
Matahari belum menampakkan sinarnya saat ketiga remaja itu memasuki hutan. Dengan bantuan lampu senter mereka menerobos ke dalam hutan yang sudah biasa mereka jelajahi. Mobil Jeremy terparkir di batas jalan setapak. Selanjutnya mereka berjalan kaki. Hutan ini cukup aman. Tidak ada binatang buas yang mendiami hutan ini. Itu membuat perjalanan mereka lebih mudah.
Perjalanan mereka akhirnya berhenti di tengah hutan di mana sebuah tanah lapang yang menjadi tempat pertemuan Angel dengan pegasus kesayangan Annabelle dulunya. Mereka pun memulai ritualnya di sana.
Pertama Jeremy menggambar simbol hexagram yang cukup besar di atas tanah. Kemudian dia menyuruh Angel dan Lucy masuk ke tengah-tengah lingkaran segitiga itu. Mereka bertiga duduk saling berhadapan dengan cermin milik Jeremy berada di tengah. Setelah semua siap, Jeremy mulai mengucapkan mantra.
"În numele lui Dumnezeu, arata drumuri unde impracticabile, care au fost ascunse de timp și de timp."
Seketika setelah Jeremy selesai mengucapkan mantra, area di sekitar mendadak berubah. Dari luar batas garis hexagram yang dibuat Jeremy muncul gambaran sebuah lokasi. Gambaran itu berubah dari satu lokasi ke lokasi lain yang ada di kota ini.
"Perhatikan baik-baik! Itu adalah lokasi di mana cermin dapat menangkapnya. Setelah itu kita harus mencari lokasi mana yang tidak tertangkap oleh cermin," jelas Jeremy.
Angel dan Lucy mengangguk mengerti. Mereka memperhatikan gambar yang ditampilkan dengan seksama. Hampir seluruh lokasi dari tempat hiburan sampai pertokoan muncul sampai akhirnya gambaran itu menghilang diikuti dengan cahaya matahari yang mulai menerobos masuk ke hutan.
"Semua tempat sudah muncul di sana. Sekarang pikirkan di mana kalian tidak melihat lokasi di kota ini yang tidak muncul," ucap Jeremy.
Selagi menunggu Angel dan Lucy berpikir, Jeremy menghapus sisa garis hexagram yang ia gambar di tanah supaya tidak meninggalkan jejak.
Tiba-tiba Lucy berseru. "Aku tahu!"
Jeremy dan Angel seketika menoleh padanya.
"Danau Ve... Apa itu namanya?" ujar Lucy sambil mengingat nama danau yang baginya sulit disebutkan namanya itu.
"Danau Venuee?!" Angel menyahut.
"Nah, iya! Namanya susah sekali diingat!" gumam Lucy.
"Betul. Danau itu tidak muncul dibayangan tadi. Ah, aku ingat Lei pernah cerita, dulu saat Michelle melarikan diri dari Lumina, dia juga muncul di tepi danau itu. Jangan-jangan Lei ada di sana," kata Angel dengan antusias.
"Kalau begitu tunggu apa lagi!? Ayo, kita ke sana!" ajak Lucy.
Ketiga remaja itu pun meninggalkan hutan kembali ke dalam mobil. Mobil melaju meninggalkan area hutan menuju perkotaan. Pagi sudah cerah sempurna dengan sinar matahari yang hangat. Jalanan kota yang ramai membuat mobil melaju pelan.
"Oh, ya ampun aku sampai lupa! Kalian kan masih harus sekolah hari ini?!" seru Angel yang berada di jok belakang.
"Apa dalam keadaan seperti ini kami masih bisa ke sekolah?" tanya Lucy yang duduk di depannya.
"Oh, sorry... Karena aku kalian jadi ikut membolos," ucap Angel menyesal.
"Angel, aku lebih tidak tenang bila di sekolah tidak ada kamu. Terutama sahabatmu ini, dia pasti akan kalut setengah mati padamu." Jeremy menimpali sambil menyinggung Lucy.
"Kalian memang sahabat yang terbaik!" ucap Angel terharu. Lucy dan Jeremy tersenyum.
"Terima kasih sudah mau membantuku," lanjut Angel.
"Sama-sama! Tidak perlu sungkan!" ujar Jeremy.
"Jeremy...," panggil Lucy pelan.
"Ya," jawabnya.
"Apa setelah semua ini selesai kamu akan pergi?" tanya Lucy.
Sontak Jeremy mengerem mobilnya hingga berhenti tiba-tiba di tengah jalan. Lucy dan Angel pun ikut terlontar ke depan. Sementara bunyi klakson nyaring dari mobil belakang membuat Jeremy kembali tersadar dan menjalankan kembali mobilnya.
"Kenapa?" tanya Lucy.
Jeremy yang masih nampak linglung tak segera menyahut. Angel yang cukup peka dengan suasana memilih diam. Dengan memasang earphone di telinganya mendengar alunan musik dari ipod mini di sampingnya. Dia juga mengacungkan ipod itu pada Lucy saat dia menatapnya, memberi isyarat bahwa dia tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lucy lagi pada Jeremy.
"Aku hanya kaget kamu tiba-tiba bertanya begitu," jawab Jeremy.
"Oh, maaf," ucap Lucy merasa tak enak.
"Tidak apa," balas Jeremy.
"Apa biasanya kamu menetap hanya untuk tugas?!" tanya Lucy dengan kalimat lain tapi bermaksud sama dengan pertanyaan awal.
"Iya," jawab Jeremy singkat.
Akhirnya Lucy tak bertanya lagi. Semuanya terdiam di dalam mobil menunggu perjalanan mereka tiba sampai tujuan.
Tak lama kemudian mereka tiba. Ketiganya langsung turun dari mobil menyusuri tepian danau yang berair jernih itu. Tidak nampak ada sesuatu yang aneh. Bahkan tidak terlihat siapapun di sana. Pandangan mereka was-was mengedar ke seluruh area danau. Berputar-putar dan mencari di sekitar danau dan taman kecil di sebelahnya. Namun mereka tetap tidak menemukan apa-apa.
"Tidak ada siapapun di sini," kata Lucy.
"Bagaimana ini? Harus cari ke mana lagi? Waktunya semakin sempit!" tanya Angel yang mulai putus asa.
"Tunggu dulu! Pasti ada sesuatu," kata Jeremy menurut firasatnya. Dia mampu merasakan energi lain dari tempat itu.
Sampai pandangannya jatuh pada dua pohon oak yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ada sesuatu yang menariknya untuk mendekat. Dan tarikan energi itu terasa semakin kuat saat Jeremy berdiri di antara kedua pohon itu. Dia masih terus memperhatikan pohon itu sebelum yakin pohon itu portal menuju tempat persembunyian Maria.
Jeremy melihat sesuatu yang berkilau di atas tanah. Dia kemudian memungutnya. Rupanya sebuah jepit rambut perak.
'Rasanya aku pernah melihat jepit ini! Siapa yang... Ah...' Belum habis Jeremy berpikir dia sudah ingat siapa pemiliknya. Segera dia memanggil Angel dan Lucy mendekat.
"Angel, Lucy, kemarilah!" panggil Jeremy.
Kedua gadis yang dipanggil segera mendekat.
"Coba kalian lihat apa yang aku temukan," kata Jeremy sambil menunjukkan jepit rambut perak itu.
"Itu jepit rambut yang biasa dipakai Maria," sahut Angel cepat.
"Benar. Sekarang aku tahu di mana mereka," kata Jeremy sambil menyunggingkan senyum lebar yang dibalas tatapan aneh kedua gadis di depannya itu.
Dengan sigap Jeremy meraih kedua lengan gadis itu dan dengan cepat menarik mereka masuk ke dalam celah antara dua pohon oak yang berdiri kokoh. Tempat di sekitar mereka pun mendadak berubah. Sudah dipastikan kini mereka masuk ke dimensi lain. Dimensi yang diciptakan oleh Maria.
"Tempat apa ini?" tanya Angel bingung. Karena dia tidak melihat ada danau maupun pohon oak. Yang ada hanyalah padang bunga yang luas serta pepohonan besar nan rimbun di depan sana.
"Di mana danaunya? Di mana pohon oak tadi? Kita ada di mana?" tanya Lucy tak kalah kaget.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara tawa menyerupai suara Maria. Lambat laun semakin mendekat.
"Surprise! Ada tamu tak diundang rupanya!" kata suara yang menggema itu tanpa menunjukkan wujudnya.
"DI MANA KAU? CEPAT KELUAR!" teriak Angel.
"Fufufufu... Mau menantang rupanya," kata suara Maria girang.
"Angel, hati-hati!" Jeremy memperingati.
"Oh, kau... Aku sudah curiga kau bukan manusia biasa. Ternyata benar dugaanku. Hebat... Kau bisa menemukan tempat ini!" kata suara Maria pada Jeremy.
"Itu tidak sulit. Salahmu meninggalkan jejak di depan pintu masuk," balas Jeremy sambil melemparkan jepit rambut perak itu asal-asalan.
Tiba-tiba Maria muncul entah darimana. Ia mengambil jepit rambut miliknya yang langsung mendarat di atas telapak tangannya.
"Di mana kamu sembunyikan Lei? Kembalikan dia padaku!" hardik Angel lagi setelah kemunculan Maria.
"Apa katamu?! Kembalikan Lei padamu?! Hm, Dia sekarang milikku! Dan kalian semua... Jangan harap bisa selamat keluar dari tempat ini!" kata Maria dengan nada mengancam.
Tiba-tiba dari tempat mereka berpijak keluar ranting-ranting berduri yang langsung melilit kedua kaki sampai tangan mereka. Menahan mereka untuk tetap berdiri diam. Bahkan duri itu sempat melukai kaki Lucy karena ia mengenakan rok pendek. Sementara Lucy meringis kesakitan, Maria kembali tertawa senang.
"Lus," panggil Angel yang juga tidak bisa bergerak.
"Aku tidak apa-apa," ujar Lucy.
"Well... Kita akan bermain-main sebentar. Kalian pasti penasaran dengan tempat baruku ini, bukan?! Ini adalah surgaku, duniaku, aku akan tinggal di sini selamanya bersama pangeranku!" ujar Maria dengan wajah berseri-seri.
Dari balik tumpukan tanaman bunga muncul Lei yang terikat dengan benang kilat. Angel terperanjat, kaget. Lei terlihat sangat lemah, bahkan dia tidak membuka matanya sama sekali dan kepalanya terkulai ke bawah. Ikatan benang itu membuatnya tak berdaya sama sekali.
"LEI!" teriak Angel yang hampir menangis. Tak kuat melihat keadaan orang yang dicintainya itu.
Lei tidak menyahut atau bahkan melihat. Kekuatannya hilang. Badannya kehilangan kekuatan. Maria yang begitu girang menghampiri Lei. Diangkatnya wajah Lei dengan tangannya dan dengan tatapan memelas berkata padanya, "Oh, sayang, maafkan aku harus memperlakukan mu seperti ini. Seandainya kamu mau mendengarkan aku, kau pasti tidak akan seperti ini!"
"LEPASKAN! LEPASKAN LEI! LEPASKAN!" teriak Angel histeris.
Mendengar teriakan Angel, Maria hanya menoleh dengan mata merah menatapnya. Lilitan ranting menjadi semakin kuat mencengkeram kaki dan tangan Angel. Duri yang menusuk tangannya terasa cukup menyakitkan. Bukannya meringis Angel justru melotot kepada Maria.
Hal itu rupanya membuat Maria tidak senang. Dia pun menyiksa Lucy dengan mengencangkan lilitan ranting berduri di tubuh sahabatnya itu. Duri ranting sampai menancap di kulit dan merobeknya hingga berdarah. Lucy sudah menangis kesakitan.
"Hentikannnnn! Sudah hentikan! Kumohon!" ucap Angel dengan air mata mengalir. Ia tak tahan melihat sahabatnya kesakitan. Ia tersungkur dengan tangis yang menjadi.
"Aku tahu orang yang paling kau benci adalah aku. Tapi bebaskan teman-temanku, mereka tidak bersalah! Kamu boleh menyiksaku sesuka hati, tapi jangan ganggu temanku, dan juga Lei... Lepaskan mereka! Kumohon...." Angel memohon pada Maria dengan air mata berderai.
"Aku tersentuh! Kau baik sekali! Tapi, karena ini permintaanmu aku akan sedikit bermurah hati," kata Maria tanpa ekspresi.
Kemudian dia membalikkan badannya berdiri di samping Lei. Ranting berduri itu kembali bergerak, menarik Lucy dan Jeremy hingga tersungkur ke atas tanah. Lalu, Angel, ranting itu menjalar naik ke atas tangannya. Angel tidak mampu melawan. Karena ranting itu sangat kuat ditambah dengan durinya yang tajam menancap masuk ke dalam daging membuat Angel begitu kesakitan.
Ranting lain menjalar naik ke atas dan mulai melilit leher Angel sampai tercekik. Saat itulah Angel berusaha melepaskan tangannya dengan sekuat tenaga walau harus melawan sakit dan tetesan darah yang bercucuran. Jeremy dan Lucy pun hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Angel...," lirih Lucy dengan begitu putus asa.
"A... Ku... Ti... Dak... A... Pa...," kata Angel dengan suara tercekik.
Dia masih terus berusaha melepaskan tangannya. Satu tangan berhasil lolos. Dia langsung menarik ranting yang melilit lehernya agar tidak terlalu mencekiknya. Namun lagi-lagi ranting itu terus bergerak ingin mencekiknya. Sudah penuh seluruh tubuh oleh luka, Angel tak sanggup melawan kuatnya ranting itu. Namun dia tak mau mati seperti ini. Di tempatnya, Lucy hanya bisa menangis dan memohon pada Maria untuk menghentikan hal itu. Jeremy juga tak bisa melakukan apa-apa.
"Hentikan, Maria... Kamu bisa membunuhnya!" lirih Lucy.
Maria hanya diam saja dengan wajah dingin dan mata yang merah.
"Kumohon..." Lucy memohon sambil menangis tak berdaya.
Angel masih terus berjuang sendiri. Dengan sisa tenaga yang ada tak mungkin bisa menang melawan ranting ini.
'Aku tidak boleh menyerah. Aku harus lebih kuat. Aku tidak boleh mati seperti ini. Tapi, aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Seluruh tubuhku perih, sakit. Lei... Kamu harus kuat! Lei, bangun! Lei...!' ucap Angel dalam hati.
Di saat hampir putus asa seperti ini, dia teringat batu kristal pemberian Astru. Dia tidak yakin bagaimana cara kerjanya namun hanya itulah harapan satu-satunya. Angel melepaskan tangannya dari ranting yang melilit leher untuk merogoh saku celananya. Dia mencari dengan tergesa-gesa sebelum kehabisan nafas.
'Ketemu!'
Dengan sisa kekuatan dilemparkan batu itu jauh entah ke mana. Setelah itu Angel ambruk ke atas tanah hampir kehabisan nafas.
^^^to be continued...^^^
^^^mohon dukungannya, ya! Trims!^^^