
Tengah malam saat Angel sedang terlelap. Diam-diam Neville muncul di kamarnya. Beruntung malam itu Louis bersama Jeremy sehingga tak menimbulkan masalah baru. Neville hanya diam mematung. Ia berdiri di samping Angel yang tertidur dengan pulas. Wajah Angel nampak samar-samar oleh cahaya dari lampu tidur yang redup. Namun tak menghalangi pandangan Neville yang tajam untuk terus menatapnya. Melihat wajah Angel yang begitu damai saat tertidur membuatnya merasa tenang. Meski masih belum bisa mengingat Angel sepenuhnya, tapi melihatnya begini saja sudah cukup melegakan hatinya.
'Untunglah kamu baik-baik saja!' gumam Neville.
Puas menatap wajah Angel, Neville pun menghilang dari kamar itu.
...🍁🍁🍁...
Jam weker berbunyi nyaring. Dengan setengah mengantuk Angel bangun sambil meraba-raba jam weker yang ada di nakas samping tempat tidurnya. Jam tersebut berbunyi tepat pukul 05.30, Angel segera mematikan alarmnya setelah melihat angkanya.
Dengan malas ia bangkit dari tempat tidur. Setelah berdiri ia merentangkan kedua tangan ke atas, memutar pinggul ke kanan-kiri melakukan senam ringan. Setidaknya gerakan seperti itu membuat rasa kantuknya berkurang. Setelah beberapa kali melakukan gerakan ia tiba-tiba berhenti. Dia baru teringat sesuatu. Kemudian dengan perlahan kembali melakukan gerakan yang sama. Dan terheran sendiri.
'Lho, tidak sakit?!' pikirnya.
Lantas ia pun berlari menuju meja rias dan membalikkan badan untuk melihat punggungnya.
"Wow ... memarnya hilang!" seru Angel girang.
Benar, memar di punggungnya sudah tak nampak lagi. Memar itu telah hilang bersama dengan rasa sakitnya. Kini Angel bisa kembali beraktifitas seperti biasa lagi. Dengan penuh semangat dia menyambar handuk di gantungan kemudian mandi untuk berangkat ke sekolah.
Begitu selesai mandi dan memakai seragam, Angel turun dari kamar sambil menenteng tas sekolah. Langkahnya terasa lebih ringan dari kemarin. Dilemparkan tas itu ke sofa kemudian berjalan ke dapur untuk membuat sarapan.
Saat membuka kulkas, dia menemukan isi kulkas yang hampir sebagian kosong. Angel pun memutuskan membuat Sandwich dari roti yang tersisa. Tak butuh waktu lama Sandwich pun jadi. Dia membawanya ke ruang keluarga untuk dimakan di sana. Sambil mengunyah sandwich buatannya ia mengambil kalender duduk di meja kecil samping sofa. Spidol merah yang melingkar di tanggal 20 mengingatkannya pada janjinya. Hari ini hari jumat dan hari pertemuannya lusa tepat di hari minggu. Jadi dia masih sempat untuk belanja. Hari sabtu besok dia tidak punya kegiatan. Maka dia pun memutuskan untuk pergi ke supermarket membeli beberapa keperluan yang telah habis dan juga persediaan makanan.
Jam dinding menunjukkan pukul 06.37. Angel segera menaruh kembali kalender ke tempatnya dan menghabiskan Sandwich yang tinggal satu gigitan itu. Setelahnya kembali ke dapur meminum segelas air putih baru kemudian bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Berhubung masih awal, Angel pun berjalan dengan santai. Setelah beberapa meter dari rumah memasuki belokan jalan. Tiba-tiba dia melihat ada orang yang meringkuk di pinggir jalan. Wajahnya tidak kelihatan karena tertutup rambutnya yang berantakan. Keadaannya yang kumal sangat memperihatinkan layaknya seorang pengemis. Ada rasa kasihan yang timbul di hati Angel saat melihat orang asing tersebut. Tapi dia tidak berbuat apa-apa. Seperti beberapa orang yang lewat di jalan itu, hanya berlalu begitu saja tanpa mempedulikan orang asing yang terkapar di atas aspal itu.
Tak berapa lama kemudian Angel sampai di sekolah. Di gerbang Lucy telah menunggunya. Lucy langsung menarik lengan Angel begitu sampai di depannya. Dan bersama berjalan menuju kelas.
"Angel, ke mana saja sih kemarin? Tak ada kabar beritanya, aku mengkhawatirkanmu, tahu!" gerutu Lucy.
"Sorry ... Sorry ... Ada sedikit masalah!" balas Angel.
"Masalah apa?" tanya Lucy penasaran.
Di saat bersamaan Jeremy muncul dari belakang dan langsung menyapa keduanya.
"Hai, Girls, baru sampai, ya?"
"Tidak juga. Baru mau masuk kelas!" jawab Lucy. Sedangkan Angel menyapa Jeremy dengan senyuman.
"Aku ganggu tidak?" goda Angel tiba-tiba.
"Jangan konyol!" balas Lucy sambil memutar kedua bola matanya.
Angel kembali tersenyum. Langkahnya tiba-tiba berhenti. Teringat bahwa dia harus menemui Michelle. Lucy dan Jeremy pun ikut berhenti, keheranan dengan Angel yang tiba-tiba berhenti.
"Ada apa?" tanya Lucy heran.
"Ah, aku baru ingat, aku harus menemui Ibu Michelle," jawab Angel.
"Jangan mencari alasan!" sahut Lucy yang tak percaya.
"Tidak, aku memang harus menemui Ibu Michelle. Ada yang perlu aku bicarakan dengannya. Sebaiknya aku pergi sekarang sebelum bel berbunyi nanti," kata Angel sambil berjalan meninggalkan Lucy.
"Hei, tunggu dulu! Kamu harus menceritakan masalahmu yang kemarin padaku!" teriak Lucy.
"Nanti pasti kuberitahu!" balas Angel.
Kemudian iapun berlari agar cepat sampai di ruang UKS.
Pintu ruang kesehatan nampak terbuka. Di dalam Michelle tengah berbicara dengan Kepala sekolah. Angel pun memutuskan menunggu di luar hingga Kepala sekolah pergi.
Begitu Kepala sekolah keluar dari ruang UKS, Angel pun masuk. Michelle yang menyadari kedatangannya menyambutnya dengan senyum hangat.
"Pagi, Ibu Michelle!" sapa Angel.
"Pagi, sayang! Bagaimana punggungmu? Apa masih sakit? Seharusnya kamu beristirahat saja di rumah!" ucap Michelle.
"Tidak apa-apa, Bu! Punggungku sudah sembuh. Memarnya pun telah hilang. Aku benar-benar telah sehat!" kata Angel penuh semangat.
"Benarkah? Apa secepat itu? Coba Ibu periksa!" ujar Michelle tak percaya dengan pengakuan Angel.
Angel pun menyetujui keinginan Michelle untuk memeriksanya. Setelah Michelle menutup pintu ruangan, ia langsung memeriksa punggung Angel. Dan benar saja, memar di punggung Angel memang sudah hilang. Hal ini cukup membuat Michelle terkejut karena seharusnya secara ilmiah luka memar tidak akan hilang dalam waktu semalam. Itu menjadi pertanyaan dalam benaknya.
"Hebat! Benar-benar hilang! Bagaimana Anne melakukannya?" tanya Michelle dengan penasaran.
"Seingatku dia hanya mengoleskan sesuatu berupa balsem ke punggungku sambil memijatnya. Aku sangat takjub, Anne sangat pandai mengobati memar!" jawab Angel dengan kagum.
"Tidak mungkin hanya balsem saja mampu menyembuhkan memar ini dengan cepat. Seharusnya memar baru akan hilang setelah lewat 3-4 hari. Tidak mungkin sembuh secepat ini! Sangat ajaib bisa hilang dalam waktu semalam," Michelle berkomentar.
"Yah, aku akui Anne memang hebat. Tapi aku tetap merasa ini sesuatu yang mustahil," lanjutnya lagi.
"Ibu tidak usah mempersoalkan bagaimana Anne melakukannya. Yang penting sekarang aku sudah sembuh," kata Angel.
"Ya, benar. Ibu pun merasa tenang kamu kembali sehat," timpal Michelle sambil mengelus rambut Angel.
Bel terdengar berbunyi. Itu tandanya semua murid harus segera kembali ke kelas mereka. Begitupun Angel.
"Aku ke kelas dulu, ya, Bu! Bel sudah berbunyi!" kata Angel. Lalu berjalan menuju pintu.
"Iya," jawab Michelle yang kemudian membukakan pintu.
"Oh ya, Bu, tolong sampaikan rasa terima kasihku kepada Lei karena telah menolongku kemarin. Aku lupa mengatakannya," pesan Angel sebelum pergi.
"Eh, bukankah kalian sekelas? Mengapa tidak kamu sampaikan langsung?" tanya Michelle heran.
"Ah ... Aku tidak enak pada Maria," jawab Angel beralasan.
"Ooh ... Baiklah nanti Ibu sampaikan!" Michelle menyanggupi.
"Terima kasih! Kalau begitu aku ke kelas dulu! Bye ... Ibu Michelle," pamit Angel dan dibalas dengan anggukan oleh Michelle.
Angel sampai di kelas diikuti seorang guru yang juga akan masuk ke kelasnya. Pandangan Lucy langsung mengarah pada Angel. Begitu juga dengan Maria yang menatap Angel dengan penuh rasa penasaran.
'Wah kuat juga anak ini! Aku penasaran bagaimana cara dia mengatasi rasa sakitnya!" gumam Maria dalam hati.
Angel mengedipkan sebelah matanya pada Lucy saat lewat di depannya. Kemudian menatap ke arah Lei yang kebetulan juga sedang menatapnya. Alhasil pandangan mereka bertemu, tapi Angel segera mengalihkan pandangannya. Dia duduk di bangkunya menatap punggung Lei dengan leluasa. Pelajaran pun dimulai.
Saat jam istirahat dimulai, lucy langsung menuju ke bangku Angel dan menariknya keluar kelas. Mereka berjalan menuju kantin. Sampai di kantin mereka memilih tempat duduk yang agak di pojok kantin. Karena tidak berisik dan lebih enak untuk bicara. Tak lupa juga memesan dua gelas minuman.
Rupanya Lucy sudah tak sabar untuk mendengar cerita Angel. Ia pun mendesak Angel untuk segera memberitahunya.
"Sekarang cepat ceritakan padaku, masalah apa yang terjadi padamu kemarin!" desaknya cepat.
"Oke. Oke. Sabar sedikit ya! Aku minum dulu! Nah, sekarang dengarkan baik-baik!" sahut Angel.
Setelah menghabiskan separuh minumannya barulah Angel memulai ceritanya. Dimulai ketika dirinyia datang ke sekolah dan menemukan pesan dari Lei di meja, berlanjut saat pergi ke gedung aula dan tak menemukan Lei di sana, sampai kemudian seseorang memukulnya dari belakang yang membuatnya pingsan. Setelah tersadar tahu-tahunya sudah berada di ruang UKS.
Lucy mendengarkan dengan serius. Angel melanjutkan ceritanya, dari saat Michelle memberitahunya bahwa Lei yang menolongnya sampai kedatangan Louis dan Anne yang menjemputnya. Dan terakhir Anne yang menyembuhkan lukanya dengan ajaib. Angel menceritakan semuanya dengan sangat detail. Selesai dengan ceritanya ia kembali meneguk sisa minumannya.
"Terus kamu sudah tahu siapa yang memukulmu itu?" tanya Lucy.
"Tidak," jawab Angel singkat.
"Dan yang meninggalkan pesan atas nama Lei?" tanyanya lagi.
"Tidak juga," jawab Angel lagi.
"Aneh! Orang itu pasti sangat tidak menyukaimu sehingga tega berbuat seperti itu," Lucy beranggapan.
"Beruntung ada Anne yang langsung mengobatimu sehingga kamu pulih dengan cepat. Tapi aku sangat penasaran siapa teman Louis yang tak mau disebut nama itu. Apa kamu tak merasa ada sesuatu yang aneh?" lanjut Lucy lagi seperti seorang detektif yang penuh selidik.
"Ya. Bukankah beberapa waktu ini aku sering mengalami hal aneh?!" timpal Angel.
"Angel, c'mon ... Seriuslah sedikit! Coba kamu pikir, selama dua tahun terakhir ini kita sekolah di sini tidak pernah ada kejadian seperti ini. Pertama, insiden jatuhnya dahan pohon yang hampir menimpaku. Kemudian pot yang hampir mengenai Ibu Michelle. Lalu kemudian orang misterius yang mengirimimu pesan atas nama Lei dan yang memukulmu. Sadar Angel, kamu dijebak! Orang yang mengirim pesan itu pasti orang yang sama dengan yang memukulmu!" analisis Lucy.
"Lalu siapa orang itu?" tanya Angel tak tahu.
"Itulah masalahnya. Kita tidak tahu siapa pelaku sebenarnya. Apa kamu punya musuh di sekolah ini? Atau kamu pernah tak sengaja menyinggung salah satu murid di sini?" tanya Lucy menyelidik.
"Seingatku tidak ada. Aku tidak pernah menyinggung siapapun. Kamu kan selalu bersamaku, kamu pasti tahu aku tidak pernah menganggu siapapun," jawab Angel.
"Hm ... Benar juga! Dan yang aneh lagi Louis sampai bela-belain bawa kakaknya kemari untuk menyembuhkanmu! Apalagi temannya yang tak mau disebut nama itu bisa tahu kejadian ini. Sementara aku sendiri bahkan semua murid di sini kecuali Lei, aku yakin tidak ada yang tahu. Ah, jangan-jangan ...." Lucy tak melanjutkan kalimatnya yang terakhir.
"Jangan-jangan apa?" tanya Angel jadi takut sendiri.
"Jangan-jangan 'teman yang tak mau disebut nama' itu adalah pelakunya!?" ucap Lucy hati-hati.
"Tidak mungkin! Bagaimana mungkin seorang penjahat yang setelah berbuat jahat pada korbannya kemudian menyuruh temannya untuk menyelematkannya?! Itu pemikiran yang gila!" bantah Angel.
"Aku kan hanya mengira-ngira. Bagaimanapun kita tidak tahu pelaku sebenarnya. Dan apa tujuannya," ucap Lucy.
"Iya, tapi kita juga tidak boleh sembarang menuduh. Sudahlah, tidak perlu dibicarakan lagi. Yang terpenting aku sekarang sehat," kata Angel tak mau memperpanjang persoalan.
"Tapi aku masih penasaran dengan semua keanehan ini. Yah, sudahlah ganti topik pembicaraan saja!" ujar Lucy lalu menyesap minumannya.
Sesaat kemudian Jeremy muncul di hadapan kedua gadis itu.
"Hai, Girls, membicarakan apa? Serius sekali?" tanya Jeremy pada kedua gadis itu.
"Bukan apa-apa, sudah selesai," jawab Lucy sambil tersenyum manis pada pacarnya.
"Aku boleh gabung?" tanya Jeremy.
"Silahkan!" giliran Angel yang menjawab.
Jeremy pun duduk di samping Lucy ikut bergabung dengan kedua gadis itu. Melihat minuman Lucy yang tinggal separuh ia pun menyambarnya dan langsung menghabiskannya.
"Hei, itu punyaku!" protes Lucy melihat Jeremy menghabiskan sisa minumannya.
"Minta sedikit! Haus, sayang!" sahut Jeremy.
"Mana sedikit? Itu sudah kamu habiskan semuanya!" gerutu Lucy yang cemberut.
"Ya ... Tinggal pesan lagi kan!? Aku pesankan, ya!" hibur Jeremy.
"Sudah, tidak usah! Aku sudah tidak mau minum lagi!" tolak Lucy.
"Sayang, marah, ya?" tanya Jeremy sambil memainkan rambut panjang Lucy.
"Tidak," jawab Lucy.
Angel yang menyaksikan tingkah kedua temannya itu hanya tersenyum. Ia lalu teringat pada rencananya esok dan berniat mengajak Lucy.
"Lus, besok aku mau ke supermarket berbelanja. Apa kamu mau ikut?"
"Besok, ya .... Aku tidak bisa! Soalnya mama minta ditemani ke rumah Aunty Lili. Lain kali saja, ya!" tolak Lucy halus.
"Oh, tidak apa. Kalau begitu aku pergi sendiri saja," ujar Angel.
"Rencana hari minggu kita jadi, kan?" tanya Lucy sambil menatap Angel dan Jeremy bergantian.
"Jadi. Aku pasti akan menunggu kedatangan kalian," jawab Angel.
"Ya pasti jadi. Jam 10 pagi. Tunggu saja, aku tidak akan telat!" timpal Jeremy pasti.
"Oke lah kalau begitu, aku akan menunggu di rumah Angel!" kata Lucy.
Begitulah mereka menghabiskan waktu istirahat di kantin dengan mengobrol. Sampai bel kembali berbunyi, mereka baru beranjak dari sana untuk masuk ke kelas.