My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
46# Terkunci di Atap Sekolah



Cuaca pagi ini juga mendung seperti kemarin. Angel sampai di sekolah lebih cepat. Hari ini dia tak lupa membawa payung. Sekedar berjaga-jaga kalau pulang sekolah nanti hujan, dia tak perlu menunggu atau dia punya alasan untuk menolak tawaran Michelle jika Maria bersama mereka.


Masih terlalu pagi untuk masuk kelas. Angel memilih ke perpustakaan. Perpustakaan juga sepi. Angel menuju ke sebuah rak sambil membaca judul buku. Dia berhenti pada sebuah buku tebal mengenai sejarah dunia. Kebetulan tugas esai sejarahnya belum selesai. Lantas ia mengambil buku itu kemudian beralih ke rak lain. Ia sampai di bagian sastra dan bahasa.


Kembali mencari sebuah buku yang menarik untuk dibaca. Pilihannya jatuh pada sebuah novel berjudul Romeo & Juliet. Kemudian ia menuju meja pengawas dan memberikan kedua buku yang akan dipinjamnya untuk dicatat ke daftar pinjam oleh pengawas.


"Lima hari!" ucap pengawas kepada Angel.


"Terima kasih!" balas Angel kemudian berjalan pergi.


Segera Angel meninggalkan perpustakaan. Ia berencana untuk masuk ke kelas. Buku yang dipinjamnya tadi masih ia pegang. Ia mulai membuka buku sejarah dunia membolak-balikkan halamannya. Kemudian berhenti pada sebuah halaman dengan judul yang menarik baginya. Dia pun membacanya sambil berjalan.


Saat Angel keluar dari perpustakaan, dia bertabrakan dengan seseorang. Buku yang dipegangnya jatuh ke lantai. Ia segera memungutnya dan langsung minta maaf pada orang yang ditabraknya itu. Baru setelah itu ia mengangkat wajahnya dan kaget melihat orang yang ia tabrak.


"Lei?!"


Lei terlihat serba salah kemudian membalikkan badannya dan malah pergi meninggalkan Angel tanpa berkata. Angel segera mengejarnya. Langkah Lei sangat cepat. Angel sampai harus setengah berlari untuk menyamai langkahnya.


"Lei, tunggu sebentar! Kamu mau ke mana? Jalanmu cepat sekali!" kata Angel pada Lei. Tetapi Lei diam saja tak menjawabnya.


"Lei ... Maukah kamu temani aku ke atap sekolah sebentar? Dulu kita sering ke sana, kamu ingat?" tanya Angel.


Mendengar ucapan Angel membuat Lei mendadak menghentikan langkahnya. Meski tetap diam saja. Angel kembali melanjutkan kata-katanya berharap Lei mengingatnya.


"Kamu menghiburku saat aku menangis karena bertengkar dengan Lucy. Kamu juga pernah menyelamatkanku saat Maria menembakkan anak panahnya kepadaku. Saat itu kamu terluka, aku sampai khawatir dan mengajakmu ke ruang UKS. Tapi kamu bilang kamu bisa menyembuhkan lukamu dengan cepat. Kamu juga menyemangatiku saat aku tak tahu harus bagaimana menghadapi Lucy."


Lei tetap terdiam. Meskipun Angel sudah berusaha mengingatkan pada kejadian yang pernah mereka alami dulu. Tetapi nampaknya Lei masih belum bisa mengingatnya. Dia tak menanggapi ucapan Angel sama sekali. Malah kembali meneruskan langkahnya dengan lebih cepat meninggalkan Angel.


"Lei ...." seru Angel.


Lei tak menggubris panggilannya. Menoleh juga tidak. Angel pun memutar badannya berjalan dengan lunglai menuju kelasnya.


'Bagaimana caranya supaya aku bisa membuatmu mengingatku lagi, Lei ...,' batin Angel.


Sementara Lei juga tengah bergumul dengan pikirannya.


'Apa maksud ucapan Angel tadi? Apakah benar ada kejadian seperti yang dia katakan tadi? Tapi, mengapa aku tidak ingat? Benarkah Maria pernah menembakkan anak panah kepadanya? Itu berarti Maria pernah mencoba mencelakainya. Tapi untuk apa? Apa aku harus percaya begitu saja dengan ucapannya? Bagaimana aku bisa percaya kalau aku sendiri tidak ingat kejadiannya!? Oh, ya ampun, siapa dia sebenarnya?!' batin Lei di dalam lamunannya.


"Lei, kamu tidak masuk kelas? Bel sudah berbunyi dari tadi. Melamun saja! Apa sih yang kamu pikirkan?" pertanyaan Michelle menyadarkan Lei.


Benar karena sibuk dengan pikiran sendiri sampai bunyi bel pun Lei tidak dengar. Sebenarnya karena perkataan Angel tadi membuat Lei malas masuk kelas hari ini. Ia memilih berada di ruang UKS bersama Michelle. Bisa dibilang membolos sebenarnya tapi dengan Michelle ibunya, dia bisa saja memberikan surat keterangan sakit kepada guru di kelas.


"Tidak! Aku di sini saja bolehkan, Ibu?" jawab Lei pada Michelle.


"Apa kamu sakit?" tanya Michelle yang telah berada di samping Lei. 


Ia mencemaskan Lei karena tak biasanya Lei sampai membolos. Michelle memegang dahi putranya itu untuk memastikan apakah Lei sakit atau tidak. Suhu tubuhnya terasa normal.


"Tidak!" jawab Lei.


"Kepalamu masih sering sakit?" tanya Michelle lagi.


"Juga tidak," jawab Lei.


"Lalu, mengapa tidak masuk kelas?" tanya Michelle penasaran.


"Aku tidak mood saja," jawab Lei asal.


"Tidak mood?! Tak biasanya. Apa kamu dan Maria bertengkar dengan Angel?" tanya Michelle terang-terangan.


Lei menyunggingkan senyumnya.


'Dia lagi!' katanya dalam hati. Kemudian ia berkata, "Mengapa ibu bertanya begitu?"


"Sikap kalian terlihat sangat aneh. Lihat kemarin saat ibu menawarkan Angel tumpangan. Disuruh masuk ke mobil saja nampaknya dia enggan. Dan sikap kalian berdua pun terlihat sangat keberatan terutama Maria. Tidak ada sambutan hangat sama sekali. Menyapa pun tidak. Sangat berbeda dengan dulu sebelum Maria datang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? Apa kamu bertengkar dengan Angel?" kata Michelle yang sangat merasakan perubahan hubungan antara Lei dan Angel.


"Ibu, aku tidak pernah bertengkar dengannya," ujar Lei membela diri.


"Lantas, kalian ini kenapa?" tanya Michelle. Ia melirik arlojinya sebentar. Lalu melanjutkan, "Oh, Ibu sudah harus mengajar. Kamu di sini sendiri tak apakan?!"


"Tidak apa-apa," jawab Lei yakin.


"Baiklah, Ibu kembali saat istirahat nanti," kata Michelle kemudian keluar dari ruangannya.


Lei telah berada di atap sekolah. Dengan cepat dia berpindah dari ruang UKS ke atap sekolah. Lei berdiri di belakang pintu atap. Mengedarkan pandangan ke seluruh bagian atap sekolah yang sepi. Ia mengingat kembali ucapan Angel tadi pagi dan berusaha mengingat kejadian yang terjadi di sini menurut ucapan Angel. Tetapi bukan ingatan yang ia dapat melainkan sakit kepala yang dahsyat yang dirasakannya sekarang. Lei sampai jatuh tersungkur menahan sakitnya. Dengan segera ia merubah diri menjadi sosok aslinya. Sakit kepala itu masih terasa seperti tertusuk ribuan jarum. Namun Lei tak menyerah. Dia terus memaksa untuk mengingat. Semakin dipaksa semakin kuat rasa sakit itu menyerang.


Rasa sakit yang terus menerus menikam diikuti kemunculan sebuah ingatan. Ingatan ketika tangannya terluka. Lei mengingat saat seseorang menarik tangannya namun dicegahnya dan membiarkan luka itu sembuh dengan kekuatannya. Tetapi dia tak bisa mengingat wajah orang yang menarik tangannya itu.


Kemudian muncul lagi ingatan saat dirinya merangkul gadis berambut panjang itu untuk turun dari atap sekolah. Dan lagi-lagi tetap tak bisa mengingat wajah gadis itu. Ingatan itu kemudian lenyap bersama rasa sakit pada kepalanya. Lei tersungkur dengan keringat mengucur dari tubuhnya.


Di dalam kelas saat pelajaran masih berlangsung, Angel nampak gelisah. Ia merasa tidak tenang. Ia terus menatap bangku Lei yang kosong dan pintu kelas yang terbuka. Berharap Lei segera muncul di sana. Namun sayangnya sampai jam istirahat pun sosok Lei tak juga muncul.


Angel berjalan dengan pelan meninggalkan ruang kelasnya. Dengan pelan berjalan menuju atap sekolah. Tadi Lucy mengajaknya ke kantin bersama Jeremy, tetapi Angel menolak. Dia sedang ingin menikmati waktu sendirinya. Bernostalgia tentang saat-saat bersama Lei.


Angel tiba di atap sekolah. Sepi seperti biasanya. Tidak ada siapa-siapa. Ia berjalan ke tepi pagar. Cuaca yang mendung sedari pagi membawa hawa dingin. Meski sempat merinding oleh angin yang dingin namun tak menyurutkan keinginannya untuk sedikit lebih lama di sana. Ia masih mengingat saat menghabiskan waktu bersama Lei di sini.


'Rasanya sudah lama sekali tidak datang kemari! Waktu cepat sekali berlalu,' batin Angel.


Rintik hujan setetes demi setetes mulai turun. Segera Angel berlari untuk kembali ke dalam gedung sekolah. Namun pintu di atap sekolah telah tertutup. Angel lalu memutar gagang pintu itu tapi terkunci.


"Aneh. Tadi pintunya masih terbuka. Siapa yang menguncinya?" kata Angel panik sambil terus mendorong pintu.


Hujan turun semakin lebat. Atap untuk berteduh dekat pintu hanya sedikit. Percikkan air hujan yang turun mengenai Angel. Kalau tidak cepat masuk dia akan basah. Angel mulai menggedor-gedorkan pintu sambil terus berteriak.


"HEI ... BUKA PINTUNYA! TOLONG ... SIAPAPUN DI SANA, BUKA PINTUNYA ...!"


Tetapi suara hujan yang lebat mengalahkan suara teriakannya. Tidak mungkin ada yang bisa mendengarnya. Angel hanya bisa pasrah. Udara juga sangat dingin.


"SESEORANG BUKA PINTUNYA!" teriak Angel untuk terakhir kali. Dan tetap tak ada jawaban.


Angel meringkuk di depan pintu. Hampir mau menangis. Saat itu muncul sebuah suara yang mengatakan, "Angel, jangan menangis! Pintunya sudah bisa dibuka!"


Angel tersadar. Kemudian dia bangkit dan kembali memutar gagang pintu. Benar saja dengan mudah pintu terbuka. Dia merasa sangat lega dan secepatnya turun ke bawah. Tetapi tiba-tiba berhenti dan mengingat suara yang menolongnya tadi. Suara yang tak asing baginya. Angel kembali ke atas. 


"Louis!" seru Angel.


"Louis ... Kamukah itu?" tanya Angel meskipun ia tak melihat keberadaan Louis.


"Iya, Angel. Masuklah! Aku tidak bisa bersamamu lebih dekat lagi," ujar Louis tanpa memperlihatkan wujudnya.


"Oh, Louis, terima kasih telah menolongku," kata Angel tulus.


"Ya, Angel! Sekarang masuklah!" balas Louis.


Angel mengangguk dan membalikkan badan menuruni anak tangga. Dia sampai di koridor. Berjalan ke kelas sambil menyapu lengannya yang basah dengan tangan. Lengan bajunya pun terlihat sedikit basah. Saat masuk ke dalam kelas Angel melihat Lucy duduk di bangkunya. Ia pun berjalan menghampirinya.


"Angel, kamu darimana saja?" tanya Lucy.


"Atap sekolah," jawab Angel.


"Hujan-hujan begini? Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Lucy keheranan.


"Tadinya sebelum hujan. Sialnya pintu terkunci dari dalam sampai-sampai lengan bajuku basah terkena percikan air hujan," jawab Angel sambil menunjukkan lengan bajunya yang basah.


"Terkunci? Bagaimana bisa? Jangan-jangan ada yang sengaja menguncimu dari dalam," ujar Lucy dengan pendapatnya.


"Siapa?" Angel balik bertanya.


Ketika itu Maria memasuki kelas. Lucy yang tadinya mau menjawab pertanyaan Angel pun mengurungkan niatnya. Ia hanya menatap sekilas pada Maria kemudian beralih pada Angel. Angel sepertinya mengerti. Ia bisa merasakan aura tak nyaman jika Maria ada di dekatnya. Angel hanya mengangguk pada Lucy.


"Aku mengerti. Ya, sudah aku duduk dulu!" katanya kemudian berlalu.


Pandangan Maria mengikuti Angel sampai ia duduk di kursinya. Pandangan yang dingin dan menakutkan.


Pelajaran berakhir. Semua murid mulai meninggalkan kelas. Bangku Lei tetap kosong. Angel begitu terburu-buru memasukkan bukunya ke dalam tas. Kemudian berjalan ke tempat Lucy yang masih sibuk membereskan bukunya.


"Aku duluan, ya! Mau ke toilet dulu!" ucap Angel buru-buru.


"Mau pulang denganku? Di luar masih hujan. Nanti aku tunggu di depan," tanya Lucy menawarkan.


"Tidak usah. Aku bawa payung. Kamu pulang duluan saja! Bye ...," jawab Angel yang tergesa-gesa.


Maria yang masih berada di bangkunya berlagak cuek tapi mendengarkan dengan jelas pembicaraan kedua gadis itu. Sebuah senyum tersungging di bibirnya.