
Jeremy berada di taman. Dia bersembunyi di balik pohon Walnut dan melihat semua yang terjadi melalui cermin hexagram miliknya.
"Astaga! Ini sudah kelewatan!" geram Jeremy.
Dia segera memikirkan cara untuk menyelamatkan Angel. Tapi dia tidak bisa menyelamatkannya sendiri karena ia harus menjaga statusnya sebagai Inger agar tidak diketahui oleh siapapun terutama Maria. Apalagi Jeremy mengetahui kejadiannya dari tempat lain. Beda halnya kalau kejadiannya tidak disengaja dan Jeremy berada ditempat kejadian seperti kejadian saat menolong Lucy. Itu tidak jadi masalah.
Sebab ada peraturan bagi semua Inger seperti yang dikatakan Astru. 'Kalian hanya boleh menolong, jika secara tidak sengaja berada ditempat kejadian ataupun sebelum terjadinya peristiwa tersebut. Jangan bertindak seolah kalian cenayang yang mengetahui segala kejadian. Melindungi jati diri lebih penting dari apapun.'
Jeremy teringat pada salah satu malaikat yang bisa dimintai bantuan. Jeremy pun mengedarkan pandangan ke langit sambil mencari.
"Louis ... Louis, kamu bisa dengar aku?" ucap Jeremy memanggil Louis meski tak tahu Louis di mana tepatnya namun ia yakin Louis pasti bisa mendengar panggilannya.
"Ya. Aku sudah tahu masalahnya," ucap suara Louis dari langit tanpa menunjukkan wujudnya.
"Louis, kamu harus menolong Angel. Dia dalam bahaya!" desak Jeremy sambil terus memandang ke langit mencari sosok Louis.
Tak lama Louis muncul melayang di langit tak jauh dari tempat Jeremy berdiri. Wajahnya nampak sedih.
"Maaf, Jeremy. Aku tidak bisa menolongnya di sini. Ini di luar area jangkauanku," ucap Louis sedih.
Jeremy nampak berpikir keras. Kemudian sebuah ide muncul dengan cepat.
"Aku tahu siapa yang bisa menolong. Louis, tolong berikan aku kertas dan pulpen!" perintah Jeremy.
Seketika itu muncullah selembar kertas dan pulpen di hadapan Jeremy. Jeremy langsung menyambar kertas itu dan menulisnya. Setelah itu melipat kertas itu menjadi dua dan menyerahkannya pada Louis.
"Louis, sekarang aku ingin kamu menaruh kertas ini di atas meja Neville. Pastikan Neville membaca isi kertas ini sebelum Mariabelle masuk ke kelas," pesan Jeremy pada Louis.
"Aku mencoba memberinya kesempatan. Kamu tahu kita berdua tidak bisa menolong. Dialah satu-satunya yang bisa diharapkan saat ini," lanjut Jeremy dengan serius.
"Baik. Aku mengerti. Aku akan kembali setelah memastikan Neville benar-benar pergi menolong Angel," ucap Louis sambil menerima kertas itu dan terbang melayang menuju kelasnya Lei.
Seperti pesan Jeremy, kertas yang sudah ditulisnya barusan Louis letakkan di atas meja Lei setelah yakin Mariabelle tidak ada di kelas. Sambil mengawasi dari tempat yang tidak akan tertangkap oleh mata Lei, Louis menunggu.
Lima menit kemudian Lei masuk ke kelas sendirian. Dia berjalan ke bangkunya dan mendapati secarik kertas di atas meja. Dia lalu membuka dan membaca isinya.
╔═.✵.═════════════════════╗
𝓛𝓮𝓲, 𝓬𝓮𝓹𝓪𝓽 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓶𝓪𝓽𝓴𝓪𝓷 𝓐𝓷𝓰𝓮𝓵. 𝓓𝓲𝓪 𝓼𝓮𝓭𝓪𝓷𝓰 𝓭𝓪𝓵𝓪𝓶 𝓫𝓪𝓱𝓪𝔂𝓪! 𝓓𝓲𝓪 𝓼𝓮𝓴𝓪𝓻𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓻𝓪𝓭𝓪 𝓭𝓲 𝓭𝓪𝓵𝓪𝓶 𝓰𝓮𝓭𝓾𝓷𝓰 𝓪𝓾𝓵𝓪.
╚═════════════════════.✵.═╝
Lei tertegun sejenak setelah membaca isi pesan tersebut. Lalu dengan cepat ia langsung berlari keluar kelas menuju gedung aula. Sedangkan Louis kembali ke tempat di mana Jeremy berada untuk memberitahukan hal tersebut. Lei sampai di gedung aula dengan cepat. Awalnya ia berdiri dengan ragu di depan pintu aula. Namun kemudian ia menarik palang kayu dari pintu dan mendorongnya dengan kasar. Di dalam sana nampak Angel tergeletak tak sadarkan diri. Lei seketika mendekatinya dengan panik.
"Angel ... Angel ... Bangun!" panggil Lei berkali-kali sambil menepuk-nepuk pipi Angel. Namun Angel tak juga kunjung sadar.
Lantas Lei menggendong tubuh Angel. Dengan setengah berlari membawanya ke ruang UKS.
Pintu ruang UKS terbuka dengan keras. Membuat Michelle terlonjak kaget dari meja kerjanya. Kagetnya semakin bertambah begitu melihat Lei menggendong tubuh Angel yang tak sadarkan diri. Michelle dengan cepat menghampirinya sedangkan Lei meletakkan Angel di atas tempat tidur.
"Oh, Goddess ... Apa yang terjadi pada Angel?" tanya Michelle panik.
"Aku tidak tahu. Saat aku menemukannya dia sudah pingsan seperti ini," jawab Lei tak kalah panik.
Michelle langsung memeriksa Angel. Dia tidak menemukan tanda-tanda gejala aneh dalam tubuhnya. Detak jantungnya juga normal.
"Tidak apa-apa! Biarkan dia istirahat dulu. Sekarang Neville, ceritakan apa yang terjadi!" suruh Michelle.
Neville pun mulai menceritakan kejadiannya pada Michelle.
"Begini, tadi saat aku masuk ke kelas aku menemukan sebuah pesan tanpa pengirim yang memintaku untuk segera menyelamatkan Angel di gedung aula. Aku langsung berlari ke sana dan setelah sampai di dalam aula, aku menemukan Angel dalam keadaan pingsan. Aku rasa ada orang yang sengaja menyekapnya karena pintu dipalang dari luar."
"Astaga .... Siapa yang melakukannya?" tanya Michelle geram.
"Entahlah. Aku juga penasaran dengan orang yang mengirimkan pesan. Mengapa dia memintaku menyelamatkan Angel padahal dia tahu Angel dalam bahaya?!" jawab Lei.
"Tega sekali orang yang berbuat begitu. Tapi untunglah dia tidak kenapa-napa," ujar Michelle sambil menatap Angel yang terbaring belum sadarkan diri.
Perasaan Lei sedikit lega mengetahui Angel tidak apa-apa. Ia pun duduk di samping tempat tidur. Matanya menatap Angel lekat-lekat. Tangannya dengan kaku membelai tangan Angel. Ia berbicara dalam hati.
'Aku masih tidak mengerti perasaan apa ini. Aku selalu merasa kehilangan namun entah apa yang hilang. Aku merindukan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa. Yang anehnya semua itu semakin menjadi begitu melihatmu. Mengapa aku tidak ingat? Siapa kamu sebenarnya?'
"ARGH!" Lei tiba-tiba mengerang sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Michelle yang berada di sisi lain tempat tidur langsung menghampiri Lei dengan panik.
"Neville, kamu kenapa?"
"Ke ... Kepalaku sakit," jawabnya sambil memegang kepalanya.
"Ibu ambilkan obat, ya! Tunggu sebentar!" kata Michelle diikuti bunyinya bel tanda mulai pelajaran.
"Tidak perlu, Bu! Sebaiknya aku kembali ke kelas. Sakit kepala ini sebentar juga sudah hilang," tolak Lei.
"Neville ... Sebaiknya kamu istirahat! Bagaimana mungkin sakit kepala yang begitu hebat bisa hilang sebentar saja?" kata Michelle yang khawatir.
"Ibu, aku tidak apa-apa. Percayalah padaku! Aku bisa mengobati sakitku sendiri," balas Lei meyakinkan. Memang sakit kepalanya akan hilang sendiri jika dia berhenti memaksa pikirannya untuk mengingat Angel.
Michelle hanya menggeleng-gelengkan kepala mencemaskan keadaan putranya. Terus ia berkata, "Neville, Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu sering sakit kepala. Apa ada hubungannya dengan wujud manusiamu? Jangan memaksakan diri, Neville! Ini seharusnya tidak benar."
Lei cuma tersenyum berusaha untuk menenangkan Michelle.
"Ibu, tenang saja. Aku tidak apa-apa! Aku bisa mengobati rasa sakit itu. Lagipula ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan wujud manusiaku. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir!" katanya.
"Sekarang aku harus kembali ke kelas. Ibu tidak perlu cemas. Aku akan kembali saat jam istirahat nanti. Ibu tolong jaga Angel, ya!" lanjut Lei.
Michelle mengangguk. Dan sebelum Lei pergi ia berpesan. "Jangan memaksakan diri. Jika sakit kepalamu kambuh lagi cepat datang kemari!"
"Iya, Ibu," jawab Lei.
Angel mulai menggerakkan kepalanya. Perlahan-lahan matanya pun terbuka. Ia memandang sekeliling ruangan yang sepertinya ia kenal. Meskipun kepalanya terasa pusing. Angel melihat Michelle di mejanya kemudian memanggilnya.
"Ibu Michelle ...."
Michelle segera mendekat begitu mendengar Angel memanggil dirinya. Sambil membawa segelas air putih dan menaruhnya di samping meja tempat tidur.
"Kamu sudah sadar, Angel?" tanyanya.
Angel menatap Michelle sekilas. Michelle mulai membantu Angel untuk bangun agar ia bisa meminum air putihnya tetapi saat Angel menggerakkan badannya hendak bangun mendadak rasa sakit yang amat terasa di punggungnya.
"Aduh!" seru Angel.
"Angel, ada apa?" tanya Michelle cemas.
"Punggungku sakit sekali!" jawab Angel sambil meringis.
"Coba aku lihat! Pelan-pelan saja bangunnya," ujar Michelle membantu Angel untuk duduk.
Setelah Angel berhasil bangun dan menghabiskan segelas air putihnya. Michelle baru mulai memeriksa rasa sakit di punggungnya itu. Dan betapa terkejutnya Michelle ketika mendapati luka memar yang parah di punggung Angel. Seolah dipukul dengan sangat keras.
"Oh, Goddess! Apa yang terjadi padamu, Angel? Luka memar di punggungmu ini parah sekali. Pantas saja kamu sampai pingsan," seru Michelle kaget ditambah khawatir.
"Tunggu sebentar! Ibu ambil salep untuk mengobati luka mu," ucap Michelle terus berjalan cepat menuju lemari penyimpanan obat.
Setelah menemukan salep untuk luka memar Michelle pun kembali ke tempat Angel. Ia lalu mengoleskan salep itu ke seluruh bagian punggung Angel yang memar. Angel beberapa kali meringis kesakitan saat Michelle tak sengaja menekan punggungnya terlalu kuat.
"Angel, sekarang ceritakan pada Ibu apa yang terjadi padamu!" paksa Michelle setelah selesai mengobati luka Angel dan membaringkannya kembali ke tempat tidur. Karena duduk bersandar membuat memar di punggungnya tertekan dan sakit.
Setelah rasa sakitnya agak berkurang berganti dengan rasa hangat dari salep yang dioles Michelle. Angel pun memulai ceritanya.
"Pagi tadi aku menemukan sebuah pesan di mejaku. Setelah kubaca rupanya pesan dari Lei. Dia menyuruhku untuk ke gedung aula karena katanya ingin bicara denganku. Aku pun langsung ke sana saat itu juga. Sesampai di sana ternyata tidak ada siapa-siapa. Hanya aku sendiri. Kukira Lei belum datang. Namun tiba-tiba saja aku merasa seseorang memukulku dengan sangat keras di belakang. Setelah itu aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Tidak tahunya saat sadar sudah ada di sini."
"Lei yang mengirimkanmu pesan?" tanya Michelle mengerutkan dahinya setelah mendengar cerita Angel.
"Iya. Tertulis nama Lei sebagai pengirimnya. Sayang aku lupa menjatuhkan kertas itu di mana. Mungkin kalau masih ada Ibu bisa melihatnya," jawab Angel.
"Aneh sekali! Ibu rasa bukan Lei yang menulis pesan itu," Michelle beranggapan.
"Bukan? Lalu siapa? Kenapa Ibu yakin bukan dia?" tanya Angel tak mengerti.
"Tidak mungkin Lei yang menulis pesan itu. Lei sendiri juga mendapat pesan misterius yang menyuruhnya untuk menyelamatkanmu di gedung aula," jawab Michelle.
"Jadi, Lei yang membawaku kemari?!" seru Angel.
"Iya! Angel, Ibu curiga. Sepertinya ada orang yang ingin mencelakaimu! Kamu tahu beberapa hari ini banyak kejadian aneh di sekolah," ujar Michelle.
"Iya. Lucy pernah cerita padaku bahwa dia hampir tertimpa dahan pohon jika Jeremy tidak cepat menyelamatkannya," tutur Angel.
"Betul. Bahkan Ibu sendiri juga pernah mengalaminya. Saat pot di lantai atas jatuh hampir mengenai Ibu. Untung saja saat itu ada Kepala Sekolah. Angel mulai sekarang kamu harus sangat berhati-hati!" kata Michelle serius. Angel membalasnya dengan anggukan.
Saat itu pintu ruang UKS diketuk.
"Masuk!" seru Michelle kearah pintu.
Dua orang berpakaian rapi yang bukan berasal dari lingkungan sekolah masuk ke ruangan diikuti pandangan Michelle dan Angel. Seorang perempuan cantik berambut curly menggunakan kacamata hitam dan seorang lagi pemuda berambut pirang yang tak asing bagi Angel.
"Louis!" seru Angel begitu melihat sosok Louis di samping perempuan yang berambut curly itu.
"Hai, Angel!" sapa Louis ramah.
Michelle menatap mereka dengan bingung. Lantas ia pun bertanya, "Kamu kenal mereka?"
"Louis ini temanku, Bu!" jawab Angel sambil tersenyum. Kemudian pandangannya beralih ke Louis.
"Louis, ada perlu apa kamu datang ke sini?" tanya Angel.
"Menjemputmu!" jawab Louis singkat dan jelas. Pandangannya kemudian beralih kepada Michelle.
"Maaf, sebelumnya ijinkan aku memperkenalkan diri dulu! Anda Ibu Michelle benar?!" ucap Louis pada Michelle. Michelle mengangguk.
"Aku Louis dan ini kakakku, Anne! Aku kemari setelah mendengar insiden yang menimpa Angel. Kebetulan kakakku Anne, sangat pandai dengan masalah luka memar dan lebam. Jadi, kedatangan kami kemari untuk menjemput Angel agar Anne bisa mengobatinya di rumah." Louis memberi penjelasan pada Michelle.
"Kamu tahu dari mana mengenai kecelakaan yang menimpaku?" tanya Angel heran.
"Oh, kamu ingat salah satu temanku yang sekolah di sini? Dia yang memberi tahuku," jawab Louis tenang.
"Siapa nama temanmu itu?" giliran Michelle bertanya dengan penuh curiga.
"Maaf, Ibu Michelle. Temanku berpesan untuk tidak menyebut namanya jika ada yang bertanya darimana aku mengetahui kejadian ini. Dia tidak ingin terekspos," jawab Louis tetap ramah.
"Oh, begitu ...," Michelle hanya bergumam.
"Jadi, boleh aku bawa Angel sekarang?" tanya Louis pada Michelle.
Michelle memandang Angel sebentar. Kemudian beralih ke Louis dan Anne sambil memperhatikan keduanya dengan seksama. Baru kemudian bertanya kembali pada Angel untuk memastikan.
"Benar mereka temanmu?"
Angel tersenyum dan mengangguk dengan pasti.
"Baiklah! Kalau begitu aku serahkan Angel pada kalian. Tolong jaga dia!" pesan Michelle sambil membantu Angel bangun. Louis dan Anne mengikuti membantu Angel berdiri.
"Ibu, tenang saja! Aku jamin Angel akan sembuh dengan cepat," ucap Anne dengan pasti pada Michelle.
Sedangkan Louis membuka pintu. Anne menuntun Angel berjalan. Setelah berpamitan dengan Michelle, mereka bertiga lalu meninggalkan ruang UKS. Selanjutnya menuju halaman parkir dan masuk ke sebuah mobil hitam mengkilap yang sedang terparkir di halaman sekolah. Louis yang memegang kemudi. Anne dan Angel duduk di kursi belakang. Mobil pun melaju meninggalkan sekolah menuju rumah Angel.