
Gedung sekolah mulai sepi. Murid-murid telah meninggalkan sekolah. Hanya beberapa dari mereka yang masih berdiri di gerbang. Kepala sekolah masih berada di ruangannya. Paman Benny sedang membersihkan lapangan basket. Michelle yang kebetulan berjalan di koridor melihat Paman Benny, ia pun mengangkat tangan untuk menyapa karena jaraknya cukup jauh. Michelle baru hendak meninggalkan sekolah. Paman Benny juga berhenti sejenak dari pekerjaannya untuk membalas Michelle. Tanpa diketahui ada satu sosok makhluk yang sedang melayang di udara tengah mengawasi.
Terlihat pot-pot tanaman gantung yang ada di lantai atas bergoyang pelan. Tepat di bawahnya Michelle sedang berjalan. Tiba-tiba satu dari tiga helai tali penggantung pot tanaman putus. Pot masih terlihat normal. Satu helai tali lain ikut putus. Pot mulai terlihat menjuntai ke bawah. Paman Benny yang masih memperhatikan kepergian Michelle tak sengaja melihat ke lantai atas. Mendapati posisi pot yang akan jatuh, Paman Benny berencana segera ke lantai atas untuk memindahkannya. Namun pot terlihat bergoyang sementara Michelle berjalan tepat di bawahnya. Paman Benny yang merasa pot akan jatuh bergegas mengejar Michelle. Belum sempat sampai di tempat Michelle, pot tiba-tiba meluncur jatuh. Paman Benny langsung berteriak.
"IBU MICHELLE ... AWAS!"
Belum sempat Michelle menoleh, tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan mendorong dirinya sehingga jatuh beberapa langkah ke depan. Pot tanaman yang jatuh langsung pecah ke lantai. Michelle sampai dibuat terkejut melihat pot itu pecah berantakan di lantai. Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika saja pot itu mengenai kepalanya. Paman Benny sampai di depan Michelle.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Paman Benny.
"Aku tidak apa-apa. Tadi itu hampir saja ...," ucap Michelle sambil memegang dadanya sebab kaget.
Kepala sekolah bergegas menghampiri Michelle. "Maaf, aku mendorong Ibu sampai terjatuh," katanya karena tadi dia yang mendorong Michelle.
"Tidak apa. Aku justru berterimakasih. Anda telah menyelamatkan nyawaku. Aku tidak bisa bayangkan jika pot yang jatuh itu sampai mengenai kepalaku," ucap Michelle yang membayangkannya saja sudah membuatnya ngeri.
"Hm, Aneh sekali ... Bagaimana bisa pot ini tiba-tiba jatuh? Padahal baru kemarin aku periksa, talinya masih bagus dan kuat," gumam Paman Benny sambil melihat pot yang pecah di lantai.
"Maaf, Pak, Bu, biar aku bereskan dulu," lanjut Paman Benny kemudian kembali ke lapangan basket mengambil peralatan kebersihan yang ia tinggalkan di sana.
Kepala sekolah dan Michelle mengangguk mengiyakan.
"Syukurlah Ibu tidak apa-apa. Mari, sebaiknya aku antar Ibu pulang. Ibu pasti masih merasa syok," ujar Kepala sekolah yang menawarkan tumpangan.
"Iya. Terima kasih, Pak. Untung saja anda cepat datang menolong. Aku sungguh berhutang budi," kata Michelle yang belum sepenuhnya tenang.
"Tidak perlu dipikirkan, Bu. Mari, kita pergi!" ajak Kepala sekolah.
Michelle akhirnya pulang diantar oleh kepala sekolah. Sementara Paman Benny membersihkan sisa pecahan pot.
Mariabelle yang tengah melayang di dekat koridor itulah yang merupakan dalang dari kejadian ini. Nampak sekali wajahnya yang sangat tidak senang. Apalagi ini sudah kedua kalinya rencananya itu gagal.
"Sial!" umpatnya. Kemudian menghilang bagaikan debu tersapu angin.
Michelle sampai di rumah diantar oleh Kepala sekolah menggunakan motornya. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan, Michelle masuk ke dalam rumah.
Lei berada di ruang tamu. Michelle langsung menjatuhkan diri dengan lemas ke atas sofa sambil mengatur nafas. Lei melihat ibunya yang tak biasa segera pergi ke dapur mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Michelle. Michelle menerimanya sambil tersenyum dan langsung menghabiskan air putih itu. Setelah melihat Michelle agak tenang, Lei bertanya, "Ibu, ada apa?"
"Oh, Neville, Ibu hampir saja celaka," jawab Michelle yang masih merasa ngeri.
"Maksud Ibu?" tanya Lei memastikan ucapan Ibunya.
"Tali sekuat itu kenapa bisa tiba-tiba putus? Apa ada seseorang di lantai atas yang sengaja memotongnya?" tanya Lei sambil berpikir.
"Mana mungkin? Semua murid sudah meninggalkan sekolah. Hanya Paman Benny yang saat itu sedang membersihkan lapangan basket dan Kepala sekolah saja. Tidak mungkin ada orang lain di lantai atas. Lagipula siapa yang tidak punya kerjaan sampai memotong tali penggantung pot tanaman?" kata Michelle yakin.
"Mungkin ada murid lain yang tidak menyukai Ibu," sahut Lei dengan enteng.
"Itu tidak mungkin. Ibu tidak pernah memiliki musuh sebelumnya," balas Michelle.
"Aneh sekali. Tapi, Ibu tidak apa-apa, kan?" tanya Lei cemas.
"Tenang saja. Ibu tidak apa-apa. Tadi Kepala sekolah yang mengantar Ibu pulang. Karena Ibu sangat kaget," jawab Michelle dengan senyum menenangkan Lei.
"Untunglah," ujar Lei lega.
"Oh, iya, minggu lalu juga ada kejadian serupa. Ibu dengar dari kepala sekolah. Di taman sekolah, tiba-tiba dahan pohon Walnut patah dan hampir menimpa teman sekelasmu, Lucy. Padahal angin tidak terlalu kencang. Dan beruntung juga ada seorang murid yang menariknya menjauh sebelum dahan pohon itu jatuh menimpa dirinya," ucap Michelle menghubungkan kejadiannya yang hampir sama dengan Lucy.
Lei diam mendengarkan sambil berpikir. Dalam hati ia bergumam teringat dengan keramaian di sana kala itu. 'Oh, jadi keramaian itu karena kejadian itu.'
"Akhir-akhir ini mulai muncul kejadian aneh di sekolah. Setelah ini entah siapa lagi yang akan jadi korban. Padahal selama Ibu mengajar di sana belum pernah ada kejadian seperti ini. Sungguh sangat aneh. Neville, Ibu percaya kamu bisa menjaga diri. Tapi, Ibu khawatir pada Angel. Kamu bisa tolong jaga Angel untuk Ibu, kan?!" ujar Michelle kemudian.
Lei langsung menatap Ibunya dengan tanda tanya. Dan kembali bergumam, 'Perempuan itu lagi. Angel.'
Dan saat Lei memaksa untuk mengingat tentang Angel. Mencoba mengingat kejadian sebelum kedatangan Maria, tiba-tiba ....
"Argh!" Lei mengerang kesakitan.
Sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Mendadak ia merasakan sakit kepala yang hebat ketika mencoba mengingat Angel. Bukan lagi pusing ringan seperti biasanya.
"Neville, kamu kenapa?" tanya Michelle panik sekaligus khawatir.
Saat Lei melupakan ingatan tentang Angel, sakit kepala itu perlahan menghilang.
"Tidak apa-apa. Kepalaku tiba-tiba sakit sekali," jawab Lei.
"Seingatku malaikat tidak pernah sakit," gumam Michelle mengingat-ingat. Karena ia sendiri hampir lupa dengan ingatannya ketika masih seorang malaikat.
"Mungkin karena wujudku sekarang manusia. Aku akan kembali ke wujud asli. Ibu, istirahatlah! Ibu tidak perlu mencemaskan apa-apa. Aku akan berusaha memenuhi permintaan Ibu," kata Lei sambil tersenyum. Setelah itu ia menghilang.