
Setelah meninggalkan toko barang antik tadi menimbulkan perdebatan dari dalam diri Angel. Meski nampaknya dia berjalan dengan tenang tetapi di kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Dia masih sedang berjalan-jalan di pinggir kota. Berdiam terus di rumah juga membosankan.
'Hei, aku kan punya cermin! Aku bisa pergi ke mana saja. Bahkan mungkin ke Lumina untuk mencari Louis. Ya, aku tidak boleh menyerah. Akan ku selesaikan semuanya satu persatu,' batin Angel.
Wajah Angel kini terlihat lebih ceria. Dia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.32.
'Mama sudah pulang belum, ya?! Ah, aku tunggu saja!' batin Angel lagi.
Lalu Angel berjalan menuju lorong yang agak sepi. Di sana ia mengeluarkan cermin yang ada di dalam sakunya. Kemudian ia berucap, "Wahai, cermin... Tolong bawa aku ke apartemen mama!"
Angel pun menghilang ditelan oleh cahaya yang keluar dari cermin. Kemudian ia muncul kembali secara tiba-tiba di ruang makan apartemen mamanya. Kebetulan Gracia sedang ada di sana sambil minum segelas air putih. Angel yang muncul tiba-tiba di hadapannya membuatnya kaget sehingga memuncratkan semua minuman dari mulutnya.
"Angel?!" seru Gracia kaget.
"Hai, Ma," sapa Angel dengan wajah tak berdosa.
"Kamu ... Kamu datang darimana? Kenapa bisa muncul tiba-tiba begitu?" tanya Gracia yang masih tidak percaya. Dia bahkan sampai memutar-mutar dan menggoyang badan Angel memastikan putrinya ini benar-benar nyata.
"Ini benar-benar Angel, Ma," ujar Angel memberitahu Gracia.
"Tapi ... Tapi, bagaimana kamu bisa muncul tiba-tiba begitu? Kamu bukan hantu, kan? Tapi, hantu kan tidak menginjak lantai," cerocos Gracia panik sambil memperhatikan kaki Angel.
"Mama, ini Angel! Angel kemari karena ada hal yang ingin Angel bicarakan. Mama tenangkan diri dulu, nanti Mama akan tahu bagaimana Angel bisa muncul di sini. Oke!" sahut Angel berusaha menenangkan Gracia yang panik.
Angel mengajak mamanya duduk di sofa ruang tamu. Lalu memberikannya segelas air putih. Gracia hanya menghabiskan setengah gelas saja. Lalu Angel duduk di sampingnya.
"Mama sudah merasa lebih tenang?" tanya Angel.
"Ya ... Ya ... Jadi, apa yang terjadi?" Gracia bertanya balik pada Angel.
Angel lalu menunjukkan cermin hexagram itu pada Gracia. Mata Gracia membulat. Ia mengambil cermin itu dari tangan Angel. Memperhatikannya dengan serius. Ia seperti pernah melihat cermin ini sebelumnya. Gracia masih terus mengamati cermin itu. Tiba-tiba saja ia terperanjat.
"Oh ... Di mana kamu menemukan cermin ini?" tanya Gracia cepat.
"Jadi, itu punya mama?" Angel bertanya tanpa menjawab pertanyaan Gracia. Dia seolah yakin sekali dengan pertanyaannya.
Gracia terdiam. Ia berusaha mengingat sambil mengelus permukaan cermin yang memantulkan wajahnya.
"Bayangannya masih sejernih dulu," ujarnya.
"Jadi, itu memang punya mama?" Angel mengulangi pertanyaannya.
Gracia melempar tatapannya pada Angel. Kemudian ia mulai bercerita.
"Cermin ini dulunya milik nenekmu-- Eve. Saat aku berusia tujuh tahun dia mewariskan cermin ini kepadaku. Dia mengalungkannya di leherku dan berpesan agar aku selalu menjaga cermin ini. Bertahun-tahun berlalu, kalung cermin ini senantiasa menemani kemanapun aku pergi. Suatu hari aku bermain-main di pinggir danau, tanpa sengaja aku menjatuhkan cermin ini. Nenekmu sangat marah padaku. Dia sampai tidak mau berbicara denganku. Aku sangat menyesal. Aku berusaha mencari cermin ini. Setiap hari aku menyempatkan waktu untuk ke danau. Dengan satu tujuan, mencari kalung cermin ini. Aku terus mencari di jalan setapak, rerumputan, sampai menyusuri tepi danau, namun cermin ini tak pernah kutemukan. Nenekmu yang tak tega melihatku begitu berusaha mencari cermin ini akhirnya luluh. Dia menyuruhku berhenti mencari. Dia berkata mungkin cermin ini tidak cocok denganku. Terkadang tanpa sepengetahuan nenekmu, aku masih mencari cermin ini tapi tak pernah kutemukan sampai saat ini."
"Mama tahu darimana nenek mendapatkan cermin ini?" tanya Angel penasaran.
"Tidak tahu. Nenekmu tidak pernah menceritakannya padaku. Aku juga tidak berani bertanya karena sejak cermin ini hilang nenekmu tidak pernah lagi membicarakannya," jawab Gracia.
Gracia menyerahkan kembali cermin itu kepada Angel. Giliran dirinya yang merasa penasaran.
"Lalu, Angel, darimana kamu mendapatkan cermin ini?"
"Aku tak sengaja menemukannya di toko barang antik. Aku lihat cermin ini sangat unik jadi aku membelinya," jawab Angel.
"Aku mencari cermin ini sekian lama, tidak tahunya dijual di toko barang antik?! Jangan-jangan cermin ini ada banyak!" Gracia beranggapan.
"Tidak mungkin, Ma. Cermin ini hanya satu dan ini memang punya Mama," bantah Angel.
"Bagaimana kamu yakin?" tanya Gracia yang malah tak percaya.
"Ada inisial nama Mama di bagian dalamnya," kata Angel.
Kemudian Angel memutar pertama itu seperti yang dilakukan kakek pemilik toko barang antik tadi sehingga permata itu terlepas. Angel menunjukkan bagian yang terukir inisial nama kepada mamanya.
"Mama lihat kan! Ini inisial nama Mama!" kata Angel pada Gracia.
Gracia mengambil cermin itu dan memperhatikan ukiran inisial nama di atasnya.
"Benar juga."
"Kakek pemilik toko barang antik itu yang menemukan cermin ini. Dia menemukannya di tepi danau saat hendak memancing. Bukankah cermin Mama juga jatuh di dekat danau? Jadi, kemungkinan inilah cermin yang selama ini Mama cari," jelas Angel.
"Ya, mungkin kamu benar," sahut Gracia sambil mengembalikan cermin kepada Angel agar bisa disatukan kembali.
"Sekarang cermin ini sudah ketemu. Tapi, Mama tidak membutuhkannya lagi. Nenekmu sudah tiada, Mama tidak bisa menunjukkan cermin ini lagi padanya," kata Gracia yang diliputi kesedihan.
"Apa nenek sudah lama meninggal? Aku tidak pernah melihatnya," tanya Angel.
"Dia meninggal saat kamu baru berusia dua tahun. Nenek meninggal karena serangan jantung," jawab Gracia.
"Oh, kasihan. Semoga nenek damai di alam sana!" gumam Angel.
"Sudahlah. Sekarang cermin ini milikmu. Simpanlah baik-baik! Jangan kamu hilangkan lagi seperti Mamamu yang ceroboh ini," pesan Gracia.
"Cermin ajaib? Nah, kamu belum memberitahu Mama. Bagaimana kamu bisa tiba-tiba muncul di sini?" tanya Gracia mengingat kedatangan Angel yang tak biasa tadi.
"Kan sudah Angel bilang ini cermin ajaib. Dengan cermin ini Angel bisa pergi ke mana saja. Hanya dengan meletakkan telunjuk ke sini, membuat gerakan memutar seperti ini, dan sebutkan tempat yang ingin dituju, maka cermin ini akan membawa ku pergi ke sana," jelas Angel sambil memperagakan.
"Mana mungkin bisa begitu? Cermin ini tidak beda dengan cermin biasa," ucap Gracia yang tak percaya sama sekali.
"Mama masih tidak percaya juga?! Ya sudah, sekarang Mama pegang tangan Angel. Kita akan pulang ke rumah dengan cermin ini," ujar Angel.
"Jangan bercanda, Angel! Mana mungkin," bantah Gracia.
"Sudah... Mama pegang tangan Angel saja. Nanti kita balik ke sini lagi, koq! Sebentar saja! Ayo...," suruh Angel.
Mau tak mau Gracia pun mengikuti ucapan Angel. Dia memegang tangan Angel. Angel memutar cermin di tangannya dan berucap, 'Wahai cermin, tolong bawa kami pulang ke rumah!'
Seketika itu cahaya menyeruak dari cermin melingkupi Gracia dan Angel. Kemudian keduanya menghilang tanpa jejak. Saat muncul kembali, keduanya sudah berada di ruang keluarga.
Saking kagetnya Gracia sampai tak bisa berkata-kata. Dia memperhatikan ke sekeliling ruangan yang tak asing baginya. Dia benar-benar ada di rumah.
"Nah, Mama sudah percaya kan sekarang?!" ujar Angel.
Gracia menggangguk-angguk menjawab pertanyaan Angel sekaligus mengerti.
"Mama sekarang mengerti mengapa nenekmu begitu marah saat cermin ini hilang. Rupanya ini memang bukan cermin biasa," ucap Gracia.
Angel hanya tersenyum kemudian mendekati Gracia untuk mengajaknya kembali.
"Nah, sekarang kita kembali ke apartemen Mama. Ayo, Ma!"
Gracia kembali memegang tangan Angel. Setelah Angel mengucapkan tujuannya mereka menghilang dari ruang keluarga rumah itu dan muncul kembali di apartemen Gracia. Gracia langsung melemparkan tubuhnya ke atas sofa. Terduduk dengan lunglai. Angel ikut duduk di sampingnya.
"Mama tidak apa-apa, kan?" tanya Angel.
"Tidak. Mama hanya masih kaget saja," jawab Gracia. Entah bagaimana ia menjelaskan perasaannya yang masih mengganjal.
"Oh... Nampaknya sudah malam aku harus pulang, Ma!" ujar Angel saat melihat jam sudah lewat petang.
"Nanti dulu. Kita makan malam dulu, ya! Kamu pasti tidak masak, kan? Mama akan panaskan sayur," kata Gracia.
Lalu Gracia bangkit berdiri berjalan menuju dapur. Dirinya mulai sibuk dibalik kompor. Angel menyusulnya dan duduk di kursi meja makan. Memperhatikan mamanya yang begitu cekatan mengerjakan pekerjaan dapur.
Dengan cepat nasi dan sayuran hangat sudah tersedia di meja makan. Gracia mengambilkan nasi ke piring dan memberikannya kepada Angel.
"Nah, ayo makan!" suruh Gracia.
Angel pun mulai menikmati makanannya. Selesai makan mereka kembali ke ruang depan. Duduk bersantai di sofa.
Hari semakin malam, Angel segera pamit untuk pulang pada Gracia. Meskipun tak masalah dia mau pulang jam berapa. Tapi masih ada tugas sekolah yang belum ia kerjakan.
"Mama, Angel pulang dulu, ya! Sudah malam," ujar Angel.
"Iya, sayang," balas Gracia.
"Lain kali aku boleh datang lagi, kan?" tanya Angel meminta ijin Gracia.
"Tentu saja. Datanglah kapan pun kamu mau. Sekarang kamu bisa dengan mudah menemui mama kan. Asal jangan muncul tiba-tiba seperti tadi. Takutnya jantung Mama tidak kuat dikagetkan dengan kemunculanmu yang tiba-tiba terus," pesan Gracia dengan sedikit candaan.
"Oke... Oke... Lain kali akan aku beri tahu dulu kalau mau datang," sahut Angel sambil tertawa.
"Bagus."
"Kalau begitu aku pulang ya, Ma! Bye ...," pamit Angel lalu menghilang dengan cepat dari hadapan Gracia. Gracia sempat melambai sebentar sebelum Angel lenyap.
Angel muncul kembali di dalam kamarnya sendiri. Dilemparkan barang bawaannya ke atas kasur. Sedangkan ia bergegas mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan cepat. Dengan rambutnya yang masih basah lalu dikeringkannya dengan handuk.
Rasa penasarannya akan cermin hexagram ini akhirnya terjawab sudah. Mungkin masih menyisakan satu pertanyaan yang pasti tidak ada yang tahu jawabannya. 'Bagaimana nenek bisa memiliki cermin ini?'
Karena Nenek sudah tiada. Pertanyaan itu berusaha dibuang jauh-jauh oleh Angel agar ia tidak terus memikirkannya. Yang ada hanya membuatnya penasaran.
"Penasaran?! Kenapa aku jadi suka penasaran seperti Louis?!" gumam Angel sambil menyisir rambutnya yang masih sedikit basah. Tangannya berhenti. Angel teringat Louis.
'Sudah berapa lama tak ada kabar beritanya. Ke mana perginya? Sesungguhnya dia masih hidup atau tidak? Apa dia tidak tahu aku setiap hari memikirkannya, menunggu kabar darinya, dan mencemaskannya!? Aku benar-benar tidak tenang kalau belum tahu kondisinya. Ah, payah sekali! Semuanya menghilang begitu saja!' batin Angel dengan gusar.
Angel meletakkan sisirnya ke atas meja rias. Kemudian ia beranjak ke atas kasur mengambil cerminnya. Diperhatikan cermin yang memantulkan wajahnya itu. Ucapan Louis beberapa waktu lalu tiba-tiba muncul kembali di pikirannya.
["Tentu saja. Kamu bisa pergi kemanapun dengan cermin itu. Bahkan ke Lumina, Obscur dan Vortua sekalipun."]
Angel tersadar. Sebuah ide muncul di kepalanya. Tanpa pikir panjang ia bergegas menuju ke lemari pakaiannya. Tak peduli meski telah larut malam dan tugas yang masih harus ia kerjakan. Ia mengganti pakaiannya dengan yang lebih hangat. Menyisir rambutnya sekali lagi. Menyambar tas yang belum dikeluarkan isinya yang dilemparkan ke kasur tadi. Kemudian ia turun ke bawah menuju rak sepatu. Memilih boots sebetis warna hitam sebagai alas kaki. Dengan senyum mengembang di wajah, dirinya pun siap pergi.
Coba tebak, Angel mau pergi ke mana malam-malam begini?
Jangan lupa komentarnya...