My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
42# Cermin Hexagram



Setelah Annabelle berpamitan dengan yang lainnya dia pun pergi dari rumah Angel. Hanya Louis dan Jeremy yang masih tinggal. Merasa aneh dengan Louis yang tak ikut dengan Annabelle, Angel pun bertanya, "Louis, kamu tidak ikut dengan Anne?"


"Aku bebas tugas hari ini. Lagipula Nona Anne bisa mengatasi masalahnya sendiri. Dia akan memanggilku jika butuh bantuan," jawab Louis.


Louis menatap Angel sebentar kemudian melanjutkan, "Angel, boleh bicara sebentar?"


Angel tak langsung menjawab. Ia menoleh ke dalam rumah, di ruang tamu ada Jeremy dan Lucy yang bersenda gurau sambil menikmati waktu berdua mereka. Tak ingin mengganggu mereka, ia pun memilih duduk di teras rumah. Sambil menatap Louis, Angel mengangguk mengiyakan pertanyaan Louis. Louis pun duduk di sebelahnya.


"Apa kamu marah padaku?" tanya Louis to the point.


"Marah kenapa?" Angel malah balik bertanya karena tak merasa Louis ada salah dengannya.


"Karena aku sudah membohongimu. Aku berbohong padamu mengenai siapa diriku sebenarnya," Louis menjelaskan.


"Semua orang punya alasan melakukannya," jawab Angel seperti tak menyalahkan Louis.


"Apa itu berarti kamu tidak marah?" Louis meyakinkan sekali lagi.


"Tidak," jawab Angel.


"Kamu sangat pengertian. Apa kamu tahu, sebenarnya Nona Anne memintaku untuk melindungimu. Saat kita bertemu pertama kali di pantai, itu bukan kali pertama aku melihatmu. Aku sudah beberapa hari mengawasimu dari jauh," jelas Louis mengingat hari di mana ia bertemu Angel.


"Melindungiku?! Dari apa? Mengapa Anne harus berbuat begitu?" tanya Angel tak mengerti.


"Dia takut adiknya melakukan hal buruk kepadamu. Mengingat adiknya sangat tidak menyukaimu," jawab Louis.


"Maria," gumam Angel.


"Ya. Namun sayang aku gagal. Aku tidak bisa melindungimu saat insiden yang terjadi di gedung aula. Aku tak boleh berada terlalu dekat denganmu saat di sekolah. Karena keberadaanku akan diketahui oleh Lei dan Nona Mary," kata Louis menyesal.


"Itu bukan salahmu!" hibur Angel.


"Aku sangat menyesalkan kejadian itu. Padahal Nona Anne mempercayakan keselamatanmu padaku," timpal Louis.


"Sudahlah, yang penting aku tidak apa-apa, kan! Karena kamu dan Anne telah menyembuhkan lukaku dengan cepat. Aku sangat berterima kasih pada kalian," ujar Angel tulus.


"Iya benar juga, kamu tidak kenapa-kenapa. Mulai sekarang aku pasti akan menjagamu dengan lebih ketat lagi. Supaya tidak terulang kejadian yang sama," kata Louis penuh keyakinan.


"Berarti kamu adalah malaikat pelindungku?" goda Angel.


"Iya, untuk saat ini," jawab Louis sambil tersenyum malu.


Mereka berdua lalu tertawa. Suara tawa mereka terdengar hingga ke dalam rumah. Kemudian mereka ikut bergabung bersama Lucy dan Jeremy di ruang tamu.


"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Lucy begitu melihat Angel dan Louis memasuki rumah.


"Tidak ada apa-apa," jawab Angel santai.


"Oh ya, aku baru ingat mengenai cermin Hexagram yang dimiliki Angel. Apakah kegunaannya sama dengan punya Jeremy? Sayang Anne terlalu cepat pergi," ujar Lucy tiba-tiba.


Louis dan Jeremy melempar pandangan pada Angel. Kemudian Louis bertanya, "Boleh aku lihat?"


"Tentu. Tunggu sebentar aku ambil," jawab Angel.


Ia segera pergi kamarnya untuk mengambil cermin dari laci mejanya dan kemudian kembali ke ruang tamu dengan cepat. Dan langsung memberikan cermin itu pada Louis.


Louis menerima dan memperhatikannya. Kemudian memeriksa cermin itu dengan membolak-balikkannya. Nampak wujud asli Louis muncul di atas permukaan cermin itu manakala Louis mengarahkan cermin itu tepat ke wajahnya..


"Darimana kamu mendapatkan cermin ini?" tanya Louis.


"Aku membelinya di toko barang antik. Kenapa?" jawab Angel.


"Aku rasa seseorang pasti menjatuhkan cermin ini," ujar Louis menurut analisanya.


"Bagaimana kamu yakin ada yang menjatuhkannya?" tanya Angel meragukan.


Ketika itu Jeremy yang penasaran juga mengeluarkan cermin miliknya dari saku celana. Dan memperlihatkannya pada Louis.


"Apa bedanya dengan milikku?" tanya Jeremy sambil memperlihatkan cermin miliknya.


"Lantas, mengapa kamu bilang ada yang menjatuhkan cermin itu? Jika pemiliknya dahulu adalah orang yang istimewa?" tanya Angel masih kurang paham.


"Aku melihat ada sedikit lecet di bagian sini. Mungkin pemilik sebelumnya tidak sengaja menjatuhkan cermin ini," jawab Louis sambil menunjuk di mana lecet tersebut berada. Kemudian ia melanjutkan, "Coba kamu perhatikan. Aku akan tunjukkan sesuatu! "


Louis meletakkan jari telunjuk di permukaan bingkai cermin yang segitiga mengarah ke atas. Ia kemudian membuat gerakan memutar mengikuti alur segitiga sebanyak tiga kali. Ketiga temannya yang melihat hal itu tertegun. Jelas tak mengerti apa yang dilakukan Louis, begitupun Jeremy. Louis hanya tersenyum melihat kebingungan di wajah ketiga temannya.


"𝙾 ... π™Ύπšπš•πš’πš—πšπšŠ, πšŠπš›πšŠπšπšŠ-Θ›πš’ πš™πšžπšπšŽπš›πšŽπšŠ," ucap Louis.


Tiba-tiba dari cermin muncul cahaya yang terang. Angel, Lucy dan Jeremy terperanjat. Tapi Louis nampak tenang saja.


"Hai, cermin bisakah kamu tunjukkan padaku, siapa pemilikmu?" tanya Louis pada cermin itu.


Angel, Lucy dan Jeremy pun mendekat ke cermin. Tiba-tiba cermin yang masih terus memancarkan cahaya itu muncul wajah Angel dipermukaan.


"Aku?!" seru Angel.


Louis kembali bertanya. "Bukan. Siapa pemilikmu sebelumnya, sebelum Angel?"


Gambar wajah Angel pun berubah. Cermin itu menampilkan visual sebuah tempat, danau, kota, hutan, jembatan, dan terus berubah-ubah. Hingga akhirnya visual itu menampilkan ke saat cermin itu terjatuh di sekitar danau. Di antara rerumputan yang tumbuh di sekitarnya. Lalu sebuah tangan terlihat mengambilnya kemudian visual berubah menjadi penampakan sebuah toko.


Louis mengerutkan dahi melihat visual yang ditampilkan cermin. Karena visual yang ditunjukkan oleh cermin Hexagram itu tidak memberinya jawaban. Yang lainnya pun tetap tidak mengerti.


"Jadi, kamu tidak ingat?" gumam Louis.


"Tunggu ... cermin ini punya ingatan?" tanya Angel.


"Ya. Cermin ini mengenali pemiliknya," jawab Louis.


"Hebat sekali!" Lucy pun merasa kagum.


Cermin masih tidak menunjukkan visual apapun. Hanya cahaya terang yang menyelimuti permukaan cermin sehingga hanya cahaya putih yang terlihat. Selang beberapa detik, cahaya mulai meredup dan permukaan cermin yang tadinya tertutup sinar putih kembali bereaksi. Bukan visual yang ditunjukkan tetapi sebuah inisial nama, GA. Yang perlahan-lahan memudar dari permukaan cermin diikuti hilangnya cahaya yang menyelimutinya. Cermin pun kembali normal.


"GA?!" gumam Angel.


"Mungkin inisial nama seseorang," sahut Louis sambil berpikir.


"Seperti inisial nama ...." AngelΒ bergumam pelan.


"Siapa?" tanya Louis cepat.


"Ah, bukan siapa-siapa. Aku juga tidak tahu," jawab Angel cepat-cepat.


"Oh," ucap Louis.


"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Lucy.


"Entahlah. Apa asal usul cermin ini penting untuk kalian? Kalau ya mungkin sebaiknya kalian kembali ke toko di mana kamu menemukan cermin ini dan bertanya pada penjualnya saja. Setidaknya dia tahu bagaimana cermin ini bisa sampai di tokonya," jawab Louis sambil mengembalikan cermin kepada Angel.


"Aku baru tahu ternyata cermin ini bisa mengenali pemiliknya," ujar Jeremy.


"Kamu Inger yang payah. Jangan-jangan kamu juga tidak tahu kegunaan lain dari cermin itu?" ejek Louis pada Jeremy.


"Memangnya ada kegunaan lainnya? Selain bergerak sendiri dan mengeluarkan cahaya ketika ada yang ingin ditunjukkan padaku ataupun ketika ia menunjukkan apa yang ingin kulihat?" tanya Jeremy.


"Tentu saja ada. Kamu bisa pergi kemanapun dengan cermin itu, bahkan ke Lumina, Obscur maupun Vortua. Tapi, aku peringatkan dulu, jangan pernah coba-coba pergi ketiga dunia tersebut. Tempat itu terlarang bagi manusia. Kecuali jika Yang Mulia Astru mengadakan pertemuan khusus dengan Inger-nya," jelas Louis memperingatkan.


"Kupikir hanya cermin seperti milik Angel yang bisa melakukannya. Secara cermin itu istimewa dan pastinya unlimited," lanjutnya.


Hari mulai sore, Louis melihat ke arah jam dinding kemudian bangkit berdiri.


"Sudah waktunya aku pergi!" ujarnya.


Ia lalu berpamitan pada Angel dan kedua temannya. Setelah itu ia pergi meninggalkan rumah Angel.


Di kamar Angel, Lucy mulai berkemas. Hari ini dia akan pulang ke rumahnya. Setelah mengemasi semua barangnya, ia menemui Angel dan berpamitan dengannya. Jeremy ikut pulang menemani Lucy. Usai pamitan keduanya pun akhirnya meninggalkan rumah Angel yang kini kembali sepi.


^^^To be continued....^^^