My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
56# Tertangkap




Angel menyimpan cermin hexagram-nya ke dalam tas yang ia bawa. Setelah itu dia mulai melangkahkan kaki mencari jalan keluar dari tempat itu. Yang nampak begitu rumit dan memusingkan karena hanya bayangannya saja yang terpantul dimana-mana.


Cukup lama Angel berputar-putar di dalam ruang penuh cermin itu sampai akhirnya ia berhasil menemukan pintu keluar dari sana. Dia segera menuju satu-satunya pintu yang bukan bagian dari cermin dan membukanya.


Saat pintu terbuka, yang ada di depannya hanya sebuah lorong sepi. Sedangkan letak ruang cermin ini berada di ujung. Angel pun keluar dari ruangan penuh cermin itu. Dengan lebih hati-hati, dia berjalan sambil mengamati sekelilingnya. Menyusuri lorong yang entah akan membawanya ke mana. Dinding-dinding lorong berwarna putih gading dengan ukiran berwarna emas. Beberapa patung prajurit berbaju baja juga berdiri kokoh di depan pilar. Di sepanjang jalan dia sudah melewati beberapa pintu yang tertutup yang nampaknya merupakan sebuah kamar atau ruangan. Akhirnya Angel sampai di ujung lorong di mana sekarang dia harus memilih akan pergi ke lorong kiri atau kanan. Angel terdiam sejenak memilih akan ke arah mana. Lalu dengan yakin menentukan langkah ke lorong kiri.


Sama seperti lorong sebelumnya, dinding-dinding di lorong ini juga didominasi warna putih gading. Hanya saja di sini terlihat lebih hidup karena adanya pot bunga besar di setiap beberapa meter. Suasana di sini juga sama sepinya. Angel terus mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Saat itu tiba-tiba ada dua orang pengawal keluar dari salah satu ruangan. Kedua pengawal itu langsung dapat melihat Angel yang berjalan di depan. Angel tidak menyadari kehadiran dua pengawal malaikat itu. Melihat penampilan Angel yang aneh dan berbeda dengan malaikat lainnya, pengawal itu pun langsung meneriakinya.


"HEI KAMU! BERHENTI DI SANA!" teriak salah seorang pengawal malaikat.


Keduanya langsung mengejar Angel. Angel menoleh mendengar teriakan itu. Dan melihat dua orang malaikat berlari ke arahnya.


'Oh, celaka!'


Karena panik Angel pun lari dari kejaran kedua pengawal malaikat tersebut. Tetapi, kedua malaikat pengawal itu tidak menyerah. Bagaimana pun manusia tidak akan menang dari malaikat. Salah satu malaikat menghilang kemudian muncul kembali tepat di depan Angel. Angel kaget dan berhenti berlari. Dia tidak bisa kabur lagi karena jalannya sudah dihadang. Sementara di belakang, dia juga dihadang oleh malaikat satunya.


"Kamu tidak akan bisa lari dari kami!" ucap malaikat yang berdiri di depan Angel yang bernama Gilbert.


"Sebaiknya kita langsung membawanya ke hadapan Yang Mulia!" Cello-- malaikat yang berdiri di belakang Angel mengusulkan.


"Ayo, ikut kami!" ucap Gilbert. Dia langsung mencengkeram lengan Angel. Begitu pula Cello yang memegang lengan satunya agar Angel tidak kabur.


Meskipun Angel sempat memberontak namun percuma saja karena dia tak sekuat kedua malaikat itu. Dia hanya bisa pasrah membiarkan kedua malaikat pengawal itu membawanya.


Kedua malaikat pengawal membawa Angel keluar dari lorong sampai tiba di sebuah ruangan yang luas. Lalu menuruni satu-satunya tangga besar yang ada di sana. Di lantai bawah ada sebuah kolam besar yang terlihat seperti kolam renang tertutup. Karena letaknya di dalam ruangan dengan dinding-dinding kaca sehingga cahaya matahari masih dapat masuk. Dari dalam ruangan ini dapat pula melihat pemandangan yang ada luar.



Kedua malaikat pengawal membawa Angel meninggalkan bangunan itu. Mereka berjalan mendekati sebuah bangunan lain yang tak jauh dari bangunan tadi. Angel masih terus mengamati sekelilingnya. Mereka berjalan memasuki koridor bangunan. Angel langsung dibuat kagum dengan taman yang ada di depan koridor. Begitu indah dengan paparan cahaya matahari yang membuat bunga-bunga di taman itu seperti berkilauan bak permata di bawah sinar matahari. Setelah perjalanan singkat yang memanjakan mata, akhirnya mereka pun tiba. Mereka berhenti di sebuah pintu kaca yang tertutup rapat dengan dua penjaga yang berjaga di sisi kiri dan kanan.


Selanjutnya Gilbert berbicara kepada penjaga. "Tolong buka pintunya! Kami perlu bertemu dengan Yang Mulia. Kami menangkap seorang penyusup di sini!"


Penjaga itu tidak langsung membukakan pintu untuk Gilbert. Dia malah mengamati Angel lebih dulu. Penampilan Angel yang berbeda memang terlihat mencolok.


"Tunggu sebentar! Aku harus melaporkannya dulu kepada Yang Mulia," ucap penjaga yang berdiri di sisi kanan pintu.


Penjaga lalu membuka sedikit pintu kaca dan masuk ke dalam. Tidak terlihat apa yang ada di dalam karena terhalang oleh tirai. Tidak sampai lima menit penjaga itu kembali. Dia langsung membuka pintu dengan lebar agar kedua malaikat pengawal serta Angel dapat masuk. Penjaga itu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya membungkukkan badan mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Terima kasih," ucap Gilbert pada penjaga. Mereka pun masuk ke dalam.


Angel mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan megah yang nampak seperti perpustakaan besar. Terlihat dari rak-rak besar penuh buku di sekelilingnya. Nampak seorang pria tampan nan rupawan duduk di balik meja dengan pena bulu menari di atas selembar kertas.


Gilbert melepaskan tangan dari Angel. Sembari memberi hormat, dia berkata, "Hormat Yang Mulia, maaf, telah mengganggu waktu anda!"


'Oh, jadi ini pemimpin tertinggi para malaikat?' batin Angel.


Astru menghentikan kesibukannya dan menatap Gilbert. Matanya membesar begitu melihat Angel yang dipegang oleh Cello. Angel cepat-cepat menundukkan kepalanya tidak berani beradu tatap dengan malaikat yang paling berkuasa itu.


"Ini penyusupnya?" tanya Astru sambil terus memperhatikan Angel.


"Benar, Yang Mulia. Kami menemukannya seorang diri berada di antara Mirror Way. Kami langsung menangkapnya dan membawanya kemari," jawab Cello.


Astru masih terus memperhatikan Angel. Dia bertanya-tanya di dalam hati.


'Bagaimana manusia ini bisa sampai ke sini?' Perhatiannya berhenti pada tas yang dibawa Angel.


Gilbert mengangguk dan segera melaksanakan perintah Astru. Karena tak mau berlaku kasar jadi dia meminta agar Angel menyerahkan tas itu secara baik-baik.


"Maaf, Nona, aku tidak mau bersikap kasar pada perempuan jadi sebaiknya anda serahkan tas itu kepadaku," ucap Gilbert sambil menjulurkan tangannya pada Angel.


Cello melepaskan tangannya dari Angel. Dan Angel menuruti ucapan Gilbert. Dia melepaskan tas yang dibawanya lalu menyerahkannya kepada Gilbert. Gilbert menerimanya sambil tersenyum puas. Dia juga sempat mengucapkan 'terima kasih' kepada Angel.


Sesuai perintah Astru, Gilbert segera membuka tas Angel dan mengeluarkan semua isinya ke atas meja Astru. Mungkin bukan barang yang penting. Yang dibawa Angel hanya bolpoin dengan memo kecil, ikat rambut, sisir, dompet berisi uang dan kartu identitas, tisu, dan cermin hexagram. Namun ada satu benda yang membuat Astru tertarik. Dia mengambil cermin hexagram itu. Raut wajahnya terlihat menegang sampai begitu serius menatap cermin itu. Kemudian berbalik menatap Angel. Perasaan Angel sedikit tidak tenang ditatap terus seperti itu.


"Darimana kamu mendapatkan cermin ini?" tanya Astru to the point, sementara cermin itu berada dalam genggamannya.


Angel menelan ludah. Dia beranikan diri menatap wajah Astru. Berusaha menjawab pertanyaan Astru dengan jujur.


"Itu ... dulunya milik nenekku!"


"Nenekmu?!" Astru mengulangi sambil mengerutkan dahi. 


Angel hanya menganggukkan kepala.


Astru terdiam sesaat lalu ia mengeluarkan perintah. "Kalian, tolong, keluar sebentar! Aku perlu bicara dengan Nona ini."


Mendengar perintah Astru, Gilbert dan Cello pun keluar dari ruangan itu hingga hanya Angel dan dirinya saja. Astru bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Angel dengan tangan yang menggenggam cermin.


"Siapa namamu?" tanya Astru. Banyak yang ingin ia ketahui mengenai cermin ini. Terutama mengenai pemilik sebelumnya.


"Angel, Yang Mulia," jawab Angel.


"Siapa nama nenekmu?" tanya Astru berikutnya.


"Eve," jawab Angel.


Astru diam tak bergerak mendengar nama itu. Dia menatap Angel lekat-lekat. Nama seseorang langsung muncul di benaknya.


"Dominique Eve?!" gumam Astru.


"Aku tidak tahu nama lengkapnya," jawab Angel.


Meskipun gumaman Astru tidak seperti pertanyaan.


"Ya. Ini milik Dominique Eve, nenekmu," kata Astru begitu yakin.


"Mengapa Yang Mulia begitu yakin?" tanya Angel dengan sedikit berani.


"Aku selalu ingat dengan cermin ini. Kamu pasti datang ke sini dengan cermin ini, benar?" tanya Astru. Angel mengangguk cepat.


"Aku yang memberikan cermin ini kepada Eve. Agar dia bisa datang kemari," jelas Astru pelan.


"Bagaimana mungkin? Bagaimana Yang Mulia bisa bertemu dengan nenek?" tanya Angel kaget, penasaran, semua bercampur aduk. Namun ia juga sangat ingin mengetahui lebih banyak tentang cermin itu.


"Ceritanya panjang," jawab Astru yang kembali mengingat kejadian saat dirinya bertemu dengan Eve, nenek Angel.



^^^To be continued....^^^


^^^Ingat, Like dan Komentarnya. Terima kasih!^^^