
Suasana sekolah nampak sepi usai jam sekolah berakhir. Hampir semua murid telah meninggalkan sekolah. Sementara di ruang UKS masih nampak Michelle yang masih sibuk membereskan barang-barang yang berantakan. Setelah semuanya rapi barulah ia bersiap untuk pulang.
Saat itu pintu tiba-tiba terbuka dan seseorang masuk begitu saja. Orang itu langsung menyebut sebuah nama yang seketika itu membuat Michelle diam membeku beberapa saat.
"Domorla Verenoa El Michelle!"
Seorang gadis cantik dengan rambut coklat curly berdiri di belakang Michelle. Michelle yang diam membeku perlahan-lahan memutar kepalanya untuk melihat siapakah orang yang menyebut nama itu. Dan ia mendapati bahwa gadis yang memanggil nama itu adalah gadis yang kemarin datang menjemput Angel.
"Darimana kamu tahu nama itu?" tanya Michelle dengan tatapan tajam.
"Jadi benar itu kamu?" balas Annabelle yang justru tersenyum ramah.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Michelle lagi.
"Aku Annabelle. Nama panggilanku Anne! Aku berasal dari Lumina!" jawab Annabelle.
"Ternyata malaikat," ujar Michelle begitu mendengar Lumina.
"Ya. Kamu masih ingat dengan tempatmu berasal rupanya," jawab Annabelle sambil berjalan menuju kursi dan langsung duduk tanpa diminta.
Michelle terdiam sejenak, kemudian ia bertanya, "Bukankah kamu teman Angel? Apakah adikmu yang kemarin datang kemari itu juga malaikat?"
"Benar. Tapi, dia bukan adikku. Sebenarnya Louis adalah pelayanku," jawab Annabelle.
"Apa tujuanmu datang kemari?" tanya Michelle penuh selidik.
"Menemuimu!" jawab Annabelle singkat.
"Untuk apa menemuiku? Aku sudah tidak punya urusan dengan Lumina. Dan tidak ada hubungannya lagi dengan dunia sana apalagi malaikat," ujar Michelle.
"Memang tidak ada hubungannya dengan itu semua. Aku hanya ingin memastikan bahwa Michelle yang dimaksud Nenek Mourice benar adalah dirimu," jelas Annabelle masih dengan senyum ramahnya.
"Ah, Nenek ...," Michelle tersentak teringat dengan Mourice di Obscur.
"Kamu kenal dengannya?" lanjut Michelle yang mulai melunak. Ia berjalan mendekat ke tempat Annabelle duduk.
"Baru kemarin aku mengunjunginya di Obscur. Di sanalah aku melihat lukisan wanita yang mirip denganmu, yang akhirnya membawaku datang kemari untuk memastikan. Benarkah wanita dalam lukisan itu dirimu atau bukan! Tak ada yang tahu di mana kamu berada. Mereka hanya bilang kamu telah pergi dan tidak akan pernah kembali," Annabelle menjelaskan.
"Aku memang tidak akan kembali. Bagaimana keadaan Nenek di sana? Apakah Nenek baik-baik saja?" tanya Michelle.
"Dia baik-baik saja. Dia juga menitipkan salamnya padamu dan Neville. Dia sangat merindukan kalian," ucap Annabelle.
"Aku juga sangat merindukannya! Aku sangat berhutang budi padanya telah menjaga dan merawat Neville hingga dewasa," kata Michelle.
"Anne, jika kamu kembali ke Obscur, tolong katakan pada Nenek aku juga sangat merindukannya. Suruh dia jangan cemaskan aku dan Neville, karena kami di sini baik-baik saja. Suruh Nenek untuk jaga diri baik-baik. Aku benar-benar sudah tidak bisa mengunjunginya," pesan Michelle pada Anne.
"Tentu. Aku sudah berjanji pada Nenek akan kembali menemuinya. Pesanmu pasti akan kusampaikan!" Annabelle mengiyakan.
"Terima kasih! Sekarang aku mengerti. Bagaimana memar di punggung Angel bisa hilang dalam waktu semalam. Rupanya seorang malaikat yang telah menyembuhkannya!" ucap Michelle yang tak lagi merasa heran.
"Itu bukan apa-apa. Aku hanya membantu sedikit, karena Louis yang memintaku untuk menolongnya," kata Annabelle tersenyum malu-malu.
"Oh ya, ada yang ingin aku beritahu juga. Kuharap kamu tidak terkejut," lanjut Annabelle mulai serius.
"Dua hari yang lalu Tuan Pierre melarikan diri dari penjara kegelapan. Dan sampai sekarang belum ditemukan. Sekarang semua pengawal sedang berjaga-jaga di Lumina, Obscur, dan Vortua," jelas Annabelle.
"Pierre! Oh, kasihan ... Aku sungguh keterlaluan membiarkannya sendiri menanggung beban ini! Seharusnya dulu aku tidak meninggalkannya begitu saja," ucap Michelle sambil menyentuh dada. Terlihat perasaan bersalah menyelimuti dirinya.
"Itu bukan salahmu, Michelle! Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan jika keadaannya terdesak!" hibur Annabelle.
"Tapi aku sungguh merasa bersalah padanya. Lalu, bagaimana dia sekarang?" tanya Michelle cemas.
"Entahlah. Yang pasti para pengawal akan langsung menangkapnya kembali begitu mereka berhasil menemukannya," jawab Annabelle.
"Aku harap dia baik-baik saja! Ah, semoga saja Yang Mulia Astru berbaik hati mau melepaskannya!" harap Michelle.
"Shinolla yang meminta Yang Mulia menghukumnya, Michelle! Seharusnya kamu berharap agar ibumu bisa memaafkannya. Sebagai seorang White Angel tidaklah baik menyimpan dendam terlalu lama," Annabelle menjelaskan.
"Ibu ... Ya, aku berharap Ibu mau memaafkanku dan melepaskan Pierre!" lirih Michelle.
"Kamu tidak rindu padanya?" tanya Annabelle.
"Aku lebih rindu pada Nenek. Saat aku memilih pergi bersama Pierre, aku sudah memutuskan tidak akan kembali ke Lumina. Aku juga tahu Ibu tidak akan menerimaku lagi! Tetapi Ibuku tetaplah Ibuku, aku tetap akan mengenangnya sebagai Ibuku," jawab Michelle yang kini hanya bisa mengenang sosok Shinolla di dalam hatinya. Meskipun ada sedikit kerinduan juga di hati untuk bertemu ibunya. Namun hal itu sudah tidak memungkinkan lagi baginya untuk dapat bertemu atau melihat sosok ibunya.
"Aku mengerti. Paling aku akan katakan kamu baik-baik saja jika suatu hari aku bertemu dengannya," ujar Annabelle dibalas dengan senyum lembut Michelle.
"Kurasa sampai di sini dulu pembicaraan kita. Maaf, telah menyita waktumu!" kata Annabelle mengakhiri pertemuan.
"Tidak masalah," balas Michelle.
"Tolong untuk sementara ini jangan beritahu Angel tentang jati diriku sebenarnya," pesan Annabelle sebelum akhirnya pergi meninggalkan Michelle. Dan Michelle mengangguk pasti pada Annabelle.
...🕊️🕊️🕊️...
Siang ini cuaca tidak terlalu panas. Angel berjalan pulang dari sekolahnya. Saat ia memasuki belokan jalan yang dilewatinya tadi pagi. Nampak orang asing yang tadi ia lihat masih berada di sana. Orang itu masih meringkuk di sana.
Terdorong oleh rasa kasihan dan tidak tega, Angel menghentikan langkahnya tepat di depan orang asing itu. Kemudian berjongkok di hadapannya. Dengan hati-hati Angel mencoba memanggil orang asing itu.
"Halo ... Permisi ... Maaf, apakah anda baik-baik saja?" tanya Angel.
Tetapi tidak ada jawaban. Orang asing itu tetap diam. Angel kembali mengulangi kalimatnya.
"Permisi ... Maaf, apa .... "
Belum selesai Angel berkata, tiba-tiba tangan orang itu menyambar lengan Angel dan mencengkeramnya dengan kuat. Angel terlonjak kaget dan spontan berteriak.
"KYA ...." Ia berusaha melepaskan cengkeraman orang asing itu namun tidak berhasil.
"To ... long! To ... long! A ... ku ...," lirih orang asing itu dengan suara yang berat dan serak, suara seorang pria dewasa. Sesaat cengkeraman tangannya mulai melemah dan tak lama kembali tak sadarkan diri.
"Tu ... Tuan, apa anda baik saja-saja? Tuan ...," panggil Angel berulang kali namun pria itu tak juga kunjung sadar.
Angel semakin panik. Jalanan pun sepi. Tak ada orang yang bisa ia mintai bantuan sekarang. Lalu, apa yang akan Angel lakukan dengan kondisi seperti ini? Akankah dia akan meninggalkan pria asing itu dan melupakannya begitu saja atau pergi mencari bantuan? Ikuti terus kelanjutan kisahnya!
^^^...to be continued......^^^