My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
50# Menulis Surat



Kicauan burung terdengar sangat merdu. Hangatnya sinar mentari menerobos masuk melalui jendela yang terbuka. Bunga-bunga yang bermekaran menebarkan keharuman. Mengundang sekelompok kupu-kupu cantik untuk menari di atasnya.


Pemandangan yang tidak asing memang. Hanya rasanya sudah lama sekali tidak merasakan hal seperti ini lagi. Louis berdiri di samping jendela, menghirup dalam-dalam udara segar yang berbaur dengan aroma bunga. Rasanya sangat damai.



Sebuah ketukan terdengar kemudian pintu terbuka. Nampak Annabelle dengan seorang malaikat cantik memasuki kamar. Malaikat cantik itu membawa nampan berisi botol obat sedangkan Annabelle membawa nampan yang berisi semangkuk kecil ramuan obat untuk diminum. Kedua nampan itu diletakkan di atas nakas samping tempat tidur. Louis meninggalkan kekagumannya akan alam. Ia melangkah ke tempat tidur kemudian duduk di atasnya, dan mulai melepaskan kancing bajunya. Saat ini, beginilah kegiatan hariannya. Menunggu Annabelle datang untuk mengobati lukanya.


Annabelle mengambil dua botol obat dengan jenis berbeda. Satu botol jenis obat bubuk dan satunya lagi berupa cairan berwarna kuning bening. Kedua jenis obat itu dituangkan ke dalam sebuah wadah keramik lalu diaduk hingga tercampur rata. Baru kemudian Annabelle membalurkan campuran obat itu ke punggung Louis. Di mana luka yang diciptakan Mariabelle meninggalkan bekas sebesar telapak tangan berwarna biru kemerahan yang masih belum memudar. Setelah Annabelle selesai membalurkan obat ke punggung Louis, ia menempelkan telapak tangannya ke luka itu. Dari telapak tangan Annabelle mengeluarkan energi hangat sehingga mempercepat proses penyerapan obat ke area luka. Setelah Annabelle selesai, berikutnya giliran malaikat cantik mengambil nampan berisi mangkuk kecil kemudian menyerahkannya kepada Louis. Louis mengambil mangkuk kecil berisi ramuan obat dan meminumnya hingga habis. Baru diletakkan kembali mangkuk yang telah kosong itu ke atas nampan yang dipegang oleh malaikat cantik.


"Terima kasih, Olive!" ucap Louis pada malaikat cantik. Olive menundukkan kepala sambil tersenyum.



Ia lalu keluar dari kamar Louis membawa nampan yang berisi mangkuk kosong tersebut. Annabelle juga telah selesai untuk pengobatan luarnya. Louis mengenakan bajunya kembali.


"Malaikat juga perlu minum obat untuk penyembuhan. Bagaimana rasanya? Apa masih sakit?" tanya Annabelle.


"Sudah lebih baik. Hanya saja punggungku masih terasa agak sakit. Aku tidak mau kehilangan sayapku, dan dibuang ke Vortua," jawab Louis.


"Jadi, itu sebabnya kamu tidak berubah wujud?!"


"Iya."


"Kamu bisa berpikir sampai sejauh itu. Untungnya lukamu berada di tengah punggung tidak mengenai sayap. Meskipun dalam wujud manusia, kamu juga bisa kehilangan sayap malaikat," kata Annabelle sembari meliriknya.


"Justru dengan wujud manusia ini, resiko kehilangan nyawa jadi lebih besar daripada saat kamu menjadi malaikat. Tubuh manusia sangat lemah, dan juga sangat rapuh. Kamu pasti tahu itu, kan?" Annabelle menjelaskan agar lain kali Louis mengingatnya.


"Aku tahu. Ini pilihanku. Lebih baik kehilangan nyawa daripada diusir dan diasingkan dari dunia sendiri," bela Louis demi mempertahankan harga diri.


Annabelle tersenyum mendengar perkataan Louis. Dia bisa mengerti bagaimana rasanya seorang malaikat terhormat seperti Louis diusir dari Lumina lalu dibuang ke Vortua. Jelas harga dirinya pasti diinjak-injak. Dan semua penghuni Lumina pasti akan menghinanya.


Louis kembali berdiri di samping jendela. Menikmati pemandangan di luar jendela yang indah. Selama masa pemulihan ini, ia sering berdiri di sana sambil menatap ke luar. Karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukannya. Astru sudah tahu perihal masalah ini dan dia masih sedang merundingkannya dengan malaikat petinggi untuk mengambil keputusan yang tepat. Jadi, Annabelle maupun Louis hanya bisa menunggu kapan Astru akan bertindak.


"Kamu tidak memberi kabar pada Angel?" tanya Annabelle tiba-tiba.


"Aku tak mau dia khawatir," jawab Louis mengingat bagaimana reaksi Angel saat dirinya sekarat. Ia tak ingin membuat Angel bersedih karena dirinya.


"Dia pasti lebih khawatir jika kamu tidak memberinya kabar. Bisa jadi dia malah berpikir yang tidak-tidak. Menurutku saja sih!" Annabelle berpendapat.


Ucapan Annabelle barusan membuat Louis terdiam. Dan mulai berpikir sendiri.


'Mungkin benar yang dikatakan Nona Anne. Bisa saja Angel malah berpikir aku tidak selamat karena tak ada kabar berita dariku. Angel pasti sangat sedih sekali. Ah, betapa bodohnya aku.. Aku kan bisa menulis surat untuknya. Mengatakan padanya bahwa aku baik-baik saja dan dia tidak perlu khawatir maupun bersedih. Kenapa baru terpikir sekarang?!' Louis berkata dalam hatinya.


Akhirnya Louis beranjak dari tempatnya berdiri menuju ke meja tulisnya. Annabelle masih memperhatikannya. Diambilnya secarik kertas putih serta pena dari tempatnya.


"Kamu mau menulis surat?" tanya Annabelle dari apa yang ia lihat.


"Iya!" jawab Louis.


Annabelle pun keluar dari kamar Louis. Louis mulai memikirkan kalimat yang akan ia tulis. Dia memulainya dengan pertanyaan sederhana.


╔═.✵.═════════════════════╗


Hai, Angel bagaimana kabarmu? Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar kabar darimu. Kamu mungkin bertanya-tanya, mengapa aku tidak memberimu kabar? Apa aku membuatmu khawatir? Aku minta maaf jika telah membuatmu khawatir. Aku tak bermaksud demikian. Aku hanya tidak ingin kamu cemas, oleh karena itu aku tidak berani menghubungimu. Mungkin aku salah. Karena dengan begitu justru kamu malah akan berpikir yang macam-macam. Aku juga minta maaf rencanamu jadi gagal. Kamu pasti sudah susah payah berusaha agar Lei mau menemuimu, kan?! Tapi, maaf ya, gara-gara aku semuanya jadi kacau.


Sekarang kamu tidak perlu cemas lagi. Karena aku baik-baik saja. Nona Anne merawatku dengan baik. Dia mengobati lukaku dan aku harus minum ramuan obat yang pahit setiap hari. Pasti terdengar lucu, ya?! Malaikat juga harus minum obat. Tapi ya begitulah adanya. Karena tubuh manusia sangat lemah.


Oh, sampai disini dulu ya! Kiranya kedatangan suratku ini tidak mengganggumu. Hanya pesanku, jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Aku akan mengunjungimu lagi setelah lukaku benar-benar sembuh. Berjanjilah, kamu akan menjaga dirimu baik-baik! Karena saat ini aku belum bisa menjadi malaikat pelindungmu. Sampai bertemu lagi, Angel!


^^^Salam dari malaikat pelindungmu,^^^


^^^Louis.^^^


╚═════════════════════.✵.═╝


Louis membaca kembali isi surat yang akan ia kirimkan untuk Angel. Kemudian melipatnya menjadi lipatan kecil dan meletakkannya di atas meja. Sekarang ia berpikir, bagaimana caranya menyampaikan surat ini kepada Angel?


Ini Lumina, dunia malaikat, tempat tinggal White Angel. Jangan berpikir ada kantor pos maupun kotak surat seperti yang ada di dunia manusia. Kalaupun ada juga hanya antar dunia malaikat saja. Louis mengambil surat itu lalu dimasukkan ke dalam saku celananya. Lantas ia pun keluar dari kamarnya. Cukup membosankan terus-terusan di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa. Beberapa hari yang lalu dia memang tidak bisa banyak bergerak karena sedikit gerakan saja membuat luka di punggung dan dadanya sakit. Sekarang sakitnya sudah agak berkurang. Walau luka yang diciptakan Mariabelle tetap membekas. Menurut Annabelle bekas luka itu tidak akan bisa hilang. Meskipun Louis sudah rutin minum ramuan obat dan Annabelle membalurnya dengan obat luar setiap hari. Obat-obat itu hanya mampu menyembuhkan bagian dalam tubuh saja. Serta memulihkan kesehatan Louis. Louis juga tidak mempermasalahkan bekas luka itu, yang penting dia cepat sembuh.


Louis berjalan ke halaman depan kastil. Halaman yang sangat luas itu menyerupai sebuah safana. Dengan padang rumput luas dan jalan setapak dari coral menuju kastil. Di sisi kanan ada Fountain dengan patung putri duyung di tengah yang sedang menuangkan kendi berisi air. Air yang dituangkan sangat jernih dan bening berkilauan. Di tepi Fountain juga terdapat tempat duduk. Sedangkan di sisi kirinya dipenuhi dengan tanaman bunga yang ditata beraturan sesuai jenis dan warnanya. Ada Lavender, Cosmos, Tulip, Chamomille, Rose, sampai Dandelion. Semuanya tumbuh dengan subur. Kebetulan bunga sedang bermekaran sehingga menambah keindahan taman. Kupu-kupu pun terlihat enggan pergi.


Louis memutuskan duduk di tepi Fountain sambil menikmati pemandangan yang begitu indah ini. Dia masih sedang memikirkan Angel.


'Kira-kira apa yang dilakukan Angel sekarang, ya? Apa dia sudah pulang sekolah? Apa sekolahnya baik-baik saja? Apa Nona Mary masih mengganggunya? Aku rindu sekali saat-saat mengobrol dengannya. Saat aku bisa menjaganya dan melihatnya tidur. Apa Angel pernah rindu padaku, ya? Ah, tidak, aku tidak boleh berpikir begitu. Angel mencintai Lei dan tugasku hanya melindunginya. Aku mana boleh berharap lebih?' batin Louis dengan pandangan menatap langit yang biru.


Tiba-tiba seekor merpati yang terbang entah dari mana mendarat di depannya. Merpati itu berjalan mondar-mandir di depan Louis. Hingga Louis melihat Merpati itu. Dia jadi mendapat sebuah ide. Dia menangkap merpati berbulu putih itu. Diusapnya dengan lembut Merpati yang berbulu halus seperti sayap malaikat itu dan membawanya kembali ke tempat duduk. Lalu diacungkan Merpati itu di depan wajahnya.


"Hei, Merpati ... Kamu bisa menolongku tidak?" tanya Louis pada Merpati.


Merpati rupanya mengerti. Meski tak dapat bicara, burung itu menganggukkan kepalanya pada Louis.


Louis tersenyum senang kemudian dia mengambil surat yang telah dilipatnya tadi di saku celana.


"Kamu bisa tolong antar surat ini kepada Angel? Kamu tahu Angel? Dia seorang gadis cantik yang tinggal di dunia manusia. Gadis yang membuatku jatuh hati," kata Louis kepada Merpati.


Burung Merpati kembali mengangguk. Anggukannya lebih cepat dan nampak antusias. Sepertinya dia tahu gadis yang dimaksud Louis.


Louis kembali tersenyum lalu ia meletakkan Merpati itu di tempat duduknya sementara dia pergi ke taman bunga. Mencari tangkai bunga yang bisa dijadikan pengikat. Setelah menemukannya dia kembali ke tempat merpati menunggu.


Louis menggulung surat itu menjadi gulungan kecil kemudian diikat dengan tangkai bunga baru kemudian dililitkan ke kaki Merpati. Sebelum Louis melepaskan merpati itu pergi, ia berpesan, "Kembalilah kemari jika kamu sudah menyampaikan surat itu kepada Angel. Sekarang terbanglah!"


Baru akhirnya Louis melepaskan Merpati pergi. Merpati pun terbang tinggi dan semakin jauh meninggalkan tempat Louis berada. Louis tersenyum lagi berharap Merpati itu segera sampai di tempat Angel. Setelah merpati itu tak terlihat lagi, Louis masuk kembali ke dalam kastil untuk kembali ke kamar.


^^^To be continued....^^^