My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
69# Pulang



Keadaan kamar tidak berubah saat ditinggalkan oleh Angel beberapa hari yang lalu. Sekarang ia tak ada waktu untuk diam melamun di kamar. Ia harus segera mencari keberadaan Maria dan Lei. Angel melirik jam dinding di kamarnya. Pukul 12.48.


"Aku punya waktu sampai besok siang," gumamnya. Ia pun segera keluar dari kamar.


Sesampai di ruang keluarga, Angel menemukan beberapa barang dan koper yang sangat dikenalnya tergeletak begitu saja. Mengertilah dia bahwa mamanya ada di sini dan pasti telah mendengar kabar dirinya yang hilang.


Angel berpikir dirinya akan menjelaskan semuanya dengan detail tetapi tidak sekarang. Sekarang dia harus pergi menemukan orang yang dicintainya atau dia akan kehilangan orang itu untuk selamanya. Dengan segera Angel meninggalkan rumah yang kosong itu.


Bus berhenti di tempat tujuan. Semilir angin membelai rambut Angel yang panjang. Dia berjalan menyusuri pantai yang sepi. Lalu berdiri diam menatap laut yang begitu luas. Dia kembali mengedarkan pandangan ke segala arah. Pantai itu tetap sepi.


"Tidak ada di sini," gumamnya. Dan dia pun pergi.


Dari pantai Angel lalu pergi ke restoran di mana terakhir dirinya dan keluarga Lei makan malam bersama. Ada beberapa pengunjung yang makan di sana namun ia tak menemukan adanya Lei maupun Maria. Lagi-lagi Angel pergi tanpa hasil.


Kini Angel berjalan menyusuri sudut kota. Sambil mengawasi sekeliling, menatap kesana-kemari seperti orang yang tersesat. Hingga hari menjelang petang pencariannya sama sekali tidak membuahkan hasil. Karena sudah tidak sanggup berjalan lagi, dia memutuskan duduk sebentar di kedai minuman. Sambil memijat-mijat kakinya yang pegal.


'Harus mencari ke mana lagi sekarang? Bagaimana bisa menemukan seseorang di kota sebesar ini dengan waktu sesingkat ini? Bahkan tanpa petunjuk apapun. Oh, apa aku harus menyerah? Tidak... Tidak... Aku tidak boleh menyerah. Masih ada waktu sampai besok siang,' batin Angel berusaha menyemangati diri.


Saat duduk-duduk seorang diri, dia menatap ke sekitar kedai dan tanpa sengaja melihat box telepon umum di seberang jalan. Angel kembali berpikir.


'Aku tidak boleh meminta bantuan malaikat, Inger kan bukan malaikat. Dan tentunya tidak akan jadi masalah bukan, kalau aku meminta bantuan mereka?'


Usai berpikir demikian Angel pun beranjak dari tempat duduk. Menyeberang jalan menuju box telepon umum itu berada. Kemudian dia masuk ke dalam sana, mengambil uang koin dan memasukkannya. Lalu menarik gagang telepon, baru saja hendak memencet nomor tujuan tiba-tiba dia berhenti.


"Tunggu dulu, aku kan tidak tahu nomor telepon Jeremy. Ah, mungkin aku menghubungi Lucy saja dulu," katanya.


Jarinya pun mulai sibuk menekan angka-angka yang telah sangat ia hafal. Bunyi tut tut terdengar di seberang telepon. Tak lama suara yang sangat dikenalnya pun terdengar.


[Halo...]


"Halo, Lucy?!" tanya Angel cepat setelah yakin suaranya yang ia dengar.


[Iya. Maaf, ini siapa ya?]


"Lus, ini Angel..."


[Angel! Benarkah itu kamu? Oh, God, darimana saja kamu? Kamu tahu tidak semua orang sedang mencarimu? Kami sangat mengkhawatirkanmu!]


"Hei... Hei... Tenang dulu! Dengarkan aku dulu. Aku baik-baik saja. Saat ini aku butuh bantuan Jeremy. Lus, kamu bisa tolong bantu aku hubungi Jeremy? Ini darurat! Aku tidak punya banyak waktu!" kata Angel.


[Apa yang terjadi? Kamu sudah menemui mamamu?]


"Belum. Aku akan menjelaskannya nanti. Ceritanya panjang. Sekarang aku sangat butuh bantuan kalian berdua, oke!" jawab Angel.


[Kamu di mana sekarang?]


"Di kedai minuman eLMo. Aku tunggu kalian di sini!" kata Angel.


[Oke, aku akan datang secepat mungkin!]


Telepon pun langsung ditutup Lucy sebelum Angel sempat berkata lagi. Akhirnya Angel keluar dari boks telepon umum itu dan kembali ke kedai.


Sekarang dia memesan segelas minuman hangat sambil menunggu kedatangan Lucy dan Jeremy. Dia baru ingat bahwa ia belum makan sejak sarapan pagi tadi. Anehnya perutnya sama sekali tidak merasa lapar. Pikirannya hanya dipenuhi dengan Lei dan cara menemukan Lei.


Hari sudah cukup malam, tak terasa waktu cepat berlalu. Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depan kedai. Dua remaja keluar dari sana dengan tergesa-gesa. Kedua remaja itu langsung mendekati tempat di mana Angel duduk.


"Angel," panggil Lucy. Ia lalu memeluk Angel dengan rindu.


"Kamu harus ceritakan semuanya padaku!" desak Lucy. Angel mengangguk padanya.


"Akhirnya kamu kembali. Senang melihatmu dalam keadaan baik. Jadi, apa yang bisa kubantu, Angel?" tanya Jeremy.


"Kalian berdua memang sahabat yang terbaik. Sebelumnya dengarkan dulu ceritaku," pinta Angel pada kedua sahabatnya. Dan dia melanjutkan ceritanya tentang kepergiannya ke Lumina beberapa hari ini. Terakhir ia ceritakan masalah perjanjiannya dengan Astru. Dan memohon pada Jeremy agar mau membantunya.


"Karena itulah aku butuh bantuanmu, Jeremy! Aku sudah mencari kemana-mana seharian ini dan tidak menemukan hasil. Sementara waktu ku hanya sampai besok siang saja," kata Angel.


"Baik. Kamu sudah mencari di mana saja?" tanya Jeremy.


"Di pantai, restoran, dan di jalanan kota. Aku tidak mungkin menjelajahi seisi kota dalam waktu yang kurang dari 24 jam, bukan?! Sekarang saja sudah begitu malam," jawab Angel.


"Di mana saja tidak masalah. Jadi, kita akan ke mana sekarang?" tanya Angel buru-buru.


"Pulang," jawab Jeremy singkat.


"Pulang? Maksudmu kita akan memulainya di rumah?" Angel memastikan.


"Tidak, kita akan mulai besok pagi. Sekarang sudah terlalu malam," jawab Jeremy tenang.


"Tapi... Aku tidak punya banyak waktu lagi. Aku tidak bisa menunggu sampai pagi...," desak Angel.


"Angel, tenanglah. Kamu harus menemui mamamu dulu dan menjelaskan ini padanya. Dia sangat cemas menunggumu di rumah. Nanti aku dan Jeremy yang akan urus semuanya," giliran Lucy berbicara.


"Tidak, kita baru akan mulai besok. Aku akan menjemputmu jam 5 pagi. Kita akan mulai dari hutan belakang sekolah. Aku harus mencari titik dari tiap sudut kota di mana cermin tidak mampu menjangkaunya. Kuharap kalian hafal letak-letak tempat di kota ini," jelas Jeremy.


Lucy tersenyum dan mengangguk. Lalu menatap Angel. Angel pun akhirnya menyerah.


"Baiklah!"


"Kalau begitu sekarang kita pulang. Akan ku antar kalian sampai di rumah," ucap Jeremy.


Ketiganya pun meninggalkan kedai masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Jeremy. Mobil pun melaju membawa pulang kedua gadis itu.


Malam sudah sangat larut saat Angel tiba di rumah. Lampu-lampu dalam ruangan nampak masih menyala. Dengan hati-hati Angel membuka pintu dan melangkah memasuki rumah. Sampai di ruang keluarga dia melihat mamanya tertidur di atas sofa dengan wajah yang lelah.


Sebenarnya Angel tidak tega membangunkan mamanya. Namun dia juga tidak tega melihat mamanya yang tidur dengan semrawutan dan terus menunggu kepulangannya. Dengan pelan Angel mengguncang tubuh Gracia untuk membangunkannya.


"Ma... Mama...," panggil Angel pelan.


Gracia mulai terbangun. Begitu ia membuka matanya, ia melihat Angel tersenyum padanya. Ia langsung terbelalak.


"Angel! Benarkah ini kamu?" seru Gracia memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.


"Iya, Ma. Angel sudah pulang! Maafkan Angel, Ma! Sudah buat Mama khawatir," kata Angel yang langsung mendekap Gracia dengan penuh rindu.


"Tidak apa-apa, sayang! Yang penting kamu sudah pulang! Mama bisa tenang sekarang. Nah, kamu pasti belum makan, bukan?! Mama buatkan makanan ya!" kata Gracia.


"Tidak usah, Ma! Angel sudah makan di luar tadi! Mama, kenapa tidur di sini? Di sini kan dingin!" ujar Angel.


"Mama menunggumu pulang, sayang. Jeremy bilang sama Mama kalau kamu akan pulang, jadi Mama tunggu sampai ketiduran tadi," jawab Gracia.


"Jeremy tadi menelepon Mama?" tanya Angel penasaran.


"Tidak. Tadi siang dia bilang pada Mama, bahwa kamu sedang menuju ke sini. Dia mencarimu dengan cermin ajaib yang sama seperti yang kamu miliki itu," jawab Gracia.


"Oh... Jadi, Mama sudah tahu Angel ke mana?" tanya Angel dengan lesu.


"Mama sudah tahu semuanya, koq! Memang sulit untuk dipahami. Tapi kita tidak harus memahami semuanya, kita hanya harus percaya bahwa semuanya nyata. Ah, sebaiknya kamu tidur, kamu pasti lelah, bukan?" jawab Gracia tenang.


"Tapi, ada satu hal lagi yang membuat Angel takut, Ma! Angel takut tidak bisa melihat Lei lagi! Angel harus menemukannya. Dia dibawa pergi oleh Maria. Kalau Angel tidak bisa menemukan mereka berdua, Angel tidak akan bisa bertemu Lei lagi dan cermin nenek juga tidak bisa Angel ambil lagi. Waktu Angel hanya sampai besok siang saja," cerita Angel dengan gelisah.


Dengan lembut Gracia membelai putri satu-satunya. Kemudian dengan penuh kasih ia berkata, "Angel, percayalah pada hatimu bahwa kamu pasti akan mampu menemukannya. Meskipun mereka yang memiliki kelebihan tidak bisa menemukan keberadaan Lei. Kamu tak butuh kompas maupun cermin dan alat-alat super untuk menemukannya. Tetapi, cinta sejatilah yang akan menuntunmu kepadanya. Asal kamu percaya bahwa dia-lah orangnya, tak akan ada yang bisa menghalangimu untuk sampai ke tempatnya!"


"Benarkah begitu?" gumam Angel.


"Tentu saja! Yakin dan percayalah! Kekuatan terbesar di dunia ini adalah cinta." Gracia menegaskan.


"Trims, Ma! Aku mengerti sekarang! Aku pasti akan bisa menemukan Lei dan bersamanya kembali! Aku akan pergi besok pagi-pagi sekali! Jeremy dan Lucy akan membantuku," kata Angel.


"Baik. Kalau begitu sekarang istirahatlah! Mama sangat menyayangimu!" ucap Gracia.


"Angel juga, Ma! Angel janji tidak akan buat Mama khawatir lagi. Maafkan Angel ya, Ma!" kata Angel dengan penuh penyesalan.


"Sudah Mama maafkan, sayang! Tidurlah!" kata Gracia sembari mengecup kening Angel.


"Good night, Mama!" pamit Angel yang kemudian berjalan naik ke kamarnya.


^^^to be continued...^^^