My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
29# Ungkapan Perasaan



Angel sedang membuat sandwich di dapur sedangkan Lucy berada di ruang keluarga menelepon mamanya.


"Halo, Mom, nanti aku pulang telat, ya! Aku sekarang ada di rumah Angel. Mungkin agak sore nanti aku pulang. Oke, Mom. Bye ...."


Klik! Telepon ditutup. Lucy beranjak dari tempat duduknya menuju dapur menemui Angel.


"Apa yang kamu buat?" tanya Lucy.


"Sandwich untuk makan siang kita," jawab Angel.


Tak perlu menunggu lama, empat potong Sandwich pun jadi. Angel menaruhnya di piring dan akan membawanya ke ruang keluarga.


"Selesai. Ayo!" ucap Angel mengajak Lucy duduk di ruang keluarga. Lucy pun mengikutinya.


Angel menaruh piring berisi Sandwich ke atas meja, mengambil satu dan memakannya. Tak lupa juga menawarkannya pada Lucy.


"Ayo, makan!" suruh Angel sambil mengunyah Sandwich-nya.


Lucy pun mengambil sepotong Sandwich dan memakannya. Setelah semua Sandwich di piring habis baru mereka mulai mengeluarkan buku untuk mengerjakan PR sejarah yang dikumpulkan besok. Lucy memberikan salinan soalnya kepada Angel. Dan Angel segera menyalinnya di buku.


Sesaat keduanya saling terdiam. Angel masih serius menyalin soal-soal ke bukunya. Lucy hanya berdiam diri saja. Saat itu ia teringat dengan ucapan Jeremy ketika istirahat tadi. Itu juga tujuan Lucy datang ke rumah Angel siang ini.


Lucy menunggu sampai Angel selesai menyalin semua soalnya baru ia memberitahukan hal ini padanya. Begitu Angel selesai menyalin semua soal ia langsung mengembalikan buku itu pada Lucy. Kini hanya tinggal mencari jawaban dari soal-soal tersebut. Lucy melihat Angel yang sudah selesai langsung berbicara.


"Angel."


"Hm ... Kenapa?" tanya Angel.


"Apa kamu kenal dengan Jeremy?" tanya Lucy tak tahu harus memulai ceritanya dari mana.


"Jeremy? Orang yang kemarin kamu tabrak itu?" tebak Angel mengira-ngira.


"Iya," jawab Lucy singkat.


"Tidak. Bagaimana mungkin aku bisa mengenalinya? Sedangkan baru kemarin aku melihatnya di sekolah," kata Angel terus terang.


"Memangnya kenapa?" lanjut Angel balik bertanya.


"Kamu tahu tidak dia punya cermin yang sama dengan punyamu. Hanya saja punya Jeremy batu permatanya berwarna biru dan bingkainya tidak ada ukiran," jelas Lucy pada Angel.


"Hah? Benarkah? Darimana dia mendapatkan cermin itu? Apa fungsinya juga sama dengan punyaku?" tanya Angel seketika tertarik.


"Entahlah. Dia tidak memberitahuku. Saat jam istirahat tadi aku tak sengaja bertemu dengannya dan melihatnya memegang cermin itu. Dia ingin bicara denganmu! Dan dia berpesan padaku agar kamu mengatur waktu untuk kalian bisa bertemu," kata Lucy menjelaskan.


"Berbicara denganku? Mengenai apa?" tanya Angel bingung karena sepertinya dia tidak punya urusan dengan Jeremy.


"Dia juga tidak memberitahuku. Dia hanya bilang nanti aku juga akan tahu semuanya. Asal aku percaya. Dan dia juga akan mengajak dua temannya lagi untuk membantunya menjelaskan sesuatu hal," ucap Lucy.


"Menjelaskan apa, ya? Aneh sekali. Rasanya aku tidak punya masalah dengannya. Kenal saja tidak," ujar Angel penasaran.


"Aku pikir ini ada kaitannya dengan cermin itu," tebak Lucy.


"Aku juga tidak tahu kalau cermin itu lebih dari satu. Apa mungkin malaikat yang menyamar menjadi manusia juga tidak hanya dua?" pikir Angel.


Lucy hanya mengangkat bahunya tak tahu. Ia lalu berkata, "Kupikir kamu sebaiknya mengikuti rencananya. Dengan begitu baru kita akan tahu apa yang ingin Jeremy dan temannya jelaskan."


"Itu berarti aku harus menentukan waktu yang tepat untuk bertemu mereka?" tanya Angel.


"Ya begitulah!" jawab Lucy.


"Bagaimana kalau hari minggu saja? Suruh mereka datang ke sini," usul Angel.


"Ke rumahmu?" tanya Lucy memastikan.


"Ya, di mana lagi. Lagipula rumahku selalu sepi. Jadi tidak ada yang akan mengganggu," kata Angel.


"Baiklah. Besok akan ku sampaikan pada Jeremy. Bagaimana dengan waktu pertemuannya?" tanya Lucy lagi.


"Kamu tentukan saja. Jam berapa pun aku bisa," jawab Angel memberi kesempatan Lucy menentukan.


"Kalau begitu jam 10 pagi saja. Bagaimana? Agar kita punya banyak waktu untuk bicara," usul Lucy yang lalu disetujui Angel.


Selesai mengatur waktu pertemuan dengan Jeremy. Lucy dan Angel pun kembali dengan tugas mereka. Mereka belajar bersama. Mencari jawaban tiap soal yang diberikan guru. Setelah semua soal selesai dikerjakan barulah Lucy pulang ke rumahnya.


...🍁🍁🍁...


Pagi ini Lucy berjalan sendirian dengan santai di koridor sekolah hendak menuju kelasnya. Ia sampai di kelas tak lama kemudian. Namun Lucy hanya berdiri di depan pintu kelas sedangkan pandangannya menyapu ke dalam ruangan kelas yang sepi. Dia juga tidak melihat kehadiran Angel. Lucy pun meneruskan langkahnya menuju kelas sebelah. Di sana dia juga hanya berdiri di depan pintu kelas sambil melihat ke dalam kelas mencari seseorang yang ingin dia temui. Tapi dia juga tak melihat orang yang dicarinya itu di sana.


"Kamu mencari ku, ya?!" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Lucy.


Lucy langsung menoleh ke belakang. Seperti biasa Jeremy langsung memamerkan senyum termanisnya. Rupanya dia sudah tahu Lucy mencarinya.


"Ya, ampun! Mengagetkan saja!" ucap Lucy mendekap dadanya.


"Sorry! Jadi, benar mencariku?" tanya Jeremy meyakinkan.


Lucy mengangguk mengiyakan. Lucy pun berjalan meninggalkan kelas itu diikuti Jeremy. Mereka menuju taman.


Keduanya duduk di sebuah bangku kosong di bawah pohon Walnut yang mulai bertunas. Sesaat keduanya masih nampak diam. Lucy masih merasa gugup.


"Kamu sudah bicara dengan Angel?" tanya Jeremy memulai pembicaraan.


"Iya. Dia setuju," jawab Lucy sembari menatap ke bawah tak berani melihat Jeremy. Jantungnya mendadak berdetak cepat.


'Aduh, kenapa malah deg-degan seperti ini?' gerutu Lucy dalam hati.


"Kapan?" tanya Jeremy lagi. Sedangkan Jeremy sangat terfokus pada Lucy.


"Hari minggu. Jam 10 pagi di rumah Angel. Kamu bisa ke sana, kan?" tanya Lucy mencoba memberanikan diri menatap Jeremy. Namun langsung menghindar begitu mendapati Jeremy yang terus menatapnya dengan serius.


"Tentu bisa. Tidak masalah. Aku pasti akan datang nanti. Hei ... Tunggu dulu, bukankah minggu ini kita ada janji?! Apa kamu keberatan jika kita membatalkannya?" tanya Jeremy cemas.


"Aku tidak masalah," jawab Lucy.


"Benarkah?! Awalnya aku berencana hendak mengajakmu keluar sabtu ini. Tapi mendadak ada tugas yang harus ku selesaikan. Tapi kamu akan datang ke rumah Angel juga, kan?! Kalian kan teman dekat?" harap Jeremy.


"Iya. Mungkin, aku akan ke sana juga. Kalau aku tidak mengganggu acara kalian ...," kata Lucy sambil mencuri pandang ke Jeremy.


"Oh ... Lus, tentu saja tidak. Aku malah senang jika ada kamu di sana," ucap Jeremy dengan senyum merekah.


Lucy langsung menatap Jeremy. Penasaran apa maksudnya dengan senang.


"Senang ... kenapa?" tanya Lucy.


Jeremy tak langsung menjawab pertanyaannya. Ia hanya menunduk tersenyum. Lalu ia menatap Lucy dengan penuh makna dan tangannya langsung mendekap tangan Lucy dengan erat.


"Kamu tahu kenapa?" tanyanya.


'Oh my Goddess ...,' ucap Lucy dalam hati. Jantungnya berdetak cepat lagi.


Lucy hanya menggeleng tak tahu pada Jeremy. Jeremy kembali tersenyum meski Lucy tak memperhatikannya. Sedang tangannya masih mendekap tangan Lucy. Jeremy kemudian berkata dengan malu-malu.


"Apa sebaiknya aku katakan sekarang saja?"


"Katakan ... apa?" tanya Lucy gugup.


"Lus, apa kamu tahu ... sejak pertama bertemu denganmu, aku merasa ada sesuatu yang tak biasa dengan diriku. Aku jadi suka memikirkan mu. Yah, aku ... Aku tahu ini mungkin terlalu cepat. Kita baru kenal tidak lama. Tapi ... aku benar-benar tidak bisa menahan terlalu lama perasaan ini. Aku sungguh-sungguh ... menyukaimu!" Jeremy mengungkapkan perasaan hatinya.


Mendengar ungkapan perasaan Jeremy membuat Lucy semakin tertunduk. Sebenarnya dia sedang diam-diam tersenyum senang. Sedangkan Jeremy merasa aneh. Karena Lucy tak menggubris pernyataannya bahkan tak berkata apa-apa. Dia lalu melepaskan tangannya dari Lucy. Dan bertanya pada Lucy.


"Lucy, kenapa diam saja? Kamu marah? Aku ... Aku minta maaf kalau kamu ...."


"Apa kamu menembak ku?" tanya Lucy cepat, memotong perkataan Jeremy. Dia sudah bisa mengangkat kepalanya menatap Jeremy.


"Y ... Ya. Tentu saja. Oh, aku mengerti jika kamu menolak ... Itu tidak jadi masalah tenang saja. Aku hanya ingin kamu menjawabnya dengan jujur," kata Jeremy mulai kalang kabut.


Tapi Lucy hanya tersenyum sambil menggoda Jeremy. "Em ... kamu tidak bertanya padaku. Apa aku menyukaimu atau apa aku mau jadi pacarmu? Jadi, bagaimana aku harus menjawabnya?"


Jeremy mengerutkan dahi menatap Lucy. Kemudian memukul dahinya dengan telapak tangan.


"Oh, ya ampun! Baiklah, kalau begitu ...."


Tiba-tiba Jeremy bangkit dari kursi dan berjongkok di hadapan Lucy. Tangannya kemudian meraih kedua tangan Lucy dan memegangnya lembut sedangkan matanya menatap Lucy. Lucy melihatnya dengan bingung. Dengan serius tapi lembut Jeremy mengucapkan kata-kata.


"Lucy, sekarang aku di sini berkata padamu .... Aku, Jeremy sangat menyukaimu! Aku ingin kamu menjadi bagian dari kisah hidupku. Dan bersama melewati tiap lembar halaman special mengisi hari-hariku. Jadi, apa kamu bersedia menjadi belahan jiwaku?"


Wajah Lucy tersipu mendengar ucapan Jeremy. Senyum kembali merekah di bibirnya. Ia mengangguk dengan cepat. Sambil berkata, "Aku bersedia!"


Jeremy langsung bangkit berdiri kemudian melompat penuh semangat.


"Yes!" ucapnya sangat senang.


Ia menunduk di depan Lucy mengecup tangan dan keningnya. Baru kemudian kembali duduk di samping Lucy.


"Thanks, dear!" ucapnya sambil merangkul Lucy.


"Hei, kita di sekolah!" protes Lucy mengingatkan.


"Aku terlalu senang!" ucap Jeremy.


"Bersikaplah seperti biasa. Mulai sekarang aku pasti akan dimusuhi semua gadis di sekolah ini," kata Lucy pada Jeremy.


"Tenanglah. Mereka tidak punya hak mengganggu kita," sahut Jeremy.


Keduanya saling berpandangan dengan senyum menghiasi wajah.


Angel berjalan menuju kelas. Namun langkahnya terhenti begitu sampai di depan pintu kelas. Di dalam kelas ia melihat Lei dan Maria yang sedang bercanda. Maria duduk menghadap Lei di atas meja sedangkan Lei berdiri di samping jendela bangkunya.


Angel mengalihkan pandangan ke bangku Lucy yang masih kosong. Dia pun jadi tak berniat masuk ke kelas. Wajahnya menjadi murung. Dia membalikkan badan dan memilih jalan-jalan saja sampai bel masuk berbunyi.


Kalau biasanya Angel lebih suka menghabiskan waktu sendiri di atap sekolah, kini ia malah memilih ke tempat yang lebih ramai. Pergi ke atap sekolah yang sepi hanya membuatnya ingin menangis. Padahal dia sudah mulai kembali ceria. Dia pun pergi ke taman sekolah. Mungkin Lei akan melihatnya dari atas kelasnya sana tapi tak jadi masalah karena Angel tak akan berhadapan langsung dengannya.


Akhirnya Angel sampai di taman. Suasana di sini memang lebih baik untuk mengembalikan semangatnya yang sempat hilang. Angel terus berjalan-jalan sambil memperhatikan sekeliling. Sampai ketika matanya menangkap seseorang yang ia kenal berada tak jauh di depan sana.


Angel melihat Lucy dan Jeremy duduk di bangku di bawah pohon Walnut. Keduanya nampak sangat dekat dengan rona bahagia terpancar di wajah keduanya. Angel pun tak ingin menggangu kebersamaan mereka. Ia membalikkan badan dan berjalan pergi.


"Hah ...." Angel mendesah. Dia merasa hari ini dirinya benar-benar sendirian. Tak tahu ingin ke mana, dengan lesu ia berjalan menuju gerbang sekolah.


Sesampai di depan gerbang ia berhenti. Kepalanya menoleh ke belakang menatap gedung sekolahnya. Setelah menarik nafas sebentar ia melanjutkan langkahnya kembali. Berjalan keluar dari gerbang. Tapi baru jalan dua langkah terdengar suara seseorang memanggilnya dari belakang.


"Mau bolos lagi, ya?" tanyanya.


Angel langsung menoleh. Di sana Louis berdiri sambil bersandar di tembok pagar sekolah dengan tangan terpangku menatap Angel.



"Kalau begitu mengapa keluar dari sekolah?" tanya Louis yang berjalan mendekat.


"Aku hanya sedang jalan-jalan sebentar sambil menunggu waktu masuk," jawab Angel beralasan.


"Hm, begitu ... Ayo, ikut aku!" ajak Louis yang berjalan mendahului Angel.


"Ke mana?" tanya Angel penasaran.


"Ke tempat seharusnya kau berada," jawab Louis misterius.


Tanpa banyak bertanya Angel pun mengikutinya. Mereka berjalan memutar membelakangi sekolah. Menuju ke area luar belakang sekolah yang masih merupakan hutan dengan pepohonan yang lebat. Gedung sekolah ini memang cukup luas. Area ini sendiri jarang didatangi baik oleh murid-murid sekolah maupun warga yang tinggal di sana. Selain masih hutan, area ini juga masih dimiliki pihak sekolah. Meskipun masih hutan tapi tak ada yang tahu di sini juga ada jalan masuk menuju sekolah. Karena pagar hanya melindungi bagian luar sekolah saja dan terputus sampai di hutan.


Pepohonan tinggi serta tanah yang lembab mulai terlihat di depan. Louis masih tetap berjalan di depan menuntun Angel yang mengikutinya di belakang. Angel mulai merasa was-was mengapa Louis membawanya ke hutan. Apalagi dia tidak pernah datang ke sini, tempat ini sangat asing baginya.


"Louis, kamu mau membawaku ke mana?" tanya Angel curiga.


"Ikut saja! Nanti kau juga tahu," jawab Louis santai.


Angel kembali diam dan mengikuti. Pandangannya terus melirik ke sekeliling hutan yang sepi. Benar-benar sepi dan sunyi. Yang terdengar hanya kicauan burung di kejauhan.


Setelah berjalan beberapa meter ke dalam hutan, baru nampak sebuah jalan setapak di depan. Mereka melewati jalan itu. Angel masih penasaran ke mana Louis membawanya.


"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Angel lagi mulai tak tenang.


"Sebentar lagi. Tenanglah!" jawab Louis.


"Sepertinya hari ini aku benar-benar akan bolos," ujar Angel.


Louis yang mendengarkan hanya tersenyum sambil terus berjalan. Berjalan semakin ke dalam pepohonan semakin jarang. Dan terus berjalan lagi ke dalam beberapa meter baru mulai terlihat kembali gedung sekolah yang dicat berwarna putih. Karena tertutup pepohonan di depan sana jadi gedung sekolah hanya nampak samar-samar saja. Tapi Angel bisa memastikan itu memang sekolahnya.


"Loh, di sana itu bukannya gedung sekolahku?" seru Angel menunjuk kedepan.


"Memang," sahut Louis santai.


Angel memandang Louis tak percaya. Saking penasarannya ia pun berjalan mendahului Louis untuk segera sampai di sana. Dengan setengah berlari Angel mengikuti arah jalan setapak. Pepohonan mulai terlihat lebat lagi. Dan di depan terlihat deretan pohon Walnut yang tak asing bagi dirinya. Jalan setapak terputus dua puluh meter dari deretan pohon Walnut. Angel kembali menerobos hutan dengan tanah yang lembab. Tak butuh waktu lama Angel telah sampai di deretan pohon Walnut. Di balik pohon Walnut itulah sekolah Angel. Dan hutan ini menjadi penghubung jalan masuk ke taman sekolah.


Angel muncul dari pohon Walnut. Benar dia sekarang ada di taman sekolah. Suasana taman sangat sepi. Lucy dan Jeremy yang tadi duduk di salah satu bangku di bawah pohon juga sudah tidak kelihatan. Louis muncul di belakang dan berdiri di bawah naungan pohon Walnut.


"Cepatlah masuk! Kau sudah terlambat!" seru Louis mengingatkan.


"Oh, astaga! Pantas saja sepi sekali!" ujar Angel.


"Louis, aku masuk dulu, ya! Terima kasih telah mengajakku jalan-jalan. Lain kali kamu harus menjelaskan hal ini padaku," lanjut Angel hendak pergi. Tapi Louis memanggilnya lagi.


"Angel, tunggu!" panggil Louis. Dengan cepat Louis berjalan menghampiri Angel dan memberikan setangkai bunga padanya. "Untukmu!"


"Edelweis?! Darimana kamu mendapatkannya?" tanya Angel setelah memperhatikan jenis bunga tersebut. Dia sangat hapal dengan salah satu bentuk bunga kesukaannya ini.


"Aku menemukannya di hutan tadi," jawab Louis asal.


"Di hutan? Perasaan aku tak melihat ada satu bunga pun tumbuh di sana," kata Angel merasa aneh.


"Kamu tidak perhatikan. Sudah sana cepat masuk! Aku pergi dulu. Bye!" kata Louis langsung berjalan ke balik pohon Walnut meninggalkan Angel yang masih terbengong.


"Aneh sekali! Aku benar-benar tidak lihat ada bunga yang tumbuh di hutan," ucap Angel pada dirinya sendiri. Merasa aneh.


Tapi ia segera menyingkirkan pikiran itu dan dengan cepat berlari menuju kelasnya sambil memasukkan bunga ke dalam tas. Ia benar-benar sudah terlambat.


Saat sampai di kelas teman-temannya sudah mulai belajar. Beruntung Guru satu ini tidak menghukumnya karena datang terlambat. Malah menyuruhnya untuk segera masuk mengikuti pelajaran. Angel pun masuk ke kelas diikuti pandangan tanda tanya dari Lucy. Sedang Maria dan Lei juga menatapnya dengan aneh.


Bel istirahat berbunyi. Guru menyudahi pelajaran dan meninggalkan kelas. Beberapa murid juga langsung meninggalkan kelas. Angel masih duduk di bangkunya dengan buku berserakan di atas meja sambil menatap sekuntum Edelweis berwarna putih yang tergeletak di atas buku tulis. Lucy menghampirinya dan duduk berhadapan di depan kursi yang kosong di tinggal pemiliknya. Ia menatap Angel bingung kemudian beralih ke Edelweis yang ada di atas buku tulis.


"Apa ada yang salah?" tanya Lucy hati-hati.


Angel hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan tatapannya masih tak lepas dari bunga itu.


"Terus, kenapa dengan bunga itu? Bukankah hari ini tidak ada tugas membawa tanaman?" kata Lucy.


Angel menatap Lucy. "Seseorang memberikannya padaku!"


"Wah, kamu punya penggemar! Bukankah itu bagus?! Kamu tahu siapa orangnya?" tanya Lucy antusias.


"Louis!" jawab Angel.


"Louis? Yang kemarin di gerbang itu?! Dia cukup tampan! Apa dia menyatakan perasaannya padamu?" tanya Lucy.


"Tidak!" jawab Angel singkat.


"Kalau tidak, lantas apa yang membuatmu begitu banyak pikiran?" tanya Lucy lagi.


"Aku hanya merasa aneh ...," jawab Angel.


Lucy baru akan hendak bertanya lagi tetapi suara Maria yang lantang berbicara pada Lei mengurungkan niatnya.


"Sayang, mengapa kau tidak pernah memberiku sebuket bunga sebagai tanda cinta? Coba kau lihat, Angel saja mendapat setangkai bunga dari pacarnya," sindir Maria dengan tatapan sinis pada Angel.


Mendengar ucapan Maria yang tak benar Angel pun hendak berdiri untuk menyanggah tuduhannya. Namun Lucy menahan tangan Angel untuk mencegahnya. Sambil menggeleng kepada Angel. Lei hanya diam mendengarkan. Ia merasakan kekesalan yang tak dimengerti begitu mendengar kalimat Maria yang terakhir mengenai "pacarnya". Dia benar-benar tak suka mengetahui Angel punya pacar.


"Lei, kenapa diam saja? Kamu akan memberiku bunga yang lebih indah daripada yang itu kan?!" lanjut Maria dengan mata mengarah ke Angel.


Angel hanya memandangnya dengan tajam dan marah. Lucy masih menahan tangannya. Maria bahkan tak merasa takut sama sekali. Ia malah balas menantang tatapan Angel.


"Bisakah kau diam? Kamu ini berisik sekali!" ucap Lei dengan ketus pada Maria kemudian langsung pergi meninggalkannya.


Maria menatap Lei tak percaya. Lei bisa marah begitu padanya. Ia pun segera mengejarnya.


"Lei, tunggu! Kau mau ke mana?" teriak Maria menyusul Lei. Sebelumnya ia masih sempat melotot pada Angel. Sambil mengumpat dalam hati.


'Awas saja kau! Tunggu pembalasanku nanti!'


Perlahan Lucy pun melepaskan pegangan tangannya pada Angel.


"Menyebalkan sekali perempuan itu! Apa sih maunya?" gerutu Angel emosi.


"Tenanglah! Kamu tidak perlu marah seperti itu. Biarkan saja dia mau berbuat apa," ucap Lucy menenangkan.


"Semakin dibiarkan malah semakin bertingkah. Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan jadi kenapa masih memusuhiku?" ujar Angel.


"Mungkin dia ingin melihat reaksimu. Apa kamu terpancing omongannya atau tidak. Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Kamu tidak perlu marah. Biar Lei saja yang marah untukmu," ucap Lucy sambil tersenyum menenangkan.


"Aku malah tidak yakin dia masih ingat padaku," kata Angel sinis.


"Mungkin masih. Memangnya ada sesuatu yang bisa membuatnya melupakanmu?!" tanya Lucy bingung.


"Entahlah. Aku hanya berpikir ada sesuatu yang tidak benar Aku masih tidak percaya dia tiba-tiba berubah," jawab Angel serius.


"Ya. Aku juga merasa aneh. Tapi kurasa kita akan tahu dengan penjelasan Jeremy nanti. Aku yakin dia menyimpan sesuatu hal yang ingin kita tahu," kata Lucy.


"Bagaimana kamu yakin?" tanya Angel ragu.


"Kamu ingat dia punya cermin hexagram. Aku memang tidak tahu darimana dia mendapatkannya dan apa kegunaannya, aku juga tidak tahu dia manusia atau jelmaan malaikat. Tapi aku yakin dia akan menjelaskan semuanya pada kita nanti. Mungkin saja pertanyaan mu nanti bisa terjawab juga olehnya. Ingat, dia tidak datang sendiri. Dia bilang akan membawa dua temannya dan kita tidak tahu siapa yang akan dia bawa," jelas Lucy.


"Ya, betul juga. Aku tidak sabar menunggu sampai waktu itu tiba," ujar Angel antusias.


"He em. Ah, aku baru ingat tadi mau bilang ... bunga Edelweis ini bukannya tumbuh di daerah pegunungan? Bagaimana Louis bisa mendapatkannya? Di daerah ini kan tidak ada gunung," kata Lucy.


"Itulah yang membuatku merasa aneh," jawab Angel.


"Tapi dia manis juga. Bisa memikirkan untuk memberimu bunga Edelweis. Ini kan termasuk bunga yang langka. Apa jangan-jangan dia memiliki maksud lain padamu?" ujar Lucy.


"Maksud apanya? Jangan mengada-ada," protes Angel.


"Hahaha ... Siapa tahu. Mau ke kantin?" tanya Lucy mengakhiri topik tentang bunga.


"Tidak. Kamu pergilah!" jawab Angel.


"Kalau kau tidak mau, aku juga tidak jadi pergi," kata Lucy.


Di luar sana seorang malaikat sedang mengawasi mereka dari balik jendela. Saat itu pula muncul satu malaikat lain dari belakang.


"Oh ... Aku tidak tahu kamu bisa semanis itu," seru malaikat yang datang tiba-tiba itu.


"Nona Anne?!" ucap Louis kaget.


"Louis, aku tidak keberatan kamu mau menyukai siapa, bahkan iblis sekalipun, aku tidak akan melarang. Tapi, kamu tahu bagaimana akhir kisahnya jika kamu menyukai dia, kan?!" tanya Annabelle.


Louis hanya terdiam dan pandangannya lurus menatap dua gadis yang sedari tadi ia perhatikan.


"Kamu tahu jawabannya, Louis. Namun keputusan tetap di tanganmu. Aku hanya mengingatkan!" ucap Annabelle lagi.


Louis masih tetap terdiam. Tak berani menyanggah ucapan Annabelle. Ia hanya tersenyum kecil dan bertanya pada Annabelle tentang hal lain.


"Nona, apa tidak menjadi masalah jika Nona sering berkeliaran di dunia manusia?" tanya Louis menoleh pada Annabelle.


"Aku sekarang bebas. Kamu kan tahu tugasku sebelumnya membawa Neville kembali. Tapi Mary mengacaukannya dan malah melakukan hal yang lebih parah. Jadi aku diberhentikan dari tugas itu dan Yang Mulia memberiku kebebasan selama aku tidak membuat masalah. Malah aku jadi harus ikut mengawasi adikku yang nakal itu," jawab Annabelle santai.


Louis kembali tersenyum dan berkata, "Nona, minggu ini Jeremy mengadakan pertemuan di rumah Angel. Kita berdua akan ikut. Dan kita bertiga akan menjelaskan semua yang terjadi di sana!"


"Hm ... Aku sudah tahu. Aku bisa menebak pikiran Jeremy. Cepat atau lambat dia pasti akan berbicara pada kedua gadis itu," ujar Annabelle sambil menyunggingkan senyum.


"Kita benar-benar akan melibatkan mereka berdua?" tanya Louis sedang tatapannya mengarah kepada dua gadis yang berada di balik jendela.


"Mereka sudah tahu. Tidak ada yang harus ditutupi lagi. Kita hanya meluruskan masalahnya. Kamu tahu kan masalah utamanya? Angel harus menyadarkan Neville supaya Mary bisa kembali ke Lumina. Meskipun hukuman sudah menantinya di sana," kata Annabelle.


"Ya. Nona Mary pasti akan mendapat hukuman atas perbuatannya. Maaf, aku berkata begitu tentang Nona Mary," timpal Louis.


"Tidak apa-apa. Dia memang pantas dihukum atas perbuatannya. Louis, aku tidak bermaksud untuk ...."


"Nona Anne. Aku mengerti. Aku tidak akan melakukan sesuatu hal yang akan membuat diriku terluka. Percayalah!" kata Louis memotong ucapan Annabelle.


"Aku seharusnya tidak mengutusmu untuk tugas ini," ucap Annabelle menyesal.


"Aku tidak apa-apa. Ini pengalaman baru untukku! Aku suka. Sangat keren!" balas Louis tersenyum lebar.


"Aku tidak merasa hal ini keren. Ini sangat melelahkan. Lebih lelah daripada menangkap sepuluh buronan sekaligus," ujar Annabelle tak sependapat.


"Apa ini karena Nona Mary?" tanya Louis.


"Bukan," jawab Annabelle.


Setelah berkata demikian Annabelle menghilang. Louis kembali menatap kedua gadis di balik jendela. Tapi tatapannya lebih terfokus pada Angel. Tak lama kemudian dia juga menghilang dari sana.