
Di lapangan basket nampak kerumunan murid-murid yang sedang menonton tim Marvel bermain basket. Meskipun hanya permainan biasa yang tidak beda jauh dengan latihan. Tapi nampaknya mereka menikmatinya. Termasuk Maria dan Lei yang juga ikut menonton. Sesekali juga terdengar teriakan dari murid perempuan yang memberi semangat kepada dua tim yang bertanding, terutama kepada Marvel.
Dulu Lei pernah mengalahkan Marvel tapi nampaknya Marvel tidak menyimpan dendam padanya. Alasannya karena popularitasnya yang kembali menanjak setelah Lei dimonopoli oleh Maria.
Kedua tim basket menghentikan permainan mereka untuk beristirahat. Marvel dan teman setimnya berjalan menuju tepi lapangan. Ia mengambil botol air mineral dari tas olahraga kemudian menyesapnya hingga air itu tinggal separuh. Marvel mengedarkan pandangan ke sekeliling lapangan kemudian ke arah bangku penonton. Ia menemukan sosok Lei dan juga Maria yang berada sampingnya. Marvel lalu berjalan menghampiri mereka.
"Halo, bro, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu sekarang? Dan ... wow seleramu kali ini sangat berbeda dengan yang kemarin," sapa Marvel sambil memperhatikan Maria dan tersenyum sungging pada Lei.
"Baik saja," jawab Lei sambil mengangkat kedua bahunya menanggapi komentar Marvel tentang Maria.
"Hei, Lei, sebenarnya aku berniat mengajakmu bergabung di tim basket. Kebetulan salah satu anggota kami keluar dan kami butuh orang. Lagipula kau sangat jago bermain basket. Kau tentu masih ingat saat dulu kau mengalahkan ku dengan mudah. Aku hampir tak percaya," kata Marvel pada Lei.
Maria hanya diam mendengarkan percakapan mereka dengan bosan. Matanya mengitari sekeliling lapangan.
"Terima kasih. Tapi maaf aku tidak tertarik dengan basket," tolak Lei dengan senyum ramah.
"Oh, sayang sekali. Padahal kau sangat berbakat. Tapi ... lucu juga ya, kau tidak tertarik dengan basket tapi sangat mahir memainkannya," kata Marvel merasa aneh.
"Aku hanya bermain sesekali saja," ujar Lei berbohong.
"Begitu ... Hm, baiklah kalau kau tidak mau. Tapi jika kau berubah pikiran katakan padaku, aku pasti akan menerimamu," pesan Marvel.
"Tentu," balas Lei.
Kemudian Marvel berjalan meninggalkan Lei kembali bergabung bersama teman-temannya. Dan pertandingan pun dilanjutkan kembali.
Maria dan Lei masih tetap betah menyaksikan pertandingan itu. Meskipun mata Maria nampak terus menjelajahi tiap sudut lapangan sampai ke koridor di depan kelas yang ada di belakangnya.
Saat pandangannya kembali ke koridor, ia melihat Michelle, Angel dan Lucy berdiri di sana sambil berbicara. Ketiganya tak sengaja bertemu dan berhenti sejenak untuk saling menyapa. Pandangan Maria kini terfokus kepada mereka bertiga. Penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, ia coba mempertajam pendengarannya agar bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Angel, akhirnya kamu kembali ke sekolah. Bagaimana kabarmu, sayang? Kemana saja kamu sampai seminggu tidak masuk sekolah? Bahkan tidak ada kabar. Ibu sangat khawatir padamu," ucap Michelle yang mencemaskan Angel.
"Aku baik-baik saja, Bu. Hanya ada sedikit masalah kemarin. Tapi Ibu tenang saja, sekarang sudah beres semuanya," jawab Angel menenangkan Michelle.
"Benarkah?! Memangnya ada masalah apa? Kenapa tidak bicara pada Ibu? Kan Kamu bisa cerita pada Ibu," ujar Michelle sambil membelai rambut Angel penuh kasih.
"Bukan masalah besar koq, Bu. Hanya masalah kecil tidak perlu sampai merepotkan Ibu," balas Angel.
"Apa karena Neville? Ibu juga tidak mengerti dengan anak itu. Ibu juga heran ia bisa tiba-tiba pacaran dengan murid baru itu. Padahal melihat kedekatan kalian sebelumnya Ibu yakin dia menyukaimu," kata Michelle.
Angel dan Lucy saling bertatapan sebentar. Lucy nampak mengerutkan dahi, bingung. Angel hanya tersenyum dan berkata pada Michelle. "Ibu jangan berpikiran tidak-tidak. Bukan karena Lei koq. Mungkin Maria terlihat lebih menarik bagi Lei. Makanya Lei menyukainya."
"Ah, apa menariknya dari gadis seperti itu. Dia malah kelihatan sangat aneh," ujar Michelle mengingat bagaimana penampilan Maria yang menurutnya tak biasa.
"Aneh bagaimana, Bu? Bukannya dia cantik?" kata Angel menurut penilainnya pada Maria.
"Cantik darimana? Matanya sangat menakutkan saat menatap orang. Kulitnya juga terlalu putih sampai membuatnya terlihat sangat pucat, aneh dan tidak normal. Lebih seperti alien albino," komentar Michelle tak sependapat dengan Angel.
Angel hanya diam tak menjawab. Lucy pun hanya jadi pendengar saja. Michelle kembali melanjutkan. "Ya ... itu memang tidak jadi masalah kalau di dunia malaikat. Tapi di dunia manusia itu terlihat sangat aneh. Kamu lihat saja tidak ada manusia yang berpenampilan seperti itu. Sangat tidak wajar, bukan?"
"Ibu, sudahlah. Tidak baik membicarakan orang di belakang. Bagaimanapun itu pilihan Lei sendiri," ucap Angel mengingatkan.
"Ups, iya kamu benar. Ibu hanya merasa sedikit janggal. Baiklah, Ibu harus ke ruang guru dulu. Jaga diri baik-baik, ya!" pamit Michelle.
Angel mengangguk pasti dan Michelle pun pergi meninggalkan Angel dan Lucy. Keduanya pun berjalan kembali menuju kelas. Sedangkan Maria mendengarkan semua pembicaraan mereka dari lapangan basket. Ketidak-sukaannya terhadap Michelle kembali mencuat.
Setelah rencana pertamanya terhadap Lucy gagal. Ia akan menunggu kesempatan kedua jika Lucy kembali mengganggu hubungannya dengan Lei. Dan Angel, Angel tetap menjadi prioritas utama Maria. Maria ingin melihat Angel menderita dulu sebelum benar-benar mengenyahkannya.
Sambil berbicara Angel dan Lucy berjalan menuju ke kelas. Lucy masih penasaran mengapa Michelle juga tahu tentang Neville. Akhirnya ia pun bertanya pada Angel untuk menjawab rasa penasarannya.
"Angel, kenapa Ibu Michelle juga menyebut Lei dengan nama itu?" tanya Lucy.
"Karena Michelle ibunya," jawab Angel spontan.
"Hah!? Yang benar? Maksudmu Ibu Michelle adalah ibunya Lei? Ibu kandung?" seru Lucy kaget dan tak percaya.
"Ssstt .... Pelankan suaramu. Iya. Michelle adalah Ibu kandungnya Neville alias Lei," kata Angel meyakinkan Lucy.
"Ah, Jadi ... Jadi ... Ibu Michelle juga termasuk malaikat?" tanya Lucy lagi dengan suara yang lebih pelan.
"Dulunya iya. Sekarang ia sudah jadi manusia biasa. Seperti kita," jawab Angel.
"Kenapa bisa begitu? Oh, my Goddess, dunia macam apa ini?! Aku benar-benar bisa gila dibuatnya," gumam Lucy syok.
Angel cuma tertawa melihat ekspresinya. Lalu berkata, "Ceritanya panjang. Kalau sempat aku ceritakan. Dan kamu pasti tidak akan percaya."
"Aku pikir tidak usah. Lebih baik aku tidak tahu. Terlalu banyak unsur mistik kurasa. Dan ya ampun ... Aku benar-benar dikelilingi oleh makhluk dongeng," gerutu Lucy tak percaya.
Lucy kemudian membalikkan badan menghadap Angel sambil berjalan mundur, sedangkan Angel berjalan maju. Lucy berkata dengan sedikit menyindir.
"Yah, seandainya saja sekarang aku bertemu seorang pangeran tampan yang bisa membawaku terbang dengan pegasusnya. Aku pasti akan beranggapan bahwa malaikat itu tidak ada apa-apanya."
Tiba-tiba ... "BUGH"
Lucy menabrak seseorang karena tak melihat jalan di depan. Ia menoleh kepada orang yang ditabraknya. Dan orang yang ditabrak pun ikut menoleh.
"Ups," gumam Angel.
"O ... Ouw ...," ucap Lucy saat melihat siapa orang yang ditabraknya tanpa berkedip.
Sementara yang ditabrak hanya tersenyum manis. Angel melihat keduanya saling bertatapan lama. Lucy bahkan sampai tak bergerak. Angel tersenyum semakin lebar. Ia sepertinya mengerti. Tak ingin merusak moment indah Lucy, ia berjalan mengendap-endap meninggalkan Lucy yang bagai tersihir itu tanpa disadarinya.
"Lucy. Helo ...," sapa Jeremy sambil mengibaskan tangan di depan wajah Lucy karena melihat gadis itu tak bergerak.
Spontan Lucy tersadar dan matanya berkedip-kedip setelah sekian detik menatap Jeremy tanpa kedip. Lucy menundukkan wajahnya dan tersenyum malu-malu.
"Kita ketemu lagi. Sendirian saja?" tanya Jeremy ramah.
"Iya, maaf tak sengaja menabrakmu. Aku bersama A ...," Lucy tak meneruskan kalimatnya, karena Angel sudah menghilang saat ia menoleh hendak mengenalkannya.
"Angel?!" lanjut Lucy sambil melihat ke sekeliling. Mungkin Angel bersembunyi di dekat sana, tapi tidak.
Jeremy mengerutkan kening melihat Lucy yang seperti orang kebingungan.
"Oh, sorry. Tadi aku bersama Angel dan kurasa dia sudah pergi. Sebaiknya aku menyusulnya ke kelas," ucap Lucy dengan senyum dipaksa karena sebenarnya masih ingin bicara dengan Jeremy. Kemudian berjalan meninggalkan Jeremy.
"Kamu tidak perlu repot-repot begitu," ujar Lucy tak enak meskipun sebenarnya senang.
"Kebetulan aku juga ingin ke kelas," balas Jeremy.
Lucy kembali tersenyum malu-malu. Ia mencuri pandang ke arah Jeremy. Di saat bersamaan Jeremy juga memandangnya, Lucy cepat-cepat membuang muka. Dan keduanya tersenyum malu-malu tanpa berani saling memandang lagi.
"Lus ...," panggil Jeremy di tengah perjalanan.
"Ya?" jawab Lucy.
"Minggu ini ada acara tidak?" tanya Jeremy pelan.
"Tidak. Kenapa?" jawab Lucy semangat.
"Em ... Aku berencana mengajakmu nonton. Kamu mau tidak?" tanya Jeremy ragu.
"Serius?" tanya Lucy meyakinkan.
"Yap!" kata Jeremy yakin.
"Mau. Mau. Di mana?" ujar Lucy antusias.
"Boleh minta nomor teleponmu? Nanti ku hubungi," kata Jeremy.
"Boleh," Lucy menyetujui.
Begitu sampai di depan kelas Lucy. Ia kembali berkata pada Jeremy.
"Kamu tunggu sebentar. Aku ambil kertas dan pulpen untuk menuliskan nomor telepon ku."
Baru saja Lucy hendak masuk ke kelas, Jeremy langsung menarik tangannya.
"Tunggu! Kenapa tidak kamu ucapkan saja dari tadi? Ingatanku kuat koq!" kata Jeremy.
"Oh. Baiklah," ucap Lucy dan ia pun menyebutkan nomor teleponnya kepada Jeremy.
"Jangan lewatkan satu angka pun!" Lucy mengingatkan.
"Pasti," kata Jeremy seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Oke, masuklah! Tunggu kabar dariku," ujar Jeremy lalu melepaskan pegangannya dari tangan Lucy.
Lucy berjalan ke dalam kelas dan duduk di bangkunya dengan perasaan berbunga-bunga. Ia bahkan lupa pada Angel yang sedang dicarinya tadi. Angel sedang duduk di bangkunya. Ia melihat Lucy yang tersenyum-senyum sendiri dan melupakannya. Angel lalu berjalan menuju bangku Lucy. Berjalan melewatinya seperti pura-pura tak melihat sahabatnya itu sambil berkata mengejek.
"Sepertinya ada yang sudah menemukan Pangeran tampan di sini!"
Lucy tersentak dan melihat Angel berjalan melewatinya. Lucy langsung memanggil, "Angel!"
Ia lalu menarik tangan Angel membawanya ke bangkunya. Angel bersandar pada meja Lucy.
"Oh, Angel, aku mencarimu dan ternyata kamu ada di sini!"
Angel tertawa mengejek sambil berkata, "Ah, masa kamu mencariku? Dari tadi yang aku lihat malah kamu sibuk senyum-senyum sendiri."
Lucy kembali tersenyum malu-malu menyadari Angel memergokinya.
"Jadi, pangeran dengan pegasus sudah tidak perlu lagi, ya?" goda Angel.
"Angel, aku bahkan mendapatkan yang jauh lebih hebat dari pangeran penunggang pegasus itu. Dia adalah Malaikat Penyelamatku!" balas Lucy senang.
"Benarkah? Jadi bagaimana kisahnya? Kamu harus menceritakan semuanya padaku!" kata Angel sambil tersenyum menggoda Lucy.
"Oke. Oke," sahut Lucy dan mulai menceritakan pertemuannya dengan Jeremy pada Angel.
"Awalnya aku tidak sengaja bertemu dengannya. Kami bertabrakan di lorong sekolah saat aku hendak ke kelas. Kamu tahu tidak dia murid baru di kelas sebelah, namanya Jeremy. Pertemuan kedua adalah saat dia menyelamatkan ku dari patahan dahan pohon Walnut yang akan jatuh menimpaku. Kejadiannya hari jumat kemarin di taman bawah. Dari sana kami berkenalan. Dan ini adalah pertemuan tak disengaja yang ketiga kalinya."
"Apa? Kamu hampir tertimpa dahan pohon?" seru Angel kaget.
"Iya. Untungnya Jeremy cepat datang menyelamatkanku. Sehingga dahan itu tidak jatuh menimpaku," terang Lucy.
"Astaga. Apa ada badai di sini?" tanya Angel heran.
"Tidak. Hanya berangin saja," jawab Lucy mengingat kejadian itu.
"Aneh. Hanya angin biasa bagaimana bisa mematahkan dahan pohon yang besar itu?" ujar Angel merasa janggal.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Oya, kamu mau dengar berita baiknya hari ini?" ucap Lucy ceria kembali.
"Apa?" tanya Angel penasaran.
"Jeremy mengajakku nonton minggu ini," jawab Lucy dengan girang.
"Wow ... Apa itu berarti kencan?" tanya Angel menggoda.
"Em ... Menurutmu?" Lucy bertanya balik.
"Maybe! Selamat kalau begitu. Kamu telah menemukan pangeranmu!" kata Angel ikut senang.
Mereka berdua tertawa bersama. Namun di pikiran Angel masih bertanya-tanya tentang kejadian yang hampir menimpa Lucy jumat lalu. Ia merasakan adanya kejanggalan dengan kejadian itu. Tapi ia tidak bisa menceritakannya.
'Seandainya ada Lei aku pasti bisa berdiskusi dengannya,' pikir Angel.
Di waktu bersamaan Lei masuk ke kelas. Saat itu pula pandangan mata Angel dan Lei kembali bertemu. Mereka saling menatap cukup lama. Angel ingat Lei bisa membaca pikirannya. Angel kemudian berkata dalam hatinya.
'Lei, jika kamu bisa mendengarku. Kamu pasti tahu perasaanku. Siapapun orang yang bersamamu. Asal melihatmu baik-baik saja aku sudah cukup senang.'
Kemudian Maria masuk dan langsung menggandeng Lei seolah tak ingin lepas darinya. Angel langsung mengalihkan tatapannya ke luar jendela. Sedangkan Lei, meskipun telah mendengar isi hati Angel tapi tetap tidak mengerti maksud dari pikirannya.
Pikiran Lei kembali gusar. Ia melepaskan tangan Maria yang menggandengnya dan berjalan ke bangkunya. Maria langsung memasang muka cemberut apalagi melihat Angel di seberang tempat duduknya. Angel sepertinya juga tidak suka berada dekat-dekat dengan Maria. Ia kemudian memilih kembali ke bangkunya sebelum Maria sampai di tempat duduk. Sementara Lei duduk diam di bangkunya sambil memikirkan maksud dari ungkapan isi hati Angel barusan.