
Neville sedang duduk di atas atap kamarnya. Kepalanya menengadah ke langit malam. Hawa dingin sehabis hujan tak berpengaruh di tubuh malaikatnya. Pikirannya menerawang jauh.
Michelle berjalan ke kamar Neville. Pintu kamarnya tertutup tetapi lampu masih menyala. Michelle mengetuk pintu kamar Neville pelan sambil memanggilnya.
"Neville, apa kamu sudah tidur?" tanyanya dari luar.
Karena pendengaran Neville yang tajam ia dengan cepat kembali ke kamarnya dan berubah menjadi sosok Lei begitu mendengar Michelle memanggil. Ia lalu membukakan pintu untuk Michelle.
"Belum. Ada apa, Bu?" tanya Lei begitu ia melihat ibunya di depan pintu.
"Boleh masuk? Ibu mau bicara sebentar!" tanya Michelle.
"Tentu," jawab Lei.
Lei duduk di kursi belajarnya sedangkan Michelle duduk di atas tempat tidur. Sesaat Michelle dan Lei saling memandang. Sedangkan Lei menunggu apa yang ingin Michelle bicarakan dengannya.
"Neville, Ibu hanya ingin tahu, apa ada sesuatu yang terjadi antara kamu dengan Angel? Ibu dengar kamu pacaran dengan murid baru yang bernama Maria itu," kata Michelle serius.
"Ibu tidak bermaksud melarangmu berpacaran dengannya. Ibu hanya merasa aneh karena sebelumnya kamu sangat akrab dengan Angel. Malah Ibu kira kamu menyukai Angel. Kamu tahu kan Angel sudah tiga hari tidak masuk sekolah?! Apa kamu tahu, apa yang terjadi dengannya?" tanya Michelle merasa khawatir.
Lei hanya menggelengkan kepala tidak tahu. Sedangkan ia sendiri tidak ingat jika dulunya pernah akrab dengan Angel. Tidak ada satu pun ingatan tentang kedekatannya dengan Angel di pikirannya.
Michelle hanya menghela nafas. Kemudian berkata, "Kamu juga tidak pernah mengunjunginya lagi? Ibu mencemaskan Angel. Ibu hanya berharap semoga bukan hubunganmu dengan Maria yang membuat Angel menghilang tiga hari ini. Ibu juga harap sekali-kali kamu mengunjunginya di rumah. Ya sudah, kamu istirahatlah! sudah malam."
Lei hanya mengangguk mengerti mendengar ucapan Michelle. Lalu Michelle bangkit berdiri akan keluar dari kamar Neville. Namun ia melihat jendela kamar yang masih terbuka, lantas Michelle berjalan ke arah jendela untuk menutupnya terlebih dulu sebelum kemudian meninggalkan Neville sendiri di kamarnya.
Tanpa disadari sesosok malaikat bersayap putih mengawasinya dari luar sana. Matanya berkilat penuh amarah.
'Satu lagi manusia pengacau yang harus dienyahkan,' gumam Mariabelle sebelum akhirnya menghilang menjadi serpihan salju.
Setelah Michelle meninggalkan Lei sendiri di kamarnya, Lei berbaring di atas tempat tidur mulai memikirkan banyak hal. Hal-hal yang saat ini membuatnya masih tak mengerti dan semakin bingung.
'Aneh sekali, hari ini dua orang mendatangiku untuk menanyakan keadaan Angel. Pertama Lucy dan kedua Ibu. Memangnya aku punya hubungan apa dengan Angel?! Kenapa aku tak bisa mengingat sama sekali semua yang berhubungan dengan dirinya? Kenapa tidak bisa mengingat hari di mana ada Angel sebelum kemunculan Maria? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa setiap nama Angel disebut terasa ada sesuatu yang begitu menyesakkan hati? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Apa yang hilang dariku? Apa yang terjadi padaku? Dan apa hubungannya Angel denganku?' pikir Lei penuh kegusaran.
Malam ini pikirannya sangat kacau. Kepalanya pun mulai terasa pusing. Diam tanpa melakukan sesuatu pun membuatnya semakin gusar. Tidur juga tidak bisa. Akhirnya ia bangun dari tempat tidur dan berubah ke wujud aslinya. Kedua jendela kamar terbuka dan Neville pun keluar melayang ke udara.
...🍂🍂🍂...
Hari ini Angel menghabiskan waktunya di pantai. Namun hari ini sedikit berbeda. Ia tidak mengenakan seragam sekolah melainkan memakai pakaian biasa. Wajahnya pun sedikit lebih ceria. Lucy sudah pulang tadi pagi.
Seusai sarapan dan beres-beres Angel berangkat. Lebih siang dari kemarin. Setelah menunggu beberapa saat bus yang ditunggu pun datang. Angel naik ke dalam bus. Terus berjalan menuju kursi kosong yang berada di dekat jendela. Satu jam kemudian ia sampai di halte tujuan. Ia pun turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki.
Angel berlari menuju ke sisi pantai. Merentangkan kedua tangannya merasakan hembusan angin. Perasaannya benar-benar ringan. Seolah beban yang beberapa hari ini terasa berat lenyap seketika. Ia harus berterima kasih kepada Lucy. Karena kehadirannya kembali telah memberinya kekuatan dan semangat.
Angel duduk di tepi pantai. Terik matahari yang panas tak pernah mengganggunya. Pandangannya lurus mengarah ke laut yang biru. Kini ia jadi sangat menyukai pantai. Tak bisa dipungkiri memang bahwa pikirannya masih terus mengingat Neville. Di tengah kesendiriannya itu Angel mulai merenung.
'Lei ... Aku akan tetap menyimpan perasaan ini. Lebih baik memang melihatnya dari jauh daripada tidak sama sekali. Walaupun tidak bertemu dengannya tetap saja membuat ku tersiksa oleh rindu. Bagaimanapun aku harus siap untuk bertemu kembali dengannya. Aku tidak akan cengeng melihatnya bersama Maria. Ya, sekedar untuk mengobati rindu walau hanya melihatnya dari jauh. Dan dengan begitu aku juga bisa tahu dia sedang bahagia atau sedih.'
Wajah Neville muncul dengan jelas di kepalanya. Lama Angel melamun menikmati kesendiriannya. Tanpa disadari seseorang yang beberapa hari ini terus memperhatikannya berjalan mendekat dan menyapanya.
"Hai ...," sapa orang asing itu yang sekarang berdiri di samping Angel yang sedang duduk.
Angel langsung menoleh ke sosok yang menyapanya. Mengangkat kepalanya mengarah ke wajah orang yang memanggilnya. Rupanya seorang pemuda dengan rambut pirang acak-acakan. Nampaknya seumuran Angel. Wajahnya tampan, matanya berwarna coklat, kulitnya putih dan hidungnya mancung. Ia tersenyum memamerkan kedua lesung pipinya yang membuatnya terlihat sangat manis. Apalagi pemuda itu bertelanjang dada memamerkan otot-otot tubuhnya yang kekar membuatnya terlihat semakin sempurna. Angel segera mengalihkan pandangannya dari pemuda itu.
"Apa kehadiranku mengganggu?" tanya pemuda itu.
"Tidak," jawab Angel dengan pandangan lurus ke laut.
"Bolehkah aku duduk di sini?" tanya pemuda itu masih berdiri menunggu persetujuan Angel.
"Silahkan!" balas Angel tersenyum tipis.
Pemuda yang tadinya berdiri itu kemudian duduk di sebelah Angel. Ia mengulurkan tangan kepada Angel. "Perkenalkan, namaku Louis."
Angel membalas jabatan tangan Louis sambil menyebut namanya.
"Nama yang bagus!" puji Louis.
"Trims," jawab Angel singkat.
"Aku perhatikan, akhir-akhir ini kamu sering datang kemari. Dan kamu hanya diam melamun. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Louis memulai percakapan.
Angel hanya diam menyunggingkan sebelah bibirnya.
"Oh, maaf, jika kamu keberatan bercerita. Aku tidak memaksa. Aku hanya penasaran," ujar Louis.
"Bagaimana kamu tahu aku sering kemari dan hanya diam melamun? Apa kamu seorang penguntit?" tanya Angel penuh curiga.
"Tunggu! Jangan berpikiran macam-macam dulu. Hampir setiap hari aku datang kemari. Rumahku berada di sana dekat dengan pantai ini. Jadi setiap hari aku bermain di sini," jelas Louis meluruskan kecurigaan Angel. Sambil menunjuk ke arah seberang jalan.
"Oh, aneh juga. Setiap hari bermain di pantai tapi kulitmu tetap putih bersih tidak terbakar sinar matahari sedikitpun," ucap Angel menatap Louis menyelidik.
Louis tertawa kecil dan menjawab dengan gurauan.
"Aku setengah albino."
Angel hanya diam memandang lurus ke laut tak merasa jawaban Louis lucu untuk ditertawakan.
"Angel, apa kamu tidak sekolah?" tanya Louis berbasa-basi.
"Tentu saja aku sekolah," jawab Angel.
"Terus, mengapa bisa datang setiap hari? Kan belum musim libur. Kemarin kalau aku tidak salah lihat sepertinya kamu masih memakai seragam sekolah saat kemari," tebak Louis tepat.
"Aku sedang tidak mood untuk masuk sekolah," jawab Angel sekenanya.
"Kamu bolos sekolah?" tebak Louis tepat lagi.
"Bukan urusanmu," ucap Angel ketus.
"Maaf. Aku orang yang suka penasaran," tukas Louis.
"Apa tujuanmu? Mengawasiku setiap datang kemari?" tanya Angel sinis.
"Aku hanya ingin berteman denganmu saja. Apa tidak boleh?" jawab Louis sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Angel mengamati Louis sesaat, memastikan bahwa ia memang hanya ingin berteman. Bukan penguntit atau berniat buruk terhadapnya. Louis kembali tersenyum memperlihatkan wajah polosnya. Setelah agak lama Angel mengangguk pelan. Dan berkata, "Berteman ya?! Tidak masalah kalau hanya berteman."
"Wah ... Terima kasih kalau begitu, kamu sudah mau jadi temanku," ucap Louis.
"Sama-sama. Jadi, apa yang kamu lakukan setiap hari di sini?" tanya Angel mulai mengamati Louis.
"Hanya bermain-main saja. Aku terlalu bosan menghabiskan waktu berlama-lama di rumah. Aku lebih suka di sini, aku lebih menyukai tempat terbuka daripada di dalam ruangan," jelas Louis.
"Oh. Apa kamu tidak sekolah?" tanya Angel seperti yang Louis tanyakan padanya.
"Aku sudah lulus SMU setahun yang lalu," jawab Louis.
"Oya? Kalau begitu kamu pasti lebih tua dariku," tanya Angel tak percaya.
"Tentu saja," jawab Louis membenarkan.
"Tadinya kupikir kita seumuran," sahut Angel dan dibalas senyum oleh Louis.
"Hanya selisih setahun kupikir," timpal Louis.
Begitulah mereka menghabiskan waktu seharian dengan bercerita mengenai diri masing-masing. Angel pulang ketika hari menjelang sore dan Louis menemaninya menunggu di halte hingga bus datang membawanya pulang.