
Di sekolah, ketika jam istirahat. Seperti biasanya Maria akan langsung mengajak Lei keluar dari kelas begitu lonceng istirahat berbunyi. Mereka berjalan ke luar. Lei sempat menatap Lucy saat melewati tempat duduknya. Tapi Lucy tak menyadarinya, ia sibuk mencari buku catatan sejarah di dalam tasnya. Lei masih penasaran mengenai Angel. Ia sebenarnya ingin bicara pada Lucy. Namun jelas itu tidak akan mudah dengan Maria yang selalu menempel di sampingnya. Maria pasti tidak akan pernah mengijinkan hal itu terjadi.
Setelah mendapatkan buku yang dicari, Lucy membawanya ke taman sekolah untuk dibaca. Berhubung ada ulangan dadakan seusai jam istirahat jadi Lucy menggunakan waktu istirahat untuk membacanya sebentar.
Lucy sampai di taman sekolah yang tidak terlalu ramai. Beberapa teman sekelasnya juga ada yang terlihat sedang belajar bersama di sana. Lucy memilih duduk di kursi yang lebih teduh. Dengan pohon Walnut yang tumbuh rindang di bawahnya. Hari ini matahari bersinar cukup panas.
Rupanya Maria dan Lei juga berada di sana. Keduanya duduk di tempat yang agak terpojok. Sehingga keberadaan mereka tidak disadari oleh Lucy. Setelah melihat Lucy berada di taman juga, Maria mulai mengawasinya.
Lelah setelah duduk terlalu lama, Lucy memutuskan kembali ke kelas. Ia bangkit berdiri hendak meninggalkan taman. Ia berjalan sambil membaca sehingga tidak begitu memperhatikan jalan. Maria masih mengawasinya. Sebuah ide licik muncul di pikirannya. Maria menyunggingkan senyum jahat.
Lucy berjalan di bawah jejeran pohon Walnut sambil membaca, hanya sesekali melihat ke jalan. Ranting pohon Walnut yang melindunginya dari sinar matahari mulai bergoyang tertiup angin. Angin juga memainkan rambut panjang Lucy sehingga membuatnya sedikit berantakan. Dengan sebelah tangannya, Lucy memegang halaman buku yang terbuka dan sebelahnya lagi merapikan rambut. Namun angin tiba-tiba kembali bertiup dengan sedikit lebih kencang sehingga pegangan Lucy pada bukunya terlepas untuk menahan rambutnya yang mulai berterbangan menutupi wajahnya, agar tidak semakin kusut dan berantakan. Setelah tiupan angin mulai mereda dan tak lagi mengacak rambutnya ia membungkukkan badan hendak mengambil bukunya.
Sementara di tempat Maria berada. Nampak senyum di wajahnya semakin lebar.
'Saatnya pertunjukkan.'
Diam-diam Maria menggerakkan ujung jarinya sambil menatap Lucy lekat-lekat. Kemudian pandangannya beralih ke dahan pohon Walnut yang lumayan besar yang berada tepat di atas Lucy. Kemudian Maria menggumamkan sesuatu tanpa bersuara.
Saat Lucy memungut bukunya dan hendak berdiri, sebuah dahan pohon Walnut mulai patah dan terus menjuntai ke bawah yang sebentar lagi akan jatuh menimpanya. Lucy sendiri tidak menyadari hal tersebut.
Saat bersamaan Jeremy juga berada di taman. Beberapa meter dari tempat Lucy. Setelah melihat dahan pohon yang mulai patah terus menjuntai ke bawah dan sebentar lagi akan jatuh menimpa Lucy. Ia dengan cepat segera berlari menuju tempat Lucy berdiri.
"HEI, AWAS!" teriak Jeremy keras lalu menarik Lucy menyingkir dari tempatnya berdiri. Karena tarikan Jeremy yang kuat sehingga membuat mereka berdua sama-sama terjatuh.
Dan saat itu juga "BRUGH."
Dahan pohon Walnut yang lumayan besar jatuh di tempat Lucy berdiri sebelumnya. Untunglah Jeremy cepat menarik Lucy menjauh sebelum dahan itu jatuh menimpanya.
Senyum Maria langsung lenyap begitu melihat rencananya gagal. Jeremy langsung melemparkan pandangannya jauh di pojok taman tempat Maria dan Lei berada. Meski pandangannya kurang begitu jelas tapi ia tahu itu Maria dan Lei. Sepertinya Jeremy tahu apa yang sedang terjadi.
Murid-murid yang berada dekat tempat kejadian langsung mendekat. Lucy nampak kaget.
"A ... Apa yang terjadi?" tanya Lucy terbata-bata yang masih dalam pegangan Jeremy. Ia masih agak shock karena kejadian barusan begitu cepat dan tiba-tiba.
"Hampir saja kamu tertimpa dahan pohon itu. Apa kamu baik-baik saja?" jawab Jeremy sambil membantunya berdiri dan memegang bahunya takut kalau ia ambruk.
"Astaga ... Benarkah?! Aku baik-baik saja. Terima kasih. Seandainya kamu tidak ada, aku pasti sudah ...," ujar Lucy menggelengkan kepalanya tak berani memikirkan apa yang akan terjadi.
"Sudahlah. Yang penting kamu tidak apa-apa," kata Jeremy menenangkan.
Tak lama setelah itu Kepala sekolah beserta beberapa guru datang melihat. Mereka mendapati dahan pohon Walnut yang sudah tergeletak di tanah. Merasa aneh Kepala sekolah berkata kepada para guru yang datang bersamanya.
"Aneh sekali. Dahan sebesar ini bisa tiba-tiba patah. Padahal angin bertiup tidak terlalu kencang."
"Sebaiknya besok kita panggil tukang untuk memotong dahan pohon yang lain agar kejadian seperti ini tidak terulang," usul seorang guru.
"Ya, benar. Jika dibiarkan bisa membahayakan murid-murid yang bermain di sini," Kepala sekolah menyetujui.
Kemudian Kepala sekolah mendekati Jeremy dan Lucy. Ia bertanya, "Kalian baik-baik saja?"
"Iya. Kami tidak apa-apa, Pak," jawab Jeremy diikuti anggukan Lucy.
Di tempat Maria dan Lei berada. Lei merasa penasaran dengan keramaian yang berada di taman sana. Yang bisa ia dengar hanya suara ribut-ribut dan kerumunan murid serta beberapa guru.
"Kamu tahu apa yang mereka ributkan?" tanya Lei pada Maria.
Lei menatapnya aneh namun mengikutinya juga. Wajah Maria terlihat sangat jengkel karena gagal mencelakai Lucy.
Semua murid telah bubar dan kembali ke kegiatan masing-masing. Di taman, Penjaga sekolah dibantu beberapa guru menyingkirkan dahan pohon yang patah itu. Sementara Jeremy menemani Lucy kembali ke kelasnya. Keadaan Lucy sudah agak tenang.
"Oh ya, kita belum kenalan. Aku Jeremy. Namamu?" tanya Jeremy memulai pembicaraan. Sambil mengulurkan tangan kepada Lucy.
"Lucy," balas Lucy menjabat tangan Jeremy.
'Benar. Ternyata memang dia yang bernama Jeremy,' pikir Lucy dalam hati mengingat percakapan teman sekelasnya waktu itu.
"Kamu terlihat masih shock," kata Jeremy memperhatikan Lucy yang diam.
"Ah, tidak. Aku sudah merasa lebih baik," ujar Lucy.
'Lebih tepat gugup sebenarnya,' lanjut Lucy dalam hati.
Jeremy tersenyum kemudian berkata, "Lain kali kamu harus lebih berhati-hati. Jika angin sedang kencang sebaiknya memang tidak berdiri di bawah pohon."
"Ya. Aku tak pernah menyangka hal seperti ini bakal terjadi. Ini akan jadi pelajaran untukku. Aku sangat berterima kasih padamu," balas Lucy.
"Tidak perlu sungkan. Sudah seharusnya kita saling menolong. Oh, Kelasmu sudah sampai. Masuklah!" kata Jeremy memberi tahu Lucy.
"Oh iya. Baiklah aku duluan. Sekali lagi terima kasih," ucap Lucy sebelum kemudian meninggalkan Jeremy di depan pintu kelas.
Jeremy hanya mengangguk kemudian melanjutkan langkah menuju kelasnya yang berada di sebelah kelas Lucy. Lucy langsung duduk di bangkunya. Memikirkan kejadian barusan dan Jeremy.
Sementara Lei dan Maria berada di atap sekolah. Maria masih sangat kesal dengan kegagalannya. Ia jadi penasaran dengan Jeremy. Karena Jeremy langsung menoleh ke arah dirinya berada setelah insiden itu terjadi. Seolah Jeremy mengetahui perbuatannya.
'Siapa sebenarnya bocah itu?' pikir Maria dalam hati.
Lei yang hanya diam melamun malah memikirkan Angel. Ia masih penasaran dengan ucapan Lucy dan ibunya kemarin. Bahkan ia juga masih belum bisa mengingat apa-apa mengenai Angel. Yang ada malah membuat kepalanya semakin pusing. Maria yang melihat Lei hanya diam saja merasa penasaran dengan apa yang ia pikirkan.
Maria lantas mendekati Lei. Ia memeluknya. Kemudian memejamkan mata dan mulai mendekatkan bibirnya hampir mengenai bibir Lei hendak menciumnya. Kedua sayap putihnya tiba-tiba muncul. Anehnya ada kabut hitam nampak bersembunyi dibalik sayap putih itu. Lei tersadar dan secara refleks menghindar sebelum Maria berhasil menciumnya.
Maria langsung membuka kembali matanya yang terpenjam. Merasa ditolak membuatnya menjadi marah.
"Tidak bisakah sedikit menyenangkan hatiku?" bentak Maria.
"Maaf. Kupikir kita masih dalam area sekolah," jawab Lei spontan.
"Dasar bodoh! Siapa yang peduli dengan hal itu! Kau hanya membuat kemarahanku semakin bertambah," bentak Maria lebih keras. Sayap-sayap putihnya menghilang bersamaan dengan hilangnya kabut hitam itu.
Bel usai jam istirahat berbunyi. Mendengar bunyi bel tanda berakhirnya istirahat, Lei kemudian berkata pada Maria.
"Kita harus kembali ke kelas. Jika kamu masih ingin berada di sini, aku akan masuk sendiri."
Kemarahan Maria masih belum hilang. Matanya menatap tajam pada Lei. Lei tak ingin terlambat masuk kelas mengingat ada ulangan. Jadi Lei tak menghiraukan tatapan Maria dan langsung beranjak pergi tanpa menunggunya.