My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
38# Pertemuan Yang Mengharukan



Setelah Michelle menerima telepon dari Angel. Dengan segera dirinya bersiap dan langsung berangkat menuju ke rumah Angel. Seperti yang ia janjikan, pas setengah jam ia sampai di depan rumah Angel. Ia langsung memencet bel. Tidak lama pintu terbuka dan Angel muncul di balik pintu.


Tanpa basa-basi Michelle langsung melontarkan pertanyaan padanya. "Angel, ada apa?"


Saat itu Lucy muncul dari dalam rumah. Pandangan Michelle beralih kepada Lucy. Dan menatap kedua gadis itu dengan bingung. Sementara kedua gadis yang ditatap hanya saling memandang.


"Hei, ada apa, sih? Angel, Lucy, apa yang terjadi?" tanya Michelle yang mulai kalut.


"Kami perlu bantuan Ibu!" jawab Angel akhirnya.


"Bantuan apa?" tanya Michelle. Kekalutannya sedikit berkurang.


"Ayo, Bu, masuk dulu! Akan ku jelaskan di dalam!" ajak Angel.


Michelle pun mengikuti Angel masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga. Sedangkan Lucy kebagian menutup pintu.


Di ruang keluarga Peter terduduk dengan gelisah. Langkah kaki mulai terdengar mendekat. Angel sampai di ruang keluarga diikuti Michelle di belakang dan juga Lucy. Peter langsung menatap ke arah Angel dan tamunya. Begitupun Michelle yang langsung menangkap sosok Peter di sana. Namun begitu melihat sorot mata Peter dengan jelas, dia terkejut. Saking terkejutnya sampai tak sadar tas jinjing yang dibawanya terjatuh dari tangannya.


Michelle menatap Peter sampai tak bergerak. Seolah tak percaya dengan sosok yang ada di depannya. Sementara Peter pun tak kalah kaget begitu melihat Michelle dengan jelas. Lama keduanya saling menatap dalam diam.


Angel dan Lucy kembali saling memandang tidak mengerti melihat sikap keduanya yang berubah menjadi patung. Dengan hati-hati Angel memanggil Michelle.


"Ibu Michelle ... Ibu, baik-baik saja?"


Suara Angel akhirnya menyadarkan Michelle. Ia terlonjak dan menatap Angel masih dengan pandangan tak percaya. Kemudian beralih menatap Peter.


"Oh, Goddess ... Benarkah itu dirimu?" lirih Michelle sambil mendekat ke arah Peter. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Pierre ...," panggil Michelle lirih.


Michelle telah berada tepat di depan Peter yang ia panggil Pierre. Memegang wajah Peter dengan kedua tangan yang gemetar. Memastikan sosok yang ada di depannya ini benar-benar nyata. Mata Peter pun ikut berkaca-kaca. Sambil tersenyum dan mengangguk pelan mengusap pipi Michelle. Mereka lalu berpelukan erat dan tangis haru pun pecah di antara keduanya.


"Pierre?!" ucap Angel mendengar Michelle menyebut Peter barusan.


Lucy yang tak mengerti pun bertanya. Dengan suara kecil ia berbisik. "Siapa itu Pierre?"


"Suami dari Ibu Michelle. Papanya Lei ...," jawab Angel teringat dengan cerita Neville dulu.


"What?!" seru Lucy ikut kaget.


"Bukankah tadi dia bilang namanya Peter? Mana yang benar?" protesnya lagi setengah berbisik.


"Ssstt ... Kamu bisa bertanya nanti. Biarkan mereka berdua dulu. Ayo, pergi!" ajak Angel sambil berjalan ke ruang tamu diikuti Lucy. Ia sepertinya mengerti dan tak ingin mengganggu kebersamaan Michelle dan Peter.


Angel membiarkan pintu depan terbuka sedikit agar udara bisa masuk. Kemudian ia duduk di atas sofa menyandarkan diri. Lucy duduk di sampingnya. Raut wajah Angel nampak murung. Melihat ekspresi wajah Angel yang mendadak murung, Lucy mengusap pundaknya dengan lembut. Dengan penuh perhatian ia bertanya, "Kamu merindukan Lei? "


Angel spontan menoleh dan bertanya balik, "Mengapa kamu bertanya demikian?"


"Aku lihat k8au menjadi murung. Kukira kamu merindukannya. Melihat kedua orang tuanya yang akhirnya kembali bertemu. Apa kamu tidak berharap bisa kembali seperti dulu lagi dengannya?" jawab Lucy.


"Aku teringat papa! Seandainya mama dan papa bisa kembali seperti dulu. Sayangnya, itu tidak mungkin," ujar Angel sambil menggelengkan kepalanya.


Lucy kembali mengusap pundak Angel mencoba menenangkannya. Karena ia tak tahu apa yang harus ia katakan kepada Angel jika masalahnya mengenai orang tuanya. Lucy hanya bisa berkata, "Sabar ya!" pada Angel. Angel membalasnya dengan sebuah senyuman.


Dari ruang keluarga Michelle dan Peter muncul bersama. Untuk ikut bergabung di ruang tamu bersama Angel dan Lucy. Mereka terlihat sangat bahagia. Michelle lalu duduk di sofa lain samping Angel dan Peter duduk di depan Angel.


"Angel, Ibu sudah dengar semuanya dari Pierre. Barusan dia menceritakannya pada Ibu! Sayang, Ibu sungguh sangat berterima kasih kepadamu karena telah menolongnya," ucap Michelle tulus sambil memegang tangan Angel dengan lembut.


"Sama-sama, Bu!" balas Angel yang ikut tersenyum senang melihat kebahagiaan Michelle.


Dan kini giliran Lucy yang angkat bicara. Setelah keinginannya untuk protes tertahan tadi.


"Nama aslinya Pierre! Dia adalah suami Ibu yang sudah lama sekali menghilang," jawab Michelle sambil tersenyum kemudian menatap Pierre penuh cinta.


"Maaf, Nona Lucy dan Nona Angel, aku berbohong pada kalian mengenai namaku. Karena aku pikir untuk berjaga-jaga dan demi keselamatan kita semua jadi aku berusaha menyembunyikan jati diriku sebenarnya. Nama asliku Pierre. Seperti yang Michelle katakan aku adalah suaminya dan dua Nona ini pasti kenal dengan Neville, ah maksudku Lei. Dia adalah putraku. Michelle bilang kalian teman sekelas," jelas Peter yang sesungguhnya adalah Pierre.


"Iya betul. Lei dan kami teman sekelas. Lei pasti senang sekali bisa bertemu kembali dengan ayahnya. Dan berkumpul lagi dengan kedua orang tuanya," sahut Angel.


"Ah, Tuan Pe ... Pierre, mohon panggil kami dengan nama saja! Aku sedikit risih dipanggil dengan sebutan Nona oleh orang yang lebih tua. Dan ... ngomong-ngomong aku minta maaf tadi karena telah bersikap kurang sopan kepada anda. Juga sudah berpikiran yang tidak-tidak terhadap anda," ucap Lucy tak enak hati.


"Hahaha ... Tidak masalah! Wajar saja gadis sepertimu bisa berpikir begitu. Kamu mencemaskan temanmu yang tinggal sendiri sementara ada orang asing yang bisa saja berbuat jahat di rumahnya. Namun aku sungguh sangat berterima kasih kepada kalian. Terutama kepadamu, Angel! Terima kasih telah menolongku dan mempertemukanku kembali dengan Michelle-ku tercinta!" ucap Pierre yang memahami tindakan Lucy.


"Sama-sama, Tuan! Memang sebuah kebetulan yang luar biasa. Seperti ucapan kebanyakan orang bahwa jodoh memang tidak ke mana. Meskipun berpisah lama tapi pada akhirnya bertemu juga. Mungkin seperti inilah," ujar Angel yang diikuti tawa oleh Michelle dan Pierre.


Suasana sore di rumah itu lebih hangat dari biasanya. Dengan kehadiran Michelle dan Pierre serta Lucy membuat suasana rumah yang selalu sepi menjadi lebih hidup. Lama sekali tidak pernah ada kegiatan seperti ini di rumah Angel. Gadis itu pun merasa lebih bersemangat. Namun matahari yang semakin condong ke barat memaksa ketiganya untuk segera beranjak pulang.


"Angel sayang, Ibu dan Pierre akan pulang! Pierre sekarang akan tinggal bersama Ibu. Oh, bagaimana kalau malam ini kamu menginap di rumah Ibu? Sebentar lagi sudah mau makan malam, sekalian kita makan bersama," tawar Michelle pada Angel.


"Tidak, Bu, terima kasih! Aku bisa memasak makananku sendiri," tolak Angel.


"Kamu tidak apa-apa sendirian di rumah? Ibu kasihan kamu tinggal sendiri terus," tanya Michelle memastikan.


"Tidak apa-apa, aku sudah biasa. Ibu tidak perlu cemas!" kata Angel meyakinkan Michelle.


"Baiklah. Kalau begitu Ibu pamit! Lucy, kamu mau pulang juga?" tanya Michelle.


"Iya, Bu!" jawab Lucy.


"Bagaimana kalau besok kita pergi makan? Ibu yang traktir! Hitung-hitung untuk merayakan kedatangan Pierre dan membalas kebaikanmu. Bagaimana? Lucy? Angel?" tanya Michelle dengan antusias.


"Boleh saja! Pasti menyenangkan," jawab Angel.


"Aku ingin ikut ... Tapi, tidak bisa. Besok pagi ada janji dengan mama," ucap Lucy sedih karena tak bisa ikut.


"Hm ... Bagaimana kalau malam saja? Makan malam bersama?" Pierre mengusulkan.


"Nah, kalau itu aku pasti bisa," sahut Lucy bersemangat.


"Aku sih terserah saja! Kapanpun boleh," timpal Angel.


"Sudah diputuskan besok malam! Jadi, besok kalian harus siap-siap, ya! Ibu jemput jam 5 sore. Lucy juga nanti Ibu jemput di rumahmu," pesan Michelle.


"Tidak perlu, Bu. Aku tunggu di sini saja," cepat-cepat Lucy berkata.


"Baiklah. Ibu pulang dulu, ya! Bye, Angel! Jaga diri, ya! Jangan tidur terlalu malam! Dan kalau ada apa-apa telepon Ibu," pesan Michelle. Angel menjawabnya dengan anggukan pasti.


Setelah memeluk dan mencium pipi Angel, Michelle pun pulang bersama Pierre.


"Bye, Angel! Besok malam kamu tidak akan kesepian lagi," goda Lucy sebelum akhirnya pulang. Angel hanya tertawa sambil melambaikan tangan pada sahabatnya itu.


Setelah Lucy menghilang di jalan barulah Angel menutup pintu. Suasana sepi seperti biasanya pun kembali hadir di rumah itu. Angel menghela nafas menatap ruangan yang tadinya ramai itu kemudian berjalan masuk ke ruang keluarga. Ia kembali menyadarkan tubuhnya di atas sofa empuk. Pandangannya menoleh pada sebuah bingkai kecil. Foto dirinya bersama sang mama yang tergeletak di samping telepon. Foto yang diambil setahun yang lalu. Keduanya nampak sangat bahagia dengan senyum merekah di wajah mereka. Bayangan akan kejadian barusan kembali teringat. Saat Michelle memeluk Pierre sambil menangis haru.


'Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu. Ibu Michelle telah menemukan kembali belahan jiwanya yang hilang. Kini mereka adalah satu keluarga yang utuh. Lei pasti sangat senang bisa berkumpul kembali dengan papanya. Ah, Lei ....' Suara hati Angel terhenti.


Sekarang wajah Lei yang muncul di pikirannya. Mengingat saat mereka menghabiskan waktu di ruangan ini. Saat Lei menceritakan tentang dirinya, saat Angel menertawakannya menonton drama, sampai ketika Lei tiba-tiba menciumnya. Semua masih sangat jelas terekam di pikirannya. Meskipun hatinya begitu sakit mengingatnya tapi tak sekalipun ia berniat untuk melupakannya. Perasaan yang telah tumbuh begitu kuat di hatinya sehingga sulit melepasnya.


Ruangan yang sepi seperti biasanya. Hanya Angel sendiri diam meringkuk di atas sofa. Tetesan embun bening jatuh membasahi pipi. Begitu larut dalam kesedihan.