My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
26# Pertemuan Dua Orang



Hari masih pagi dan suasana sekolah masih sepi. Lei menaiki tangga lantai atas menuju tempat di mana pot tanaman yang kemarin jatuh digantung. Rupanya pot-pot tanaman itu sudah dipindahkan. Hanya tersisa tali penggantung saja yang belum dilepas. Sebelum pot dipindahkan ada enam buah pot tanaman yang digantung di sana. Lei memperhatikan satu persatu tali penggantung itu. Tali yang digunakan agak besar, ikatannya juga aman. Dia memperhatikan tali yang putus kemarin. Bekas tali yang putus itu sangat rapi seolah tali itu sengaja dipotong. Lei mencoba menarik tali tersebut. Kondisi tali masih sangat kuat bahkan tidak ada tanda-tanda lapuk atau terlalu lama digunakan. Lei mengerutkan dahi merasa ada sesuatu yang janggal.


'Tali sekuat ini tidak mungkin putus sendiri jika bukan karena ada yang sengaja memotongnya. Tapi, siapa yang melakukannya?' pikir Lei.


Lei meninggalkan tempat itu kemudian berjalan ke taman. Ia ingin melihat seperti apa bekas patahan dahan pohon Walnut. Sayang, sesampai di taman Lei menemukan kebanyakan dahan sudah dipangkas dengan potongan yang hampir sama tiap pohon. Sehingga sulit untuk mencari dahan dari pohon mana yang patah. Ia pun berjalan kembali ke kelas. Di tengah jalan Maria datang dari arah belakang dan langsung memeluk lengannya.


"Pagi, sayang! Hari ini awal sekali," sapa Maria dengan ceria.


Lei tak menggubrisnya dan terus berjalan dengan diam. Maria tetap tak peduli dengan sikap dingin Lei padanya. Selama Lei tidak menolak dan dia bebas mengklaim Lei sebagai pacarnya.


...🍂🍂🍂...


Sekolah berakhir seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa di hari ini untuk Lei maupun Angel. Sikap mereka tetap biasa saja. Lei hanya berani mencuri pandang pada Angel, selain untuk melaksanakan permintaan Ibunya, ia juga menjaga agar kepalanya tidak mendadak sakit seperti kemarin saat ia berusaha mengingat jati diri gadis itu. Angel dan Lucy sudah meninggalkan kelas bersamaan. Mereka berdua berjalan meninggalkan sekolah. Saat mereka sampai di pintu gerbang sekolah, seseorang memanggil Angel.


"Angel!" panggil orang tersebut.


"Louis," seru Angel tak menyangka bahwa orang yang memanggilnya itu adalah teman barunya.


Angel diikuti Lucy berjalan menghampiri Louis.


"Hei, ada keperluan apa di sekolahku? Oh ya, kenalkan ini sahabatku, Lucy. Lucy, ini Louis," ujar Angel memperkenalkan Lucy pada Louis.


Lucy dan Louis saling berjabat tangan sambil mengucapkan nama dan tersenyum.


"Aku mencari seseorang," kata Louis santai.


"Wah ... Pasti perempuan," tebak Angel.


Louis tertawa dan berkata, "Bukan. Dia laki-laki, dia temanku yang kebetulan juga sekolah di sini."


"Oya?! Apa aku kenal? Perlu kami temani sampai temanmu datang?" tanya Angel menawarkan.


"Entahlah. Kupikir tidak perlu. Sebentar lagi dia juga pasti muncul," jawab Louis sambil mengangkat bahu dan mengintip ke dalam sekolah.


"Ya sudah, kalau begitu kami duluan ya! Bye ...," pamit Angel dan diikuti Lucy.


Louis membalas dengan melambaikan tangan pada keduanya. Tidak lama menunggu orang yang ditunggu Louis pun muncul. Louis langsung memanggilnya.


"Jeremy!" panggil Louis.


Jeremy langsung menoleh dan menatap Louis dengan serius. Ia berjalan mendekati Louis.


"Ada perlu apa?" tanya Jeremy.


"Kita perlu bicara. Segera!" jawab Louis sambil melirik ke sekeliling, ia kembali berkata, "Tapi tidak di sini. Kita butuh tempat yang lebih aman."


"Kalau begitu kita bertemu nanti malam di La Vie," ujar Jeremy serius.


"Baik. Aku akan datang jam 8 malam." Louis sependapat.


"Setuju." Jeremy juga menyetujui.


Setelah membuat janji demikian mereka pun berpisah dan masing-masing pergi kearah berlawanan.


...🍂🍂🍂...


Saat malam mulai larut. Jeremy memacu mobilnya menuju La Vie. Tempat janjiannya dengan Louis. La Vie merupakan nama sebuah club elit terkenal didekat perbatasan kota. Karena jaraknya yang cukup jauh dari kota Jeremy berpendapat tempat itu pasti cukup aman. Terutama dari pengawasan Inger maupun malaikat yang menyamar menjadi manusia seperti Maria dan Lei. Malaikat tidak suka datang ke tempat hiburan manusia yang menurut mereka 'kotor'. Mereka tidak suka dengan bau keras alkohol dan tembakau yang menyengat. Meskipun di Lumina mereka memiliki Wine, namun Wine di sana memiliki aroma bunga yang manis dan rasa yang lembut memabukkan.


Dengan kecepatan tinggi Jeremy memacu mobilnya sehingga hanya butuh 45 menit saja untuk sampai di La Vie. Seharusnya pada kecepatan normal memerlukan waktu satu setengah jam. Jeremy memasuki area parkir yang ada di samping gedung. Dan memarkirkan mobilnya di sana. Ia melirik sebentar ke arloji yang baru menunjukkan pukul 19.43. Itu berarti ia sampai lebih awal sebelum waktu yang dijanjikan. Dan berpikir Louis pasti belum tiba.


Jeremy pun turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. Suasana di club ini tidak terlalu berisik seperti pada club-club lainnya. Para tamu juga berpakaian rapi atau malah resmi yang mencirikan bahwa mereka berasal dari kalangan atas. Saat melihat Jeremy masuk, seorang waiters menyambutnya.


"Selamat datang, Tuan! Perlu aku siapkan meja untuk anda? Atau anda sudah memesan tempat sebelumnya?" ucapnya dengan ramah.


"Aku sedang menunggu seseorang. Apa ada tempat yang lebih privasi?" tanya Jeremy.


"Ada. Kami menyediakan beberapa ruang VIP bagi tamu yang membutuhkan tempat khusus," tawar si Waiters sambil tersenyum.


"Tidak perlu terlalu tertutup. Berikan saja aku meja yang agak terpojok dari keramaian. Aku hanya akan bertemu rekan bisnis," ujar Jeremy.


"Tentu. Mari, kuantar!" tawar si waiters. Dan Jeremy mengikutinya di belakang.


Waiters itu berjalan melewati bartender kemudian menaiki sebuah tangga kaca yang ada di ujung kanan club menuju lantai atas. Jeremy terus mengikutinya di belakang. Di lantai atas ini suasananya lebih tenang dan sepi. Kemudian dia membawa Jeremy ke sudut ruangan lantai atas club. Dan berhenti di sebuah tempat duduk dengan sofa kulit yang ditata setengah lingkaran dengan meja kaca bulat di tengah.


Waiters itu membalikkan badan menghadap Jeremy kemudian bertanya dengan ramah. "Bagaimana dengan tempat ini?"


"Aku ambil," jawab Jeremy kemudian memberikan tip pada Waiters.


"Terima kasih. Maaf, boleh sebutkan nama Tuan? Itu akan memudahkan bagiku membawa rekan Tuan ke meja anda," ujar Waiters.


"Jeremy. Rekan bisnisku bernama Louis," kata Jeremy.


"Baik. Kalau begitu aku permisi," pamit Waiters lalu meninggalkan Jeremy.


Jeremy duduk di sofa itu sambil menunggu kedatangan Louis. Seorang Waitress berjalan menghampirinya sambil memegang buku menu.


"Selamat malam, Tuan. Ada yang ingin anda pesan?" tanya Waitress sambil menyerahkan buku menu tersebut.


"Segelas Margarita, please!" jawab Jeremy tanpa menoleh ke buku menu. Sepertinya sudah hafal nama minuman di sini.


"Silahkan tunggu sebentar!" sahut Waitress kemudian berjalan pergi.


Beberapa menit kemudian waitress yang lain datang dengan segelas Margarita dan meletakkannya ke atas meja Jeremy. Jeremy langsung menyesapnya sambil melirik arloji di tangannya.


"Ada yang bisa kubantu, Tuan?" tanyanya.


"Aku mencari seseorang," jawab Louis.


"Maaf. Apa Tuan yang bernama Louis?" tebak Waiters.


"Ya, betul. Aku Louis," jawab Louis heran Waiters itu mengetahui namanya.


"Mari, kuantar! Tuan Jeremy sudah menunggu anda," ajak Waiters.


Waiters pun berjalan di depan menuntun Louis menuju ke tempat Jeremy. Louis mengikuti dari belakang dan matanya terus menjelajahi seisi ruangan club. Jelas sekali Louis belum pernah ke tempat seperti ini. Waiters langsung meninggalkan Louis begitu mereka tiba di meja Jeremy. Setelah sebelumnya berpamitan dengan keduanya.


Louis duduk di atas sofa sambil terus memperhatikan sekelilingnya.


"Tempat pilihanmu lumayan juga. Aku belum pernah ke tempat seperti ini sebelumnya," ucap Louis.


"Jadi, apa masalahnya?" tanya Jeremy langsung to the point.


Louis lalu mengarahkan pandangan ke Jeremy dan bersikap lebih serius.


"Kamu tahu, seseorang yang tidak seharusnya berada di dunia ini mulai membuat ulah?!" tanya Louis.


"So, hanya itu masalahnya?" tanya Jeremy kurang tertarik.


Louis mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Jeremy. Kemudian berkata padanya.


"Kamu seharusnya lebih tahu tentang masalah ini, bukan?!"


Jeremy hanya tersenyum sungging tanpa menoleh pada Louis. Ia memanggil Waitress yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Waitress segera menghampiri sambil menyodorkan buku menu. Jeremy mempersilahkan Louis memilih pesanannya.


Louis membolak-balikkan buku tersebut dengan tak tertarik sekaligus tak mengerti.


'Banyak nama makanan aneh,' pikirnya.


Kemudian menyodorkan kembali pada Jeremy dan berkata, "Aku tidak mengerti dengan makanan di sini. Namanya sangat aneh."


Ia melihat segelas minuman di meja Jeremy yang kelihatannya normal.


"Aku pesan yang seperti punyamu saja. Sepertinya enak," kata Louis.


"Oke. Segelas Margarita lagi, please!" ucap Jeremy pada Waitress sambil menahan tawa melihat kepolosan Louis.


Waitress mengangguk pelan, sambil mengambil buku menunya ia berjalan pergi. Begitu pesanan datang. Louis langsung mencobanya.


"Hm, tidak begitu buruk," komentarnya.


Jeremy hanya menahan tawa sambil menggelengkan kepala.


"Baiklah kembali ke pokok pembicaraan. Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Louis mulai serius.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Tugasku kan hanya mengawasi dan memberi laporan. Aku sudah melaporkan setiap ada kejadian tapi sepertinya Yang Mulia belum ingin bertindak," jelas Jeremy.


"Kamu tahu kan ini masalah serius?! Kurang dari satu minggu saja dua orang hampir celaka. Hampir! Beruntung saat kejadian ada yang melihat dan menolong mereka. Kamu juga yang menolong gadis itu, kan? Sebenarnya apa motif dari kejadian ini?" tanya Louis.


"Sepertinya ini menyangkut masalah perasaan. Cemburu. Posesif. Perasaan ingin memiliki yang berlebihan," jawab Jeremy yakin.


"Cemburu? Siapa yang dicemburui? Apa harus sampai mencelakakan nyawa orang lain?!" tanya Louis kurang paham.


"Ckckck ... Kamu ini ... Apa yang kamu lakukan selama di sini? Aku heran untuk apa Yang Mulia mengirimmu jika kerjamu hanya jalan-jalan saja?" ujar Jeremy heran.


"Bukan Yang Mulia yang mengirimku. Tapi, Nona Annabelle yang menyuruhku," ralat Louis membenarkan.


"Annabelle? Untuk apa dia menyuruhmu kemari?" tanya Jeremy penasaran.


"Aku disuruh mengawasi seorang gadis yang bernama Angel. Selama di luar lingkungan sekolah tentunya dan tanpa sepengetahuan saudarinya dan Neville," jawab Louis.


"Mengawasi Angel? Hm ... Apa Angel tahu kamu malaikat?" tanya Jeremy.


"Tidak. Nona Annabelle melarangku mengungkapkan jati diriku sebenarnya," jawab Louis.


"Oh, menarik. Kamu tahu untuk alasan apa Annabelle menyuruhmu mengawasi Angel?" tanya Jeremy kini ia mulai tertarik.


"Dia tidak mengatakan alasannya. Aku hanya berpikir mungkin untuk mencegah seseorang yang ingin mencelakai dirinya," ujar Louis menurut pendapatnya sendiri.


Jeremy mengembangkan senyum. Lalu berkata pada Louis.


"Kamu tahu bagaimana ceritanya?"


"Sudah aku katakan. Kamu lebih tahu semuanya. Kenapa tidak kamu ceritakan saja apa yang kamu ketahui padaku?" sahut Louis mulai tak sabar.


"Dengar! Kamu seharusnya sudah bisa menebak. Annabelle mengirimmu untuk mengawasi Angel untuk melindunginya dari ancaman saudarinya, Mariabelle, yang lari dari Lumina. Bagi Mariabelle, Angel adalah musuh utamanya," jelas Jeremy bersemangat.


"Mengapa Mariabelle memusuhi Angel? Aku benar-benar masih belum mengerti," kata Louis.


"Karena Mariabelle mencintai Neville. Sedangkan Neville mencintai Angel. Jelas Mariabelle tidak senang. Sehingga memusuhi Angel. Dan karena perasaannya pada Neville yang berlebihan sehingga dia berani mencelakakan orang yang dianggapnya mencoba merusak hubungannya dengan Neville. Yang membuatku penasaran adalah bagaimana Mariabelle bisa membuat Neville jatuh cinta kepadanya. Yang lebih aneh lagi Neville sampai mengacuhkan Angel seolah tidak mengenalnya," jelas Jeremy sambil berpikir.


"Jelas. Itu karena Mary menggunakan ramuan Clema!" sahut seseorang yang datang tiba-tiba dan sudah berdiri di hadapan Jeremy dan Louis.


^^^To be continued ....^^^