My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
48# Serangan Mariabelle



"Well, kapan kita akan mulai?" tanya Annabelle memberi kesempatan Angel memutuskan.


"Besok," jawab Angel yakin.


"Bagus. Lebih cepat lebih baik. Aku suka gayamu!" kata Annabelle menyetujui.


"Bagaimana denganmu, Louis?" panggil Annabelle meminta pendapat.


"Aku selalu siap membantu kapanpun dibutuhkan," jawab Louis dengan sungguh-sungguh.


"Baik. Semua sudah beres. Ingat rencana kita tadi. Jangan sampai salah! Kita bertemu lagi besok! Oke, Bye ...," kata Annabelle lalu perlahan-lahan menghilang dari tempat duduknya.


Angel duduk menjauh merasa ngeri dengan Annabelle yang tiba-tiba hilang seperti hantu.


"Apa dia selalu begitu?"


"Nona memang begitu, kadang suka muncul dan hilang tiba-tiba," jawab Louis sambil tertawa.


"Seperti hantu saja," kata Angel.


Louis kembali tertawa.


"Istirahatlah, supaya besok lebih bersemangat," katanya.


"Aku mau kerjakan PR dulu di kamar," ujar Angel.


"Perlu aku temani?" tanya Louis menawarkan.


"Tidak perlu. Kamu pergilah, barangkali Anne membutuhkanmu," jawab Angel sembari menggeleng.


"Baik, aku pergi dulu! Panggil saja aku kalau butuh bantuan, aku pasti akan datang," pesan Louis.


Angel mengangguk. Louis pun bangkit berdiri diikuti Angel.


"Kamu masuklah ke kamar. Aku akan menghilang sampai di ruang tamu. Jadi, kamu tidak perlu takut melihatku seperti hantu dan tidak perlu repot mengunci pintu," kata Louis.


"Oh, baiklah. Aku ke atas sekarang. Bye ...," ujar Angel


Dan Angel mulai menaiki tangga menuju kamar. Sedangkan Louis berjalan ke ruang tamu. Seperti perkataannya sesampai di ruang tamu dia menghilang dan muncul kembali di dalam mobil.


Louis baru akan menjalankan mobilnya tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kaca mobil. Nampak Maria di luar mobil melemparkan senyum padanya. Louis menurunkan kaca mobilnya.


"Nona Mary, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Louis.


"Tidak ada. Aku hanya ingin bicara sebentar denganmu," jawab Maria dengan wajah ramah.


"Di sini?"


"Iya. Hanya sebentar saja!" jawab Maria.


Meskipun enggan Louis akhirnya turun dari mobil dan berdiri di depan Maria dengan perasaan was-was.


"Nona Mary ingin membicarakan apa?" tanya Louis.


"Begini ...."


...🍁🍁🍁...


Matahari hangat bersinar kembali pagi ini. Setelah dua hari yang lalu disambut dengan hujan. Lei melangkah dengan gontai memasuki kelas. Ia melirik ke bangku Maria yang masih kosong. Dengan santai Lei pun berjalan ke bangkunya.


Di atas mejanya tergeletak secarik kertas yang dilipat dua. Lei mengambil kertas itu. Dengan penasaran dibuka lipatan kertas dan membacanya.


[π™°πš”πšž πšπšžπš—πšπšπšž πšπš’ πšŠπšπšŠπš™ πšœπšŽπš”πš˜πš•πšŠπš‘. π™ΏπšŽπš—πšπš’πš—πš!]


Lei membalikkan kertas mencari siapa pengirimnya. Tetapi tak ada nama pengirim yang tertera di kertas itu. Lei pun mengacuhkan isi pesan itu dan membuang kertas itu ke tong sampah. Ia kembali ke bangkunya, duduk dengan tenang. Namun nampaknya pesan di kertas tadi masih mengusiknya. Pikirannya sedang menebak siapa yang menulis pesan itu.


'Atap sekolah...,' gumam Lei.


Mengingat tempat itu, sepertinya dia mulai bisa menebak sedikit kemungkinan siapa pengirim pesan itu. Tapi masih ragu. Dia belum memutuskan apakah akan pergi atau tidak. Lei menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


Saat itu Lucy masuk ke dalam kelas dengan wajah kusut. Lei menatapnya dengan tak biasa. Merasa terus diperhatikan membuat Lucy jengkel. Dia balik menatap Lei dengan ketus berkata, "Kau lihat apa?"


Lei tak menanggapinya. Dia malah memalingkan wajahnya sambil geleng-geleng. Dan kembali larut dalam pikirannya. Lei memejamkan matanya dengan kepala bersandar di kursi. Mencoba mengingat semua kejadian yang pernah terjadi. Karena ini bukan pesan pertama tanpa nama pengirim yang pernah diletakkan di mejanya. Suara Maria menggelegar ke seluruh ruangan saat ia memasuki kelas.


"LEIIIIIIIII ...," teriak Maria sembari menghampiri tempat Lei.


Lei hanya menatapnya sebentar kemudian kembali memejamkan mata. Berusaha fokus dengan pikirannya.


"Lei sayang, kamu lihat cuaca hari ini sangat bagus. Nanti kita pulang berdua saja, ya! Sekalian pergi jalan-jalan," kata Maria dengan penuh semangat. Namun Lei tak menggubrisnya. Ia tetap sibuk dengan pikirannya sendiri.


Maria kembali melanjutkan ocehannya. "Aku bosan pulang dengan orang tuamu. Waktu bersamamu jadi pendek sekali. Kita juga tidak bisa pergi jalan-jalan. Tidak bisa singgah untuk membeli es krim. Bahkan tidak bisa menggandengmu!"


Lei masih diam saja tak menanggapi ocehan Maria. Bahkan tak menyimak apapun yang dikatakannya. Konsentrasinya penuh hanya pada pesan tadi. Usahanya tak sia-sia memang, karena dia ingat kejadian yang sama di mana dirinya menerima sebuah pesan tanpa nama pengirim. Lalu berlanjut pada sebuah kejadian di gedung aula.


Maria mulai berhenti berbicara dan menatap Lei yang sama sekali tak merespon ucapannya. Dengan nada kesal ia berkata, "Ergh ... Lei, kau dengar aku bicara tidak? Apa sih yang kau pikirkan?"


Mata Lei yang ketika itu terpejam tiba-tiba terbuka dan wajahnya nampak tegang. Maria memperhatikan Lei yang nampak aneh.


Ya, dia ingat kelanjutan ceritanya. Saat pesan itu dibacanya ia segera berlari ke gedung aula. Dan di sana ia mendapati Angel yang sudah pingsan. Ia terdiam, apakah kejadian kali ini juga sama?


Bel masuk mulai berbunyi nyaring. Lei terlonjak. Langsung saja tatapannya mengarah ke bangku Angel yang masih kosong. Akhirnya dengan segera dia berlari keluar kelas menuju atap sekolah. Maria yang tak mengerti dengan sikap Lei hanya memanggil.


"Lei ...."


Tetapi Lei tak menyahut. Dia terus berlari menuju ke atap sekolah. Takut kalau kejadiannya sama dengan waktu itu. Maria terus mengikutinya dari belakang.


"LEI, KAU MAU KE MANA? PELAJARAN SUDAH DIMULAI!" teriaknya.


Lei tak menjawab. Dia malah terus berjalan tanpa memperdulikan Maria. Maria pun tak mau menyerah. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Lei. Jadi, dia terus mengikutinya. Saat Lei mulai menapaki tangga ke atas, tahulah Maria kemana tujuan Lei.


'Atap sekolah?!' batin Maria dengan penuh tanda tanya.


Namun dia tetap mengikuti hanya langkahnya lebih pelan. Dia sengaja membiarkan Lei sampai lebih dulu. Agar bisa tahu apa yang akan dilakukan Lei di sana. Atau mungkin ada seseorang yang menunggunya di sana.


Sambil setengah berlari menaiki tangga demi tangga, akhirnya Lei sampai di atap sekolah. Dia berhenti di depan pintu dengan nafas terengah-engah. Baru lanjut melangkah kembali.


Persis dugaannya, Angel ada di sana. Tetapi nampaknya Angel baik-baik saja. Dia sedang duduk di lantai sambil membaca buku. Posisi duduknya menghadap ke depan sehingga dia tak melihat kedatangan Lei. Lei berjalan pelan ke arahnya namun tetap menjaga jarak dengannya.


"Apa ... yang kamu ... lakukan di sini?" tanya Lei terbata-bata.


Angel mendengar suara Lei, suara yang sangat ia kenal. Angel pun menoleh dan tersenyum padanya.


"Aku sedang membaca buku!" jawab Angel sambil menunjukkan buku yang dibacanya.


"Mengapa kamu masih datang kemari? Bukankah bel sudah berbunyi? Ayo, kita masuk!" ajak Angel. Dengan spontan menarik tangan Lei untuk mengajaknya ke kelas.


Lei tak menjawab, ia masih nampak bingung. Tetapi membiarkan Angel memegang tangannya dan membawanya kembali ke kelas. Namun baru beberapa langkah saja tiba-tiba suara seseorang memanggil mereka.


"Tunggu!"


"Halo, Neville ... Bagaimana kabarmu? Kamu masih ingat padaku?" tanya Annabelle berbasa-basi.


"Annabelle ...," gumam Lei.


"Rupanya kamu masih ingat denganku!" sahut Annabelle dengan senyum sumringah.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Lei tanpa ekspresi.


"Apa yang aku lakukan?! Hm ... Kira-kira apa yang akan aku lakukan, ya?" Annabelle bertanya balik dengan basa-basi.


Tepat saat itu Maria muncul di atap sekolah. Dia langsung kaget melihat Annabelle. Annabelle pun menatapnya sambil menyunggingkan senyum senang, yakin bahwa rencana kali ini akan berhasil.


"Rupanya adikku tersayang datang juga!" ujar Annabelle.


Maria nampak gelisah. Dia melihat Lei dan Angel dengan tangan bergandengan. Ya, dia teringat dengan kejadian lalu saat pertama kali datang bersama Annabelle. Kejadiannya persis, hanya saja saat itu Maria masih dalam wujud malaikat. Kejadian ini membuat Maria langsung beranggapan bahwa Annabelle mungkin membantu Angel untuk memulihkan ingatan Lei. Namun tentu saja Maria tidak akan tinggal diam. Meskipun dia harus menghadapi kakaknya sekalipun.


"Anne ... Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Maria sembari berjalan maju.


"Adikku Mary ... Kamu tidak lupa dengan tugas kita bukan?" tanya Annabelle mengingatkan.


"Tugas?!" Maria berkata sambil menyipitkan mata. Ia lalu melanjutkan, "Ya, aku tidak lupa. Tapi ... aku tak akan biarkan kau membawa Neville pergi!"


Setelah berkata demikian Maria pun berubah ke wujud aslinya dan langsung menyerang Annabelle. Annabelle sempat kaget namun berhasil menangkis serangan Mariabelle yang tiba-tiba. Dengan kuat didorongnya Mariabelle hingga terlontar ke belakang tanpa melukainya.


"Mary, apa yang kamu lakukan?" bentak Annabelle atas serangan Mariabelle padanya.


"Aku tidak akan biarkan siapapun merebut Neville dariku!" tukas Mariabelle penuh emosi.


"Mary, sadarlah kau telah dibutakan oleh perasaanmu sendiri!" kata Annabelle namun tak dipedulikan Mariabelle.


Mata Mariabelle berubah menjadi merah oleh amarah. Dia bahkan tidak peduli harus berhadapan dengan kakaknya. Annabelle tak bisa berbuat apa-apa karena dia tak mau menyerang adiknya. Dia hanya bisa diam menunggu tindakan Mariabelle selanjutnya. Sambil sesekali mengawasi Angel yang berada di dekat Lei.


Pandangan Mariabelle tiba-tiba beralih pada Lei. Melihat Angel yang ada di dekat Lei, kemarahannya bertambah. Dengan segera dia melayang menuju tempat Angel berada. Annabelle melihat Mariabelle yang terbang ke arah Angel. Dia berusaha menyusulnya. Untuk mencegah hal yang tak diinginkan terjadi pada Angel, Annabelle berteriak pada Angel menyuruhnya untuk segera lari.


"ANGEL, CEPAT LARI!"


Angel malah seperti orang linglung. Dia menatap Lei berharap Lei melindunginya atau ikut lari dengannya. Sementara Maria semakin dekat. Angel terus menatap Lei dengan wajah memohon. Akhirnya dengan berat dilepaskan pegangan tangannya pada Lei dan melarikan diri. Terlambat, Mariabelle datang lebih cepat. Mariabelle telah siap dengan tangannya yang penuh semburan kilat berkekuatan tinggi yang ia lepaskan dan langsung menyerang Angel. Annabelle yang berusaha mengejar Angel untuk menahan serangan Mariabelle gagal. Semburan kilat itu berhasil mengenai sasaran tetapi bukan Angel.


Tiba-tiba Louis datang menghadang, sehingga semburan kilat Mariabelle tidak mengenai Angel melainkan mengenai punggung Louis. Semburan kilat yang sangat kuat itu berhasil membuat Louis jatuh tersungkur hingga memuntahkan darah dari mulutnya. Apalagi saat ini Louis dalam wujud manusia.


Mariabelle membelalakkan matanya melihat orang yang terkena serangannya itu bukanlah sasaran yang diinginkannya. Annabelle dan Angel juga tak kalah kagetnya. Mereka segera menghampiri Louis.


"Louis ... Apa kamu baik-baik saja?" tanya Annabelle dengan cemas. Melihat kondisi Louis setelah terkena serangan cukup parah.


Louis hanya mengangguk. Ia terbatuk dan kembali memuntahkan darah.


Mariabelle langsung menarik Lei untuk pergi dari tempat itu. Meskipun Lei sempat menolak, namun efek dari ramuan Clema membuatnya jadi penurut ketika mata Maria yang berubah warna bersinar aneh menatapnya.


"Louis, maafkan aku .... Gara-gara aku kamu sampai terluka seperti ini .... Seharusnya tadi kamu tidak datang menolongku .... Seharusnya kamu biarkan Maria ...," lirih Angel sambil terisak. Ia merasa sangat bersalah kepada Louis.


"Uhuk ... Aku ... sudah bilang ... akan melindungimu, kan? Uhuk ... Uhuk ... Tenanglah ... Aku ... tidak apa-apa. Jangan meminta maaf. Uhuk ...," kata Louis sambil terbatuk.


Meskipun sudah terluka parah dia masih tersenyum kepada Angel. Sesaat kemudian dia meringis kesakitan. Dan kembali memuntahkan darah. Lantai pun menjadi merah oleh noda darah.


"Louis ...," panggil Angel penuh kekhawatiran. Melihat kondisi Louis yang parah membuatnya syok.


Annabelle segera membopong Louis dan membantunya berdiri.


"Maaf, Angel, aku harus segera membawanya pergi," kata Annabelle tanpa ekspresi.


"Ku mohon ... Selamatkan Louis, Anne ..., " pinta Angel dengan wajah memelas.


"Aku pasti akan menyelamatkannya," kata Annabelle singkat.


"Angel ... Jangan menangis ...," ucap Louis dengan pelan. Suaranya terdengar sangat lemah.


"Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik, Angel!" pesan Annabelle pada Angel.


Perlahan-lahan sosok keduanya pun menghilang. Angel terkulai lemah di atas lantai. Tangisnya pecah menyesali kebodohannya. Berpikir semua ini adalah kesalahannya. Karena dirinya Louis terluka parah. Di saat Angel begitu terpuruk dan terus menyalahkan dirinya. Lucy dan Jeremy datang. Lucy berlari menghampiri Angel dan duduk di sampingnya. Dia sudah tahu kejadiannya dari Jeremy. Karena Jeremy mengetahui kejadian itu dari cermin. Jeremy melihat Angel begitu sedih sehingga dia memanggil Lucy dari depan kelasnya. Jeremy memberitahukan semuanya agar Lucy bisa menghiburnya.


Dengan lembut Lucy mengusap punggung Angel. Seolah mengerti apa yang dirasakan Angel saat ini. Angel menyandarkan kepalanya di pundak Lucy. Tangisnya sedikit berhenti.


"Tenanglah! Louis pasti akan baik-baik saja!" ucap Lucy menenangkan Angel.


"Semua ini salahku. SeandainyaΒ aku cepat pergi pasti Louis tidak akan seperti ini," kata Angel sangat menyesal.


"Jangan terus menyalahkan dirimu! Tidak ada yang tahu kejadiannya akan begini. Ini kecelakaan," bela Lucy.


"Tapi ini tetap salahku. Seharusnya aku tidak melibatkan orang lain dalam masalahku," kata Angel lagi.


"Angel ... Jangan terus berpikiran semua ini salahmu. Yang terjadi sudah terjadi. Lebih baik kita fokus dengan kondisi Louis saat ini. Kita hanya bisa berharap semoga dia baik-baik saja," ujar Lucy pada Angel.


Angel tak bicara lagi, ia hanya mengangguk.


"Ke mana Anne membawa Louis?" tanya Angel.


"Ke Lumina! Annabelle harus membawanya kembali untuk mempercepat proses penyembuhan," jawab Jeremy diikuti pandangan kedua gadis itu.


"Lalu, bagaimana kamu tahu semua kejadian ini?" tanya Angel pada Lucy.


"Jeremy memberitahuku. Dia mengetahui semua kejadiannya dari cermin. Dia takut terjadi apa-apa denganmu. Jadi, dia menyuruhku kemari untuk menemanimu," jawab Lucy dengan senyumnya.


Jeremy mengalihkan pandangan pura-pura tak mendengar. Ia merasa tak enak berlaku seperti tukang ngintip. Angel hanya tersenyum kecil sambil menatapnya.


"Jeremy, terima kasih, ya!"


Jeremy baru menoleh dan menyunggingkan senyum.


"Ya. Sama-sama!" balasnya.


Kembali mata Angel menatap Lucy di sampingnya. Ia juga berkata sahabatnya.


"Lus, terima kasih juga sudah datang menghiburku!"


"Kembali, Angel. Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Lucy perhatian.


"Sudah lebih baik. Berkat kalian," jawab Angel pada kedua sahabatnya.


"Kalau begitu kita tidak perlu membolos kan?" gurau Lucy.


Angel tertawa dan menggeleng padanya. Lucy pun tersenyum. Dia lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Angel. Angel meraih tangan Lucy untuk berdiri. Lucy menggandeng lengan Angel dan ketiganya berjalan turun dari atap sekolah.


Sebelumnya Angel sempat menoleh ke belakang. Di tempat Louis tadi jatuh. Ia baru sadar seharusnya lantai itu dipenuhi oleh percikan darah. Namun aneh lantai itu sekarang bersih tanpa setitik pun cairan merah kental itu.


^^^To be continued....^^^