My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
30# Jebakan



Jam sekolah telah berakhir. Semua murid berhamburan keluar meninggalkan kelas. Angel sedang mengemasi buku-bukunya saat Lucy datang menghampirinya.


"Kamu pulang duluan saja, Lus! Aku masih harus ke ruang OSIS. Masih ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan," kata Angel pada Lucy.


"Perlu aku ikut temani? Aku bisa menunggu sampai kamu selesai," tanya Lucy.


Angel menatap Lucy dan tak sengaja melihat keluar pintu kelas. Matanya menangkap sosok Jeremy yang sedang berdiri di depan pintu sambil berbicara dengan seorang murid.


"Tidak perlu. Aku tidak sendirian koq. Ada Jessy juga di sana!" jawab Angel. Lucy masih nampak enggan pergi.


"Sudah pergilah! Seseorang sudah menunggumu di luar sana," lanjut Angel lagi sambil menunjuk ke depan pintu kelas.


Lucy ikut menoleh ke mana arah mata Angel dan melihat Jeremy di depan pintu kelas sedang tersenyum padanya.


"Benar tidak apa-apa?" tanya Lucy merasa tak enak hati juga tak tega meninggalkan Angel.


"Benar. Sudah sana pergi! Jangan buat pangeranmu menunggu terlalu lama!" ejek Angel sambil terkekeh.


"Ya, baiklah kalau begitu, aku terpaksa meninggalkan mu untuk pulang duluan. Sampai bertemu besok, ya!" pamit Lucy.


"Iya. Hati-hati di jalan!" balas Angel.


Lucy pun pulang bersama Jeremy meninggalkan Angel. Angel langsung berjalan menuju ruang OSIS begitu semua bukunya selesai dikemas. Di dalam ruang OSIS Jessy sudah menunggu.


Hampir satu jam waktu berlalu. Akhirnya tugas mereka pun selesai. Angel dan Jessy bersama meninggalkan ruang OSIS. Sekolah memang sudah sepi. Hanya tinggal beberapa guru yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Dan juga beberapa murid yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Angel dan Jessy berpisah di ruang perpustakaan. Jessy masuk ke ruang perpustakaan sedangkan Angel berjalan sendiri meninggalkan sekolah.


Di ujung jalan sekolah sana Lei sedang bersembunyi menunggu Angel lewat. Dia berniat untuk berbicara dengan Angel. Begitu Angel melewati gerbang sekolah. Seseorang tiba-tiba muncul dan memanggilnya.


"Angel!" panggil orang itu.


Angel langsung menoleh dan tersenyum padanya.


"Louis!" ujarnya.


"Wah, telat sekali kamu pulang?" tanya Louis.


"Iya. Ada tugas tambahan. Memangnya kamu menungguku dari tadi?" tanya Angel heran.


"Tidak juga," jawab Louis.


"Terus kenapa kamu ada di sini? Kamu mau pergi ke mana sekarang?" tanya Angel.


"Hanya kebetulan aku lewat di sini. Aku temani sampai di rumah, ya! Aku juga tidak punya tujuan," jawab Louis.


"Baiklah!" ucap Angel.


Mereka berdua berjalan menuju ke rumah Angel. Lei yang sudah menunggu Angel dari tadi pun tidak jadi bicara pada Angel begitu melihat Angel dan Louis berjalan bersama.


Ada rasa sesak di dadanya melihat kedekatan mereka berdua. Namun Lei tetap tidak mengerti apa arti rasa tidak nyaman di hatinya itu. Ia hanya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat dan kemudian menghilang.


"Kamu masih tidak ingin memberitahuku di mana kamu menemukan bunga Edelweis tadi pagi?" tanya Angel memulai pembicaraan.


"Kan sudah kukatakan aku menemukannya di hutan," jawab Louis santai.


"Setahuku bunga itu hanya tumbuh di daerah pegunungan. Mana mungkin bisa ada di hutan?" tanya Angel masih tak percaya.


"Ya, benar juga sih. Aku juga tidak menyangka dan baru tahu ternyata ada jalan di dalam hutan yang menghubungkan ke taman sekolah," ujar Angel.


"Memang ada," timpal Louis membenarkan.


"Bagaimana kamu tahu jalan itu? Kamu kan tidak tinggal di daerah ini. Aku yang bertahun-tahun tinggal di sini saja tidak pernah tahu," tanya Angel penuh selidik.


"Tentu saja aku tahu. Aku kan lulusan sekolah itu juga," jawab Louis sekenanya.


"Masa?!" seru Angel tak menyangka.


"Ya, jelas. Dulu jalan hutan itu menjadi jalan keluar bagi kami yang suka bolos sekolah tanpa ketahuan," terang Louis.


"Benarkah?" ujar Angel masih nampak ragu.


"Kamu kan tidak pernah menyusuri hutan itu mana kamu tahu di sana ada jalan," tambah Louis.


"Benar juga sih," kata Angel merasa ucapan Louis memang benar.


"Aku harap nanti kamu tidak masuk ke hutan sendirian. Aku tidak tahu apa hutan itu masih seaman dulu atau tidak. Atau malah sudah jadi tempat tinggal binatang buas," ucap Louis lagi.


"Tapi tadi kita lewat tidak ada apa-apa," bantah Angel.


"Ya, pokoknya jangan ke sana sendirian!" pesan Louis dan Angel pun tak lagi membantah.


Louis pun mengganti topik pembicaraan. Begitulah mereka berjalan pulang sambil mengobrol dan bercanda. Louis hanya mengantar Angel sampai di depan rumah setelah itu dia langsung pergi.


...🕊️🕊️🕊️...


Dengan santai Angel berjalan masuk ke kelas. Ia langsung menuju ke bangkunya. Sesampai di bangku, Angel menemukan secarik kertas yang terlipat dua tergeletak di atas mejanya. Angel mengambil kertas itu, membuka lipatan dan membaca isinya.


╔═.✵.═════════════════════╗


𝚃𝚎𝚖𝚞𝚒 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚎𝚐𝚒𝚝𝚞 𝚔𝚊𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚖𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚞𝚛𝚊𝚝 𝚒𝚗𝚒! 𝙰𝚍𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚒𝚗𝚐𝚒𝚗 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚒𝚌𝚊𝚛𝚊𝚔𝚊𝚗. 𝙰𝚔𝚞 𝚝𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚍𝚒 𝚐𝚎𝚍𝚞𝚗𝚐 𝚊𝚞𝚕𝚊.


^^^_𝙻𝚎𝚒_^^^


╚═════════════════════.✵.═╝


'Lei ... Benarkah dia ingin bicara denganku? Apa yang ingin dia bicarakan? Kebetulan aku juga ingin bicara dengannya. Aku harus segera ke sana!' pikir Angel.


Tak ingin mengulur waktu Angel pun segera pergi menuju gedung aula yang berada di lantai dasar. Dia sudah lama menantikan kesempatan seperti ini. Di mana dia bisa bicara berdua dengan Lei. Banyak hal yang ingin dia tanyakan. Senyum kecil mengembang di wajah Angel. Dengan membawa harapan hubungannya bisa kembali seperti dulu setelah pertemuan ini. Kalaupun tidak bisa paling tidak dia tahu alasan Lei tiba-tiba menghindar darinya.


Angel sampai di depan gedung, pintu aula tertutup rapat. Tanpa ragu Angel mendorong sisi kiri pintu itu hingga terbuka dan langsung masuk ke dalam. Gedung aula yang luas terlihat kosong. Angel mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari sosok Lei. Sehingga tak menyadari ada orang lain yang datang dari arah belakang. Lalu tiba-tiba saja ....


*BUGH*


Sebuah benda keras menghantam punggung Angel yang seketika saja langsung membuat gadis itu jatuh pingsan. Seseorang yang diam-diam datang dari belakang memukul Angel menggunakan balok kayu sehingga membuatnya pingsan. Setelah melihat gadis itu pingsan, pelaku tersebut langsung berjalan ke arah pintu masuk. Setelah melihat sekeliling memastikan tak ada orang di sekitar yang melihat, ia pun keluar dari ruangan. Kayu yang dipegangnya tadi dipalangkan di antara gagang pintu sehingga pintu terkunci dari luar. Setelah aksinya selesai ia pergi dengan senyum puas.


"Inilah akibatnya jika berani macam-macam denganku!" gumam orang tersebut. Dan dia pun pergi meninggalkan gedung aula seolah tidak terjadi apa-apa.