My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
51# Hanya Manusia Biasa



Pagi ini Angel agak terlambat datang ke sekolah. Ia masuk ke kelas dengan terburu-buru dikarenakan bel telah berbunyi. Begitu dia masuk semua murid telah berada di bangkunya masing-masing. Angel segera berjalan menuju bangkunya.


Maria melihat kedatangan Angel namun berlagak tak tahu. Ia memperkirakan Angel pasti akan lewat di sampingnya. Memang benar saat Angel lewat di samping Maria, dengan sengaja Maria menjulurkan kakinya ke luar agar Angel terjatuh. Angel yang tak memperhatikan jalan akhirnya tersandung oleh kaki Maria dan terjatuh. Murid-murid yang melihat menertawakannya. Lucy sontak berdiri dan berteriak lantang.


"Hentikan!"


Dia lalu menghampiri Angel untuk membantunya berdiri.


"Kamu tidak apa-apa?"


Angel menggeleng sambil mencoba tersenyum. Meski sebenarnya dia merasa sangat kesal dipermalukan seperti ini.


"Tidak. Kamu kembalilah duduk! Aku bisa jalan sendiri," ujarnya lalu berjalan menuju bangkunya.


Lucy pun tak bisa berbuat apa-apa karena Guru juga telah memasuki kelas. Ia berjalan kembali ke bangkunya. Saat hendak duduk, dia menatap Maria di seberangnya dengan sorotan tajam. Maria tak menggubrisnya tetapi malah tersenyum senang.


Untunglah lutut Angel tidak lecet seperti kemarin. Angel memberanikan diri mengangkat kepalanya mengintip ke arah Lei. Kebetulan sekali saat itu Lei menoleh ke arahnya juga. Angel kembali menunduk. Dia merasa sangat malu, dan hampir ingin menangis. Tetapi ditahannya agar air matanya tidak sampai jatuh.


'Jangan! Jangan menangis, Angel! Ini hal biasa, aku harus kuat! Aku telah melewati masa yang lebih sulit dari ini. Ini hanyalah hal kecil bagiku. Aku harus kuat.'


Angel terus berkata dalam hatinya berusaha menyemangati dirinya agar tetap kuat.


Lei kembali menoleh ke arahnya tetapi Angel tak mengetahuinya. Lalu ia menoleh ke tempat Maria. Maria masih terlihat tersenyum senang. Begitulah waktu berlalu sampai bel tanda istirahat akhirnya berbunyi.


Lucy segera menghampiri Angel. Dengan penuh perhatian ia bertanya, "Benar kamu tidak apa-apa?"


Angel tersenyum tipis dan menggeleng padanya. "Tidak perlu khawatir. Aku sudah terbiasa dengan semua ini," kata Angel.


"Kamu tak bisa hanya diam saja. Dia semakin keterlaluan," ucap Lucy dengan geram.


"Sudahlah! Dia bukan lawanku. Biar saja dia lakukan sesuka hatinya," balas Angel pasrah.


"Tapi, Angel ... Harus sampai kapan dia mengganggumu?" tanya Lucy yang tak tega melihat sahabatnya terus disakiti oleh Maria.


Saat itu Maria beranjak dari tempat duduknya. Berjalan dengan angkuh ke tempat Lei berada. Dia menatap Lucy dan Angel sekilas. Lalu duduk di atas meja Lei.


"Ah, kasihan sekali ya teman kita yang tadi terjatuh. Pasti sakit sekali! Salahnya sendiri jalan tidak hati-hati. Tapi, lumayan juga ya, teman-teman sekelas jadi ada sedikit hiburan," kata Maria dengan suara lantang dan tawa mengejek.


Lucy semakin geram mendengarnya. Ia hendak pergi menghampiri Maria untuk memarahinya. Namun Angel menahannya.


"Angel, lepaskan! Aku mau memperingatkan dia agar menjaga sikapnya," kata Lucy pada Angel.


"Percuma kamu bicara dengannya, karena itu hanya akan membuatmu celaka," sahut Angel serius.


"Angel, kamu tidak boleh diam terus diperlakukan seperti ini!" balas Lucy mulai emosi.


"Biarkan saja. Lebih baik kita pergi dari sini! Ayo!" ajak Angel sambil menarik tangan Lucy pergi.


"Angel ...," seru Lucy. Namun ia tetap mengikuti kemauan Angel.


Lucy hanya melotot tajam pada Maria saat lewat di depannya. Tentu saja Maria malah tertawa lebih keras karena senang.


Angel membawa Lucy ke atap sekolah. Dia sedang tidak mood untuk ke kantin. Dia ingin menyendiri saja di tempat yang lebih tenang.


"Angel, aku tidak mengerti. Mengapa kamu begitu takut pada Maria. Sampai kamu tidak berani melawannya?" ujar Lucy begitu mereka sampai di atap sekolah.


"Aku bukannya takut. Tapi percuma kalau aku melawannya. Aku ini cuma manusia biasa, aku tidak memiliki kekuatan super seperti dia. Bagaimana bisa aku menang melawannya? Yang ada mungkin aku yang celaka. Kalau Louis saja sampai terluka parah karena serangannya, apalagi aku!?" kata Angel. Ia masih merasa begitu bersalah mengingat Louis.


"Aku minta maaf. Aku hanya tak tega melihatmu terus-terusan disakiti olehnya," ujar Lucy prihatin.


"Aku tidak apa-apa. Aku sudah melewati masa yang lebih sulit dari ini. Ini hanyalah sebuah hal kecil. Aku justru takut dia akan mencelakaimu seperti waktu itu. Oleh karena itu aku mencegah dirimu agar tidak mencari gara-gara dengannya," jelas Angel pada Lucy.


"Aku mengerti," ucap Lucy singkat.


"Berjanjilah untuk tidak pernah berurusan dengannya," pinta Angel.


Lucy membalasnya dengan anggukkan. Dia mengerti Angel pasti takut terjadi sesuatu pada dirinya. Karena itu Angel mencegahnya untuk mendekati Maria. Sementara pikiran Angel sibuk dengan hilangnya kabar dari Louis. Tiba-tiba Jeremy datang dan ikut bergabung dengan kedua gadis itu.


"Ada kabar dari Louis?" tanya Angel penuh harap.


"Tidak ada," jawab Jeremy sembari menggeleng pelan.


Harapan Angel pun kandas. Ia kembali melamun dengan pikirannya sendiri. Lucy menatap Jeremy kemudian beralih pada Angel yang nampaknya tak mau diganggu.


"Bagaimana kamu tahu kami di sini?" tanya Lucy heran.


"Ini ...," jawab Jeremy sambil menunjukkan cermin hexagramnya.


"Oh ...," gumam Lucy paham.


Kemudian Lucy menarik tangan Jeremy mengajaknya sedikit menjauh dari tempat Angel berdiri. Mereka kemudian berbicara serius dengan suara pelan. Lucy menjelaskan perihal kejadian hari ini pada Jeremy. Berharap dapat menemukan jalan keluar bagi Angel agar terbebas dari jerat Maria. Namun sama halnya Lucy, Jeremy pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menyuruh Lucy agar selalu berada di samping Angel. Untuk menjadi penghibur bagi Angel di kala gadis itu sedang susah. Karena tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu keputusan Astru.


"Baik, aku mengerti," kata Lucy dengan mata berkaca-kaca.


"Lus, jangan menangis! Sekarang Angel membutuhkanmu sebagai sahabatnya. Kamu harus memberinya semangat untuk menghadapi cobaan ini. Kita harus sedikit lebih bersabar sampai semua ini selesai," ucap Jeremy dengan lembut pada Lucy. 


Dihapusnya air mata Lucy sebelum jatuh ke pipi.


"Ya. Aku merasa kasihan padanya. Aku pasti akan selalu mendukungnya!" kata Lucy dengan pasti.


Jeremy mengangguk sambil mengepalkan tangannya untuk menyemangati Lucy.


"Semangatlah! Kalau kamu bersedih, Angel akan merasa lebih sedih lagi. Percayalah semua masalah ini pasti akan berakhir!"


Lucy mengangguk memercayai kata-kata Jeremy. Kemudian Lucy pun kembali ke tempat Angel berada diikuti Jeremy di belakangnya.


Angel malah menyambut Lucy dengan senyuman manis. Lucy sedikit heran tapi bersyukur karena Angel masih dapat tersenyum seperti biasanya. Seolah tak ada beban sedikitpun di wajahnya.


"Aku boleh minta tolong, tidak?" tanya Angel pada Lucy.


"Minta tolong apa?" tanya Lucy lalu menatap Jeremy.


"Bisa ambilkan tasku di kelas?" pinta Angel dengan wajah memelas.


"Kamu mau ke mana? Ini kan masih jam sekolah," tanya Lucy heran.


"Aku mau pulang lebih cepat. Aku ingin membuat satu masakan untuk Lei dan Pierre," jawab Angel dengan semangat.


"Masakan? Memangnya mereka akan datang ke rumahmu?" tanya Lucy tambah heran lagi.


"Tidak. Aku akan mengantarnya ke rumah Lei. Karena saat ini Michelle berada di luar kota untuk menghadiri seminar. Jadi, aku mendapat ide memasak untuk mereka. Mungkin saja masakanku bisa membuat Lei mengingatku sedikit," Angel menjelaskan.


"Oh, begitu rupanya! Mengapa tidak menunggu sampai pulang sekolah saja? Aku kan bisa membantumu memasak juga," tanya Lucy.


"Oh, baik. Kalau begitu kamu tunggu di sini sebentar!" kata Lucy baru akan beranjak namun Jeremy mencegahnya dengan cepat.


"Biar aku saja yang ambil. Kalian di sini saja, okeb Aku pasti lebih cepat dari Lucy," ujar Jeremy sambil mengedipkan mata pada Lucy.


"Ya, terserah padamu saja!" balas Lucy dan Angel cuma tersenyum.


Seperti ucapan Jeremy, dia kembali dengan cepat. Di tangannya sudah ada tas Angel. Diserahkan tas itu pada pemiliknya. Angel menerimanya. Tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada Jeremy.


"Terus, bagaimana caranya kamu pergi? Pagar kan ditutup. Kalau lewat taman pun pasti banyak murid yang akan memergokimu," tanya Lucy.


"Tenang, aku kan punya ini!" jawab Angel sambil mengeluarkan cermin hexagram yang tersembunyi di dalam seragam sekolahnya.


"Kamu membawanya juga? Oh, menyebalkan! Mengapa cuma aku yang tidak punya?!" gerutu Lucy tak percaya.


"Aku selalu membawanya untuk berjaga-jaga. Jika tiba-tiba aku terkunci di sebuah ruangan lagi," ujar Angel sambil menertawakan Lucy.


"Oh." Lucy mengangguk mengerti.


"Baiklah, aku akan mulai," kata Angel pada kedua sahabatnya.


Kemudian diusapnya bingkai cermin seperti yang pernah ia lakukan saat pergi ke danau Venuee. Seperti biasanya cermin itu mulai bereaksi memancarkan cahaya yang terang. Angel segera mengucapkan tujuannya.


"Tolong, bawa aku kembali ke rumah!"


Angel melambai pada sahabatnya dan setelah itu ia pun terhisap masuk ke dalam cermin. Cahaya terang itu pun tiba-tiba menghilang dari atap sekolah diikuti hilangnya Angel. Lucy dan Jeremy saling menatap sambil tersenyum.


"Dia sudah pergi!" kata Lucy.


Dan Jeremy menggenggam tangan Lucy mengajaknya untuk pergi juga.


"Ayo, kita juga pergi!"


Keduanya pun turun dari atap sekolah menuju ke taman. Menghabiskan sisa waktu istirahat mereka dengan duduk di bawah pohon Walnut.


Angel muncul kembali di ruang keluarga rumahnya. Ia mengalungkan kembali cermin Hexagram ke lehernya. Kemudian berlari naik ke lantai atas kamar. Setelah mengganti pakaian dia kembali turun dan langsung menyibukkan diri di dapur.


Sesuai rencananya, siang ini dia akan memasak makanan yang pernah dibuatnya untuk Lei dulu. Makanan pertama yang dimakan Lei saat datang ke rumah Angel, yaitu Nasi Omelet.


Dengan penuh semangat Angel mulai membuat nasi omelet untuk dua orang dengan porsi yang cukup besar. Tak sampai satu jam, nasi omelet pun siap. Angel telah menyiapkan dua box makan besar untuk menaruh nasi omelet tersebut. Dituangkan nasi omelet tersebut ke dalam dua box makan tadi kemudian menutupnya dengan rapat. Barulah ditaruh ke dalam bag paper untuk dibawa ke rumah Lei. Angel juga menyisipkan selembar note untuk Lei.


┌──❀*̥˚──◌──────────◌──❀*̥˚─┐Lei, semoga kamu suka dengan makanan yang ku buat ini. Makan yang banyak, ya! Jaga kesehatanmu! Kalau kepalamu tiba-tiba sakit segera minum obat! Aku merindukanmu. Angel. └◌────❀*̥˚─────────◌───❀*̥˚─┘


Sambil tersenyum puas dimasukkan note itu ke dalam bag paper tadi. Angel berharap Lei mengingat di mana dia pertama kali mencicipi makanan ini.


"Semoga kamu tidak lupa rasanya!" harap Angel.


Angel lalu berlari ke rak TV. Membuka lemari kecil di bawahnya untuk mencari kartu nama Michelle. Setelah menemukannya dan membaca alamat yang tertera, Angel pun berangkat ke rumah Lei.


Tak sulit mencari alamat rumah Lei. Terlihat di depannya, rumah bercat putih dan abu-abu dengan mobil biru yang sangat familiar terparkir di halaman rumah. Kemudian Angel mendekati rumah itu. Setelah memencet bel beberapa kali, pintu akhirnya terbuka. Seorang pria tampan yang sangat dikenal Angel muncul dari balik pintu.


"Selamat siang, Tuan Pierre!" sapa Angel dengan sopan.


"Eh, Angel. Ayo, masuk! masuk!" ajak Pierre dengan senang. Angel mengikuti Pierre masuk ke dalam rumahnya.


"Tumben sekali datang kemari?" tanya Pierre sembari mempersilahkan Angel duduk.


"Kedatanganku kemari hanya untuk membawakan makanan ini untuk anda dan juga Lei. Karena Ibu Michelle ke luar kota, jadi aku pikir pasti tidak ada yang memasak di rumah," ucap Angel sambil menyodorkan bag paper berisi makanan pada Pierre.


"Wah, tidak perlu sampai repot begini, Angel. Aku dan Lei kan bisa makan di luar!" kata Pierre merasa tak enak hati.


"Tidak apa. Kebetulan aku punya waktu jadi bisa memasak," balas Angel.


"Ngomong-ngomong, Lei ... Kenapa belum pulang dari sekolah, ya? Apa dia pergi jalan-jalan lagi dengan Maria?" tanya Pierre karena melihat kedatangan Angel. Dia tidak tahu kalau Angel pulang lebih dulu.


"Em ... Entahlah. Maaf, Tuan aku pamit dulu!" kata Angel sambil bangkit dari kursi. Ia bersikap pura-pura tidak tahu. Karena tak mungkin mengatakan kepada Pierre bahwa dia pulang duluan untuk memasak.


"Kenapa cepat sekali? Tidak ingin menunggu Lei pulang?" tanya Pierre yang ikut berdiri mengantar Angel ke depan.


"Tidak usah. Aku mau mampir ke toko buku lagi," jawab Angel.


"Oh, begitu. Baiklah, hati-hati di jalan, ya! Dan terima kasih sudah jauh-jauh mengantarkan makanan kemari," pesan Pierre.


"Sama-sama. Mari, Tuan!" pamit Angel lalu ia pun berjalan meninggalkan kediaman Pierre.


Sebenarnya Angel bukan mau ke toko buku. Dia berencana ke toko kaset. Dia ingin mencari film drama yang sering ditonton Lei dulu. Nantinya kaset film itu akan diberikannya kepada Lei. Berharap Lei mungkin bisa mengingatnya.


Angel memasuki toko bernama Leon Disc. Langkahnya langsung beralih ke rak dengan koleksi film Korea. Angel pun mulai mencari judul film yang ingin dia beli. Tidak sulit menemukannya karena film dalam bentuk kaset DVD yang dicarinya dikemas dalam box. Diraihnya box DVD film itu kemudian membawanya ke kasir untuk dibayar. Angel pun meninggalkan toko dengan perasaan senang.


Masih terlalu awal untuk pulang. Angel pun memilih jalan-jalan di taman hiburan sebentar. Di hari biasa tempat itu tidak begitu ramai pengunjung. Untuk sampai ke sana Angel harus menaiki bus. Dia berjalan menuju ke halte bus yang tak jauh dari toko kaset tadi. Beberapa orang juga nampak sedang menunggu kedatangan bus. Angel berdiri di tepi halte ikut menunggu. Tak sengaja ia memasukkan tangannya ke dalam saku hoddie yang ia kenakan. Tangannya menyentuh sesuatu. Suatu benda yang ia kenal mesti tanpa melihat bentuknya, cermin Hexagram. Dia lupa kalau tadi menaruh cermin ini di saku hoddienya. Angel terdiam berpikir.


Dia pun berjalan meninggalkan halte. Membatalkan rencana pergi ke taman hiburan. Malah ia memutuskan untuk pergi ke toko barang antik saja. Di mana dia menemukan cermin ini. Angel berharap mungkin di sana dia bisa mengetahui asal usul cermin ini. Sebelumnya Angel memang punya rencana untuk ke sana, hanya belum ada waktu. Apalagi setelah mengetahui inisial nama pemilik cermin ajaib ini membuatnya semakin penasaran. Karena inisial nama itu mirip dengan nama seseorang yang sangat dekat dengannya.


Hampir dua puluh menit berjalan akhirnya Angel tiba di toko barang antik. Angel langsung masuk ke dalam. Suasananya tidak berubah dengan saat pertama kali Angel datang. Angel berjalan dengan pelan sembari menatap ke sekelilingnya yang penuh dengan koleksi benda-benda antik.



Seorang pria tiba-tiba muncul dari dalam. Ia melihat Angel yang nampak kebingungan. Lalu dengan ramah bertanya kepada gadis itu.


"Ada yang bisa kubantu, Nona?"


Sontak Angel menoleh ke sumber suara. Di sana seorang pria yang kira-kira seusia Pierre berdiri menunggu jawaban Angel. Angel pun mendekati pria itu lalu mengeluarkan cermin dari sakunya dan berkata dengan terburu-buru.


"Maaf, apa anda tahu mengenai asal usul cermin ini? Aku membeli cermin ini beberapa bulan yang lalu di toko ini," tanya Angel sembari menunjukkan cermin itu kepada pria di depannya.


Pria itu menerima cermin dari tangan Angel. Diperhatikannya sebentar kemudian dikembalikan lagi kepada Angel.


"Kalau kamu ingin tahu lebih banyak mengenai cermin ini, sebaiknya kamu datang lagi besok. Karena aku tidak tahu bagaimana cermin ini bisa sampai ke tangan Kakek," jawab pria itu.


"Kakek?" Angel mengulangi dengan tak mengerti.


"Iya, toko ini milik kakekku. Kebetulan hari ini beliau sedang ke luar. Yang aku tahu sebelumnya cermin ini selalu Kakek simpan di kamarnya. Entah mengapa dia malah kemudian menjualnya di toko," jelas pria itu kepada Angel.


"Aku mengerti. Kalau begitu, besok aku akan datang lagi! Terima kasih atas penjelasannya," ucap Angel.


"Sama-sama!" balas pria sambil mengangguk.


Lalu Angel pun keluar dari toko barang antik tersebut. Tak ada tujuan akan kemana lagi, Angel memilih pulang ke rumah. Membereskan rumah, belajar dan tidur lebih awal. Sudah tak sabar menunggu hari esok tiba. Berharap kakek pemilik toko barang antik dapat menjawab rasa penasarannya.