My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
62# Tinggal di Kamar Seharian



Di ruangan lain tepatnya kamar Louis. Hari ini Olive bertugas membawa obat untuk Louis menggantikan Annabelle. Olive sampai di depan pintu kamar Louis dan mengetuknya. Terdengar sahutan dari dalam kamar yang menyuruhnya masuk. Olive membuka pintu dan masuk. Olive langsung memberikan semangkuk obat untuk Louis. Louis menerimanya dan menghabiskannya dengan cepat. Kemudian mengembalikan lagi mangkuk itu sambil bergidik oleh rasa pahit yang tersisa di ujung lidah. Olive mengambilnya sambil menahan tawa kecil.


"Ada yang lucu?" tanya Louis keheranan.


"Wajahmu yang lucu. Sepertinya tersiksa sekali dengan obat ini," canda Olive diselingi tawa kecil.


"Hii ... Aku tidak tahan dengan rasanya yang luar biasa pahit!" ujar Louis setengah bergidik.


"Hahaha ... Tinggal dua mangkuk lagi. Bersabarlah!" Olive menyemangati.


Louis hanya mengangguk pasrah.


"Oh ya, Louis, kamu dengar tidak? Kemarin Gilbert dan Cello menangkap seorang penyusup yang datang kemari," tanya Olive.


"Penyusup?! Aku tidak dengar. Lalu?" tanya Louis penasaran.


"Mereka bilang penyusup itu seorang manusia dan merupakan perempuan. Gilbert dan Cello menangkapnya tengah berada di Mirror Way. Aku heran, bukankah itu tempat terlarang? Coba kamu pikir, bagaimana manusia bisa datang kemari?" jelas Olive menurut apa yang ia dengar kemarin.


"Manusia? Perempuan?" gumam Louis sembari berpikir. 


Perasaannya mendadak jadi tidak enak. Louis lalu mencengkeram kedua lengan Olive dan bertanya dengan serius padanya.


"Kamu tahu di mana dia sekarang?"


"A ... Aku tidak tahu. Ka ... kami tidak diijinkan bertemu dengan perempuan itu," jawab Olive terkejut oleh sikap Louis yang tiba-tiba berubah.


Louis langsung melepaskan cengkeramannya begitu mendengar jawaban Olive. Ia mengkhawatirkan seseorang. Kali ini dia benar-benar merasa tidak tenang. Akhirnya Louis pun keluar dari kamarnya.


"Louis ... Kamu mau ke mana?" teriak Olive sebelum Louis semakin jauh. Tapi Louis tak menggubrisnya. Olive pun tak berniat menyusulnya dan keluar dari kamar Louis. Kembali sibuk dengan pekerjaan lainnya.


Louis berlari dengan cepat menuju istana. Dia ingin segera menemui Astru dan mempertanyakan siapa penyusup itu. Tetapi setibanya di istana, rupanya istana sedang kosong. Tidak ada siapapun di sana. Louis kembali berlari. Kini menuju ruang perpustakaan Astru. Dan sesampainya di sana, lagi-lagi kosong. Tapi dia belum putus asa. Dia berjalan terus menyusuri tiap lorong istana. Sampai bertemu seorang pengawal.


"Maaf, kamu tahu di mana Yang Mulia sekarang berada?" tanya Louis tergesa-gesa.


"Yang Mulia sedang pergi menghadiri pertemuan penting," jawab si pengawal.


"Kira-kira kapan dia kembali?" tanya Louis.


"Aku kurang tahu," jawab pengawal.


"Oh, baiklah. Terima kasih!" balas Louis.


Pengawal itu mengangguk lalu berjalan pergi.


Louis masih berdiam diri di lorong itu. Dia belum bisa tenang sampai mengetahui siapa sosok yang dimaksud penyusup itu. Namun untuk mengetahuinya dia harus menunggu sampai Astru kembali. Mau tak mau akhirnya Louis kembali ke kamar dan hanya bisa menunggu dengan cemas.


Kembali ke kamar Angel. Angel telah menyelesaikan sarapannya. Dengan begitu Esther bisa membereskan mejanya. Mengambil piring dan gelas kotor dan ditaruhnya kembali di baki. Suara ketukan pintu kembali terdengar.


"Terima kasih sarapannya, Flo!" ucap Esther pada Flo.


"Sama-sama, Esther!" balas Flo sambil berlalu. Esther pun menutup pintu kamar kembali.


Angel masih berada di meja. Esther cepat-cepat menghampirinya dan berdiri di depannya.


"Maaf, Nona ... Sesuai perintah Yang Mulia, Nona belum diijinkan meninggalkan kamar ini. Demi menjaga keselamatan Nona! Jadi, jika Nona butuh sesuatu katakan saja padaku. Aku akan membawakannya untuk Nona!" jelas Esther dengan ramah.


"Tidak. Terima kasih," jawab Angel.


"Apa sebelumnya ada manusia yang datang kemari?" tanya Angel penasaran.


"Tidak ada. Nona-lah manusia pertama yang pernah ke dunia kami. Oleh karena itu Yang Mulia Astru tidak mengijinkan Nona keluar dari kamar. Takutnya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan," jawab Esther yang sangat bersahabat. Dia masih terus berdiri di samping Angel.


"Oh, begitu ... Jadi, kamu yang akan mengawasiku selama aku di sini?" tanya Angel.


"Lebih tepatnya menemani dan melayani Nona," ralat Esther.


"Kalau begitu bisakah memanggilku dengan nama saja dan tidak terus berdiri seperti pengawas di sana?" protes Angel.


"Jika Nona tidak keberatan," jawab Esther.


"Kenapa harus keberatan? Aku tidak terbiasa dilayani. Aku lebih nyaman jika kamu berlaku seperti seorang teman daripada pelayan," komentar Angel.


"Jika Nona berkata demikian, maka aku tidak akan sungkan," ujar Esther. Dan ia langsung naik ke atas tempat tidur sambil duduk dengan anggunnya. Angel tertawa melihat sikap kekanak-kanakannya. Tetapi dia pun menghampirinya dan ikut duduk di sampingnya.


"Berapa umurmu?" tanya Angel.


"Hampir setengah abad," jawab Esther spontan.


"Hah?!" seru Angel kaget.


"Setua itu?" Angel melanjutkan sambil mengamati wajah Esther yang kalau dilihat justru seumuran dengannya.


"Apa aku terlihat tua?" tanya Esther meminta pendapat.


"Ti ... Tidak. Kamu malah nampak seumuran denganku," jawab Angel cepat.


"Yup. Malaikat memang berumur panjang dan awet muda," ujar Esther membenarkan.


"Oh, benar juga," Angel sependapat.


Begitulah Angel melewati hari keduanya di Lumina. Hanya boleh berdiam diri di dalam kamar ditemani Esther. Mereka berdua pun cepat mengakrabkan diri. Meskipun tidak diperbolehkan meninggalkan kamar namun Angel tampak santai saja tanpa ada rasa bosan sedikitpun.


^^^To be continued....^^^