
Seorang wanita tua yang berusia sekitar 60an, berdiri dibalik pintu memperhatikan Annabelle dengan seksama. Annabelle menunjukkan senyum ramah dan rasa hormat dengan membungkuk kecil.
"Anda siapa ?" tanya Mourice heran.
"Maaf, apakah anda Nenek Mourice?" tanya Annabelle dengan sopan.
"Benar. Itu aku. Lantas ... Nona ini siapa?" tanya Mourice balik.
"Namaku Annabelle. Bolehkah aku masuk? Ada hal yang ingin kutanyakan kepada anda," tanya Annabelle ramah.
Mourice memandang Annabelle dengan penuh selidik. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia tidak yakin apakah akan mengijinkan malaikat yang satu ini masuk. Karena merasa tak mengenalnya. Annabelle yang merasa diperhatikan sepertinya mengerti. Dia pun berusaha meyakinkan Mourice bahwa dirinya tidak memiliki niat jahat.
"Nenek, tenang saja. Aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin bicara dengan Nenek. Melihat kondisi di luar sedang tidak aman, jadi mungkin lebih baik kalau kita bicara di dalam saja," jelas Annabelle bersungguh-sungguh.
Mendengar ucapan Annabelle yang penuh kesungguhan, akhirnya Mourice pun membukakan pintu baginya. Dia mengijinkan Annabelle untuk masuk ke dalam. Tetapi Mourice tidak membawanya masuk ke dalam istana. Dia membawanya ke taman di samping istana yang dipenuhi oleh bunga yang bermekaran. Mourice mengajaknya duduk di gazebo yang ada di taman itu agar mereka bisa duduk dan bicara.
"Ada hal apa yang ingin Nona bicarakan? Dan darimana Nona ini datang?" tanya Mourice memulai pembicaraan.
"Panggil saja aku Anne. Aku datang dari Lumina ...."
Mendengar kata Lumina, sontak saja Mourice berdiri dan langsung memotong ucapan Annabelle dengan ketus.
"Apa? Kau dari Lumina? Jangan-jangan kau ini mata-mata yang sedang mencari Pierre! Aku beri tahu, ya! Pierre tidak ada di sini. Jika tujuanmu untuk menangkapnya sebaiknya kau pergi saja! Karena usahamu sia-sia. Pierre sama sekali tidak datang ke sini!"
"Tidak, tidak. Bukan itu maksud kedatangan ku. Nenek, tolong dengar dulu penjelasan ku! Kedatanganku kemari sama sekali bukan untuk mencari keberadaan Tuan Pierre. Aku juga bukan mata-mata seperti yang Nenek katakan. Aku datang kemari hanya untuk mengetahui cerita sebenarnya tentang Tuan Pierre. Mengapa dia bisa sampai dikurung di dalam penjara kegelapan? Dan siapa itu Michelle?" dengan cepat Annabelle menjelaskan.
"Michelle ... salah satu dari kalian. Bagaimana mungkin kau tidak mengenalnya?" singgung Mourice.
"Aku sungguh tidak mengenalinya. Dan akupun baru mendengar cerita ini dari Yang Mulia Astru, saat Tuan Pierre diketahui melarikan diri. Nenek, tolong ceritakan padaku!" pinta Annabelle.
Mourice terdiam beberapa saat. Setelah menarik nafas panjang. Ia mengangkat kakinya, berjalan menyusuri lorong istana. Annabelle yang bingung hanya mengikutinya tanpa berkata. Dia berharap Mourice akan menceritakannya. Akhirnya dalam perjalanan Mourice memulai ceritanya.
[Baca bab 10# Kisah Pierre dan Michelle]
Selesainya cerita Mourice membawa mereka sampai di depan sebuah pintu yang tertutup. Pintu berwarna putih gading yang cukup besar. Mourice membuka pelan pintu tersebut. Kemudian melangkah masuk ke dalam. Annabelle masih mengikuti di belakang.
Nuansa klasik terasa sekali di ruangan yang cukup besar ini. Banyak lukisan-lukisan tergantung rapi di dinding, ada pula yang diletakkan begitu saja. Annabelle menangkap sesuatu yang menarik baginya. Yaitu sebuah lukisan keluarga berukuran cukup besar yang tergantung di tengah ruangan. Annabelle mendekati lukisan tersebut untuk melihat dengan lebih jelas wajah-wajah yang tergambar di dalamnya. Kemudian ia tersentak melihat wajah seorang wanita di lukisan tersebut. Sementara Mourice hanya diam menatap lukisan itu dengan penuh kerinduan.
"Hanya inilah yang tersisa. Satu-satunya harta yang tersimpan di istana ini. Mereka nampak sangat bahagia. Pierre, Michelle dan putranya yang masih kecil. Dulu saat Pierre masih ada ... ruangan ini tidak pernah sepi," kenang Mourice sambil terus menatap lukisan itu.
"Nenek, benarkah wanita di lukisan ini adalah Nyonya Michelle?" tanya Annabelle memastikan.
"Nenek, aku tahu wanita ini. Baru kemarin aku bertemu dengannya. Jika benar dia adalah Michelle yang sama dengan yang di lukisan ini," ujar Annabelle.
"Bagaimana mungkin kau bertemu dengannya? Selama ini tak ada satupun malaikat yang pernah melihatnya," balas Mourice tak percaya.
"Aku bertemu dengannya di dunia manusia. Wanita itu memiliki wajah yang sama persis dengan Nyonya Michelle yang ada di lukisan ini. Dia menjadi guru di sebuah sekolah swasta," jelas Annabelle yang kemudian beralih ke lukisan seorang pemuda yang wajahnya tidak asing.
"Lalu ... mengapa ada lukisan Neville juga di sini?" tanya Annabelle heran.
"Kau kenal dengan Neville? Dia adalah putra dari Pierre dan Michelle. Tapi, sayang sekarang aku pun sudah kehilangan dia," jawab Mourice sedih.
"Maksud Nenek kehilangan bagaimana?" tanya Annabelle bingung.
"Dia telah pergi meninggalkan Obscur. Tanpa aku ketahui dia berhasil menemukan ruang penyimpanan cermin. Di sana tersimpan sebuah cermin Hexagram yang merupakan pintu menuju dunia lain. Tanpa sengaja Neville menemukannya. Malam itu bulan sedang penuh, ketika bulan penuh cermin itu memancarkan energi yang lebih kuat sehingga Neville terhisap ke dalam cermin itu. Sekarang aku tidak tahu dia berakhir di mana," jelas Mourice sambil menggelengkan kepalanya mengingat ketika dirinya menemukan pintu ruang penyimpanan cermin terbuka, sementara kain yang menutupi cermin itu jatuh ke lantai.
Annabelle mendekati Mourice dan mengusap-usap punggungnya untuk menenangkannya. Ia lalu berkata, "Nenek, tidak perlu cemas! Aku tahu di mana Neville berada. Dia ada di dunia manusia dan berada di sekolah yang sama dengan tempat ibunya bekerja. Aku bisa pastikan Neville masih murni malaikat jadi dia masih bisa kembali kapan saja."
"Bagaimana kau yakin? Bagaimana kau tahu mereka adalah Neville dan Michelle-ku yang hilang?" tanya Mourice ragu.
"Aku sering ke dunia manusia dan berteman dengan beberapa dari mereka. Jadi aku tahu, tapi untuk mengetahui apakah Michelle yang kumaksud sama atau tidak dengan Nyonya Michelle di lukisan ini ... aku harus memastikannya dulu. Meskipun kurang yakin, aku merasa mereka orang yang sama," kata Annabelle.
"Anne, jika benar itu adalah Michelle, tolong sampaikan rinduku padanya. Begitupun dengan Neville. Aku berharap jika memungkinkan agar mereka bisa kembali menemuiku di sini. Aku sangat merindukan mereka," pesan Mourice penuh harap.
"Pasti akan kusampaikan pesan Nenek. Ah, sepertinya sudah waktunya aku pergi. Terima kasih, Nenek telah bersedia menceritakan semuanya padaku! Aku janji akan datang lagi setelah memastikan bahwa orang yang kumaksud adalah Michelle yang sama. Nenek tidak keberatan bukan aku datang lagi?" tanya Annabelle lembut.
"Tidak. Nenek malah senang, sudah lama sekali tidak ada yang datang kemari. Nenek jadi ada teman bicara," kata Mourice senang.
"Nenek jaga diri baik-baik, ya! Aku pamit dulu!" ucap Annabelle.
Ia lalu memeluk Mourice dengan erat. Mourice mengantarnya sampai di depan pintu gerbang. Setelah berpamitan Annabelle pun pergi.
Sekarang rasa penasarannya sudah sepenuhnya terjawab. Tapi dia masih harus memastikan satu hal. Annabelle pun dengan cepat kembali ke dunia manusia.
...🍁🍁🍁...
Ketika matahari menyisakan rona jingga kemerahan. Di sudut jalan kota yang masih ramai orang berlalu-lalang, nampak seorang pria asing berjalan tertatih-tatih. Pakaiannya sangat aneh dan kumal, bahkan terlihat sobekan di bagian belakang punggung. Rambutnya acak-acakkan dengan jenggot yang tumbuh tak beraturan menutupi wajah. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya, pria tersebut terus menyeret langkah kakinya. Berjalan menjauh dari Danau Venuee yang tak jauh dari kota. Meskipun tanpa arah tujuan dan tak tahu akan kemana. Namun pria itu tidak peduli. Yang ada di pikirannya hanyalah pergi sejauh-jauhnya dari danau tersebut.
Malam sudah larut. Tanpa sadar pria asing itu sampai di sebuah jalan komplek perumahan. Jalan yang tidak selebar jalan raya dan banyak tikungan. Pria itu mulai kelelahan. Sedangkan dari kemarin tak satupun makanan yang masuk ke dalam perut membuatnya begitu kelaparan. Bahkan tenaga untuk terus melangkah pun sudah habis. Karena tak mampu berjalan lagi, akhirnya pria itu pun jatuh pingsan di pinggiran jalan yang sepi.