My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
65# Akhirnya Bertemu....



"ANGELLLLLLL........"


Angel kaget dan spontan melepaskan tangannya dari Astru. Ia mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia pun beranjak keluar dari paviliun untuk melihat di mana arah suara itu berasal. Akhirnya dia melihat Louis berdiri di sana. Tanpa pikir panjang dia langsung berlari menghampiri Louis dan memeluknya dengan erat. Olive tiba dan melihat kejadian itu dari jauh. Wajahnya berubah jadi cemberut.


"Louis, untunglah kamu tidak apa-apa," ucap Angel dalam pelukan hangat Louis.


"Apa yang kamu katakan? Seharusnya aku yang merasa lega karena kamu tidak apa-apa," bantah Louis sambil mengelus kepala Angel.


"Ehem!"


Astru yang telah berada di belakang mereka berdehem dengan suara keras. Wajahnya terlihat tidak senang. Louis segera melepaskan pelukannya. Kemudian memberi hormat pada Astru.


"Yang Mulia, aku minta maaf ...."


"Apa maaf saja cukup?!" Astru memotong dengan cepat.


"Kamu sudah mengganggu acara ku. Sekarang juga ikut aku ke ruangan!" perintah Astru dengan tegas.


"Baik!" ujar Louis pasrah.


"Tunggu dulu!" cegah Angel.


"Yang Mulia, aku yang sudah mengacaukan acara ini! Jadi, biarkan aku saja yang pergi dengan anda. Aku akan memberikan penjelasan kepada Yang Mulia," lanjut Angel.


"Penjelasan? Baik, aku mau dengar apa penjelasanmu. Kalau begitu Louis, kamu boleh pergi dan Angel ikut aku!" ucap Astru santai sambil berjalan ke depan.


"Angel, apa yang kamu lakukan?" tanya Louis berbisik saat Angel akan mengikuti Astru.


"Louis, tenanglah! Aku hanya perlu bicara dengannya. Semuanya pasti akan baik-baik saja!" jawab Angel yakin. Dia sudah hendak pergi namun Louis menahannya.


"Setelah kamu selesai, langsung temui aku di Angel's fountain. Aku menunggumu di sana!" pesan Louis.


"Baik. Aku pergi dulu!" kata Angel yang kemudian berlalu mengejar Astru di depan.


Angel dan Astru tiba di ruang perpustakaan. Astru duduk di kursinya sementara Angel berdiri di hadapannya seperti seorang penjahat yang menunggu untuk diadili.


"Sekarang, apa yang mau kamu jelaskan?" tanya Astru.


"Yang Mulia, sebelumnya aku minta maaf. Aku bukannya bersikap lancang, tapi ini mengenai alasan sebenarnya kedatanganku ke dunia malaikat ini," jawab Angel sambil menunduk.


"Apa itu?" jawab Astru mulai penasaran.


"Kedatanganku ke dunia ini sebenarnya ... untuk mengetahui keadaan Louis. Seperti Yang Mulia ketahui mengenai kejadian yang menimpa Louis akibat serangan Mariabelle waktu itu telah membuatnya terluka parah. Berminggu-minggu aku menunggu kabar dari kondisi Louis. Namun aku tidak mendapat berita apapun darinya. Karena khawatir aku nekat datang kemari dengan cermin nenek. Aku bisa tahu cermin itu dapat membawaku sampai ke sini, itu juga dari Louis." Angel menjelaskan maksud kedatangannya.


"Jadi, kamu hanya datang untuk menemui Louis?" tanya Astru menyimpulkan.


"Iya! Aku hanya ingin tahu keadaannya. Selain itu aku tidak punya alasan lain untuk datang ke sini," jawab Angel tertunduk tak berani menatap Astru.


"Begitu, ya .... Hm ...," gumam Astru paham.


"Yang Mulia, rencanaku setelah mengetahui bagaimana kondisi Louis dengan mata kepalaku sendiri, aku akan langsung kembali ke duniaku. Tetapi, aku belum bisa kembali karena cermin itu diambil oleh anda. Yang Mulia, aku berharap anda mengembalikan cermin itu kepadaku," mohon Angel.


"Tidak secepat itu!" ujar Astru dengan tegas. Lalu ia bangkit dari tempat duduknya.


"Yang Mulia ...," panggil Angel tapi belum selesai ia bicara sudah dipotong oleh Astru.


"Keluarlah! Urusanmu sudah selesai di sini. Sebaiknya kamu istirahat!" perintah Astru.


"Tetapi, Yang Mulia ...." Angel mencoba berbicara lagi tapi tetap gagal. Karena Astru tak mau mendengarnya dan malah memanggil pengawal.


"Pengawal!" teriak Astru.


Angel yang tahu diri langsung keluar dari ruangan itu sebelum pengawal datang.


Angel berjalan dengan pelan melewati koridor. Dia ingat Louis sedang menunggunya. Tetapi masalahnya dia tidak tahu di mana letak tempat yang dimaksud Louis. Dia hanya sendirian dan tak ada seorang pun yang bisa dia tanyai.


"Di mana tempat yang bernama Angel's Fountain itu? Aku kan belum tahu betul tempat di sini. Seandainya ada Esther ...," gumam Angel ditengah keputus-asaannya.


"Nona mencariku?" tanya Esther yang tiba-tiba muncul di samping Angel.


Angel terlonjak kaget karena kemunculan Esther yang tiba-tiba. Tetapi dia bisa lega sekarang.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Angel masih heran.


"Nona menyebut namaku tadi," jawab Esther. Lalu ia melanjutkan, "Bukankah aku akan melayani dan menyediakan semua keperluan Nona?! Jadi, apa yang Nona butuhkan? "


"Oh ... Eh ... Aku ... Ah, kamu bisa mengantarku ke Angel's Fountain? Aku tidak tahu di mana letak tempat itu," tanya Angel berharap.


"Tentu saja! Itu sebuah taman di depan kastil tempat Nona tinggal. Mari, ku temani ke sana!" Esther menjelaskan dan memenuhi keinginan Angel.


Mereka pun bergegas menuju ke tempat di mana Louis menunggu. Di tengah perjalanan tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Cello. Cello langsung mengembangkan senyum termanisnya saat melihat Esther bersama Angel. Dia berhenti untuk menyapa kedua gadis itu.


"Hai, Esther. Hai, Nona Angel," sapa Cello penuh keramahan.


"Hai juga, Cello," balas kedua gadis itu bersamaan.


"Em. .. Nona Angel, jika tidak keberatan boleh aku bicara sebentar?" tanya Cello pada Angel.


"Ya. Ada apa?" jawab Angel.


"Apa Nona ada waktu malam ini? Aku ... Aku berniat mengajak anda jalan-jalan. Ya sekedar berkeliling di sekitar kastil saja. Hehe ...," kata Cello malu-malu.


"Oh, maaf Cello. Aku tidak bisa. Aku sudah ada janji dengan seseorang. Dan sekarang aku harus segera menemuinya," tolak Angel dengan halus.


"Begitu, ya ... Sayang sekali, aku terlambat. Ah, tidak apa-apa, mungkin lain kali saja. Sampai bertemu kalau begitu. Selamat bersenang-senang, Nona!" ucap Cello dengan wajah tersenyum meskipun agak kecewa.


Setelah berkata demikian dia langsung berjalan pergi. Begitu pula dengan Angel dan Esther. Mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka. Namun rupanya Cello penasaran dengan orang yang ingin ditemui Angel. Dia pun diam-diam membuntuti Angel dan Esther.


"Memangnya Nona akan bertemu siapa?" tanya Esther yang juga penasaran.


"Nanti kamu juga tahu," jawab Angel.


"Di Angel's Fountain?!" tanya Esther lagi.


"He-em." Angel mengiyakan.


Cello masih terus mengikuti mereka dengan jarak yang agak jauh namun tak sampai kehilangan jejak mereka. Angel dan Esther sudah semakin mendekat ke tempat tujuan.


Saat memasuki area taman di sana sudah terlihat seseorang yang menunggu. Walau dengan jarak yang cukup jauh. Louis yang melihat kedatangan Angel segera melambaikan tangan. Angel pun tersenyum. Ia berhenti dan berbicara pada Esther.


"Sudah kamu antar aku sampai di sini saja. Kamu sudah boleh pergi. Terima kasih sudah mengantarku!" kata Angel.


"Sama-sama, Nona! Kalau perlu aku lagi panggil saja namaku di manapun Nona berada, aku akan datang," pesan Esther. Angel mengangguk mengerti. 


Kemudian Angel berlari menghampiri Louis yang menunggu di sana. Sebelum Esther membalikkan badannya untuk pergi dia mencoba menangkap wajah orang yang berdiri di tepi fountain itu. Dan berhasil melihat wajahnya dengan jelas.


"Louis?!" gumam Esther pelan. Dan ia pun menghilang.


Begitu pula halnya dengan Cello yang berada dalam persembunyiannya. Dia juga dapat melihat dengan jelas teman janjian Angel yang ternyata adalah Louis. Dengan berat hati dan kecewa akhirnya Cello pun meninggalkan tempat itu.


Angel berhenti tepat di depan Louis. Louis menyambutnya dengan rangkulan. Nafasnya terengah-engah namun dia tertawa dengan senang. Louis menyuruhnya untuk duduk sembari mengatur nafasnya yang tak beraturan.


"Duduklah dulu!" ucap Louis sambil menarik tangan Angel agar duduk di dekatnya.


"Hah ... Aku ... Sangat ... hah ... Senang ... Melihatmu," kata Angel dengan ngos-ngosan.


"Aku lebih senang lagi bertemu denganmu dan melihatmu dalam keadaan baik!" timpal Louis dengan nada lembut.


"Kamu benar sudah sembuh?" tanya Angel setelah nafasnya kembali normal.


"Iya. Seperti yang kamu lihat sekarang," jawab Louis.


"Angel ... Aku ini malaikat! Jelas saja aku pasti akan sembuh total dengan cepat," potong Louis dengan lembut.


"Tapi ... mengapa kamu masih berpakaian seperti ini? Sedangkan semua yang ada di sini berwujud malaikat," tanya Angel tak yakin dengan ucapan Louis.


"Aku masih dalam proses pemulihan tenaga dalam. Jadi, aku belum bisa berubah kembali ke wujud asliku. Memang luka ku sudah sembuh total tapi lukanya akan tetap membekas di kulit luar," jelas Louis.


"Benarkah?" Angel masih nampak khawatir.


"Kamu tenang saja. Beberapa hari lagi aku pasti akan kembali ke wujud ku lagi. Kamu jangan cemas, oke!" kata Louis sambil mengelus kepala Angel.


"Aku masih merasa bersalah padamu," ucap Angel murung.


"Sudah jangan dipikirkan. Itu sudah berlalu. Yang penting sekarang kita semua baik-baik saja. Aku tidak suka melihat wajahmu yang seperti itu," ujar Louis.


"Aku hanya tidak tahu bagaimana harus membalas hutang budiku ini padamu. Kamu telah menyelamatkan nyawaku," kata Angel pelan.


"Angel!" seru Louis. Kemudian ia memegang kedua lengan Angel dan menatapnya dengan lembut.


"Angel, kamu hanya perlu tersenyum untuk membalas hutang budimu padaku! Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Dengan begitu aku akan merasa tenang dan semangat ku akan kembali. Sekarang tersenyumlah! Dan jangan lagi merasa bersalah padaku. Aku tidak suka," kata Louis.


Angel perlahan mulai tersenyum menuruti ucapan Louis. Louis pun balas tersenyum padanya.


"Ngomong-ngomong, apa yang kamu bicarakan dengan Astru tadi?" tanya Louis ingin tahu.


"Aku hanya menjelaskan padanya perihal kedatanganku kemari," jawab Angel.


"Oya?! Memangnya apa yang membuatmu sampai nekat kemari? Bukankah sebelumnya aku sudah memperingatkanmu untuk tidak coba-coba datang kemari!?" tanya Louis penasaran.


"Aku ingin tahu keadaanmu. Makanya aku nekat datang kemari. Kamu jahat tidak memberiku kabar. Padahal setiap hari aku mencemaskan dirimu dan terus menunggu kabar darimu!" jawab Angel apa adanya.


"Benarkah? Kamu mencemaskanku? Aku minta maaf kalau begitu, aku hanya tidak ingin kamu khawatir makanya aku tidak memberi kabar," kata Louis senang mengetahui Angel mencemaskannya.


"Memangnya suratku tidak sampai?" tanya Louis melanjutkan.


"Surat?! Aku tidak menerima surat darimu!" jawab Angel.


"Oh, mungkin burungnya tersesat," komentar Louis.


"Maksudmu?" tanya Angel tak mengerti.


"Oh, tidak. Tidak ada apa-apa," sahut Louis.


Angel menatap langit yang penuh bintang. Malam hari di Lumina berbeda dengan di dunia manusia. Jika di dunia manusia malam hari terlihat gelap gulita, di Lumina langit masih nampak terang seperti baru akan memasuki petang.


"Masih terang begini sudah banyak bintang, ya?" ujar Angel sambil menatap langit.


"Malam di sini lebih terang daripada di duniamu. Kamu percaya ini sudah larut malam!? Mungkin bila di dunia manusia sudah mulai pagi," Louis menjelaskan.


"Jadi, waktunya berbeda?" tanya Angel.


"Tentu saja. Kamu kan masuk dunia lain. Waktu juga akan berbeda. Ayo, kuantar ke kamar. Sudah seharusnya waktu kamu untuk beristirahat," ucap Louis yang sudah berdiri dan mengulurkan tangan pada Angel.


Angel meraihnya dan Louis menariknya berdiri. Setelah Angel berdiri Louis melepaskan tangannya. Keduanya lalu berjalan pelan memasuki kastil.


"Jadi, sudah berapa lama aku menghilang dari duniaku?" tanya Angel.


"Mungkin dua hari," jawab Louis mengira-ngira.


"Kalau boleh aku sarankan sebaiknya kamu tidak terlalu lama berada di sini," lanjut Louis.


"Tapi, aku tidak bisa kembali. Cermin itu masih berada di tangan Yang Mulia," ucap Angel pasrah.


"Dia mengambil cerminmu? Kamu harus memintanya agar kamu bisa pulang, Angel. Oh ya, tapi mengapa kamu bisa sedekat itu dengan Astru? Seharusnya dia memenjarakanmu karena menyusup kemari," tanya Louis merasa janggal.


"Itu karena cermin hexagram yang kumiliki dulunya adalah milik nenekku. Dan ternyata cermin itu merupakan pemberian Astru kepada nenek. Sebelumnya aku tahu dari mama kalau cermin itu milik nenek. Aku akan coba memintanya lagi besok," jawab Angel.


"Waw! Bisa kebetulan sekali! Pantas saja dia memperlakukanmu dengan begitu baik," ujar Louis kagum.


"Ya." Angel menimpali.


Mereka mulai memasuki kastil. Dan sekarang berjalan menyusuri lorong. Angel teringat ucapan Astru dan coba bertanya pada Louis.


"Louis, aku boleh tanya?"


"Tentu! Katakan saja!" Louis membolehkan.


"Mengapa Astru menyebut Lei sebagai iblis?" tanya Angel pelan.


Louis berhenti sejenak mendengar pertanyaan Angel. Awalnya terdiam lalu kembali berjalan. Sedangkan Angel tak sadar Louis berhenti bergerak. Dia terus berjalan sambil menunggu jawaban Louis.


"Louis?!" panggil Angel karena suara Louis tak terdengar.


"Ah, ya ... Em ... Begini ... Kamu tahu setiap makhluk memiliki sisi baik dan buruk. Termasuk manusia atau malaikat dan sejenisnya. Kadang yang baik itu selalu dikaitkan dengan sesuatu yang terang, bersih, tak bernoda ya seperti putih misalnya. Dan yang buruk pastinya adalah sesuatu yang terlihat gelap, suram, kotor dan semacamnya." Louis menjelaskannya dengan sedikit rumit.


"Tapi, Lei tidak jahat," bela Angel. Walau wajahnya tak terlihat ekspresi apa-apa.


"Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Yang pastinya semua malaikat di sini berpikir demikian. Bahwa Dark Angel sama dengan iblis. Sebab mereka bernaung di bawah kegelapan. Tidak hanya kami saja mungkin sebagian manusia di bumi pun berpikir sama. Kamu pasti pernah baca buku, novel, cerita, fiksi atau apapun yang berkaitan dengan Dark Angel pasti menyebutnya dengan sosok iblis." Louis menjelaskan dengan hati-hati sambil menatap Angel.


Melihat wajah Angel yang begitu dingin, dia dengan cepat berdiri di hadapan Angel dan memegang lengannya sambil berkata, "Tapi aku percaya padamu, Angel! Jangan pikirkan apapun anggapan orang lain. Kamu yang lebih kenal dengan Lei. Kamu tahu semua sifatnya, dan pasti tidak seburuk yang orang lain pikirkan, bukan?!"


Angel mengangguk membenarkan ucapan Louis. Karena selama ini memang Lei belum pernah melakukan sesuatu yang jahat kepadanya.


"Kalau begitu kamu harus tetap semangat. Percayalah pada hatimu!" Louis menyemangatinya dengan mengepalkan tangannya.


Angel tersenyum dan berkata, "Trims."


Dan keduanya berjalan kembali menuju kamar Angel. Louis mengantar Angel sampai di depan pintu kamarnya.


"Terima kasih sudah menemaniku!" kata Angel.


"Terima kasih juga sudah membahayakan dirimu untuk menemuiku," balas Louis.


Angel tertawa mendengarnya. Dan menggelengkan kepalanya.


"Itu tidak seberapa!" katanya.


"Ya, sudah. Masuklah dan tidur yang nyenyak!" pesan Louis.


"Pasti!" jawab Angel sembari membuka pintu kamar.


"Angel, kamu cantik sekali!" gumam Louis pelan.


"Apa?!" tanya Angel karna tak mendengar jelas.


"Ah, bukan apa-apa. Aku pergi dulu. Selamat malam!" pamit Louis yang kemudian pergi meninggalkan Angel. Angel pun masuk ke.dalam kamarnya.


...🍁🍁🍁...


Di dalam sebuah ruangan besar Astru bersama beberapa petinggi berkumpul dalam sebuah pertemuan rahasia. Mereka semua duduk saling berhadapan mengelilingi meja bundar besar. Mereka baru saja selesai membahas suatu permasalahan.


"Jadi, bagaimana selanjutnya? " tanya seorang petinggi kepada Astru.


"Aku sudah mengambil keputusan. Kekacauan ini harus segera di akhiri!" jawab Astru dengan mimik serius.


^^^To be Continued...^^^


^^^Berikan dukungannya supaya bisa update terus, ya!^^^