My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
47# Apa? Terkunci Lagi?



Dengan setengah berlari Angel pergi ke toilet perempuan. Di jam pulang sekolah toilet memang sepi tidak ada orang. Lagipula siapa yang mau ke toilet saat pulang sekolah kalau tidak benar-benar kebelet. Angel segera menyelesaikan urusannya. Lalu keluar dari toilet itu mencuci tangan sambil bercermin sebentar di wastafel. Usai mencuci tangan Angel berjalan ke pintu. Namun saat dia menarik pintu toilet untuk keluar, lagi-lagi pintu tak bisa dibuka. Dia menariknya dengan lebih kuat namun tetap saja pintu tak mau terbuka.


"Yang benar saja?" ucap Angel tak percaya.


Ini kedua kali dirinya terkunci hari ini. Angel kembali menarik pintu itu sambil menggedor-gedornya. Dia mulai berteriak dengan keras.


"TOLONG .... BUKA PINTUNYA .... SESEORANG BUKA PINTUNYA .... BUKAAAA ...," teriak Angel dari dalam toilet sambil terus menggedor-gedorkan pintu.


"Ya, ampun .... Siapa lagi yang bisa menolongku?" ucap Angel putus asa.


Tiba-tiba lampu di dalam toilet padam. Sehingga ruangan menjadi sangat gelap. Tidak terlihat apapun. Angel semakin panik.


"BUKA PINTUNYA .... TOLONG ...!" teriak Angel dengan lebih keras.


Dia mulai ketakutan. Benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi. Angel terdiam, meringkuk memeluk lutut di samping pintu toilet dan mulai menangis. Entah harus menunggu berapa lama lagi, bertahan di dalam toilet yang gelap dan sunyi ini. Siapapun pasti akan merasa ketakutan. Suara tangisnya pun sampai tidak terdengar. Hanya suara hujan yang terdengar dari luar.


Tiba-tiba terdengar suara dari luar dan pintu akhirnya terbuka. Secercah cahaya menerobos masuk ke dalam ruangan yang gelap. Angel langsung bangkit berdiri dan berlari ke luar. Terlihat Louis dengan sosok manusia berdiri di luar. Spontan, Angel langsung melemparkan diri ke dalam pelukan pemuda itu. Louis terkejut melihat Angel menangis. Namun Louis biarkan saja Angel menangis di dalam pelukannya. Dia mengerti, Angel pasti ketakutan berada di dalam toilet yang gelap itu. Dia mencoba menenangkannya. Dengan pelan mengelus pundaknya.


"Tenanglah, sudah tidak apa-apa," ucap Louis lembut.


Angel masih terisak di pelukan Louis. "Aku ... Aku takut ...."


"Sudah ... Sekarang sudah aman. Maaf, aku tidak bisa datang lebih cepat. Kamu tidak apa-apa, kan? Tidak ada yang terluka?" tanya Louis penuh perhatian.


Angel melepaskan diri dari pelukan Louis. Kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, ayo, kita pulang! Sekolah sudah sepi. Aku antar sampai di rumah!" kata Louis sambil tersenyum lembut.


Angel mengangguk. Mereka berdua berjalan meninggalkan sekolah. Di depan masih ada beberapa murid yang sedang menunggu hujan reda. Louis menatap Angel sebentar. Kemudian berkata pada Angel.


"Angel, kamu bisa berjalan sendiri dan menungguku di depan? Aku akan mengambil mobil. Saat aku masuk tadi tidak ada yang melihatku. Aku tak mau nanti murid yang lain berpikir yang bukan-bukan."


Angel kembali mengangguk.


"Aku akan datang dengan cepat," ucap Louis yang sebenarnya tidak tega meninggalkan Angel sendiri.


Louis langsung menghilang dari samping Angel.


Angel menuruti perkataan Louis. Ia berjalan dengan cepat menunggu Louis di depan. Murid yang lain menatapnya sekilas. Masih ada beberapa teman sekelas Angel, Angel hanya tersenyum kecil pada mereka dan cepat-cepat berlalu agar mereka tidak memperhatikan matanya yang sembab.


Seperti ucapan Louis barusan, pemuda itu datang dengan cepat. Mobil biru yang biasa dia kemudikan telah terparkir di halaman sekolah. Louis keluar dari mobil dengan membawa payung. Sambil berlarian kecil menuju tempat Angel menunggu. Dan membawanya ke mobil dengan lindungan payung. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Mobil biru itu pun meluncur meninggalkan sekolah.


Lagu Unconditionally-nya Katy Perri berputar di dalam mobil menemani perjalanan pulang Angel. Angel menyandarkan kepalanya sedangkan tatapannya mengarah ke luar jendela. Louis memperhatikannya.


"Angel, kamu baik-baik saja?" tanya Louis memastikan dengan cemas.


Angel menoleh padanya dengan wajah tersenyum.


"Aku tidak apa-apa. Terima kasih telah menolongku!" ucapnya. Dan pandangannya kembali mengarah ke luar.


"Syukurlah!" sahut Louis lega.


Keduanya kembali terdiam. Hingga mobil akhirnya berhenti di depan rumah Angel. Louis baru akan mengambil payungnya namun Angel mencegahnya.


"Tidak usah. Nampaknya hujan juga sedikit reda. Tidak akan basah," katanya.


"Em, terserah padamu saja," ujar Louis.


Angel pun membuka pintu mobil dan keluar sambil berlari memasuki teras rumah. Louis juga mengikutinya. Kemudian Angel mencari kunci di dalam tasnya dan membuka pintu. Namun Angel tak segera masuk ke dalam rumah. Keadaan di dalam rumah nampak gelap dilihat dari luar sini. Mendadak ia menjadi takut pada gelap. Sepertinya masih trauma dengan kejadian terkunci di toilet yang gelap tadi.


Louis memperhatikan Angel yang nampak bengong di depan pintu. Lalu melihat ke dalam rumah yang gelap.


"Perlu aku temani?" Louis bertanya karena berpikir Angel mungkin masih trauma.


"Boleh juga," jawab Angel akhirnya. Baru kemudian ia melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti Louis yang berjalan di depan.


"Biar aku nyalakan semua lampunya dulu, ya!" ucap Louis mengerti.


Dengan cepat dia pergi ke seluruh ruangan menyalakan lampu sehingga seisi rumah menjadi terang. Louis memang sudah hapal di mana letak sakral lampu di rumah Angel. Lalu kembali muncul di samping Angel mempersilahkannya untuk segera masuk.


Angel melemparkan diri ke atas sofa ruang keluarga. Raut wajahnya terlihat lelah. Louis duduk di samping menemaninya.


"Kamu benar tidak apa-apa?" tanya Louis memastikan.


Angel mengangguk sambil berkata, "Iya, aku baik-baik saja!"


"Kamu nampak lelah. Mungkin sebaiknya kamu bersihkan diri dulu. Aku akan buatkan makanan untukmu," kata Louis.


"Kamu bisa masak?" tanya Angel tak menyangka.


"Aku belum pernah mencobanya. Tapi, aku yakin kamu pasti akan menyukainya," jawab Louis penuh percaya diri.


"Cepat pergilah mandi. Aku tidak akan mengintip. Sumpah! Meskipun aku sering ke luar masuk ke rumahmu tanpa sepengetahuan mu, tapi tak pernah sekalipun aku bertindak kurang ajar padamu." Louis mengakui.


Bukannya marah Angel justru tertawa mendengar pengakuan Louis.


"Apa yang lucu?" tanya Louis heran.


"Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Baiklah, aku ke atas dulu! Masak yang enak, oke!" kata Angel. Dan dia pun berjalan menaiki tangga meninggalkan Louis di ruang keluarga.


Sampai di dalam kamar Angel menaruh tasnya di kursi kemudian segera mandi. Sementara Louis mulai sibuk di dapur. Dia mencari bahan makanan yang bisa dimasak di dalam kulkas. Mengeluarkan bahan yang dibutuhkan dan mulai mengerjakan bagiannya. Tidak butuh waktu lama untuknya menyiapkan dan memasak makanan yang ada. Dia tidak harus mengerjakan semuanya satu persatu. Karena dengan kekuatannya itu dia bisa membiarkan pisau memotong sayuran sendiri sementara ia mengerjakan yang lain.


Lewat lima belas menit kemudian makanan telah siap. Semangkuk besar Sup ayam jamur yang masih panas tersaji di atas meja makan. Tidak lama Angel turun dan mencium wangi masakan. Dia lalu menuju dapur. Di sana Louis sedang mencuci piring.


"Hm ... Wangi sekali!" puji Angel.


"Sana makan! Nanti keburu dingin," suruh Louis.


Angel menuruti kata Louis. Sebenarnya dia juga sudah tak sabar untuk mencicipi masakan Louis. Ia mengambil semangkuk kecil sup kemudian membawanya ke ruang keluarga untuk makan di sana.


"Mari, makan!" ucap Angel pada Louis.


"Makan yang banyak!" jawab Louis.


Angel mengambil sesendok sup dan meniupnya hingga agak berkurang panasnya baru dimasukkan ke dalam mulut. Kebetulan sekali cuaca sedang dingin, sup panas itu membuat tubuhnya yang dingin sehabis mandi menjadi hangat. Apalagi Louis membubuhkan lada ke dalamnya.


Selesai mencuci piring, Louis ikut bergabung dengan Angel di ruang keluarga. Sambil membawa segelas air putih hangat yang kemudian ditaruh di depan Angel. Ia pun duduk di samping gadis itu.


"Bagaimana rasanya?" tanya Louis.


Louis tertawa senang Angel menyukai masakannya.


"Kalau begitu makanlah yang banyak. Aku memasak banyak untukmu," ujar Louis.


"Kamu tidak mau makan bersamaku?" tanya Angel.


"Tidak. Aku masih sangat kenyang. Kamu saja yang makan," jawab Louis.


"Sebanyak itu mana mungkin bisa aku habiskan sendiri," kata Angel.


"Kamu bisa memakannya lagi nanti. Tinggal panaskan sebentar saja," ujar Louis sambil tersenyum.


"Benar juga. Kalau begitu terima kasih untuk masakanmu. Jadi, nanti malam aku tidak perlu memasak lagi," kata Angel pada Louis.


"Sama-sama!" balas Louis.


Angel selesai dengan makanannya. Diletakkan mangkuk yang sudah kosong itu ke atas meja dan mengambil air putih yang telah disediakan Louis tadi. Dihabiskan air putih itu hingga separuhnya lalu ditaruh kembali ke atas meja. Dia sudah merasa kenyang. Dia duduk menyandarkan kepalanya di sofa. Louis terus memperhatikannya.


"Kamu lelah?" tanya Louis dengan pandangan lembut pada Angel.


"Tidak. Aku malah kekenyangan," jawab Angel.


"Makanmu sedikit begitu bagaimana bisa kekenyangan?!" ujar Louis tak percaya.


"Porsi makanku memang kecil," bela Angel. Lalu ia melanjutkan ke topik yang lebih serius. Ia memutar badannya duduk menyamping menghadap Louis.


"Louis, kamu tahu tidak siapa yang telah mengunciku dua kali hari ini?"


Louis menghela nafas dan terdiam. Ragu untuk menjawab pertanyaan Angel. Haruskah dia katakan atau pura-pura tak tahu. Dia hanya tak ingin menjadikan ini sebagai beban pikiran Angel.


"Hei, kenapa diam saja? Ayo, jawab!" desak Angel melihat Louis yang diam saja.


"Siapa lagi?" kata Louis akhirnya.


"Maria?!" tebak Angel tepat.


Louis mengangguk pelan.


"Sudah ku duga!" ujar Angel kembali memutar badannya ke posisi duduk semula.


"Kamu sudah tahu?" tanya Louis.


"Aku pikir tidak ada orang yang begitu bencinya padaku selain dia," jawab Angel sebal.


"Lalu, kamu mau bagaimana?" tanya Louis menangkap ekspresi sebal Angel.


"Memangnya aku bisa bagaimana? Aku cuma manusia biasa, mana menang melawan malaikat! Huh ...," gerutu Angel.


"Kalau boleh aku sarankan ... sebaiknya kamu membawa cermin Hexagram itu kemanapun kamu pergi, Angel. Cermin itu bisa kamu gunakan untuk teleportasi. Setidaknya cermin itu bisa menolong di saat kamu terkunci seperti tadi. Ingat, aku tidak bisa selalu menolongmu!" Louis mengusulkan.


"Benar juga. Ya, mulai sekarang aku akan terus membawa cermin itu kemanapun," kata Angel mengikuti usul Louis.


Angel terdiam. Dia sedang memikirkan sesuatu. Louis yang berada di sampingnya masih terus memperhatikannya. Jika tebakan Louis tidak salah, dia tahu apa yang dipikirkan Angel.


"Angel," panggil Louis.


"Hem?" gumam Angel tersadar dari lamunannya.


"Apa yang kamu pikirkan? Kalau aku boleh tahu," tanya Louis santai.


"Apa kamu yakin aku bisa mengembalikan Lei?" Angel bertanya kembali. Dia terlihat ragu dengan kemampuannya. Dia menatap Louis meminta pendapat.


Louis tersenyum dan berkata, "Aku percaya padamu. Kamu pasti bisa!"


"Tapi, aku tidak yakin. Apa tidak ada cara lain selain mengingatkan kejadian yang sama yang pernah terjadi kepada Lei?" tanya Angel.


Louis menggelengkan kepala sambil berucap, "Kamu hanya perlu mengulang kembali kejadian yang sama dengan yang pernah kalian lewati bersama dulu. Kamu harus bersabar, Angel!"


Angel justru terdiam mendengarkan ucapan Louis.  Bukan hal mudah untuk mengulang kembali kejadian yang pernah terjadi. Apalagi Lei nampaknya terus menghindari dirinya. Angel benar-benar tidak tahan dengan perlakuan Maria. Kalau dia tidak segera menyadarkan Lei, maka Angel-lah yang akan terus dia kerjai.


Di waktu bersamaan tiba-tiba seseorang muncul entah darimana. Berdiri di hadapan Angel dan Louis untuk menawarkan diri.


"Perlu aku bantu?"


Angel dan Louis langsung terperanjat menatap sosok itu. Gadis yang tidak asing sedang tersenyum kepada mereka.


"Nona Anne ...," ucap Louis.


"Anne, kamu datang darimana?" tanya Angel kaget.


"Aku bisa datang darimana saja!" jawab Annabelle cepat sembari berjalan ke arah mereka dan duduk di antara Angel dan Louis.


"Nona, ada apa gerangan sampai Nona datang kemari?" tanya Louis sopan.


"Aku hanya ingin membantu. Aku tentu tak ingin melewatkan bagianku. Kamu masih ingat, Angel?" ujar Annabelle dengan tatapan genit.


Angel terdiam sebentar. Memikirkan maksud ucapan Annabelle. Untung ingatannya cukup bagus sehingga bisa memahami ucapan Annabelle dengan cepat.


"Ya, aku ingat!" jawab Angel sambil menyunggingkan senyum.


"Jadi, apa rencana Nona?" tanya Louis meskipun ia masih kurang mengerti.


Annabelle tersenyum senang sambil melirik Angel dan Louis. Kemudian mengangkat jari telunjuknya mengisyaratkan pada keduanya untuk mendekat. Saat keduanya mendekat, Annabelle baru membisikkan sesuatu pada kedua temannya itu.


"Bagaimana? Deal?" tanya Annabelle begitu ia selesai mengutarakan rencananya.


"Oke, Deal!" jawab Angel.


"Setuju!" Louis menimpali.


Ketiganya saling menatap sambil melemparkan senyum. Sebuah rencana telah disepakati. Kini tinggal menunggu waktunya saja kapan mereka akan melaksanakannya.


Kira-kira penasaran tidak apa yang bakal mereka lakukan? Ikuti terus ya kisah selanjutnya.. :)


Dukung karya ini dengan memberikan Ads/ Gift/ Vote/ Rate/ Like/ Komen/ agar tetap update. Karena dukungan kecil kalian sangat berarti bagi Author. Dan semua itu gratis!! Jadi, jangan pelit-pelit, ya! Hihihi...


^^^To Be Continued ....^^^