My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
64# Makan Malam Bersama Yang Mulia



Usai makan malam Lei langsung naik ke atas kamarnya. Sedangkan kedua orang tuanya masih asyik mengobrol di ruang keluarga.


Lei membaringkan tubuhnya di atas kasur. Meskipun belum begitu malam. Tapi nampaknya ia kelelahan hari ini. Karena tak berapa lama dia sudah tertidur pulas.


"Lei!" Terdengar suara panggilan seorang gadis.


Lei menoleh namun tidak melihat siapa-siapa. Ia baru menyadari telah berada di pantai yang tadi siang ia datangi.


"Lei ...."ย 


Suara itu kembali memanggil. Tapi tetap sama. Tidak ada sosok siapapun di sana. Bahkan pantai itu pun sepi. Tanpa ada siapapun di sana kecuali dirinya sendiri.


"Lei ...."


Suara itu memanggil lagi.ย Kini diselingi suara tawa. Lei masih kebingungan mencari sosok orang yang memanggilnya.


"Siapa kamu?" teriak Lei ke segala arah.


"Kamu tidak ingat aku? Aku selalu menunggumu Lei. Aku menunggumu ... Di sini! Pantai ini ...," ucap suara itu. Meski tetap tak terlihat ada siapapun di sana. Hanya suara gadis itu saja yang terdengar sendu.


Lei terbangun dengan kaget. Nafasnya terengah-engah. Rupanya mimpi barusan membuatnya terbangun dari tidur. Diliriknya jam weker yang baru menunjukkan pukul 12 tengah malam. Dia turun dari tempat tidurnya menuju kursi belajar. Dia duduk di sana bersandar dengan kepala menengadah ke atas.


"Mimpi apa itu tadi?" gumamnya.


Setelahnya dia tidak dapat tidur lagi. Untuk menghabiskan waktu malam ini akhirnya ia memilih belajar sambil menunggu pagi.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Angel masih berada di dalam kamarnya. Ia berbaring di atas tempat tidur. Sedangkan Esther berdiri di tepi jendela sambil menatap ke luar. Esther menyunggingkan senyum di wajahnya. Ada sesuatu yang membuatnya kembali bersemangat. Di tutupnya jendela kamar dan tirainya. Lalu beranjak menghampiri Angel.


"Nona, Yang Mulia sudah kembali! Ayo, Nona sudah bisa keluar menghadap Yang Mulia!" kata Esther pada Angel.


"Oya?!" sahut Angel. Ia lalu bangkit berdiri. Sementara Esther membantunya merapikan diri.


"Sudah cantik! Ayo!" ajak Esther.ย 


Kemudian dia membukakan pintu kamar bagi Angel. Tepat saat itu Gilbert dan Cello juga tiba di kamar.


"Wow! Nona sungguh cantik!" puji Cello takjub saat Angel melangkah ke luar.


"Ehem!" Gilbert berdehem memberi isyarat pada Cello untuk menjaga sikap. Esther tertawa kecil dan Angel tersenyum tipis sambil mengucapkan "trims".


Lalu mereka berjalan menuju istana menghadap Astru. Gilbert dan Cello mengawal di depan. Sedangkan Angel di belakang mereka dan Esther satu langkah di belakang Angel. Namun Angel meraih lengan tangan Esther dan menariknya agar tidak berjalan jauh darinya. Dia menggandeng lengan Esther supaya langkah mereka sejajar.


"Jangan jauh-jauh, aku takut," ucap Angel setengah berbisik.


"Tenanglah, Nona! Yang Mulia hanya ingin bertemu dengan Nona," Esther menenangkan.


Setelah perjalanan yang berputar-putar akhirnya mereka tiba di istana. Di depan pintu nampak dua orang pengawal berjaga. Gilbert tidak perlu lagi melapor pada pengawal itu, mereka langsung masuk dengan bebas.


Istana yang sungguh besar dan megah. Dengan lampu kristal bergelantungan dan karpet merah di lantai.



Angel merasa dirinya lebih seperti seorang putri yang memasuki istana daripada tahanan yang menghadap raja. Sedangkan Astru duduk tenang sendirian di singgasananya menanti kedatangan seorang manusia biasa yang bukan siapa-siapa. Mereka tiba di hadapan Astru. Kedua pengawal dan Esther langsung memberi hormat.


"Kalian tiba juga!" ucapnya. Kemudian tatapannya jatuh pada Angel.


"Ah, Angel, kamu sangat cantik dengan pakaian itu!" puji Astru.


"Terima kasih, Yang Mulia!" balas Angel sedikit menundukkan kepala.


"Dan terima kasih untukmu, Esther! Kamu membuat Angel-ku menjadi sangat cantik!" ucap Astru pada Esther.


"Sudah tugasku, Yang Mulia!" balas Esther sambil memberi hormat.


Astru turun dari kursi kebesarannya mendekati Angel. "Jika tidak keberatan aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Bagaimana?" tanya Astru dengan senyum ramah.


"Aku hanya ingin makan malam bersamamu. Di suatu tempat yang tak jauh dari istana ini," Astru melanjutkan dengan harap.


"Ah, kamu tidak perlu curiga padaku! Aku tidak berniat jahat kepadamu. Jika kamu belum percaya padaku, aku akan membiarkan Esther turut serta ikut bersama kita. Bagaimana?" tanya Astru memahami keraguan Angel.


"Em ... Baiklah!" Angel menyetujui akhirnya.


Mereka pun berjalan meninggalkan istana. Gilbert dan Cello meninggalkan Astru dan Angel di pintu gerbang istana. Astru berjalan sejajar dengan Angel dan Esther mengikuti mereka di belakang. Kali ini mereka berjalan menuju paviliun yang berada cukup jauh di depan istana. Paviliun tersebut berada di tengah taman bunga yang sedang bermekaran dengan indah.



Nampak di sana dua pelayan sudah menunggu. Sehingga saat mereka tiba semua telah siap di atas meja. Makanan dan minuman sudah terhidang di atas meja dengan kursi untuk dua orang. Esther menarik kursi untuk Angel dan Astru mempersilahkan Angel duduk. Setelah itu Esther bergabung bersama dua pelayan lain di luar paviliun agar tidak mengganggu acara makan mereka.


"Ayo, makanlah Angel! Semua hidangan ini special, kamu pasti tidak akan menemukannya di duniamu!" Astru menawarkan dengan ramah.


Ya, meskipun Angel tidak tahu nama menu makanan yang dihidangkan di meja ini tapi kelihatannya sangat mewah dan tampilannya menggoda selera. Peralatan makan pun lengkap tersedia di sisi kiri-kanan piring dan semuanya berwarna emas. Angel tersenyum tipis. Dan memperhatikan bagaimana cara Yang Mulia di depannya itu menyantap makanannya.


Astru mulai mengiris makanan di dalam piring porselennya. Angel juga melakukan hal yang sama dengan makanannya. Dia memang tidak terbiasa makan seperti ini. Jadi, agak sedikit sulit baginya. Namun karena selembar makanan yang mirip daging ini sangat empuk, jadi tidak sulit memotongnya. Secuil daging dimasukkan ke dalam mulut. Angel sampai tak bisa berkomentar mengenai daging yang terasa lembut di dalam mulutnya ini. Aroma rempahnya sangat kentara dengan sedikit rasa pedas. Angel lalu melanjutkan dengan mencicipi sayuran yang menyerupai putik bunga. Rasanya juga tak kalah enak, manis dan gurih.


Musik yang entah berasal dari mana mengalun lembut menemani makan malam mereka. Selesai menyantap makan malam Astru berdiri dari kursinya. Menghampiri Angel dan mengulurkan tangannya.


"Mau berdansa sebentar, Nona Angel?" tanya Astru.


"A ... Aku tidak pandai berdansa, Yang Mulia," jawab Angel gugup.


"Tidak apa-apa. Aku akan mengajarimu! Mari!" ucap Astru sambil mengulurkan tangannya.


Mau tak mau Angel pun menerima tawaran Astru. Dia meraih tangan Astru dan mereka menjauh dari meja. Kemudian Astru menarik tangan Angel satunya yang kemudian diletakkan di pundaknya. Sementara tangan satunya masih dalam genggaman Astru. Astru pun melingkarkan tangannya ke pinggang Angel. Dan mereka mulai berdansa dengan pelan. Walau begitu Angel masih merasa kaku. Badannya tidak begitu lincah mengikuti langkah Astru. Dia malah bertambah canggung karena pasangan dansanya seorang Raja. Meski demikian dia tetap berusaha menikmatinya.


Selama seharian ini Louis merasa sangat tidak tenang. Dari tadi dia terus mondar-mandir di kamarnya. Sebentar duduk, sebentar berdiri, keluar kamar lalu masuk lagi. Pikirannya benar-benar sedang gusar. Dia baru membuka pintu akan keluar dari kamarnya saat bertepatan dengan kemunculan Olive dari balik pintu yang membuat keduanya sama-sama kaget.


"Olive?!" seru Louis.


"Louis, aku dengar kamu tadi mencari Yang Mulia, bukan? Dia sudah kembali!" kata Olive memberi tahu.


"Di mana Yang Mulia berada sekarang?" tanya Louis cepat.


"Di paviliun. Tapi ...."


"Baiklah, aku akan segera ke sana. Trim,s ya!" ucap Louis dengan cepat memotong ucapan Olive sambil berlari menjauhinya.


"Hei, tunggu dulu! Aku belum selesai bicara," teriak Olive tapi Louis tak menggubrisnya.


"Padahal aku ingin bilang Yang Mulia sedang makan malam dan tidak ingin diganggu. Bagaimana kalau sampai dia mengacaukan acara makan malam Yang Mulia?! Ah, aku ikuti saja!" gumam Olive memutuskan mengikuti Louis.


Dengan fisik manusia apalagi baru pulih dari sakit, Louis memang tidak bisa berlari terlalu cepat. Berlari keluar dari kastil saja sudah membuatnya kecapekan. Louis berhenti dan berjalan. Setelah capeknya berkurang dia kembali berlari. Sedangkan Olive berjalan dengan santai di belakang.


Paviliun sudah dekat di depan mata. Dengan nafas terengah-engah Louis berjalan mendekat. Namun belum sampai di paviliun, dia sudah dicegat oleh Esther dan dua orang pelayan yang tak mengijinkannya mendekat.


"Louis, berhenti disitu!" kata Esther.


"Tapi, Esther aku harus menemui Yang Mulia! Ada hal yang perlu aku tanyakan padanya. Tolong, biarkan aku lewat!" ujar Louis.


"Maaf, Louis, Yang Mulia sedang tidak ingin diganggu!" Seorang pelayan menjawab.


Walau sudah begitu Louis tak mau menyerah. Dia berusaha melihat ke arah paviliun yang berada agak jauh di depan. Dia dapat melihat bahwa Astru sedang berdansa dengan seorang perempuan. Namun Louis tidak dapat melihat wajah perempuan itu karena posisinya memunggungi Louis.


'Apakah itu seorang manusia?' gumam Louis dalam hati.


Louis coba mempertajam penglihatannya. Berusaha melihat dengan lebih jelas siapa perempuan itu. Saat posisi perempuan itu bergerak ke samping, maka nampaklah sebelah wajahnya. Jantung Louis langsung berdegup kencang kala itu. Saat dia bisa mengenali sosok perempuan itu. Dengan lantang dia berteriak memanggil nama perempuan itu.


^^^To be continued...^^^


^^^Jangan lupa komentarnya!^^^