My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
59# POV Astru - Pertemuan Terakhir



Angel mendengarkan semua cerita Astru dengan seksama. Astru berbalik menatap Angel dengan tangan masih menggenggam cermin. Masih ada hal yang ingin ia ketahui.


"Mengapa bukan nama nenek yang terukir di cermin itu?" Angel bertanya.


Astru tersenyum kemudian menjawab pertanyaan Angel.


"Itu keinginan Eve."


Kemudian dia melanjutkan ceritanya. "Sejak hari itu aku terus menunggu kedatangannya kemari. Berbulan sampai bertahun lamanya, aku masih berharap suatu hari mungkin dia mau datang menemuiku. Karena aku tidak boleh kembali ke dunia manusia atau aku tidak bisa kembali ke Lumina selamanya. Maka yang kulakukan hanyalah duduk di dalam ruangan ini. Menatap pintu di ujung sana. Dulunya pintu itu merupakan jalan masuk antara dunia manusia dan Lumina dengan media cermin. Di dalam ruangan itu dipenuhi cermin seperti ruangan tempat kamu datang tadi. Kalau dulu, kamu akan keluar dari ruangan cermin dan langsung ke tempat ini. Namun sekarang ruangan di balik pintu itu sudah dipindahkan ke tempat kamu muncul tadi."


"Selanjutnya, apakah nenek pernah datang menemui Yang Mulia?" tanya Angel.


"Setelah begitu lama aku berharap. Penantianku memang tidak sia-sia. Hari itu, Eve tiba-tiba muncul di depanku," kata Astru sambil mengenang hari terakhir pertemuannya dengan Eve.


ᴘᴏᴠ ᴀꜱᴛʀᴜ


Hari itu aku sedang menyusun buku-buku ke dalam rak. Saat suara lembut yang sangat kurindukan terdengar memanggil namaku dari belakang.


"Astru."


Aku kaget dan bertanya dalam hati, 'benarkah itu dia?'.


Dengan cepat aku segera berbalik. Dan memang benar itu dia, wanita yang selalu kurindukan selama ini berdiri di sana dengan senyum manisnya yang masih sama seperti dulu.


Aku langsung memeluknya dengan erat. Kerinduan yang selama ini terpendam akhirnya terobati sudah. Eve, pujaan hatiku akhirnya datang menemuiku.


"Eve, akhirnya kamu datang. Aku sangat merindukanmu!" ucapku saking terharunya suara ku terdengar bergetar.


"Aku juga merindukanmu!" bisiknya lembut.


Dia melepaskan pelukannya dan terus menatapku. Namun tatapannya aneh. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang kurang baik dengannya.


"Eve, ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku cemas.


Dia kini menundukkan kepalanya. Awalnya ia berkata, "Aku tidak apa-apa."


Lalu kemudian ia berkata dengan suara kecil yang sepertinya berat untuk ia ungkapkan.


"Astru, aku ... aku akan menikah!"


Bisa dipastikan kalimat itu seperti petir yang menggelegar di hatiku. Aku mencoba untuk tetap tenang. Aku mencoba mencerna kalimat itu memandangnya dari sisi yang baik. Lama kami terdiam setelah Eve berkata demikian. Aku butuh sedikit waktu untuk berpikir bahwa ini pilihan yang tepat untuk Eve.


"Astru, maafkan aku. Aku tidak bermaksud ...," ucap Eve dengan mata berkaca-kaca.


Aku memotong ucapannya dengan cepat. "Aku mengerti. Mungkin dia pilihan yang tepat untukmu!"


"Astru ...."


"Aku tahu kita tidak mungkin bersama. Aku juga tidak mungkin memaksamu. Jadi, apapun keputusanmu, aku ikut berbahagia untukmu!" kataku dengan cepat memotong Eve lagi.


Mencoba untuk tenang di saat seperti ini benar-benar tidak mudah. Aku sampai tak mampu menatap Eve lagi. Aku terduduk di atas sofa dengan pikiran yang semrawut. Dia juga tahu kegusaran hatiku.


"Astru, dengarkan aku ...," pintanya. 


Dia mendekatiku dan bersimpuh di depanku. Lalu dia menempelkan kedua telapak tangannya ke wajahku. Mungkin itu satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk membuatku tenang. Aku baru berani menatap kedua matanya yang telah memerah.


"Kamu tahu, aku tidak ingin kamu meninggalkan dirimu yang penuh keagungan hanya demi untuk bisa bersamaku. Meskipun kamu rela melepaskan hidupmu, namun aku tidak akan pernah tenang. Aku akan dibenci oleh rakyatmu. Sementara aku satu-satunya yang mencintaimu. Sedangkan di sini, begitu banyak yang mencintai dan memujamu," ucapnya dengan lembut.


"Bukankah cinta butuh pengorbanan?" sahutku.


"Aku tetap tidak rela bila caranya seperti itu. Jika cinta memang butuh pengorbanan, maka inilah saatnya. Kita mengorbankan perasaan cinta kita bersama. Kamu harus relakan aku pergi. Dan aku harus rela kehilangan dirimu," katanya dengan berusaha menahan air matanya agar tidak sampai jatuh.


Aku tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Mungkin itu cukup adil menurutnya. Biasanya aku yang menjadi hakim atas segala perkara yang terjadi di duniaku ini. Tetapi, sekarang dirinya yang menjadi hakim atas perasaan kami. Dia wanita yang luar biasa. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Ucapannya benar-benar membuatku tak berdaya.


"Astru, aku tidak akan pernah melupakanmu!" ucapnya sambil melepaskan tangannya dari pipiku.


"Baik, aku mengerti. Apa ... Dia pria yang baik?" tanyaku. 


Mungkin tidak tepat bertanya seperti itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa pilihannya tidak salah.


"Sebenarnya Selda yang mengenalkannya padaku, teman lama suaminya," jawab Eve.


"Oh. Selamat! Semoga kamu bahagia!" ucapku yang berusaha tersenyum padanya menyembunyikan kesedihanku.


"Aku kembalikan gelang ini padamu. Cermin ajaib yang kamu berikan dulu juga ada di dalam kotak ini," katanya dengan menyodorkan kotak itu kepadaku.


Namun aku mendorong kembali tangannya dari hadapanku. Tanpa kusentuh ataupun melihat isinya.


"Itu milikmu! Kalau kamu tidak mau memakainya, simpan saja. Tapi jangan mengembalikannya lagi. Anggaplah itu sebuah kenangan dariku," kataku. Bagaimanapun aku ingin dia memiliki sesuatu dariku yang bisa membuatnya mengingatku.


"Tapi, aku tidak memiliki sesuatu untukmu yang bisa membuatmu mengingatku," ujarnya. Seperti tahu apa yang kupikirkan.


"Aku selalu mengingatmu di pikiran dan hatiku. Aku tidak perlu apa-apa lagi darimu. Waktu yang ku habiskan denganmu adalah hadiah yang paling indah yang kamu berikan untukku," ucapku dengan lembut.


"Aku senang mendengarnya. Kalau begitu, aku boleh minta satu permintaan lagi?" tanyanya dengan wajah tersenyum.


"Apa itu?" tanyaku bingung.


"Kelak jika aku tiada, cermin ajaib ini akan kuberikan kepada anakku. Aku ingin namanya terukir di dalam cermin ini. Jika kamu tidak keberatan, maukah kamu melakukannya untukku?" jawab Eve penuh harap.


"Melakukan apa?" tanyaku tak mengerti.


"Aku ingin kamu memberikan nama pada anakku dan mengukirnya di sini!" jawab Eve sambil mengeluarkan cermin dari dalam kotak dan menyodorkannya padaku.


"Nama pemiliknya akan terukir sendiri di cermin itu," jelasku.


"Dan namanya?" tanya Eve.


Aku hanya diam. Eve menyipitkan matanya dan berlagak cemberut. Topik seperti ini mungkin tidak semenyedihkan perpisahan kami.


"Ayolah, Astru ...." Eve terus menunggu.


"Mengapa kamu ingin aku yang memberikan nama untuk mereka?" tanyaku penasaran. Aku merasa aneh.


"Karena aku mencintaimu!" jawab Eve spontan.


Aku menyengir, lalu berkata, "Itu bukan sebuah jawaban. Jika kamu mencintaiku, kamu tidak mungkin menikah dengan yang lain."


"Oh, apa aku punya pilihan? Aku memang mencintaimu tapi kita tahu keadaannya tidak memungkinkan," ucap Eve. Nampak kehabisan kata-kata. Tapi aku diam menunggu dia mengatakan alasan lainnya. Sepertinya dia mulai bisa menerima keadaan.


"Baiklah, aku hanya berpikir, jika suatu saat mereka tidak sengaja datang kemari, setidaknya kamu mengenali mereka sebagai anak-anakku. Itu saja! Apa bisa dijadikan jawaban?" kata Eve akhirnya.


"Masuk akal. Baiklah!" Aku menyetujui. Lalu aku bangkit berdiri, berjalan perlahan sambil berpikir. Eve menungguku bicara.


"Aku akan memberimu dua nama. Jika dia anak perempuan, dia akan menjadi gadis yang anggun bernama Gracia. Dan jika dia seorang laki-laki, dia haruslah menjadi pelindung dengan nama Raymond. Apa itu cukup?" kataku sambil menatap Eve.


"Cukup, Yang Mulia. Terima kasih!" balas Eve dengan senyum khasnya.


"Aku tidak suka kamu memanggilku seperti itu," kataku membalikkan badan memunggungi Eve.


"Oh, maaf!" ucapnya.


"Astru, kamu benar merelakan aku pergi?" tanyanya sekali lagi.


Aku mengganggukkan kepala tanpa membalikkan badan. Aku tahu dia akan pergi. Rela atau tidak aku harus melepaskannya!


"Kalau begitu, maukah ka.u memelukku untuk terakhir kalinya?" pintanya.


Aku tidak mengerti maksud ucapannya. Namun ini akan menjadi yang terakhir kali aku bertemu dengannya. Setelah itu tidak lagi. Maka aku menuruti permintaannya. Aku berjalan menghampirinya kemudian memeluknya. Dia juga memelukku dengan sangat erat.


"Jangan bersedih, oke! Aku akan selalu mengingatmu!" bisiknya.


"Aku juga!" aku menimpali.


Ku lepaskan pelukannya dengan pelan. Aku tak ingin memeluknya terlalu lama. Aku takut tak bisa membiarkannya pergi. Sebelum dia pergi, aku menatap mata biru gelapnya yang mulai berkaca-kaca. Ku belai pipinya dengan lembut.


"Aku turut bahagia untukmu! Semoga kamu selalu bahagia!" ucapku.


Dan ku kecvp dahinya untuk yang terakhir kali. Dia tersenyum. Berjalan mundur perlahan sambil melambaikan tangan. Bayangan dirinya semakin samar hingga lambat laun menghilang. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Itu adalah pertemuan kami yang terakhir.


Keesokan harinya aku menyuruh pengawalku memindahkan ruang cermin itu dari sini. Karena tak ada lagi sosok yang ingin kutunggu.