My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
53# Beban Pikiran Angel



Di dalam toilet yang sepi, Angel baru selesai mencuci tangan di wastafel. Ia baru akan keluar saat tiba-tiba saja Maria masuk dan menghadangnya. Sehingga membuat Angel mundur beberapa langkah ke belakang. Firasatnya merasa akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Apalagi saat ini hanya ada dirinya dan Maria saja di dalam toilet perempuan ini. Maria berjalan semakin mendekat sampai tak ada tempat lagi bagi Angel untuk melarikan diri. Punggungnya sudah menyentuh dinding. Kali ini Angel benar-benar terpojok. Maria dengan kasar menarik kerah baju Angel.


"Hei, aku sudah katakan jangan coba-coba mengganggu Neville-ku! Apa kamu sudah bosan hidup?! Jangan pikir aku tidak berani melakukan sesuatu padamu!" hardik Maria dengan marah.


"A... Apa maksudmu?" tanya Angel tak mengerti. Sikap Maria membuatnya takut.


"Jangan berpura-pura bodoh, Angel sayang! Kau mau bermain-main denganku? Kau pikir aku tidak tahu? Ini... Ini apa? Hah? Apa?" bentak Maria sambil mengacungkan note yang ia tinggalkan di kotak makan untuk Lei kemarin.


Angel kaget dan tak berani berkata apa-apa. Maria nampak begitu menakutkan ketika sedang marah.


"Kalau aku mau... Aku bisa menghabisimu sekarang juga! Kau ingat baik-baik, ya! Kalau kau masih terus mengganggu Neville, aku tidak akan segan-segan lagi padamu!" kata Maria pelan namun penuh ancaman.


Beberapa murid datang masuk ke dalam toilet. Maria segera melepaskan tangannya. Dengan suara lebih kecil dan pelan, dia berkata kepada Angel.


"Ingat, ya! Ini peringatan terakhir untukmu!"


Kemudian note yang dipegangnya tadi dibuang ke lantai dan diinjak-injak dengan kasar. Lalu ia pergi meninggalkan toilet dengan sikap seolah tak terjadi apa-apa.


Sementara Angel langsung terkulai lemas di atas lantai dengan wajah pucat. Seorang murid yang melihat wajah Angel memucat mendekatinya.


"Kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Angel masih sedikit shock namun berusaha tenang. Ia mengangguk pada murid tersebut.


"A ... aku tidak apa-apa," jawab Angel. Kemudian ia berdiri dengan pelan. Setelah merapikan seragamnya sebentar, Angel pun keluar dari toilet itu.


Perasaannya masih belum tenang. Ia ragu untuk masuk ke dalam kelas. Tetapi juga tak bisa terus membolos. Apalagi bel sudah kembali berbunyi. Jadi, mau tak mau dia harus tetap kembali masuk ke kelas.


Sampai di depan kelas, Angel berhenti sebentar untuk merapikan diri lagi, memastikan dirinya terlihat baik-baik saja. Baru kemudian dia melangkah dengan pelan memasuki ruang kelas. Wajahnya sedikit menunduk. Dia juga tak mau lewat di samping Maria lagi sekedar berjaga-jaga agar tidak terulang kejadian yang sama. Dia memilih lewat di antara Lucy dan Lei saja untuk sampai di bangkunya. Seperti biasanya Maria bersikap cuek sedangkan Lucy juga tak merasa curiga.


...๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ...


Lei baru masuk ke dalam rumah dan hendak ke kamarnya saat Pierre yang berada di dapur tengah menggoreng telur memanggil.


"Neville, ada kiriman untukmu! Ada di atas meja makan!"


Lei menghentikan langkahnya. Beralih ke dapur dan melihat sebuah paket yang terbungkus rapi. Diraihnya paket yang tertulis ditujukan untuknya itu, lalu membalikkannya mencari mungkin ada nama pengirim, namun tidak ada.


"Dari siapa? Tidak ada nama pengirim?" tanya Lei pada Pierre sembari mengacungkan paket itu.


Pierre telah selesai menggoreng telur. Ia baru akan hendak mencuci piring. Namun membatalkannya sebentar untuk menjawab pertanyaan Lei.


"Entahlah. Seseorang meletakkannya begitu saja di depan pintu. Sempat terdengar suara bel, tapi ketika Ayah membuka pintu hanya paket itu saja yang ditinggalkan tanpa ada siapapun. Kamu sudah membukanya? Apa isinya?" jawab Pierre sambil bertanya.


Lei langsung merobek kertas pembungkus paket. Dan mengeluarkan isinya. Hanya satu kotak DVD film drama dengan plastik yang masih tersegel. Lei kembali mengacungkan kotak DVD itu pada Pierre yang menunggu sambil memperhatikan. Dan Lei menganggkat bahu tak mengerti dengan kejutan ini. Pierre malah tertawa. Tak mau ikut bingung dia kembali melanjutkan kesibukannya.


"Apa-apa'an ini?!" gumam Lei.ย Lalu meletakkan kotak DVD itu kembali ke atas meja sedangkan ia naik ke atas ke kamarnya.


Dilemparnya tas sekolah ke atas kursi. Sementara ia sendiri menjatuhkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Berguling kesana-kemari dengan tak bersemangat.


'Siapa yang mengirimkan paket semacam itu padaku?' batinnya.


Sudah bosan membuat kasur berantakan. Akhirnya dia berubah ke sosok aslinya. Lalu melayang ke luar melalui jendela kamar. Membiarkan jendela itu tetap terbuka.


"Neville ... Ayo, turun makan!" panggil Pierre dari dapur. Dia masih sibuk menyiapkan piring ke atas meja makan.


"Neville ...," panggil Pierre sekali lagi.


Tak ada jawaban dari putranya itu. Akhirnya dia menyusul ke kamar Lei. Pintu kamar yang tertutup diketuk beberapa kali baru kemudian dibuka dengan pelan.


"Neville," Pierre memanggil.


Pierre melihat Lei tidak ada di kamarnya. Kamarnya kosong dengan jendela yang terbuka. Pierre berjalan menghampiri jendela, melihat ke luar jendela sebentar sambil bergumam, "Ke mana dia pergi? Sudah jam makan siang malah kabur!"


Lalu Pierre menutup jendelanya namun tidak menguncinya, kalau Lei nanti pulang dari sini. Pierre pun meninggalkan kamar Lei kembali ke bawah.


Melihat kotak DVD yang masih berada di meja makan, Pierre mengambilnya sambil diperhatikan. Dia kembali tersenyum dan memindahkan kotak DVD itu ke rak TV. Pierre pun menikmati makan siangnya seorang diri.


...๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ...


Di tengah keramaian kota, Angel berjalan sendiri. Tujuannya tak lain ialah toko barang antik yang kemarin ia kunjungi. Dengan harapan dapat bertemu langsung dengan kakek pemilik toko.


Angel tiba di depan toko tak lama kemudian. Segera ia melangkahkan kaki masuk ke dalam toko. Toko nampak sepi seperti biasanya. Angel berjalan pelan sambil melihat ke sekitar.


"Ada yang bisa kubantu, Nona?" tanya seorang pria berusia lanjut.ย 


Pria tua itu keluar dari balik mejanya untuk menghampiri Angel. Dilihat dari fisiknya, Angel bisa menebak bahwa kemungkinan orang inilah yang ingin ia temui.ย 


"Betul. Ada apa, ya?" tanya kakek dengan raut wajah heran.


Angel merogoh saku hoodie-nya lalu mengeluarkan cermin hexagram yang ada di dalam. Sembari menunjukkan cermin itu pada kakek, Angel bertanya, "Kakek, bisa tolong beritahu aku darimana cermin ini berasal? Atau kakek bisa memberitahu ku, siapa pemilik cermin ini sebelumnya?"


Kakek pemilik toko kemudian mengambil cermin itu dari tangan Angel. Dia kembali duduk di balik mejanya sambil memperhatikan cermin itu. Angel ikut duduk di depan kakek sambil menunggu jawaban darinya.


Kakek menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas dengan pelan. Kemudian mengambil kacamata yang tergeletak di sampingnya dan memakainya. Penglihatannya jauh lebih baik sekarang. Dengan tangan yang masih menggenggam cermin, dia bertanya pada Angel.


"Mengapa engkau begitu ingin tahu mengenai asal cermin ini?"


"Karena. .. Em ... Karena ... Aku rasa cermin ini sangat istimewa! Itu saja," jawab Angel gugup. Ia tak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya pada kakek. Karena kakek pasti tidak akan percaya.


Kakek hanya mengangguk mengerti dengan jawaban Angel. Ia bisa memahami nada suara Angel.


"Cermin ini lebih dari sekedar istimewa!" ujar kakek sambil tersenyum penuh arti.


Angel hanya diam tak menanggapi ucapan kakek. Kakek kemudian bertanya lagi, "Sebelumnya siapa nama Nona muda ini?"


"Angel. Namaku Angel," jawab Angel cepat.


Kakek kembali mengangguk.


"Angel." Kakek mengulangi. Ia akan mengingat nama itu di dalam kepalanya.


"Kakek tahu sesuatu? Bisa tolong ceritakan padaku?" tanya Angel tak sabaran.


"Tentu saja. Ingatanku masih cukup baik," jawab kakek. Lalu ia kembali melanjutkan, "Kira-kira tiga puluh tahun yang lalu, aku menemukan cermin ini di tepi sebuah danau. Tergeletak di sekitar rerumputan yang lembab oleh hujan. Saat itu aku hendak memancing. Tiba-tiba kakiku menginjak sesuatu. Aku memungutnya. Kupikir ini sebuah kalung karena rantainya yang panjang dan permata di tengahnya. Namun saat dibalik ternyata ada sebuah cermin. Karena bentuknya yang unik aku membawanya pulang. Kejadian berlanjut sesaat aku membersihkan cermin ini. Tiba-tiba saja dari permukaan cermin memendarkan cahaya berkilauan. Dan muncul gambar seorang gadis kecil di permukaan cermin ini. Aku terdiam kaget tapi aku berpikir, mengapa cermin ini bisa memunculkan gambar gadis kecil yang tak kukenal itu. Kamu tahu apa yang kupikirkan? Aku hanya bisa menyimpulkan cermin ini bukan cermin biasa. Dia sepertinya memberitahuku siapa pemiliknya. Cermin ini seolah berbicara padaku melalui gambar yang dia tampilkan."


Cerita kakek terhenti. Ia tersenyum sambil menatap cermin itu lagi. Mengambil nafas perlahan. Angel mengerti orang tua memang tidak bisa berbicara terlalu panjang dan lama. Mereka harus berhenti untuk mengambil nafas sejenak. Namun Angel menunggu dengan sabar. Ia sangat antusias mendengar cerita kakek.


"Lalu, Kakek, bagaimana selanjutnya?" tanya Angel bersemangat.


Kakek tertawa dan mulai melanjutkan kembali. Ia sangat senang ada gadis yang begitu tertarik dengan ceritanya. Kakek pun kembali bercerita.


"Cermin ini terus menampilkan gambar gadis yang sama. Awalnya aku masih bingung. Dalam kebingunganku itu aku berbicara sendiri. Siapa gadis ini? Dan yang terjadi adalah gambar gadis itu menghilang, dan malah muncul sebuah inisial."


"GA?" potong Angel dengan cepat.


Kakek mengangguk. "Benar. GA."


"Terus, apa kakek mencari gadis dengan inisial GA itu?" tanya Angel penasaran.


Kakek menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mungkin mencari gadis kecil yang nama lengkapnya tidak diketahui? Setelah dia menunjukkan inisial itu, barulah cahaya itu hilang dan cermin ini kembali seperti cermin biasa. Cermin ini akhirnya hanya tergeletak begitu saja di meja kerjaku. Bertahun-tahun cermin ini terbengkalai begitu saja. Aku pun terlalu sibuk untuk terus memperhatikan cermin ini. Yang nampaknya sudah tidak pernah menunjukkan gambaran yang aneh lagi. Sampai suatu ketika saat menantuku membersihkan meja kerjaku, tanpa sengaja cermin ini tersenggol dan jatuh ke lantai. Untung cermin ini tidak pecah hanya permata di tengahnya saja yang lepas," kenang kakek sambil menunjuk permata yang pernah terlepas itu.


Angel mengangguk. Kakek kembali melanjutkan, "Saat aku memungut permata dan cermin ini aku terperangah. Rupanya nama pemilik terukir di bagian dalam tertutup oleh permata ini. Namanya persis dengan inisial yang pernah ditunjukkan cermin ini sebelumnya. Aku segera memperbaikinya. Mengembalikan permata kembali ke tempatnya. Ternyata cermin ini memang unik. Jadi, aku memindahkan cermin ini ke kamarku."


"Lantas, siapa nama pemiliknya?" tanya Angel harap-harap cemas.


Kakek tidak langsung menjawab pertanyaan Angel. Perhatiannya malah fokus pada cermin. Dengan tangannya yang keriput, kakek memutar-mutar permata seperti membuka tutup botol. Tiba-tiba permata pun terlepas. Kakek lalu memberikan cermin kepada Angel. Nama itu terukir di baliknya. Angel menerimanya sambil menatap wajah kakek dengan cemas.


Terlihat sebuah nama terukir dengan jelas. Angel sama sekali tidak tahu mengenai hal ini, karena untuk melihat nama ini permata yang ada di tengah cermin harus dilepas. Angel terkesiap melihat nama itu, dugaannya benar. Inisial nama yang dulu muncul sama seperti tebakannya. Cermin ini milik Gracia Antoinette. Segera Angel mengembalikkan cermin itu agar kakek bisa menyatukannya kembali.


"Maaf, kalau aku boleh tahu. Bukankah cermin ini selalu Kakek simpan? Mengapa tiba-tiba kakek menjualnya?" tanya Angel mengingat perkataan cucu kakek kemarin.


Kakek tersenyum sambil memasang kembali permata cermin itu. Ia menjawab, "Aku pikir aku tidak membutuhkan cermin ini. Daripada terbengkalai begitu saja, lebih baik aku memajangnya di toko. Mungkin ada yang tertarik mau membeli. Aku sudah terlalu lama menyimpannya. Dan terlalu tua untuk mengerti kehebatan apa lagi yang dapat dilakukan cermin ini."


"Kamu gadis yang beruntung bisa menemukan cermin ajaib ini. Meskipun aku tidak pernah tahu siapa pemilik aslinya, namun sekarang cermin ini milikmu. Simpanlah dan pergunakan untuk sesuatu yang baik," lanjut sang kakek sambil menyerahkan cermin yang telah utuh kembali kepada Angel.


Angel mengambilnya dan tersenyum pada kakek. "Terima kasih, Kakek. Telah mau menceritakan asal cermin ini padaku. Aku akan ingat ucapan kakek," kata Angel.


"Sama-sama! Senang membantumu, Angel!" balas kakek.


"Kalau begitu, aku permisi dulu! Maaf, kalau aku sudah menganggu waktu kakek," kata Angel sambil bangkit dari kursi.


"Tidak, tidak! Kebetulan toko juga sepi," ujar kakek yang juga ikut berdiri.


"Mari, Kakek!" pamit Angel mengangguk pada kakek. Kakek balas mengangguk. Angel pun berjalan meninggalkan toko barang antik itu.


'Gracia Antoinette. Ada berapa banyak nama itu di dunia ini? Tidak mungkin nama yang kukenal, kan?! Tapi, bagaimana jika itu mungkin? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus mencari pemilik asli? Hanya untuk sekedar menjawab rasa keingintahuanku. Padahal masalah begitu banyak. Mana yang harus diselesaikan lebih dulu? Lei, Maria, Louis. Louis ... Dia bahkan menghilang begitu saja. Kejam sekali! Padahal aku begitu mencemaskannya.'


Begitu banyaknya beban pikiran di kepala Angel. Seperti masalahnya yang tidak selesai-selesai.


^^^To be continued....^^^


^^^Jangan lupa komentarnya! Terima kasih sudah membaca!^^^