My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
55# Pergi ke Dunia Malaikat



Seperti biasa Annabelle mengantarkan obat kepada Louis, hanya kali ini Annabelle datang sendiri tanpa ditemani Olive. Ia hanya membawa semangkuk kecil ramuan obat untuk diminum Louis saja. Saat Annabelle masuk ke dalam kamar Louis, pemuda itu nampak duduk bersandar di atas tempat tidur sambil membaca.


"Bagaimana kabarmu hari ini, Louis?" tanya Annabelle menyapa Louis.


"Jauh lebih baik dari sebelumnya, Nona," jawab Louis yang langsung meletakkan buku bacaannya.


Annabelle memberikan mangkuk ramuan obat itu kepada Louis agar ia segera meminumnya sebelum menjadi dingin.


"Ini minumlah! Aku lihat luka di punggung mu sudah tidak perlu diberi salep lagi. Memarnya sudah hilang hanya saja bekasnya tidak akan bisa pudar."


Louis menerima mangkuk berisi obat itu dan langsung menghabiskannya hingga mangkok itu kosong. Ia bergidik oleh rasa pahit yang sangat dari ramuan obat itu.


"Lalu, kapan aku bisa berhenti minum obat ini? Rasanya pahit sekali!" tanya Louis sampai tak berani menelan ludah.


Annabelle tertawa mendengar ucapannya. Kemudian ia bertanya, "Apa kamu masih merasakan sakit atau nyeri di bagian dada dan punggung?"


Mendengar pertanyaan Annabelle, Louis mulai menggerakkan badan dan tangannya dengan berbagai gaya. Berusaha mencari titik mana yang masih terasa sakit. Berkali-kali dia menggerakkan tapi rasanya sama saja, dia tidak merasakan ada yang sakit maupun nyeri di badannya. Dia pun tersenyum dengan girang.


Dengan semangat Louis berkata kepada Annabelle. "Tidak ada bagian yang terasa sakit maupun nyeri sama sekali! Apa itu berarti aku sudah sembuh?"


"Coba aku periksa sekali lagi," sahut Annabelle hanya untuk memastikan kondisi Louis.


Louis menuruti ucapan Annabelle. Dia langsung duduk di kursi dekat meja tulisnya. Annabelle menarik sebuah kursi lagi dan duduk di hadapannya. Ia meraih tangan Louis yang lalu diletakan di atas meja. Dua jarinya menempel di pergelangan tangan Louis. Seperti pengobatan para tabib dengan merasakan denyut nadi di tangan Louis. Selang beberapa detik Annabelle melepaskan jarinya.


Annabelle tersenyum pada Louis sambil berkata padanya, "Tidak ada masalah. Tapi kamu harus tetap minum obat ini sampai tiga hari ke depan. Untuk pemulihan kembali stamina dan tenaga dalammu."


"Oh... Baiklah, hanya tiga hari, aku akan menahan rasa pahitnya. Terima kasih, Nona Anne. Nona telah merawatku dengan baik selama ini," ucap Louis.


"Sama-sama, Louis. Oh ya, bukankah kemarin kamu menulis surat untuk Angel? Apa surat itu sudah selesai?" tanya Annabelle yang tiba-tiba teringat.


"Sudah. Aku malah sudah mengirimkannya," jawab Louis kalem.


"Mengirimkannya pada Angel? Bagaimana caranya?" tanya Annabelle penasaran.


"Aku menitipkannya pada seekor merpati. Kebetulan merpati itu terbang ke sini. Aku yakin merpati itu tidak akan salah kirim," jawab Louis yakin.


"Merpati? Oh, ya ampun, Louis ... Kamu tahu tidak berapa lama merpati itu bisa terbang sampai ke sini? Dan berapa lama merpati itu bisa kembali ke atas tanah?" tanya Annabelle pada Louis.


"Merpati itu butuh waktu lama untuk bisa sampai di dunianya. Dia bisa sampai di sini juga pasti secara tidak disengaja. Lagipula aneh juga merpati bisa terbang setinggi ini. Pasti ada sesuatu yang membawanya," jelas Annabelle.


"Aku benar-benar tidak tahu. Sesuatu apa? Kalaupun dia bisa kembali ke dunianya, kira-kira perlu waktu berapa lama?" tanya Louis dengan begitu lugu.


"Berapa lama pastinya aku kurang tahu. Mungkin bisa hitungan minggu atau lebih tergantung cuaca dan kecepatan burung itu terbang. Ya sesuatu, mungkin angin kencang yang kebetulan berhembus. Ah, sudahlah berharap saja semoga merpati itu bisa menyampaikan suratmu dengan cepat. Oh ya, aku mau memberitahumu satu hal lagi," kata Annabelle.


"Ya. Apa itu, Nona?" tanya Louis.


"Besok aku akan ke Obscur. Ada sedikit pekerjaan di sana, sekalian juga mengunjungi nenek Mourice. Aku tidak tahu akan pergi berapa lama. Jadi, Olive yang akan mengantarkan obat untukmu," jawab Annabelle.


"Apa Yang Mulia Astru sudah mengumumkan apa keputusannya?" tanya Louis perihal masalah Mariabelle.


"Belum. Dia tidak membicarakan masalah itu. Kita tunggu saja," jawab Annabelle pada Louis.


"Baik, aku mengerti," ucap Louis.


"Eng, aku keluar dulu. Cepatlah pulih supaya bisa kembali bertugas. Kamu pasti merindukan tugasmu itu," goda Annabelle sambil cekikikan.


Louis hanya tersenyum. Annabelle pun keluar dari kamar Louis.


***


Kembali ke tempat tinggal Angel. Di sana dia telah siap dengan pakaian rapi serta sepatunya. Meskipun hari sudah malam tidak menghalangi niatnya untuk pergi. Karena dia bukan akan ke luar rumah.


Dia mengeluarkan cermin hexagram-nya dari dalam tas yang akan dibawanya. Lalu melakukan ritual yang sama seperti biasa, membuat gerakan memutar di atas bingkai cermin kemudian mengucapkan ke mana tujuannya.


"Wahai cermin, kamu bisa membawaku pergi ke Lumina, kan? Tempat di mana White Angel tinggal. Aku mohon bawa aku ke Lumina sekarang!" kata Angel dengan semangat.


Dan seketika cermin itu pun mengeluarkan cahaya terang yang melingkupi seluruh bagian tubuh Angel. Angel akhirnya menghilang dengan sekejap mata. Cermin itu membawa Angel dengan cepat menuju ke tempat tujuan.


Angel telah berpindah tempat. Kini ia berada di sebuah tempat yang sangat asing baginya. Sebuah ruangan dengan banyak cermin-cermin berukuran besar dan kecil yang tersusun rapi. Angel memperhatikan sekeliling ruangan yang semuanya merupakan cermin. Bayangan dirinya terpantul bahkan di semua permukaan cermin. Sampai-sampai membuat bayangan dirinya terlihat begitu banyak. Dia memang tidak tahu sama sekali tempat apa ini. Dengan langkah pelan, Angel berjalan menyusuri ruangan itu sambil mencari letak pintu keluar agar dia bisa segera meninggalkan ruangan itu.


Kira-kira ruangan apakah itu? Mampukah Angel keluar dari ruangan yang penuh cermin itu? Daripada penasaran, ikuti saja terus kisah selanjutnya, ya.. :) Jangan lupa dukungannya!(人 •͈ᴗ•͈)


Continued,