
Malam yang dingin setelah hujan turun seharian. Angel berada di kamarnya. Niatnya ingin belajar tetapi pikirannya malah tidak berfokus dengan buku di depannya. Lantas ia pun menarik laci di meja belajar lalu mengeluarkan cermin hexagram yang tersimpan di dalam. Diperhatikannya cermin itu. Wajah Angel muncul di permukaan cermin. Kemudian ia mengusap permukaan cermin itu. Sebuah tempat tiba-tiba terlintas di pikirannya.
Angel teringat dengan cerita Lei ketika mamanya menemukan Michelle di Danau Venuee. Meski ia tahu betul di mana lokasi danau itu tapi tak pernah sekalipun ia pergi ke sana.
Hari sudah malam. Angel melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 19.49. Kemudian memperhatikan cermin yang masih dalam genggamannya. Ucapan Louis beberapa hari yang lalu kembali teringat. Mengenai cermin hexagram miliknya yang bisa membawanya ke tempat yang ia inginkan. Terdorong rasa penasaran Angel memutuskan mencoba membuktikannya. Ia kemudian meletakkan telunjuknya di atas permukaan bingkai cermin dan membuat gerakan memutar seperti yang dilakukan Louis. Cermin langsung berubah, permukaannya menjadi putih bersinar. Angel terdiam sejenak menunggu reaksi cermin yang tak kunjung menunjukkan visual ataupun bayangan dirinya. Yang ada hanya putih. Kemudian dengan pelan Angel berkata, "Wahai, cermin ... Bisakah engkau bawa aku ke Danau Venuee?"
Setelah mendengar ucapan Angel, cermin itu bereaksi. Cermin itu mengeluarkan cahaya yang lebih terang dan semakin terang melingkupi seluruh tubuh Angel. Saking terangnya sampai Angel tak dapat melihat sekelilingnya yang semuanya menjadi putih. Ia berusaha menghalangi cahaya dari matanya dengan tangan. Cermin pun terlepas dari genggamannya. Dengan secepat kilat cahaya tiba-tiba lenyap. Semuanya berubah menjadi gelap. Angel telah berpindah tempat. Dan cermin yang tadi terlepas dari genggamannya jatuh ke atas tanah berumput. Angel baru tersadar dirinya telah berada di danau. Melihat cerminnya yang jatuh ke atas rumput, ia pun segera memungutnya.
Angel melihat sekelilingnya dengan bantuan cahaya dari lampu taman yang terpasang di sekitar danau. Hanya danau biasa dengan tanah berumput dan bunga liar yang tumbuh di sekitarnya. Cukup luas memang tapi tidak ada yang istimewa dari danau ini. Walau letaknya tak jauh dari jalan raya tapi suasana di danau sepi sekali.
Angel mulai berjalan di sekitar tepian danau. Tanah berumput yang basah terasa dingin di kakinya yang tanpa alas. Meski dalam cahaya remang, Angel masih dapat melihat pantulan bayangan dirinya di atas permukaan air danau yang bersih. Angel terus melangkah dengan pelan sampai tanpa sengaja ia menginjak sesuatu. Ia berhenti dan memungut benda yang diinjaknya itu. Rupanya sebuah botol kecil kosong.
'Sepertinya baru dibuang. Buangnya juga sembarangan,' pikir Angel karena kondisi botol yang bersih.
Lantas ia pun menyimpan botol itu di saku piyamanya untuk dibuang ke tempat sampah nanti setelah pulang ke rumah. Angel kembali berjalan menyusuri danau yang sepi itu tanpa rasa takut. Angin malam mulai berhembus membuat Angel menggigil. Hanya dengan piyama tidur dan tanpa alas kaki jelas saja membuatnya kedinginan. Kedua tangannya dilipat ke atas dada tapi tetap saja tak cukup ampuh mengusir rasa dingin.
'Dingin sekali! Tidak seharusnya aku datang malam-malam begini,' gumamnya.
Ia sudah berniat untuk pulang. Saat tiba-tiba sebuah mantel hangat mendarat menutupi pundaknya dari belakang. Angel kaget dan langsung menoleh. Di sana Louis berdiri sambil tersenyum padanya.
"Hah ... Aku kira siapa! Mengagetkan saja," kata Angel baru merasa lega. Mantel itu pun langsung dipakainya.
"Maaf! Lain kali kalau mau ke luar malam-malam sebaiknya ganti baju dulu," ucap Louis yang lalu berjalan di sampingnya.
"Aku tidak mengira cuacanya akan sedingin ini," balas Angel membela diri.
"Apa masih merasa dingin?" tanya Louis.
"Sudah tidak terlalu," jawab Angel.
"Jika masih dingin aku bisa memelukmu. Jika kamu mengijinkan," goda Louis.
Angel hanya tertawa menanggapi ucapan Louis.
"Kenapa? Apa terdengar lucu?" tanya Louis heran melihat Angel tertawa.
"Tidak," jawab Angel sambil melirik Louis.
Keduanya berjalan menjauh dari tepi danau. Louis berjalan di samping Angel sambil berbicara.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini di sini sendirian?" tanya Louis penasaran.
"Tidak ada. Aku penasaran dengan cermin yang katamu bisa membawaku kemana saja. Jadi, aku mencobanya," jawab Angel kalem.
"Apa harus mencobanya malam-malam begini hanya untuk menjawab rasa penasaranmu? Kenapa tidak menunggu besok pagi saja? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?" tanya Louis. Wajahnya berubah serius.
"Apa maksudmu?" tanya Angel tak memahami.
"Angel, kamu itu seorang gadis. Bagaimana bisa seorang gadis berada di tempat yang sepi tengah malam begini? Bagaimana jika ada orang yang ingin berbuat jahat padamu!? Siapa yang akan menolongmu?" kata Louis dengan suara meninggi.
"Aku tidak memikirkan sampai sejauh itu," ujar Angel.
"Kamu seharusnya berpikir dulu, Angel!" kata Louis.
"Lagipula ada kamu yang melindungiku," balas Angel kehabisan kata-kata untuk membela diri.
"Aku juga tidak bisa selalu melindungimu. Aku tidak selalu bisa ada di dekatmu. Kamu masih ingat kan kejadian di gedung aula dulu. Kamu tidak bisa terus mengandalkan orang lain, Angel. Kamu harus bisa menjaga dirimu dari bahaya," ujar Louis membalas ucapan Angel dengan sengit.
Namun Angel terdiam tak bisa membalas ucapan Louis. Ia hanya terus berjalan meninggalkan Louis. Sambil bergumam di dalam hatinya.
'Kenapa dengan dia? Aku belum pernah melihatnya marah seperti itu.'
Louis pun berdiam diri melihat Angel berjalan menjauh. Ia merasa bersalah telah memarahinya. Di sana Angel merogoh saku piyamanya mencari cerminnya. Sambil terus berjalan menerobos kegelapan. Ia akan pulang sendiri dengan cermin itu. Louis bisa menyusulnya jika kemarahannya surut. Dengan sedikitnya cahaya dan tak memperhatikan jalan di bawahnya, tanpa sengaja Angel tersandung dahan pohon yang patah sehingga membuatnya terjatuh. Angel langsung mengaduh kesakitan.
"Aduh ...."
Suara rintihan Angel terdengar oleh Louis. Dan ia pun segera berlari menghampiri Angel.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Louis cemas.
Angel hanya menggelengkan kepala. Sedangkan kaki dan lututnya terluka. Louis lalu membantunya untuk berdiri.
"Aku akan membawamu pulang dengan cepat," katanya.
Dengan sigap ia mengangkat tubuh Angel. Angel dengan canggung melingkarkan tangannya ke pundak Louis. Louis pun terbang dengan sangat cepat. Tahu-tahunya mereka telah berada di ruang keluarga rumah Angel.
Louis mendudukkan Angel di atas sofa. Kemudian ia masuk ke dalam dapur dan kembali dengan cepat. Sambil membawa baskom berisi air hangat dan wash lap. Kedua kaki Angel yang kotor dimasukkan ke dalam baskom. Luka di kakinya langsung terasa perih terkena air.
"Biar aku yang membersihkannya sendiri," kata Angel mencegah Louis untuk membasuh kakinya.
"Diamlah! Aku akan menyembuhkan lukamu. Kamu duduklah dengan tenang!" suruh Louis yang mulai membersihkan kaki Angel dari kotoran. Angel pun diam menurut hanya memperhatikan.
Dengan lembut Louis mengusap kaki Angel menyingkirkan semua kotoran sisa tanah yang menempal. Kemudian ia menaruh kaki Angel di atas lap kering sementara ia kembali ke dapur mengganti air di dalam baskom yang kotor. Dengan cepat Louis kembali dengan air yang telah bersih. Kembali ia memasukkan kedua kaki Angel ke dalam baskom. Membersihkannya sekali lagi, tak lupa dengan luka dan lecet di kakinya. Setelah benar-benar bersih Louis mengeluarkan kaki Angel dan memindahkannya ke atas lap kering. Kemudian mengeringkannya dengan wash lap. Sampai pada bagian yang luka dan lecet Louis menutupnya dengan wash lap dan memegangnya agak lama. Hingga luka itu sembuh dan hilang dari kaki Angel. Louis melepaskan genggamannya.
"Sudah sembuh!" katanya sambil tersenyum pada Angel.
Angel memperhatikan kedua kakinya yang telah bersih. Dan mencari bagian luka tadi. Benar saja lukanya sudah hilang.
"Terima kasih!" ucap Angel masih dengan perasaan canggung.
Louis menganggukkan kepala. Ia menatap Angel yang duduk di depannya.
"Aku minta maaf soal tadi. Tak semestinya aku memarahimu."
"Tidak apa," balas Angel.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu. Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu! Aku ...," ucapan Louis terhenti. Kalimat yang sangat sulit untuk diucapkannya.
"Sudahlah!" lanjutnya. Ia tak ingin meneruskan ucapannya. Lalu ia bangkit berdiri mengambil baskom serta wash lap membawanya kembali ke dapur. Segera ia kembali dan duduk di samping Angel.
Angel mengembalikan mantel yang ia pakai tadi pada Louis. Suasana masih terasa canggung.
"Apa kamu masih marah?" tanya Angel.
"Tidak! Kenapa harus marah? Sudahlah, lupakan. Bagaimana kalau kamu ceritakan padaku bagaimana sekolahmu hari ini," kata Louis kembali ceria seperti biasanya.
"Kamu seperti mamaku saja," gumam Angel.
Louis tertawa mendengar ucapan Angel dan Angel pun ikut tertawa. Suasana ceria kembali hadir seperti biasanya. Angel juga mulai bercerita tentang kejadian sepulang sekolah.
"Untung tadi siang kamu cepat datang. Aku benar-benar ingin lari rasanya," kata Angel.
"Aku hanya berusaha menjauhkanmu dari Maria," ujar Louis yang berada dekat di samping Angel.
"Tidak masalah jika di mobil hanya ada Lei. Yang membuatku takut justru Maria. Aku berpikir kalau berjauhan saja dia bisa mencelakaiku apalagi kalau aku sangat dekat dengannya. Tadi pagi saja dia menyandung kakiku hingga aku terjatuh saat aku lewat di depannya." Angel berkata mengadu pada Louis.
"Karena itu kamu harus hati-hati dengannya. Sebisa mungkin menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengannya!" Louis menyarankan.
"Iya, aku tahu itu," kata Angel sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
Louis memperhatikannya. Ia nampak lelah. Pandangan Louis lalu mengarah ke arah jam dinding. Hampir tengah malam. Baru saja Louis akan menyuruh Angel untuk tidur rupanya Angel sudah tertidur duluan dengan kepala menyandar sofa.
"Angel, Angel, Sudah tidur?" tanya Louis. Tetapi Angel tidak menjawab. Dia telah tertidur dengan pulas.
"Cepat sekali sudah tertidur. Mungkin ia kelelahan," gumam Louis sambil menggeleng.
Dengan pelan sekali Louis mengangkat tubuh Angel dan membawanya ke kamar tidur. Ia membaringkan tubuh Angel di atas kasur lalu menyelimutinya. Wajah Angel yang tertidur terlihat sangat damai.
"Selamat malam, Angel!" ucap Louis walau tak didengar Angel.
Lalu Louis mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur. Setelah itu baru perlahan ia menghilang dari kamar Angel. Meskipun telah menghilang, sosok aslinya masih berada di situ. Mengamati Angel yang tertidur pulas.
"Aku kira kamu akan mengatakannya tadi!"
Sebuah suara yang tak asing muncul dari belakang. Louis menoleh ke sumber suara. Setelah terdiam beberapa saat ia lalu berkata dengan yakin.
"Aku tidak akan pernah mengatakannya!"
Akhirnya Louis serta malaikat satu itu pun menghilang dari kamar Angel. Namun di tempat lain, ada satu lagi sosok malaikat yang sedang mengawasi.
"Begitu rupanya .... Hm, menarik!" gumam malaikat itu.
^^^To be continued....^^^