
Angel semakin panik. Jalanan pun sepi. Tak ada orang yang bisa ia mintai bantuan sekarang.
Jarak menuju rumah Angel memang sudah tidak jauh dari jalan tersebut. Karena tidak tega meninggalkan pria tersebut akhirnya ia pun memutuskan untuk menolong pria yang tak dikenal itu. Memang ada rasa takut membawa pria asing ke rumah, apalagi Angel hanya tinggal seorang diri. Namun entah mengapa ada suatu dorongan yang kuat di hatinya agar ia menolong pria itu. Anehnya ia merasa yakin pria ini adalah orang baik-baik.
Dengan susah payah, akhirnya Angel berhasil membopong pria itu sampai ke rumahnya. Angel membawa pria itu ke ruang keluarga dan membaringkannya di atas sofa. Ia segera meraih telepon yang tak jauh dari situ dan menghubungi Lucy.
"Halo ... Lucy?! Kamu bisa datang ke rumahku sekarang tidak? Ada suatu hal yang ingin ku sampaikan. Penting!" Beberapa saat Angel terdiam mendengar jawaban dari suara Lucy. Kemudian melanjutkan, "Baiklah aku tunggu! Jangan lama-lama, ya!" ucap Angel. Dan telepon ditutup.
Angel beranjak ke kamarnya, mengganti pakaian dengan cepat kemudian turun kembali ke bawah menuju dapur. Ia mengeluarkan semua bahan makanan yang tersisa di dalam kulkas kemudian memasak seadanya.
Aroma masakan menyeruak ke seluruh ruangan. Pria asing yang sedari tadi terbaring di sofa pun perlahan mulai sadarkan diri.
"Uhuk ... Uhuk ...." Pria asing terbatuk.
Suara dari pria asing yang terbatuk itu menyadarkan Angel. Ia segera menghampiri pria asing itu dengan segelas air putih di tangan, meninggalkan masakannya di atas kompor.
Pria itu mulai membuka mata. Setelah sepenuhnya mendapatkan kembali kesadarannya, ia pun mengangkat tubuhnya untuk duduk. Sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya. Angel datang dengan segelas air putih dan langsung diberikan kepada pria itu. Pria itu meraihnya dengan cepat dan menghabiskannya tanpa sisa. Dan meletakkan kembali gelas yang telah kosong ke atas meja. Pandangannya kembali menatap sekeliling ruangan yang sangat asing baginya.
Sementara Angel memperhatikan wajah pria itu. Ya, seperti pengemis pada umumnya. Penampilan pria itu urak-urakan dengan rambut yang agak panjang dan acak-acakkan, jenggotnya juga tumbuh tak beraturan. Jika dilihat dengan penampilannya sekarang nampak seperti pria berusia 50an. Angel terus memperhatikan pria yang nampak linglung itu. Melihat penampilan pria yang kumal itu pun dengan hati-hati Angel menawarkannya untuk mandi.
"Maaf,Tuan ... sementara menunggu masakan matang ... bagaimana jika anda membersihkan diri dulu? Aku akan mengambil pakaian ganti untuk anda!" tanya Angel sopan.
Pria itu menatap Angel dan kemudian mengangguk cepat. Karena masih sangat bingung ia pun menuruti perkataan Angel.
"Baiklah, aku ambilkan handuk dan pakaian ganti dulu! Tuan, tunggu sebentar di sini!" kata Angel lalu dengan cepat berlari ke kamar mamanya.
Ia menuju ke lemari pakaian besar. Lalu membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian pria milik papanya dulu yang disimpan ditumpukan paling bawah. Tak lupa juga sehelai handuk bersih. Setelah itu ia keluar dari kamar mamanya dan menyerahkan pakaian dan handuk itu kepada pria asing tadi.
Pria itu mengambilnya. Angel pun menuntun pria itu sampai di depan kamar mandi. Setelah itu meninggalkannya untuk lanjut memasak. Sambil menunggu pria asing tadi selesai mandi. Ia pun menyiapkan makanan yang telah matang ke atas meja.
Tak lama setelah itu pria asing pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang bersih dan wajah yang lebih segar. Angel pun segera mengajaknya untuk makan bersama.
"Tuan, makanan sudah siap. Mari, makan sama-sama!" ajak Angel.
Dengan canggung pria itu duduk di kursi meja makan. Meskipun sangat lapar tapi ia berusaha menahannya dan menjaga sikap. Dia pun tak menyangka di dunia ini masih ada gadis yang begitu baik yang mau menolongnya. Padahal gadis itu tidak mengenalinya dan bisa saja ia berbuat jahat padanya. Tapi melihat wajah Angel yang nampak tenang tak ada sedikitpun rasa takut dan curiga pada orang asing di depannya.
Angel mengambil beberapa sendok nasi ke atas piring dan menaruhnya di depan pria itu.
"Maaf, hanya makanan seadanya. Aku belum sempat pergi belanja, jadi hanya mengolah makanan yang tersisa di lemari pendingin saja," ujar Angel.
"Tuan, makanlah! Tidak perlu sungkan!" lanjut Angel yang mulai menyantap makanannya.
Pria itu hanya mengangguk pelan dan ikut makan. Masih dengan perasaan canggung, ia memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
'Enak sekali!' pikirnya.
Merasakan makanan yang begitu enak dan hangat masuk ke dalam mulut, suapan kedua ia menyantapnya dengan lahap. Sepiring nasi habis dengan cepat, merasa belum kenyang ia lalu menambah dengan porsi yang lebih banyak. Dan memakannya dengan lahap.
Angel hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Melihat tingkah pria yang kelaparan itu membuatnya teringat pada Neville saat pertama kali datang ke rumahnya. Saat mereka duduk dan makan di meja yang sama. Hal itu membuatnya sedikit murung.
Jika dulu ia hanya memberi jatah sepiring nasi untuk Neville, tapi kini ia membiarkan pria asing itu makan hingga puas. Karena pria itu makan dengan sangat lahap nampak sangat kelaparan.
'Nampaknya Tuan ini kelaparan,' pikir Angel.
Dengan segera ia menghabiskan nasi di piringnya kemudian beranjak dari tempat duduk. Sambil membawa piring kotor menuju dapur, sebelumnya ia berpesan pada pria asing.
"Tuan, habiskan saja makanan ini! Aku sudah kenyang! Aku ke dapur dulu!" katanya.
Pria asing itu hanya mengangguk sambil menatap Angel yang berjalan ke dapur.
'Sungguh gadis yang baik!' gumam pria itu dalam hati.
Ia segera menghabiskan sisa makanannya. Hingga semua makanan di atas meja habis. Dia benar-benar merasa kenyang sekarang.
Merasa telah merepotkan Angel, pria itu berniat membantunya sedikit. Lantas pria itu pun membereskan piring kotor di atas meja dan membawanya ke dapur. Saat ia hendak mencuci piring-piring itu, Angel mencegahnya.
"Tuan, biar aku saja! Anda beristirahatlah!" ucap Angel.
"Tidak apa-apa, Nona! Ini hanya pekerjaan kecil. Aku berhutang banyak padamu!" ucap pria asing yang baru terdengar suaranya.
Angel sempat bengong terhipnotis oleh suara pria itu yang terdengar lembut. Sangat jauh dari penampilannya yang sangar dengan jenggot. Angel buru-buru tersadar. Ia kembali mencegah pria itu untuk mencuci piring kotor, namun tiba-tiba suara ketukan di pintu depan menahannya. Dan Angel pun harus membiarkan pria itu menyelesaikan tugasnya sementara ia pergi membukakan pintu bagi tamunya yang datang.
"Angel, ada apa?" tanya Lucy to the point begitu pintu dibuka.
"Em ... Sebenarnya ...."Angel mencari kata yang tepat untuk menjelaskan tentang pria asing itu.
"Ada apa? Bicaralah!" desak Lucy yang mulai cemas. Ia hendak masuk ke dalam rumah namun ditahan Angel.
"Ada apa, sih? Bukankah kalau lebih baik kita bicara di dalam?" tanya Lucy yang mulai tak sabaran.
"Tunggu dulu!" tahan Angel sambil menatap ke arah dapur sesekali. Berharap pria asing tak akan mendengar pembicaraannya.
"Sebenarnya begini .... Tadi aku menolong seorang pria asing dibelokan jalan situ. Sepertinya pengemis karena penampilannya yang lusuh dan kumal!" jelas Angel.
"Terus?"
"Aku membawanya ke rumah. Membiarkannya membersihkan diri, memberinya pakaian bersih dan makan. Sepertinya dia kelaparan, makannya lahap sekali!" lanjut Angel, kembali menengok ke arah dapur.
"Terus? Tunggu dulu ... APA? KAU MEMBAWANYA KE RUMAH? DI SINI?" seru Lucy.
"Ssstt .... Jangan keras-keras! Nanti dia dengar! Dia ada di dapur, mencuci piring kotor! Padahal aku sudah mencegahnya tadi," sahut Angel setengah berbisik.
"Lalu, kamu kenal siapa dia? Namanya? Atau alamat rumahnya? Mungkin kita bisa mengantarnya pulang," tanya Lucy.
"Tidak! Aku belum sempat menanyakannya," jawab Angel kalem.
"Ya, aku tahu. Tapi aku punya firasat kalau dia bukan orang jahat. Dan perasaan yang mendorongku untuk menolongnya sangat besar. Sehingga aku berani mengambil resiko ini!" Angel membela diri.
"Wah ... Heroik sekali! Baiklah, sekarang biarkan aku masuk. Aku ingin melihat pria itu!" kata Lucy langsung melangkah masuk ke dalam rumah Angel.
"Hei, jangan bicara yang macam-macam, ya!" bisik Angel sambil berjalan di samping Lucy.
"Tenang saja!" kata Lucy.
Begitu sampai di ruang keluarga, Lucy langsung melemparkan tubuhnya ke atas sofa. Sehingga menciptakan sebuah suara yang cukup keras. Pria yang masih di dapur pun sontak menoleh. Sedangkan Angel baru menyusul ke ruang keluarga setelah menutup pintu. Kemudian pria asing itu pun ikut bergabung setelah pekerjaan selesai.
Lucy langsung menatap pria asing tersebut dengan pandangan curiga. Memperhatikannya dari atas kepala hingga ujung kaki. Sementara pria asing hanya tersenyum kaku. Merasa suasana yang mendadak tegang, Angel pun berinisiatif mengenalkan diri.
"Ini temanku, Lucy! Dan namaku Angel!" kata Angel mulai memperkenalkan diri.
"Jika boleh kami tahu, siapakah Tuan sebenarnya?" tanya Angel dengan ramah.
"Oh, maafkan aku Gadis baik, aku bahkan belum memperkenalkan diri," ucap pria asing, kemudian melanjutkan.
"Namaku Pi ... Peter! Aku ... tersesat!"
"Oh, kalau begitu di mana Tuan tinggal? Mungkin kami bisa mengantar anda pulang," tanya Angel menawarkan diri.
"Aku berasal dari tempat yang sangat jauh! Aku tidak ingin kembali ke sana!" kata pria yang mengaku bernama Peter.
Mendengar pernyataan Peter membuat Angel dan Lucy saling menatap bingung.
"Maksud anda tidak ingin pulang ke rumah anda sendiri? Begitu?" Lucy mulai angkat bicara.
"Benar!" jawab Peter spontan.
Lucy mengerutkan dahinya sambil bergumam, "Lucu sekali!"
Kemudian pandangannya beralih ke Angel sambil menggerutu, "Aku baru mendengar ada orang yang setelah ditolong tidak mau pulang ke rumahnya! Kamu sepertinya memberikan pelayanan yang sangat baik! Sehingga tamumu ini betah tinggal di sini, Angel!"
"Ah, bukan ... Bukan ... Maksudku, bukan seperti itu. Ini bukan seperti yang kamu kira. Keadaan seperti ini sangat sulit dijelaskan," cepat-cepat Peter menjelaskan.
"Jelaskan saja seperti adanya. Siapa anda sebenarnya? Darimana anda berasal? Dan mengapa anda bisa sampai berada di sni? Bukankah itu mudah?" cerocos Lucy dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Ini tidak semudah yang dipikirkan. Kalian pasti tidak akan percaya dan menganggapku gila jika aku ceritakan yang sebenarnya," ucap Peter.
"Aku benar-benar tidak mengerti. Angel, kamu mau terus tinggal bersama orang asing ini?" tanya Lucy menyinggung Peter.
"Lus ...," tegur Angel halus.
"Oh, aku pasti akan pergi dari sini! Hanya saja ... aku tidak tahu harus ke mana. Tolong ... beri aku waktu sedikit! Sebelumnya Nona Angel, aku sangat berterima kasih kamu telah menolongku!" kata Peter tulus.
"Sama-sama, Tuan Peter!" balas Angel.
Di saat Angel memikirkan ucapan Peter yang terakhir dan tak tahu harus melakukan apa, mendadak ia teringat pada seseorang. Seutas senyum tersirat di bibirnya.
"Ah, aku tahu siapa yang bisa membantu! Aku memang bisa menolong Tuan, tapi karena aku tinggal sendiri jadi tidak mungkin Tuan tinggal di sini bersamaku. Dan sahabatku ini pasti sangat tidak setuju," ujar Angel sambil melirik Lucy. Lucy balas menyengir padanya.
"Memang!"
"Tunggu! Aku akan menghubunginya," ucap Angel.
Dengan sigap Angel meraih telepon yang tak jauh dari tempatnya. Kemudian dengan cepat menekan beberapa angka dan menempelkan telepon di telinga. Suara tut tut terdengar dan tak lama terdengar suara seseorang di seberang.
["Halo!"]
"Halo, Ibu Michelle?!" suara Angel menyapa.
["Ya, aku sendiri. Ini siapa ya?"]
"Ini Angel, Bu!" jawab Angel.
["Oh, Angel, ada apa sayang?"]
"Ibu, bisa tolong datang ke rumahku sekarang? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
["Tentu. Setengah jam lagi Ibu sampai di sana!"]
"Terima kasih, Bu! Aku akan menunggu!"
["Kamu tunggu Ibu, ya!]
"Iya! Terima kasih, Bu! Bye ...."
["Bye ...."]
*Klik* Telepon ditutup.
Angel kembali bergabung bersama Lucy dan Peter. Lucy yang dari tadi mendengarkan pembicaraan Angel sudah tentu bisa menebak siapa yang dihubungi Angel.
"Setengah jam lagi dia sampai!" ujar Angel memecah keheningan.
"Ya!" balas Lucy cuek.
Sementara Peter hanya diam saja merenungi nasibnya. Entah siapa yang akan menolongnya lagi nanti. Dia sangat tidak enak telah merepotkan kedua gadis itu terutama Angel. Tapi dia tidak punya pilihan. Dia tak punya arah tujuan kemana akan pergi. Dan lagi dia merasa sangat asing di kota ini.
Menit-menit berlalu, Angel dan Lucy asyik membahas rencana esok mereka. Dan Peter tetap diam membisu. Hanya sesekali memandang kedua gadis yang ada di depannya.
^^^To be continued...^^^