
Lonceng istirahat berbunyi. Murid-murid berhamburan meninggalkan kelas termasuk Lucy dan Angel. Namun kali ini Lucy tidak bersama Angel. Angel punya tugas yang harus dia kerjakan di ruang OSIS. Lucy pun memilih ke perpustakaan seorang diri.
Lucy menyusuri lorong sempit yang penuh dengan rak-rak buku. Dia berjalan menuju rak dengan koleksi novel, dongeng, dan cerita fiksi lainnya. Sambil mengamati tiap judul buku yang tersusun di rak tersebut. Pandangannya berhenti pada sebuah buku berjudul "Prince or Angels". Lucy mengambil buku itu. Judul buku itu membuatnya menyengir. Ia kemudian membuka halaman tersebut tanpa membacanya. Isi halaman yang penuh dengan tulisan kecil. Dan Lucy berhenti pada halaman 102 yang mana pada halaman tersebut bergambar seorang pangeran yang memakai mahkota di kepala sedang menunggang pegasus dengan latar gambar istana di atas awan.
Sedangkan di bawah gambar terdapat sebuah kalimat.
"Aku memang bukan malaikat. Aku tidak menawan dan jauh dari rupawan. Aku hanya seorang Pangeran biasa dengan Pegasus sahabatku. Aku tidak bertarung dengan Malaikat. Namun bertarung dengan hatimu. Meskipun hanya seorang Pangeran biasa tapi aku akan melebihi Malaikat manapun ketika aku berhasil memenangkan hatimu."
Lucy terdiam membaca kalimat tersebut. Lalu ia menutup buku itu dengan keras dan menaruhnya kembali ke rak. Ia kemudian berjalan keluar dari perpustakaan. Niat ingin mencari udara segar Lucy pun berjalan menuju ke taman. Dahan pohon Walnut yang lebat sudah dipangkas jadi tidak perlu khawatir. Pasti kali ini keadaan akan aman-aman saja.
Lucy berjalan di samping jejeran pohon Walnut sambil mengingat di mana kemarin dia hampir tertimpa dahan pohon itu. Lalu ia berhenti di tempat yang sama saat ia berdiri waktu itu. Ia kemudian menengadahkan kepalanya ke atas melihat pohon yang sudah tidak lagi teduh.
Berdiri beberapa saat di sana Lucy seperti menangkap sesuatu yang berasal dari balik pohon tak jauh dari tempatnya berdiri. Terlihat sesuatu sedang berkilat-kilat terpantul cahaya. Merasa penasaran ia pun berjalan mendekat ke salah satu pohon itu. Batang pohon itu cukup besar sehingga tak akan terlihat apa yang ada dibaliknya jika tidak melihat langsung ke balik pohon itu.
Lucy sampai pada pohon tersebut kemudian mendekatinya dan mencoba mengintip dari sela-sela pohon untuk melihat apa yang berkilat-kilat itu. Rupanya ada seseorang yang duduk di balik pohon. Tangannya memegang rantai kalung dengan cermin bergelantungan yang terus berputar-putar. Rupanya pantulan cahaya yang berkilat itu berasal dari cermin yang terpantul cahaya itu. Lucy mencondongkan badannya sedikit lebih maju untuk melihat siapa sebenarnya orang itu. Dan Lucy sudah bisa mengenali wajahnya meskipun terlihat dari samping. Ia langsung keluar dari balik pohon dan berdiri di belakang orang itu.
"Jeremy," panggil Lucy.
Jeremy kaget dan langsung menoleh ke belakang melihat Lucy. Cermin yang dibuat berputar-putar tadi langsung berhenti.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Lucy heran.
Tatapannya langsung mengarah pada cermin yang dipegang oleh Jeremy. Bentuk cermin itu jadi terlihat jelas setelah berhenti berputar. Lucy langsung membelalakkan matanya begitu melihat bentuk cermin itu.
"Cermin itu ...," ucap Lucy sambil berjalan mendekat ke tempat Jeremy dan langsung duduk di sampingnya memperhatikan cermin yang dipegang oleh Jeremy. Cermin yang hampir sama dengan milik Angel. Hanya saja batu permata pada cermin Jeremy berwarna biru dan tidak ada ukiran di bingkainya.
"Kenapa dengan cermin ini?" tanya Jeremy bingung melihat ekspresi Lucy.
"Cermin ini sama seperti yang dimiliki Angel," jawab Lucy lalu menatap Jeremy penuh tanda tanya.
"Angel punya cermin seperti ini?" tanya Jeremy setengah tak percaya.
"Iya," jawab Lucy. Ia mengambil cermin yang masih dipegang Jeremy dan memperhatikannya.
"Sama persis. Hanya saja cermin Angel memiliki ukiran di bingkainya," lanjut Lucy sembari melepaskan cermin itu.
"Di mana Angel sekarang?" tanya Jeremy.
Ia semakin penasaran dengan cerita Lucy dan berniat bertanya langsung pada Angel. Ia tidak tahu jika Angel punya cermin hexagram ini. Karena tidak sembarang orang bisa memiliki cermin ini.
"Di ruang OSIS. Dia sedang mengerjakan tugas," jawab Lucy.
"Lus, sekarang dengarkan aku! Kamu harus membantuku! Tolong atur waktu agar aku bisa bertemu dengan Angel. Aku harus bicara dengannya!" ucap Jeremy dengan serius.
"Bicara? Apa ada masalah?" tanya Lucy bingung.
"Nanti kamu akan tahu. Asal kamu percaya bahwa semua ini nyata. Aku sangat berharap padamu. Ini sangat penting! Demi keselamatanmu dan juga Angel," jelas Jeremy.
"Aku ... tidak mengerti," kata Lucy.
"Sekarang kamu memang belum mengerti. Tapi nanti kamu pasti akan paham. Kumohon, Lus ... Kamu bisa membantuku, kan?" ucap Jeremy penuh harap.
"Iya. Nanti aku akan bicara pada Angel," kata Lucy kemudian.
"Terima kasih. Setelah kalian berdua mengatur waktunya tolong beri tahu aku. Aku akan membawa dua temanku yang akan membantu menjelaskannya," pesan Jeremy pada Lucy.
Lucy membalasnya dengan anggukan. Kemudian diam melamun. Ia sangat penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Jeremy dengan serius. Jeremy sepertinya tahu kegundahan hati Lucy. Ia lalu memegang bahunya dan mengusapnya pelan untuk menenangkan hatinya.
"Jangan khawatir! Aku tidak punya maksud apa-apa pada Angel. Aku hanya menyukaimu saja!" ujar Jeremy tenang.
"A ... Apa?" tanya Lucy kaget mendengar kalimat terakhir Jeremy.
"Aku bilang jangan khawatir!" jawab Jeremy sambil tersenyum malu.
"Tidak ada. Hanya jangan khawatir saja!" jawab Jeremy bohong.
Lucy menyipitkan kedua matanya tak percaya. Jelas Jeremy masih mengatakan sesuatu.
'Apa benar tadi dia bilang menyukaiku? Aku tidak mungkin salah dengar, kan?' ucap Lucy dalam hati.
"Jadi, bagaimana kamu tahu aku di sini?" tanya Jeremy mengalihkan pembicaraan.
"Aku mengikuti pantulan sinar dari cermin itu," jawab Lucy.
"Oh," gumam Jeremy.
Pada saat itu bel berakhirnya waktu istirahat berbunyi.
"Bel masuk sudah berbunyi. Ayo, masuk kelas!" ajak Jeremy yang dengan cepat berdiri dan langsung mengulurkan tangan kanannya kepada Lucy untuk membantunya berdiri.
"Aku bisa sendiri. Lain kali tidak perlu begitu," ucap Lucy malu diperlakukan seperti itu namun tetap menerima uluran tangan Jeremy.
Dengan mudah ia pun berdiri. Namun Jeremy tak juga melepaskan pegangan tangannya meskipun ia sudah berdiri. Malah memegangnya lebih erat. Dan mereka pun berjalan meninggalkan taman.
Saat melewati koridor berpapasan dengan beberapa murid perempuan. Mereka nampak memperhatikan keduanya apalagi melihat mereka bergandengan tangan, murid-murid perempuan itu mulai berbisik-bisik. Lucy yang menyadari hal itu merasa tak enak hati. Namun pegangan Jeremy sangat kuat sehingga ia tak bisa melepaskan tangannya.
"Bisakah kamu lepaskan tanganku? Aku tak suka mereka memperhatikanku seperti itu," kata Lucy sambil tertunduk malu.
"Tidak! Sampai tiba di kelasmu," ucap Jeremy tak peduli.
"Mereka pasti akan cemburu kalau kamu terus memegang tanganku seperti ini. Kamu itu sangat populer tahu!" gerutu Lucy lagi.
"Ini kan baru pertama. Nanti mereka juga terbiasa," kata Jeremy sambil menatap Lucy. "Tenanglah!"
Jeremy baru melepaskan pegangan tangannya begitu tiba di kelas Lucy.
"Masuklah! Jangan lupa dengan pesanku tadi. Aku menunggu kabar darimu!" pesan Jeremy sebelum akhirnya pergi menuju kelasnya yang ada di sebelah.
Lucy merasa sedikit lega. Dengan santai berjalan menuju bangkunya. Bangku Angel masih kosong. Sepertinya tugasnya belum selesai. Lucy melihat tangannya yang dipegang Jeremy tadi. Kehangatan tangan Jeremy masih sangat terasa. Lucy tersenyum sendiri.
Angel tidak mengikuti satu pelajaran pun sampai sekolah berakhir. Padahal guru memberikan PR yang harus dikumpulkan besok. Angel baru masuk ke kelas setelah kelas bubar. Lucy sedang memasukkan bukunya ke dalam tas ketika Angel muncul di kelas dan langsung ke bangkunya untuk merapikan buku. Begitu selesai Lucy langsung berjalan ke bangku Angel.
"Si mata empat itu benar-benar keterlaluan. Masa aku harus sampai membolos untuk membantunya mengerjakan pekerjaan yang tidak penting," gerutu Angel begitu Lucy berdiri di depannya.
"Memangnya apa yang kalian kerjakan?" tanya Lucy.
"Awalnya yah ... berdiskusi mengenai acara kelulusan nanti. Memperkirakan jumlah anggaran dan rencana penyelenggaraan pesta dansa," jawab Angel yang memang merupakan anggota penting dalam kegiatan OSIS sekolah.
"Wow ... Pesta dansa! Bukankah hari kelulusan masih lama?" tanya Lucy.
"Ya, memang. Tapi mereka ingin membuat rencana dahulu karena jika sampai dekat kelulusan nanti mereka semua pasti akan lebih fokus belajar dan tidak sempat untuk memikirkan ide gila semacam ini," jelas Angel.
"Menurutku itu cukup bagus. Lantas mengapa Jessy menyekapmu?" tanya Lucy penasaran.
"Dia ingin aku membantunya melipat seratus perahu kertas yang sudah ditulisnya dengan sebuah harapan. Dia akan melayarkannya ke sungai tengah malam nanti. Kamu tahu mitos itu? Aku pikir dia sudah gila. Dia takut tidak ada pemuda di sekolah ini yang akan mengajaknya ke pesta dansa nanti. Jadinya dia berusaha melakukan segala cara yang diketahuinya agar harapannya tercapai. Bukankah ini sangat gila?!" jelas Angel setengah menggerutu.
"Wow ... Ini sangat lucu. Hahaha ...," ucap Lucy sambil tertawa. Mengingat penampilan Jessi yang sangat kuper mungkin memang agak sulit ada anak lelaki yang mau mengajaknya ke pesta dansa.
"Oya, hari ini aku ikut ke rumahmu, ya! Tadi guru sejarah memberi PR yang harus dikumpulkan besok. Kamu bisa sekalian menyalin punyaku," lanjut Lucy.
"Oh, baiklah. Ayo, pergi!" ajak Angel. Dan mereka berdua pergi meninggalkan kelas.
^^^To be continued...^^^