
"Sungguh kisah yang mengharukan!" kata Angel.
Astru menatap Angel dan tersenyum. "Apa menurutmu begitu?"
"Aku bisa mengerti, karena aku pernah mengalami. Aku jadi takut kalau nasibku juga akan berakhir sama seperti nenek," ujar Angel.
Astru mengerutkan dahi mendengar ucapan Angel. Lelaki itu memang kurang mengerti apa maksudnya. Namun untuk saat ini dia sangat ingin tahu bagaimana kehidupan Eve setelah menikah.
"Aku ingin tahu bagaimana kehidupan Eve setelah menikah? Apakah dia hidup bahagia?" tanya Astru.
"Aku tidak tahu. Nenek meninggal saat aku berusia dua tahun. Aku mendengarnya dari mama," jawab Angel apa adanya.
"Siapa nama mamamu?" tanya Astru penasaran.
"Gracia. Gracia Antoinette," jawab Angel cepat.
"Oh," gumam Astru. Ia berkata dalam hatinya, 'Ternyata Eve benar-benar memberi nama anaknya dengan nama yang kuberikan.'
"Apa mamamu punya saudara?" tanya Astru lagi.
"Tidak, mama anak tunggal," jawab Angel.
"Oh." Astru kembali bergumam sambil mengangguk-angguk.
Meskipun tidak menerima banyak informasi tentang kehidupan Eve, dia tidak mempermasalahkannya. Lagipula Eve sudah tiada. Biarlah dia tenang di alam sana.
Sekarang Astru ingin tahu mengenai ucapan Angel yang 'bernasib sama seperti nenek'. Apa maksudnya itu? Dia mencoba bertanya kepada Angel.
"Oh ya, Angel ... Tadi kamu bilang kamu takut kalau nasibmu akan seperti nenekmu? Apa maksudnya?" tanya Astru dengan pelan.
"Ya. Aku takut tidak bisa hidup bersama orang yang kucintai!" jawab Angel.
Astru mencoba berpikir. Kemudian mengutarakan pendapatnya pada Angel.
"Jika yang kamu cintai seorang manusia sepertimu, itu tidak perlu ditakutkan. Kecuali jika dia tidak mencintaimu."
"Anehnya aku merasa yakin dia mencintaiku," jawab Angel.
"Jadi, apa masalahnya? Ah, apa dia dari dunia lain?! Seorang malaikat mungkin?" tebak Astru tepat sasaran.
Angel menganggukkan kepalanya.
"Siapa dia?" tanya Astru tertarik.
"Namanya Neville. Dia dari Obscur," jawab Angel.
Astru lalu membalikkan badannya maju beberapa langkah sambil menggumamkan sesuatu. Kemudian dia berbalik kembali menatap Angel. Dia mendekatinya dan berkata dengan pelan, "Kamu mencintai iblis!?"
"Iblis? Aku tidak berpikir demikian. Dia Dark Angel bukan iblis!" bantah Angel dengan cepat.
"Begitukah?! Tetapi, kami, White Angel di sini menganggap mereka yang bersayap hitam itu iblis!" ucap Astru dengan santai.
"Itu tidak adil!" protes Angel.
"Yang Mulia tidak bisa seenaknya menuduh seseorang buruk hanya karna penampilan mereka berbeda! Yang Mulia pasti beranggapan bahwa White Angel adalah malaikat baik dan suci. Tetapi, apa Yang Mulia yakin semua White Angel itu baik? Tidak!" lanjut Angel dengan nada tinggi.
"Tidak?! Apa buktinya?" tanya Astru menantang.
Wajah Astru sempat berubah. Namun tiba-tiba dia tersenyum. Dia menatap Angel tanpa berbicara. Angel berhasil membuatnya kehabisan kata-kata sehingga membuatnya memilih mengakhiri pembicaraan ini.
"Gilbert, Cello, masuklah!" panggil Astru pada kedua pengawal yang menunggu di luar.
"Baiklah, Nona Angel, kurasa sampai di sini dulu pembicaraan kita!" kata Astru pada Angel.
Tepat saat itu Gilbert dan Cello masuk ke dalam ruangan.
"Kalian berdua, tolong, antar Nona Angel ke tempat peristirahatan! Layani dan penuhi semua keinginannya dengan baik!" perintah Astru.
"Baik, Yang Mulia!" kata kedua pengawal bersamaan.
"Kembalikan dulu cerminku!" pinta Angel pada Astru. Karena cermin itu masih dalam genggaman Astru.
Astru tersenyum dan berkata, "Aku akan mengembalikannya nanti! Ini untuk memastikan kamu tidak akan kemana-mana!"
"Sekarang bawa dia!" lanjutnya pada Gilbert dan Cello.
Kedua malaikat itu pun membawa Angel ke tempat tujuan. Kali ini hanya Cello yang memegang lengan Angel untuk berjaga-jaga takut kalau dia melarikan diri.
Mereka berjalan meninggalkan ruang kerja Astru. Menuju sebuah kastil di mana malaikat terbaik tinggal. Setelah perjalanan yang agak jauh, mereka sampai di sebuah kastil yang besar dan megah. Dengan halaman yang dipenuhi bunga berwarna-warni, taman fountain dan bangku untuk bersantai.
Mereka berjalan menuju lorong kanan. Di sepanjang jalan lorong itu terdapat danau ikan koi yang berakhir sampai di tikungan. Mereka berbelok dan lurus lagi ke depan. Dinding di sini didominasi oleh jendela kaca dengan jarak yang agak jauh dari pintu-pintu. Akhirnya mereka sampai di pintu terakhir. Gilbert membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam diikuti Cello dan Angel.
Nampak sebuah ruangan besar bergaya vintage di sini. Di mana setiap lorong mungkin ada sepuluh pintu kayu dengan model yang sama tanpa jendela. Lebih seperti sebuah penginapan atau hotel. Kedua malaikat itu membawa Angel ke sebuah pintu kamar. Setelah sampai Cello melepaskan tangannya. Lalu Gilbert menaruh plat emas dengan huruf ANG ke depan pintu kamar.
"Di sini tempat peristirahatanmu, Nona! Perhatikan huruf di plat ini! Semua kamar di sini memiliki plat nama di depan pintu yang di ambil dari tiga huruf pertama nama penghuninya. Jadi, kuharap anda tidak akan salah masuk kamar," jelas Gilbert kemudian dia membuka pintu kamar itu.
"Silahkan masuk!" lanjut Gilbert mempersilahkan Angel masuk.
Angel melangkah masuk dengan hati-hati. Dia langsung dibuat takjub melihat kamar yang akan ia tempati. Jika di ruangan depan tadi di desain dengan gaya Vintage, lain lagi dengan kamar tidur ini yang bergaya Victorian. Furniture-nya hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Begitupun lantainya yang berwarna coklat tua. Dengan karpet oriental berwarna merah. Kemudian tempat tidur berkanopi dengan warna pastel dan putih gading. Ada lagi aksesoris seperti tempat lilin, porselen, lukisan antik, cermin besar, dan lainnya. Semuanya didominasi warna emas dan perak. Sehingga kamar ini terlihat sangat mewah.
Lama Angel terdiam menatap kagum akan keindahan kamar ini. Kedua malaikat yang membawanya masih memperhatikannya. Melihat Angel tak kunjung bicara, Gilbert pun bertanya. "Anda baik-baik saja, Nona?"
"Ah, ya ... Aku baik-baik saja!" jawab Angel kaget.
"Akan ada yang datang untuk melayani Nona nanti. Tugas kami selesai sampai di sini. Selamat beristirahat!" ucap Gilbert sambil berlalu dari depan Angel menuju pintu.
"Heh, kamu beruntung tidak menginap di penjara karena berani menyusup kemari!" kata Cello dengan gaya mengejek.
"Cello!" tegur Gilbert mengisyaratkan padanya untuk segera pergi.
"Baiklah, Nona, sampai bertemu lagi! Semoga tidurmu nyenyak!" ucap Cello kemudian berjalan menyusul Gilbert yang menunggu di depan pintu.
Setelah Cello keluar, Gilbert pun menutup pintu kamar Angel dan kedua malaikat pengawal itu pun pergi.
Sekarang hanya Angel seorang diri di dalam kamar tidur mewah yang masih asing baginya ini. Setidaknya dia bisa bernafas lega karena tidak di penjara seperti kata Cello barusan. Angel lalu membuka tirai jendela warna putih itu. Cahaya matahari menyeruak masuk seketika. Pemandangan padang bunga di luar sana pun nampak jelas.
'Matahari masih secerah ini? Aneh, saat aku datang tadi bukankah sudah malam?! Apa secepat itu sudah pagi lagi? Belum sampai setengah hari kurasa aku muncul di tempat ini,' pikir Angel.
Meski begitu dia merasa sangat lelah. Dan akhirnya menutup kembali tirai jendela dan memilih untuk tidur di kamar barunya.
^^^To be continued...^^^
^^^Mohon berikan dukungan dengan Like, Ads, atau komentar. Karena itu gratis! Terima kasih!^^^