu. Jangan sampai kabur! Setelah dia cukup gemuk aku akan memanggangnya dengan saus barbeque! Aku tidur dulu!" kata Charlie yang mulai menarik selimut menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya.


"Nah, Eira, mari kita juga tidur! Tetaplah di sini supaya kau hangat," ucap Zack yang juga menyelimuti rubah itu.


"Selamat malam, Eira!" Zack pun tidur bersama rubah yang meringkuk di sampingnya. Rubah itu memejamkan mata namun membuka matanya kembali dan menatap Charlie sudah tidur.


...🦊🦊🦊...


Keesokan paginya saat Zack bangun, rubah itu tidak ada bersama dirinya. Zack memanggil nama Eira di seluruh cottage, namun rubah itu sama sekali tidak terlihat. Charlie juga tidak terlihat di cottage. Zack pun keluar dari cottage untuk mencari rubahnya. Tiba-tiba rubah itu melompat keluar entah darimana, Zack langsung menggendongnya membawanya kembali ke dalam cottage.


Charlie masih tidak kembali ke cottage hingga sore hari. Zack mulai bertanya-tanya kemana temannya itu pergi. Tidak ada sinyal ponsel di dalam hutan, jadi Zack tidak bisa menghubungi Charlie. Hingga hari telah malam Charlie tak juga kembali. Zack mulai merasa khawatir apalagi cuaca di luar sangat dingin. Sebelumnya temannya itu tidak pernah meninggalkan cottage tanpa pesan.


Beberapa hari berlalu, Charlie masih juga belum kembali. Zack sudah berupaya mencarinya di hutan sekitar cottage. Namun belum menemukan hasil. Charlie juga sepertinya bukan sengaja pergi karena semua barang-barangnya masih ada lengkap di cottage. Menemui jalan buntu, Zack berencana akan meninggalkan cottage keesokan harinya untuk pergi ke pos polisi terdekat guna melaporkan hal ini.


Benar, keesokan paginya Zack dengan membawa beberapa barang untuk bekal perjalanan, juga barang milik Charlie, dan Eira pergi meninggalkan cottage. Ia meninggalkan hutan mencari pos polisi terdekat. Setelah menemukan pos polisi tersebut Zack langsung menceritakan masalahnya. Untungnya mereka bergerak cepat. Bersama Zack, polisi langsung pergi ke cottage dengan membawa dua ekor anjing pelacak yang sebelumnya sudah diberikan barang milik Charlie untuk diendus.


Anjing-anjing pelacak itu bergerak dengan cepat. Mereka kembali ke cottage. Anjing-anjing itu langsung berlari ke arah gudang penyimpanan kayu bakar dan terus menggonggong di depan pintu gudang. Polisi langsung mendobrak pintu gudang tersebut dan masuk ke dalam. Dan apa yang terlihat sungguh mengenaskan. Tubuh Charlie ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam gudang tersebut. Ada banyak bekas gigitan, bahkan luka robekan seperti digigit binatang buas. Namun karena cuaca yang dingin dan permukaan tanah salju sehingga tubuhnya tidak membusuk dengan cepat. Mayat Charlie langsung dibawa untuk diotopsi. Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut dinyatakan Charlie sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Dan penyebabnya adalah serangan binatang buas. Yang menjadi pertanyaan mereka, bagaimana binatang buas bisa masuk ke dalam sementara pintu gudang tertutup rapat dan tidak ada celah yang terbuka di dalam gudang. Tidak mungkin binatang buas itu menutup pintu gudangnya kembali setelah menyerang korban, bukan? Masalah ini pun masih terus diselidiki oleh pihak berwajib.


Sementara Zack juga merasa sangat sedih kehilangan temannya itu. Hanya rubah Eira yang selalu menemaninya. Eira pun tidak pernah lepas dari pandangan Zack. Hingga akhirnya Zack memutuskan untuk kembali ke kota. Awalnya ia ingin meninggalkan Eira supaya rubah itu tetap hidup di habitatnya. Namun tatapan mata Eira yang sendu membuatnya tidak tega. Hingga akhirnya Zack pun membawa Eira ikut bersamanya setelah mendapatkan izin dari pihak berwenang. Zack membawa Eira pulang ke rumah. Di rumah itu Zack tinggal bersama adik perempuannya, Matilda, dan seekor anjing Pomeranian betina peliharaan Matilda. Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Matilda sangat menyukai Eira. Begitupun Eira yang senang jika bulu-bulu halusnya diusap oleh Matilda. Sebaliknya peliharaan Matilda sering menyalak kepada Eira. Terlihat anjing itu tidak menyukai Eira si rubah putih. Namun perlahan-lahan semua berubah.


Matilda sering terbangun dengan bekas cakaran di lengan atau kakinya. Anehnya dia tidak merasakan apapun atau ada yang mencakarnya saat sedang tidur. Tidak hanya Matilda, anjing peliharaannya pun dipenuhi luka gigitan yang cukup parah. Yang juga anehnya tidak terdengar suara anjing itu menggonggong jika memang ada yang menggigit. Setiap pagi saat Matilda terbangun dari tidur ia akan mendapatkan luka baru. Padahal pintu kamar selalu tertutup. Semakin lama luka di tubuh Matilda semakin parah. Anjing peliharaannya sampai patah kaki tanpa sebab. Tetapi Zack tetap baik-baik saja dengan Eira yang sering bergelayut manja di lengan Zack.


Hingga akhirnya penyebab luka di tubuh Matilda pun terungkap. Sebelumnya Matilda diam-diam memasang kamera pengawas di kamarnya tanpa sepengetahuan Zack. Saat Matilda bangun keesokan paginya ia langsung mengecek kamera pengawas yang terhubung ke ponselnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat kejadian yang terekam saat dia tidur semalam. Matilda langsung menunjukkannya kepada Zack.


Zack juga sama tak kalah terkejutnya. Sulit dipercaya. Bagaimana seekor rubah bisa masuk ke dalam kamar yang tertutup dan merangkak naik ke atas tempat tidur? Tidak hanya itu, rubah itu juga terlihat menggigit-gigit lengan tangan dan kaki Matilda seperti tubuh gadis itu adalah daging segar yang empuk dan enak. Puas menggigit, rubah itu mengeluarkan cakarnya dan mencakar-cakar beberapa bagian tubuh Matilda.


Zack langsung emosi melihat kejadian dalam rekaman itu. Dia mengambil pisau dapur dan langsung mencari keberadaan rubah itu di dalam rumah.


"Kali ini akan kubuat rubah itu menjadi daging bakar!" umpat Zack.


Tidak sulit menemukan Eira, rubah itu tengah duduk dengan anggun di sofa bak ratu di rumah Zack.


"Eira, harusnya sejak awal aku membiarkan Charlie memanggangmu untuk makan malam!" umpat Zack lagi. Menyebut nama Charlie, dia teringat kepada teman baiknya itu.


"Charlie... Jangan-jangan kau juga yang telah membunuhnya...," kata Zack.


Namun Eira tidak peduli layaknya hewan peliharaan yang tidak mengerti bahasa manusia, hanya mengacuhkan Zack saja. Zack yang memang sudah emosi tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Dia mengangkat pisau yang dipegangnya untuk dihujamkan ke Eira. Saat kepala Eira berbalik menatapnya, Zack tiba-tiba menjatuhkan pisau itu. Dia mundur perlahan seperti orang ketakutan. Kemudian tersungkur di atas lantai menyesali apa yang hendak dilakukannya barusan. Matilda yang melihatnya jadi bingung. Kemarahan di wajah kakaknya tadi hilang seketika.


"Kakak..."


Zack berdiri dan langsung membawa Eira ke dekapannya.


"Maaf... Maafkan aku, Eira. Aku tidak sengaja," ucap Zack sambil mengusap kepala rubah itu.


"Kakak! Apa yang Kakak lakukan? Rubah itu harus di..."


"DIAMLAH!" teriak Zack dan langsung membawa rubah itu pergi.


Matilda tidak percaya kalau kakaknya lebih memilih rubah yang telah menyakitinya daripada melenyapkan hewan itu. Daripada pelan-pelan mati digerogoti oleh rubah jadi-jadian itu, akhirnya Matilda memilih meninggalkan rumah dengan membawa anjing peliharaannya. Sedangkan Zack tetap tinggal bersama rubah itu.


Zack tertidur di atas sofa, sedangkan Eira berada di atas dadanya. Di mata semua orang, Eira hanyalah seekor rubah putih unik dengan mata berwarna merah. Namun di mata Zack, Eira merupakan seorang wanita cantik yang memiliki mata merah berbinar dan senyum yang menawan. Oleh karena itu Zack tidak bisa menyakitinya.


"Mulai hari ini, aku akan tinggal di sini. Kau akan menjadi milikku satu-satunya, Zack!"


...Ლ EPILOG END ლ...