My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
40# Makan Malam



Di dapur Lucy sedang mengobrak-abrik barang belanjaan Angel. Semua barang ia keluarkan dari dalam kantong. Beberapa makanan dan sayuran ia masukkan ke dalam kulkas. Setelah Angel selesai mencuci gelas dan piring kotor barulah dia membantu Lucy membereskan belanjaan yang masih ada di atas meja. Satu persatu ditaruh ke tempatnya. Sedang Lucy memungut kantong yang berserakan di lantai dan melipatnya dengan rapi.


"Tumben Louis kemari?" tanya Lucy.


"Iya. Tadinya dia ingin mengajakku ke luar," jawab Angel disela kesibukannya.


"Terus?" tanya Lucy penasaran.


"Ya, aku bilang aku tidak bisa. Karena punya janji dengan Ibu Michelle," jawab Angel kalem.


"Terus?"


"Dia bilang tidak apa lain kali saja. Sudah," jawab Angel.


"Sudah begitu saja?" tanya Lucy kecewa.


"Ya. Memangnya apa yang kamu harapkan?" tanya Angel mendengar nada tak puas dari Lucy.


"Em .... Tidak ada," jawab Lucy santai.


"Dia kan tidak mungkin memaksa!" timpal Angel yang menghampiri Lucy dan duduk di sampingnya.


Pekerjaan telah beres semua. Tinggal bersiap-siap untuk pergi. Jam dinding menunjukkan pukul 15.35. Masih ada waktu satu setengah jam sebelum Michelle datang.


"Sudah pukul 15.35. Kamu pergilah mandi dulu! Ini biar aku bereskan sisanya," kata Angel pada Lucy. Yang lalu mengambil alih kantong-kantong yang Lucy rapikan untuk disimpan.


"Oke!" jawab Lucy sambil menenteng tasnya menaiki tangga atas menuju kamar Angel.


Tak ingin menunggu Lucy yang begitu betah di dalam kamar mandi yang ada di kamar Angel. Angel lantas memilih mandi di kamar mandi bawah. Baru kemudian ke kamarnya memilih pakaian.


Di kamar Lucy sudah siap dengan pakaian yang ia kenakan dan sedang merias wajah. Angel membuka lemari pakaiannya dan memilih pakaian yang cocok.


"Pakai baju apa, ya?" tanya Angel meminta saran Lucy. Sambil menoleh ke arah Lucy yang mengenakan rok selutut dengan blouse yang terbuka di bagian bahu.


Tanpa banyak bicara Lucy langsung berjalan ke arah lemari dan mengorek-ngorek isi lemari. Setelah menemukan yang menurutnya cocok, ia lalu menyodorkannya pada Angel.


"Nih!"


Sepotong dress berwarna kuning polos dengan sedikit lengan menjadi pilihan Lucy. Angel pun menyetujui pilihan itu. Dan segera mengenakannya. Agar tak terkesan monoton ia menambahkan kalung dengan bandul kupu-kupu. Setelah itu mulai merias wajah dan merapikan rambut. Setelah rapi mereka turun ke bawah menunggu kedatangan Michelle.


Sebuah mobil berwarna hitam mengkilap berhenti di depan rumah Angel. Seseorang keluar dari dalam mobil. Melangkah dengan anggunnya memasuki halaman rumah Angel. Dan mulai mengetuk pintu. Angel dan Lucy di dalam rumah langsung bersiap begitu mendengar suara ketukan pintu.


"Itu pasti Ibu Michelle!" kata Angel yakin. Mereka pun beranjak dari tempat duduk untuk membuka pintu.


Begitu pintu dibuka nampaklah seorang wanita cantik dengan terusan hitam panjang tersenyum menyambut mereka.


"Sudah siap, anak-anak?" tanya Michelle.


Angel dan Lucy sampai manggut-manggut karena takjub melihat Michelle yang begitu cantik sore ini. Seusai mengunci pintu ketiganya berjalan menghampiri mobil yang terparkir di depan. Rupanya seseorang sudah menunggu di luar mobil. Dan lagi-lagi kedua gadis itu kembali dibuat takjub oleh sosok pria yang menunggu di mobilnya.


Wajahnya sangat tampan, kulitnya putih, matanya berwarna coklat teduh, dan ketika dia tersenyum benar-benar sangat menawan. Semua gadis pasti akan langsung jatuh cinta padanya.


"Hai, Nona-Nona manis! Kalian terlihat sangat cantik!" puji Pierre begitu Angel dan Lucy sampai di depan mobil.



Sebenarnya kedua gadis itu masih tidak menyadari bahwa pria tersebut adalah Pierre. Karena penampilannya yang berubah 180 derajat, luar biasa tampan. Bahkan terlihat jauh lebih muda daripada penampilannya yang berewokan kemarin.


Angel dan Lucy saling memandang dengan bingung. Lantas Lucy yang penasaran pun mulai bertanya.


"Maaf, anda siapa, ya?"


Mendengar Lucy yang bertanya demikian membuat Michelle sampai tertawa geli. Sedang Pierre tersenyum-senyum.


"Masa kalian lupa?! Ini kan Pierre!" ucap Michelle disela tawanya.


"Hah?! Serius? O'migosh!" seru Lucy tak percaya.


"Nampak jauh lebih muda dari yang kemarin," Angel menimpali.


Michelle masih tertawa melihat ekspresi kaget kedua gadis itu. Namun tak ingin membuang waktu ia pun menyuruh kedua gadis itu untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Ayo, cepat masuk! Nanti kita terlambat!" ujar Michelle yang lebih dulu masuk ke mobil.


Kemudian Pierre membukakan pintu mobil bagi kedua gadis itu. Setelah semuanya berada di dalam mobil ia pun menjalankan kemudi dan mobil melaju meninggalkan kediaman Angel.


Setelah hampir setengah jam perjalanan akhirnya mereka tiba di sebuah gedung theater. Suasana area gedung nampak sangat ramai. Di depan gedung terpampang papan besar bertuliskan "Snow White Opera Show" yang sebentar lagi akan dipertunjukkan. Pierre mengemudikan mobil ke tempat parkir. Setelah menemukan tempat kosong ia pun memarkirnya dan mereka turun menuju pintu masuk. Sebelumnya mereka harus membeli tiket terlebih dulu di loket yang berada di sebelah pintu masuk. Usai Michelle membayar tiket untuk empat orang barulah mereka masuk ke dalam gedung.


Suara musik mulai dimainkan. Tirai panggung pun perlahan terbuka. Dan muncullah beberapa penari yang menari dengan lincahnya. Kemudian muncul Snow White dari dalam panggung. Snow White tengah bernyanyi sambil menari dengan anggunnya. Tepuk tangan penonton pun langsung membahana. Selesai menyanyikan sebuah lagu sebagai opening, drama pun dimulai. Pemain lain pun bermunculan memainkan alur cerita sesuai perannya. Para penonton menyaksikan dengan tenang.


Pertunjukkan berakhir satu setengah jam kemudian. Semua penonton termasuk Michelle dan lainnya mulai berhamburan meninggalkan gedung. Pierre meminta Michelle dan dua gadis yang bersamanya untuk menunggunya di depan gedung sementara Pierre mengambil mobil. Mereka menyetujui. Tidak butuh waktu lama mobil Pierre telah tiba di depan mereka. Mereka lalu masuk ke dalam mobil.


Kini mobil melaju meninggalkan gedung Teater. Sampai di sebuah restoran mewah bergaya kapal pesiar di pesisir laut. Kedatangan mereka langsung disambut hangat oleh seorang Waiter. Setelah Pierre berbicara sebentar kepada Waiter, Waiter lalu mengantar mereka kebagian atas kapal dengan pemandangan terbuka yang mengarah ke laut. Sebuah meja untuk enam orang telah tersedia. Karena Pierre telah memesan tempat itu sebelumnya. Mereka pun duduk di sana. Pierre duduk di sebelah Michelle dengan Angel dan Lucy di sebelahnya lagi. Namun masih tersisa satu kursi kosong yang berada tepat di depan Angel. Usai memilih menu makanan yang kebanyakan menu Eropa, Waiter pun pergi.


Saat yang lainnya sedang asyik membicarakan pertunjukkan yang barusan mereka tonton, Angel malah kebingungan. Celingak-celinguk menatap kesana-kemari seolah mencari seseorang.


'Aneh, kenapa Lei tidak ikut, ya? Masa dia melewatkan acara kumpul keluarganya seperti ini. Apa Michelle tidak mengajaknya?' Angel beranggapan didalam hati.


Saat itu seseorang datang menghampiri meja di mana Angel dan lainnya berada. Begitu tiba dia langsung duduk di kursi kosong tersebut. Angel menatapnya setengah tak percaya. Bagaimana tidak? Baru saja Angel memikirkannya tiba-tiba dia sudah ada di depannya. Lei menatap Angel dengan serba salah.


"Maaf, aku terlambat!" ucapnya sembari menunduk kecil.


"Belum terlambat, sayang! Makanannya saja belum datang," sahut Michelle.


"Kamu ketinggalan Snow White Opera Show tahun ini!" timpal Pierre yang duduk di sebelahnya.


"Tidak apa-apa, lagipula aku tak suka Opera," ujar Lei.


Angel menatapnya dan berkata dalam hatinya. 'Ya, kamu hanya suka menonton drama Korea!' Kemudian tersenyum sendiri.


Lei yang bisa membaca pikiran Angel langsung menatapnya sembari mengangkat sebelah alisnya. Tak mengerti dengan pikiran Angel. Lucy yang berada di sebelah Angel malah menyikutnya melihatnya tersenyum-senyum sendiri. Namun Angel tak menghiraukannya. Karena Angel begitu senang.


Setelah beberapa saat menunggu pesanan pun datang. Beberapa Waiter yang membawa nampan berisi makanan meletakkannya ke atas meja. Makanan untuk Lei pun sudah dipesan sebelumnya oleh Michelle. Ia tahu kesukaan Lei. Setelah waiter itu pergi mereka mulai menyantap makanannya.


Masih banyak waktu untuk menikmati udara malam. Usai menghabiskan makanannya Pierre mengajak Michelle turun ke bawah. Sambil bergandengan mereka berjalan menyusuri jalan berpasir menuju tepi pantai di belakang restoran. Sedangkan Angel, Lucy dan Lei masih sedang menikmati makanannya. Lucy menyelesaikan makannya dengan cepat. Ia berniat memberi sedikit waktu bagi Angel dan Lei untuk berdua. Dengan sebuah alasan ia pun meninggalkan Angel.


"Aku ke toilet dulu, ya! Kalian makanlah pelan-pelan! Bye!" ucap Lucy yang berlalu dengan cepat.


"Eh ...." Angel baru akan protes namun Lucy sudah menghilang di bawah tangga.


Sekarang hanya tinggal Lei dan Angel di satu meja. Keduanya nampak canggung. Angel makan dengan sangat pelan, sesekali mencuri pandang menatap Lei. Namun dengan cepat mengalihkan pandangannya begitu Lei memergokinya sedang menatap dirinya. Keduanya hanya diam membisu. Tetapi pikiran Angel lagi-lagi berkelana. Sepertinya lupa Lei bisa membaca apa yang dia pikirkan.


'Ini aneh, sangat aneh. Tidak seperti dulu. Dulu begitu menyenangkan, begitu hangat. Sekarang kenapa rasanya asing sekali. Seperti berada di satu ruangan dengan patung es besar. Diam dan dingin sampai menjalar ke kulitku,' begitu yang ia pikirkan.


Lei yang mendengarkan pikiran Angel seperti itu lalu menghentikan kegiatan makannya. Diletakkan sendok dan garpu yang ia pegang di atas piringnya. Setelah menghabiskan separuh minumannya ia langsung bangkit berdiri hendak pergi. Angel baru menyadari apa yang ia pikirkan setelah melihat Lei yang tiba-tiba pergi.


'Oh, tidak!'


Dengan cepat Angel berdiri dan mencoba menahan Lei untuk tinggal.


"Lei!"


Lei menghentikan langkahnya namun tak mengalihkan pandangan pada Angel. Angel kembali bingung tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk menahan Lei. Dengan gugup ia berkata, "Ka ... Kamu mau pergi ... ke mana?"


"Mencari angin!" jawab Lei asal.


"Kupikir di sini sudah cukup berangin sampai-sampai membuatku kedinginan," sahut Angel hati-hati.


"Ya, karena patung es besar yang membuatmu kedinginan!" sindir Lei.


"Maaf!" lirih Angel dengan suara kecil.


Meskipun dengan suara yang kecil Lei tetap bisa mendengarnya. Tapi bukannya peduli dia malah berjalan menjauh tanpa sekalipun menengok kearah gadis itu. Angel mulai tak bisa menahan dirinya. Setelah berusaha menguatkan diri akhirnya kembali goyah.


"Lei, jangan pergi! Ku mohon jangan pergi!" pinta Angel. Kepalanya tertunduk menahan kesedihan yang lagi-lagi menyeruak di hatinya.


"Jangan pergi lagi ...," ucapnya lagi sedangkan air mata sudah tak mampu ia tahan meluncur dengan mulus membasahi pipinya.


Lei masih diam mematung tak tahu apa yang harus ia lakukan. Meskipun ia merasakan kesedihan dari nada bicara Angel. Lucy kembali dan melihat keadaan yang sepertinya kurang nyaman, dia dengan cepat menghampiri Angel. Dan langsung memeluknya.


"Angel, ada apa?" tanyanya cemas.


Pandangannya menatap Lei yang berdiri tak jauh dari sana. Dan kembali merangkul Angel menyuruhnya duduk. Lucy duduk di sampingnya sambil menenangkannya. Lei yang diam mematung akhirnya pergi. Dengan cepat menuruni anak tangga namun ia terdiam ketika tiba di ujung tangga. Ia terduduk di bawah tangga, sebuah gambaran tiba-tiba muncul sekilas.


Gambaran singkat ketika Angel menyuruhnya jangan pergi saat mereka bermain di pantai. Kemudian kembali kepada kejadian barusan. Namun Lei tak mampu mengingat lebih banyak lagi. Kepalanya kembali sakit. Sakit itu selalu menghalanginya untuk mengingat lebih banyak tentang Angel. Dia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan kekesalan dan kebodohannya.


Begitulah malam berlalu. Di antara dua orang yang berbahagia, di waktu yang sama dua orang yang lain dirundung pilu.


Pierre dan Michelle mengantar kedua gadis itu pulang sebelum jam 9 malam. Sementara Lei tak lagi menampakkan diri. Michelle berkata pada kedua gadis itu bahwa Lei berpamitan padanya untuk pulang lebih dulu karena ada hal yang harus dikerjakan. Kedua gadis itu pun hanya diam tak menanggapi.