My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
49# Permintaan Tolong Michelle



Satu minggu telah berlalu sejak kejadian di atap sekolah itu. Kabar dari Louis masih belum terdengar. Bahkan Annabelle juga tidak pernah terlihat lagi kemunculannya. Padahal Angel sangat mencemaskan keadaan Louis. Ia terus berharap semoga Louis baik-baik saja.


Selama seminggu ini Angel lebih banyak diam. Dia sering terlihat duduk melamun sendiri. Demikian juga ketika bersama Lucy dan Jeremy. Lei yang biasanya suka dipandanginya saat masuk ke kelas pun tak dihiraukannya lagi. Sedangkan Maria masih terus menempel di samping Lei kemanapun Lei pergi.


Sikap Angel yang berubah ini membuat bingung Lucy dan Jeremy. Saat keduanya sedang asyik bergurau di kantin, Angel malah diam saja sambil memainkan sedotan minumannya. Padahal biasanya dia akan ikut tertawa. Lucy dan Jeremy pun menghentikan gurauan mereka dan saling melempar pandangan. Jeremy memberi isyarat pada Lucy untuk bertanya padanya. Lucy pun mencoba berbicara dengannya.


"Angel," panggil Lucy pelan.


Angel yang tadinya melamun tersadar oleh panggilan Lucy.


"Hem?"


"Apa kamu ada masalah? Ceritakanlah pada kami! Mungkin kami bisa membantu," tanya Lucy penuh perhatian. Jeremy ikut mengangguk.


"Tidak ada," jawab Angel singkat.


"Kalau tidak ada, mengapa kamu begitu diam? Selama seminggu ini kamu banyak melamun dan berdiam diri. Apa kamu memikirkan Lei?" Lucy mencoba menerka walau kurang yakin.


"Tidak. Aku tidak memikirkannya," jawab Angel.


"Kalau bukan Lei, berarti kamu memikirkan Louis?" tebak Lucy yakin.


Benar saja Angel jadi terdiam tak membantah ucapan Lucy. Lucy pun mengerti. Ia tersenyum dan berkata pada Angel.


"Aku tahu kamu pasti mencemaskannya. Kami pun demikian. Kamu harus percaya dia pasti akan sembuh."


"Tetapi, ini sudah lewat seminggu. Dan belum ada kabar darinya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan?" ucap Angel dengan wajah yang terlihat cemas.


"Jangan keburu berpikir begitu. Mungkin dia masih dalam tahap pemulihan. Atau dia tak ingin memberi kabar karena takut kamu cemas. Aku yakin setelah dia benar-benar sembuh, dia pasti akan menemuimu lagi!" hibur Lucy.


Ucapan Lucy rupanya mampu menenangkan kekalutan di hati Angel. Ia cuma menghela nafas. Dan menatap Lucy lekat-lekat.


"Aku mencemaskannya! Aku masih merasa bersalah padanya," ucap Angel kemudian.


"Kami berdua juga mencemaskannya. Angel, buang jauh-jauh perasaan bersalahmu. Itu tidak akan berguna untuk kesembuhan Louis. Jika dia tahu keadaanmu sekarang yang seperti ini, dia juga pasti akan sedih. Jadi, bersemangatlah sambil menunggu dia kembali," nasehat Lucy pada Angel.


Angel mengangguk. Nasehat Lucy memberinya kekuatan. Dia bisa sedikit lebih bersemangat dari pada tadi. Dan mulai bisa tersenyum kembali. Lucy dan Jeremy saling berpandangan lega.



...🔹🔹🔹...


Empat belas hari sudah tanpa kabar dari Louis maupun Annabelle. Angel berlari menuju ke taman sekolah. Lucy dan Jeremy menunggunya di sana setelah urusannya di ruang OSIS selesai. Empat belas hari saja rasanya sudah seperti sebulan jika menunggu kabar dari seseorang.


Lucy dan Jeremy duduk di bangku taman dekat pohon Walnut. Angel berlari menghampiri mereka.


"Bagaimana? Ada kabar dari Louis dan Anne?" tanya Angel begitu dirinya sampai di tempat kedua sahabatnya.


"Tidak ada," jawab Jeremy.


"Haa ...," desah Angel dan duduk dengan lunglai di samping Lucy.


Nafasnya terengah-engah sehabis berlarian kemari. Cuaca yang panas membuatnya berkeringat. Disapunya keringat yang jatuh ke wajah dengan tangannya. Karena kepanasan membuatnya jadi haus. Angel berdiri dan berkata pada kedua sahabatnya.


"Aku mau ke kantin beli minuman. Kalian mau ikut?" tanya Angel.


"Tidak. Kami baru dari sana tadi," jawab Lucy.


"Oh, baiklah, aku pergi dulu," ujar Angel. Kemudian dengan setengah berlari menuju kantin sekolah.


Saat Maria tiba-tiba menatap ke arahnya. Cepat-cepat Angel membuang muka pura-pura tak melihat. Segera dia membayar minumannya lalu pergi dari sana.


Angel memutar tutup botol minumannya. Baru akan membuka dan meminumnya tiba-tiba Michelle memanggil.


"Angel," panggil Michelle dari koridor sambil melambaikan tangan.


Angel pun tak jadi minum. Diputar kembali tutup botol minumannya. Terus pergi menghampiri Michelle.


"Ibu, ada apa?" tanya Angel.


"Ikut Ibu ke ruang UKS sebentar, ya! Ada yang ingin Ibu bicarakan!" jelas Michelle dengan mata berbinar-binar.


Angel yang kebingungan hanya mengangguk dan mengikuti Michelle ke ruangannya.


'Tumben. Mau bicara tentang apa, ya?' batin Angel.


Begitu sampai di ruang UKS Angel langsung duduk di kursi. Selagi Michelle menutup pintu, dia mulai meminum minumannya. Dia sudah cukup kehausan dari tadi. Minumannya pun sampai dihabiskan tinggal setengah botol. Michelle kembali lalu duduk di dekat Angel.


"Ibu mau bicara apa?" tanya Angel penasaran.


Michelle tersenyum lalu berkata padanya, "Ibu mendapat undangan seminar selama seminggu di luar kota. Besok Ibu sudah harus berangkat."


"Tuan Pierre dan Lei ikut juga?" tanya Angel kalem.


"Tidak. Ibu saja yang pergi. Lei kan harus sekolah," jawab Michelle.


"Oh ...."


"Ibu cuma mau minta tolong padamu untuk mengawasi Lei selama di sekolah. Hanya selama Ibu tidak ada saja. Kalau soal makan sih mereka bisa beli di luar. Ibu hanya mengkhawatirkan Lei. Akhir-akhir ini dia mulai nakal, jadi sering bolos ikut pelajaran. Padahal sudah ada di sekolah. Dia juga sering sakit kepala." Michelle menjelaskan.


Angel terus mendengarkan sambil berucap dalam hati. 'Lei sering sakit kepala?'


"Karena itu Ibu mencemaskan dirinya. Kamu bisa bantu Ibu menjaga Lei, kan?" lanjut Michelle sembari memohon bantuan Angel.


"Iya, tentu saja!" Angel menyanggupi. Meski dia tak tahu bagaimana caranya mengawasi Lei di dekat orang yang memusuhinya.


"Terima kasih, Angel! Ibu jadi sedikit merasa lega," kata Michelle bersyukur.


Angel balas tersenyum. Lalu bertanya, "Ibu, besok berangkat jam berapa?"


"Pagi, sayang. Ini hari terakhir Ibu mengajar," jawab Michelle.


"Oh ...."


"Kalau ada apa-apa telepon ke nomor ponsel Ibu, ya!" pesan Michelle.


Angel mengangguk.


"Terima kasih, Angel! Nah, kamu sudah boleh pergi. Nanti pulang Ibu bawakan oleh-oleh untukmu," kata Michelle merasa tak ada yang ingin ia sampaikan lagi.


"Tidak usah repot-repot, Bu! Aku permisi kalau begitu," pamit Angel lalu bangkit dari tempat duduknya berjalan keluar dari ruangan Michelle.


'Mulai besok sampai seminggu ke depan akan menjadi hari yang berat Aku harus bagaimana mengawasi Lei sementara Maria terus berada di sampingnya? Beruntung aku tidak sampai celaka kemarin. Karena Louis datang dengan cepat. Ah, Louis ... Kenapa tidak memberi kabar padaku? Aku sangat khawatir. Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku merasa sangat bersalah sekaligus berhutang budi padamu,' ucap Angel di dalam hati sambil berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya.


^^^To be continued....^^^