My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
58# POV Astru - Harus Berpisah



Sejak pertemuan itu kami jadi sangat akrab. Kami sering berkomunikasi lewat telepon. Pada minggu berikutnya aku mengajaknya makan malam dan pergi jalan-jalan. Hari berikutnya lagi kami pergi ke pantai. Aku semakin tahu banyak tentang dirinya. Dia benar-benar wanita yang sangat menarik.


Kami menghabiskan tiap akhir pekan bersama. Pokoknya kami sangat dekat. Memang aku tidak pernah menyatakan perasaan kepadanya, tapi aku tahu dia memiliki perasaan yang sama denganku. Sebenarnya aku sangat ingin jujur padanya, tapi aku takut pada akhirnya akan melukainya. Mengingat siapa aku sesungguhnya. Dan benar saja apa yang aku takutkan selama ini terjadi.


Sudah hampir dua bulan lamanya aku berada di dunia manusia. Meski urusanku di sini sudah selesai, aku tidak ingin cepat-cepat kembali karena masih ingin bersama Eve. Namun Lumina tidak bisa tanpa aku. Aku seorang pemimpin, raja di sana. Rakyatku, kaumku, bawahanku, mereka semua membutuhkanku di sana. Aku sudah terlalu lama meninggalkan tahta, sudah saatnya aku untuk kembali. Akhirnya aku mengajak Eve untuk bertemu. Bagaimanapun aku harus menceritakan hal ini padanya. Walau dengan hati yang berat.


Aku membuat janji bertemu Eve di pantai. Aku tiba sepuluh menit lebih cepat darinya. Dia datang dan langsung tersenyum padaku. Dia nampak sangat senang. Mungkin dia berpikir aku akan mengatakan sesuatu yang akan membuatnya bahagia. Tapi aku tak dapat tersenyum saat itu, karena malam nanti aku sudah harus pergi. Eve cukup peka untuk mengetahui ekspresi wajahku. 


Dengan lembut dia bertanya padaku. "Ada apa, Astru? Tidak biasanya kamu murung begini," tanyanya. Dia masih memamerkan senyum termanisnya saat aku menatapnya.


"Eve, aku harus pergi!" kataku pelan. Berat sekali rasanya. Senyum di wajah Eve langsung hilang.


"Pergi? Ke mana?" tanyanya dengan lebih serius.


"Jauh. Jauh sekali!" jawabku datar.


"Kamu akan kembali, kan?"


"Tidak," jawabku singkat. Sedangkan Eve, dia masih mencoba tersenyum. Meski kebahagiaannya tadi lenyap.


"Eve, dengar ... Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Aku sungguh tidak punya pilihan. Ini sangat sulit dijelaskan," kataku mencoba menjelaskan.


"Kalau keputusanmu seperti itu. Aku tidak keberatan. Lagipula kita kan cuma berteman," ucap Eve sambil tersenyum tipis. Nada bicaranya sedikit aneh saat dia menyebut kata 'berteman'.


"Apa kamu menganggapnya begitu? Eve, dari dulu aku sangat ingin mengatakannya padamu. Tapi aku takut akan melukai dirimu. Kamu tidak tahu siapa sebenarnya diriku!" kataku. Aku mencoba untuk meluruskan.


"Apa sekarang penting untuk mengetahui siapa dirimu? Kamu juga tidak lebih dari manusia biasa," sahut Eve datar.


"Kalau aku katakan aku bukan manusia, apa kamu percaya?" tanyaku dengan serius.


"Jangan main-main, Astru!" kata Eve tak kalah serius.


"Aku tidak main-main, aku serius! Sekarang lihat aku!" pintaku pada Eve. Aku menunggu sampai dia melihat ke arahku. Saat dia mulai melihatku, aku segera merubah diriku dengan cepat ke sosok asliku.


Eve sangat terkejut. Seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depannya. Sosok malaikat dengan pakaian putih bersinar serta sayapnya yang lebar berdiri di depannya. Dia mengerjapkan matanya meyakinkan bahwa ini bukan tipuan.


"Ka ... Ka ... Kamu ...," Eve tak bisa berkata-kata. Namun tangannya menunjuk diriku.


Aku berubah kembali menjadi manusia. "Sekarang kamu percaya?" tanyaku sambil tersenyum padanya.  Memang lebih mudah menunjukkan kebenarannya daripada menjelaskan.


"Benarkah tadi itu ... itu ... kamu?" tanya Eve yang nampak masih sulit untuk percaya.


"Ya. Itulah aku yang sebenarnya," jawabku.


"Kamu ... Seorang malaikat?" tanya Eve dengan suara kecil. Sepertinya masih kurang yakin dengan yang barusan dilihatnya.


"Ya. Aku malaikat. Aku berasal dari Lumina, tempat tinggal malaikat. Dan aku adalah pemimpin mereka. Orang yang paling berkuasa di sana," jawabku. Tapi Eve terdiam. Nampaknya diaa shock.


"Aku datang ke dunia manusia untuk sebuah pekerjaan. Pekerjaanku memang sudah selesai tapi aku enggan kembali karena terpikat senyum seseorang," aku melanjutkan. 


Eve hanya diam saja. Dia bahkan tidak berani menatapku. Aku mendekatinya dan memegang kedua lengannya. Sekarang aku akan mengatakannya.


"Eve, aku mencintaimu! Dari awal kita bertemu, aku sudah merasakan perasaan ini. Tetapi, aku takut mengatakannya padamu. Aku takut akan mengecewakanmu karena aku tahu, aku pasti akan meninggalkanmu. Aku minta maaf, Eve!"


Aku tertunduk di depan Eve. Sungguh aku tak ingin perpisahan seperti ini terjadi. Aku merasakan tangan Eve membelai kepalaku. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. Dia masih bisa tersenyum.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Lagipula kata maafmu juga tidak bisa membuat aku berbalik membencimu. Entah aku harus peduli atau tidak sosok apa kamu sebenarnya, tapi hatiku tidak bisa menyangkal bahwa aku juga mencintaimu," ucap Eve dengan pelan.


Aku langsung memeluknya begitu mendengar pengakuannya. Pelukan hangat yang pertama dan mungkin jadi yang terakhir. Eve juga memelukku dengan begitu erat. Aku sangat terharu. Sesaat Eve melepaskan pelukannya.


"Apa kita tidak akan bertemu lagi?" tanyanya. Ada raut kesedihan di wajahnya.


"Kamu tahu aku tidak suka mengatakan ini. Aku tidak bisa berjanji kita bisa bertemu lagi atau tidak. Eve, aku sangat ingin bersamamu. Tetapi, aku harus meninggalkan tahtaku selamanya dan menjadi manusia biasa, jika aku ingin hidup di sini. Ini pilihan yang sulit untukku. Sementara di sisi lain kaumku membutuhkanku. Aku tidak bisa membawamu ikut bersamaku. Karena manusia tidak boleh tinggal di Lumina. Itu sudah aturannya." Aku menjelaskan dengan hati-hati.


"Astru, jangan bebani dirimu dengan kehadiranku. Aku tidak apa-apa, mereka yang di sana lebih membutuhkanmu. Biarlah aku di sini. Meski kita tidak bersama, tapi kamu dekat di hatiku. Kamu ...." Eve menghentikan ucapannya. Dia menangis.


"Eve, aku sungguh minta maaf!"


Waktuku sudah tidak banyak lagi. Langit sudah kemerahan. Matahari akan terbenam dan dunia akan kembali diselimuti malam. Eve masih berada di dalam pelukanku. Angin bertiup cukup kencang, aku tak ingin Eve sampai sakit. Jadi, aku mengajaknya pulang.


"Eve."


"Kapan kamu pergi?" buru-buru Eve bertanya sebelum aku sempat berkata.


"Malam ini," jawabku.


"Apa secepat itu?" tanyanya. Ia mengangkat kepalanya menatapku dengan wajah memelas.


Aku tak tega melihatnya. Aku hanya menganggukkan kepala. Dia juga diam saja dan hanya terus menatapku. Lagi-lagi aku hanya bisa mengucapkan kata maaf padanya.


"Eve, maafkan aku!" kataku penuh penyesalan.


"Berhentilah meminta maaf. Cinta tidak butuh permintaan maaf!" serunya.


Aku tersenyum padanya. "Aku sangat bahagia dapat bertemu denganmu!"


"Hm ... Aku juga!" Ia menimpali.


Kami terus bertatapan mata. Tanpa ada sepatah kata pun terucap. Perlahan ku dekatkan wajahku ke wajahnya. Lalu ku kecvp bibirnya dengan lembut. Ini seperti ciuman perpisahan saja. Sangat menyedihkan.


Malam terakhir kami berjalan bergandengan tangan. Aku mengantar Eve sampai di rumah. Dia masih enggan untuk masuk ke dalam. Dia hanya diam berdiri di depan pagar. Aku menunggunya masuk dulu sebelum aku pergi. Tapi kemudian ia berlari dan memelukku dengan erat sekali.


"Aku akan sangat merindukanmu!" bisiknya.


"Aku juga. Aku tidak akan melupakanmu!" ucapku yang juga memeluknya erat. Lalu mengecup keningnya. Aku menyuruhnya untuk segera masuk.


"Sekarang masuklah!"


Eve melepaskan pelukannya. Ia berbalik menuju rumahnya. Dia mulai membuka pintu pagar. Dia baru akan masuk saat aku menahannya.


"Tunggu!"


Eve membalikkan wajah menatapku. Kemudian aku berjalan mendekatinya. Aku mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Lalu kuraih tangan Eve dan meletakkan benda itu ke telapak tangannya.


"Kalung?" tanya Eve bingung.


"Itu bukan hanya sebuah kalung. Coba kamu balikkan sisinya!" jawab Astru.


Eve menurut. Saat dia membalikkan kalung itu, ternyata ada cermin di sisi satunya.


"Dan ... sebuah cermin juga?" tanya Eve.


"Ini bukanlah cermin biasa. Cermin ini bisa membawamu ke tempat di mana aku berada. Jika kamu ingin menemuiku, tempelkan jarimu ke atas permukaan bingkai ini, buat gerakan memutar tiga kali, lalu sebutkan namaku, maka cermin ini akan membawamu kepadaku." Aku meraih jari Eve sambil menjelaskan bagaimana menggunakannya.


Eve menatap cermin di tangannya itu. Aku berjalan mundur menjauh darinya. Langit muncul kilatan kilat. Waktu ku benar-benar sudah habis.


"Eve, waktuku sudah habis. Aku harus pergi!" pamitku. 


Perlahan tubuhku mulai memudar menjadi debu dan berbaur dengan angin.


Eve menatapku. Dia masih memanggil namaku.


"Astru ... Astru ..." Dia berlari hendak meraihku namun aku sudah lenyap.


"Astru ..." panggilnya sekali lagi dengan air mata berlinang.