
Seperti janji Angel beberapa hari yang lalu. Hari ini ia kembali ke sekolah. Awalnya Lucy memaksa ingin mengajak Angel berangkat bersama namun Angel menolak dikarenakan rumahnya dengan Lucy berlawanan arah. Ia tidak ingin merepotkan Lucy dan membuatnya harus berjalan lebih jauh. Angel terus meyakinkan Lucy kalau dirinya akan baik-baik saja dan meminta agar mereka bertemu di sekolah saja. Meskipun dengan enggan Lucy akhirnya setuju.
Jadi, pagi ini Lucy berangkat agak awal untuk menunggu Angel. Ia tidak menunggunya di kelas seperti yang biasa ia lakukan tetapi hari ini ia sengaja menunggunya di depan gerbang sekolah. Tentu saja untuk mengantisipasi jikalau ada hal yang tak diinginkan terjadi. Seperti ... bagaimana reaksi Angel bila tiba-tiba bertemu Maria yang menggandeng lengan Lei dengan mesra di kelas. Jika sebelumnya Angel memilih untuk melarikan diri ke atap sekolah dan menangis seorang diri, belum tentu ia akan begitu juga nantinya. Bisa saja dia justru mendatangi Maria kemudian mencakar wajahnya habis-habisan. Tetapi sepertinya itu bukan sifat Angel. Jadi kemungkinan dia tidak akan melakukan hal nekat dan sebodoh itu.
Cukup lama Lucy menunggu sendirian di depan gerbang sekolah. Hingga akhirnya Angel muncul. Lucy segera menghampirinya dengan girang.
"Selamat pagi .... Akhirnya datang juga," sapa Lucy dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Aku tidak mungkin kabur terus kan? Kamu sudah menungguku dari tadi?" tanya Angel.
"Yap. Mau langsung ke kelas?" Lucy bertanya kembali.
"Boleh. Ayo!" Angel menyetujui.
Kemudian mereka berdua berjalan bergandengan menuju kelas. Seperti biasa suasana kelas tidak berubah. Tetap berisik oleh suara ribut para murid. Angel dan Lucy memasuki kelas dan langsung menuju bangku masing-masing.
Setelah meletakkan tas, Lucy menghampiri Angel yang sudah duduk di bangkunya. Mereka mengobrol seperti biasa layaknya dua sahabat. Keduanya terlihat sangat senang bisa akrab seperti ini lagi dan bisa saling bercerita lagi. Tidak ada lagi permusuhan dan kebencian dalam diri masing-masing. Sekarang keduanya kembali menjalin persahabatan seperti dulu.
Angel memandang sekeliling ruangan. Maria dan Lei masih belum kelihatan di kelas. Ia masih terus mempersiapkan diri untuk menghadapi Lei. Dengan Lucy yang terus memberinya semangat.
"Kamu harus semangat, oke! Semua akan baik-baik saja. Jangan pedulikan apa yang mereka lakukan. Pura-pura tidak melihat saja," ujar Lucy menyemangati.
"Ya. Trims. Kamu terlalu berlebihan, Lus," balas Angel.
"Tidak juga. Lama-lama kamu juga akan terbiasa. Percayalah! Rasanya tidak akan sesakit pertama kali," ujar Lucy lagi.
"Tenang saja, aku sudah jauh lebih baik dari kemarin. Dan aku sudah mempersiapkan diri untuk itu," kata Angel penuh keyakinan.
"Bagus kalau begitu. Sekarang ada aku jadi kamu tidak perlu cemas. Aku akan selalu membantumu," ucap Lucy simpati.
Bel pun berbunyi mengisyaratkan kepada semua murid untuk segera memasuki kelas mereka masing-masing.
"Sudah masuk. Aku ke tempat duduk dulu. Sampai ketemu istirahat nanti," pamit Lucy lalu kembali ke bangkunya.
Saat itu Maria dan Lei masuk. Angel menatap mereka sekilas. Tangan Maria menggandeng lengan Lei sambil bercanda dengannya. Ia masih belum menyadari kehadiran Angel karena pandangannya mengarah pada Lei. Sedangkan Lei sikapnya terlihat dingin.
Tanpa sengaja Lei mengalihkan pandangan ke bangku Angel. Dan pada saat bersamaan tatapan mata Angel dengan Lei bertemu. Lei terus menatapnya dengan perasaan yang aneh. Detak jantungnya mendadak jadi tak menentu. Sementara Angel langsung berpaling tak berani menatapnya lama-lama.
Maria baru menyadari adanya Angel di kelas ketika berpisah dengan Lei dan akan duduk di bangkunya. Maria terus menatapnya dengan penuh kebencian. Angel tak tahu Maria menatapnya. Angel hanya tersenyum tipis saat melihat Lucy memutar kepala untuk melihat dirinya. Lucy merasa lega melihat Angel tidak menangis atau kabur seperti minggu kemarin.
Waktu istirahat, Lucy langsung menghampiri Angel. Ia langsung menarik Angel keluar dari kelas menuju kantin. Mengacuhkan pandangan Maria dan Lei yang mengawasi keduanya. Mereka memilih duduk di meja yang ada di pojok kantin. Sambil ditemani dua gelas minuman dingin. Mereka mulai mengobrol.
"Bagaimana tadi?" tanya Lucy memulai obrolan.
"Deg-degan," jawab Angel berbisik.
"Entahlah. Mungkin karena aku terlalu kangen padanya," ucap Angel merasa demikian.
"Kamu masih memikirkannya?! Kamu malah kelihatan terlalu bersemangat untuk bisa melihatnya," kata Lucy.
"Aku tahu. Lebih baik melihatnya dari jauh saja meski harus sakit hati daripada tak bertemu sama sekali dengannya. Itu lebih parah menyakitkan," jelas Angel sambil memainkan sedotan minumannya.
"Angel, kamu mencintainya! Bukan sekedar perasaan suka. Jika hanya suka saja kamu tidak akan seperti ini," ucap Lucy menjelaskan perasaan Angel.
Angel terdiam. Berpikir.
'Mungkin perkataan Lucy benar. Aku baru menyadari betapa takutnya kehilangan saat Lei berlari jauh mendahuluiku di pantai itu. Aku tahu bagaimana rasanya kesepian di rumah sendiri. Tapi sepi itu jadi berbeda ketika Lei tidak pernah datang lagi. Itu tidak lagi menjadi sepi tapi kehilangan. Ada sesuatu yang hilang. Anehnya aku sudah puas hanya dengan melihatnya sebentar saja.'
"Hei, kenapa jadi diam?" ucapan Lucy menyadarkan Angel dari lamunan.
"Ah, tidak. Hanya berpikir mungkin ucapanmu benar," jawab Angel.
"Ucapan yang mana?" tanya Lucy pura-pura lupa.
"Mungkin ... aku mencintainya?!" sahut Angel serius.
"Oh, Angel, seharusnya kamu menyadarinya dari dulu," kata Lucy.
"Ya. Dan sekarang sudah terlambat," timpal Angel menyerah.
"Tidak. Tidak. Jangan pesimis dulu. Kamu percaya pada jodoh? Jika kalian berjodoh maka suatu saat nanti ia pasti akan kembali padamu. Bukankah cermin hexagram itu sudah menunjukkannya padamu?! Sudah jelaskan Lei itu jodohmu!" ucap Lucy menenangkan Angel.
"Meskipun mungkin dia bukan manusia sepenuhnya ...," lanjut Lucy lagi hati-hati.
Angel menggeleng kepalanya pelan dan berkata, "Kemunculannya tidak disengaja. Cermin itu merupakan pintu menuju dunia lain. Bagaimana mungkin kami berjodoh? Kenapa aku mencintai mahkluk aneh?!"
"Ya, mungkin sedikit aneh. Tidak masalah juga sih kalau dia muncul dengan wujud manusia. Aku juga tidak pernah lihat wujudnya sebagai malaikat. Apa dengan wujud malaikat dia juga setampan itu?" goda Lucy setengah berbisik.
Angel tersenyum kecut dan berkata, "Ah, kau ini, malah bertanya seperti itu. Tentu saja, dia selalu terlihat tampan meskipun dengan kedua sayap hitam menempel di punggungnya."
"Aku jadi penasaran," ucap Lucy sambil membayangkan bagaimana rupa Lei dengan kedua sayap hitam di punggungnya seperti kata Angel.
"Silahkan bayangkan sendiri," ejek Angel.
Lucy hanya tertawa sambil mengangkat bahunya tak punya gambaran jelas dengan sosok malaikat Lei. Setelah menghabiskan minumannya, mereka pergi meninggalkan kantin.