
ᴘᴏᴠ ᴀꜱᴛʀᴜ
Sebagai seorang pemimpin di dunia malaikat, aku jarang turun tangan menyelesaikan perkara di lapangan. Aku lebih sering memerintahkan pengawal dan orang-orang kepercayaan untuk melakukannya. Namun ada suatu hari di mana aku merasa sangat bosan, tinggal dan hanya duduk diam di mahligai. Aku juga merasa kesepian. Karena selama eksistensi ku di Lumina, belum pernah kutemukan ada satu sosok istimewa yang mampu meluluhkan hatiku untuk menemani kesendirian ini. Kebetulan saat itu ada suatu masalah yang terjadi di dunia manusia. Aku pun memutuskan turun tangan sendiri untuk menyelesaikan perkara di dunia manusia itu sekaligus untuk menghindari rasa bosan. Berharap mungkin suasana di dunia manusia dapat membangkitkan kembali semangat yang meredup.
Hari itu aku sedang berjalan-jalan di kota. Tanpa sengaja aku melihat seorang wanita yang berdiri di pinggir jalan. Dia nampak kebingungan. Entah mengapa wanita itu sangat menarik perhatianku. Aku pun memutuskan mendekatinya.
"Maaf, Nona, apa ada yang bisa kubantu? Kamu seperti orang yang kebingungan," tanyaku.
Wanita yang memiliki mata berwarna biru gelap itu merasa tertolong dengan kedatanganku. Dengan sedih dia berkata padaku, "Anak kucing yang baru kubeli hilang. Aku sudah mencarinya kemana-mana. Namun tidak juga ketemu. Padahal anak kucing itu akan kuberikan sebagai hadiah ulang tahun keponakanku hari ini. Aku tidak bisa ke sana tanpa kucing itu."
"Kalau begitu biarkan aku ikut membantumu mencarinya. Coba jelaskan di mana kucing itu hilang dan bagaimana ciri-cirinya," kataku berusaha menolong wanita itu.
"Aku meletakkannya di bangku sana sementara aku membeli minuman kaleng di mesin minuman. Ketika aku kembali dia sudah menghilang. Jenis kucing itu Angora dengan bulu putih dan sebelah mata kanannya ada bintik hitam. Dia juga memakai kalung pita berwarna pink. Aku sangat ceroboh meletakkannya begitu saja," jelas wanita itu begitu menyesal.
"Tenanglah, aku pasti akan menemukannya untukmu. Nona, tunggu di sini. Aku akan kembali dengan cepat bersama kucing itu," janjiku pada wanita yang belum ku ketahui namanya itu.
Aku pun pergi dari hadapan wanita itu untuk mencari kucingnya yang hilang. Sebagai malaikat tentu saja hal yang sangat mudah menemukan seekor kucing. Aku bahkan bisa menemukannya dengan cepat. Kucing itu tersesat dan jatuh ke tumpukan sampah kardus. Bulu putihnya nampak kotor. Dengan sedikit magic, bulu kucing itu kembali bersih sebelum akhirnya kubawa kembali kepada wanita yang menungguku di sana.
Wanita itu sangat senang melihat aku membawa pulang anak kucingnya. Aku menyerahkan anak kucing itu padanya dan sedikit berbohong kalau kucing itu bersembunyi di bawah mobil yang terparkir di depan toko sana. Wanita itu percaya saja. Dia terus menggendong kucing itu dan mengelusnya.
"Aku sangat berterima kasih padamu," ucapnya dengan tulus.
"Tidak perlu sungkan. Aku hanya mencoba membantu," balasku.
"Ah, bagaimana kalau Tuan ikut bersamaku ke pesta ulang tahun keponakanku? Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena telah menolongku," Wanita itu menawarkan.
"Dengan senang hati. Tetapi, aku harus kenal dulu, siapa wanita yang mengajakku ke pesta ini?" godaku.
Wanita itu tertawa. "Oh, maaf, aku lupa mengenalkan diri. Namaku Dominique Eve. Nama Tuan?"
"Gustav Marcellio Astru. Panggil saja aku Astru! Aku merasa sangat tua jika kamu memanggilku tuan," jawabku sembari berjabatan tangan dengannya.
"Hahaha ... Baiklah, Astru," sahut Eve.
"Jadi, Nona Dominique ...."
"Panggil Eve saja!" ujar Eve sambil tersenyum.
"Oke. Ehem ... Eve, kita akan ke pesta ulang tahun keponakanmu?" tanyaku berbasa-basi.
"Iya. Kamu tidak keberatan untuk ikut, kan? Pestanya akan dimulai setengah jam lagi," tanyanya.
"Tidak. Hanya saja aku merasa tidak baik, jika aku pergi dengan tangan kosong. Kamu tidak keberatan kalau aku mencari sebuah hadiah untuk keponakanmu dulu?" tanyaku pada Eve.
"Tentu tidak," jawab Eve.
"Kalau begitu bisa tolong beri aku petunjuk seperti apa keponakanmu?" tanyaku lagi untuk memastikan hadiah apa yang cocok untuk diberikan.
"Dia seorang gadis kecil. Namanya Caroline. Ini ulang tahunnya yang ke-delapan. Apa itu cukup sebagai petunjuk?" ucap Eve sedikit menggoda.
"Cukup. Sekarang aku tahu harus membeli apa," kataku yakin pada Eve.
Eve hanya tersenyum menatapku. Kami mulai berjalan. Di depan sana ada sebuah toko perhiasan. Aku berencana akan ke toko itu membeli sebuah hadiah untuk Caroline. Kami sampai di depan toko. Aku mengajak Eve untuk masuk tetapi dia memilih untuk menunggu di luar.
"Ah, tidak. Kamu masuklah! Beberapa toko tidak mengijinkan pengunjung membawa hewan peliharaan masuk. Sebaiknya aku tunggu di sini saja!" kata Eve.
Aku segera masuk ke dalam toko untuk mencari sesuatu yang menarik. Meskipun aku kurang tahu apa yang disukai gadis kecil. Lalu aku memutuskan membeli sebuah kalung dengan bandulan boneka kucing yang lucu. Saat hendak membawanya ke kasir aku melihat sebuah gelang yang cantik. Gelang perak dengan model tali yang disimpul pada simbol hati berhiaskan permata. Aku juga membelinya dengan rencana gelang itu akan kuberikan kepada Eve.
Setelah membayar aku pun meninggalkan toko. Sambil menenteng paper bag berisi kalung untuk Caroline. Sedangkan gelang yang akan kuberikan pada Eve kusimpan di saku celana. Eve langsung menyambutku dengan senyuman. Dengan pertemuan singkat ini, entah mengapa aku jadi sangat menyukai senyum Eve. Aku juga membalasnya dengan senyuman. Dan kami melanjutkan perjalanan ke rumah Caroline.
Kami tiba agak terlambat karena acara telah dimulai dari tadi. Halaman rumah pun penuh dengan para tamu kecil. Melihat kedatanganku dan Eve, Caroline langsung menghamburkan diri kepelukannya.
"Happy birthday, Sayang! Maaf, Aunty terlambat!" ucap Eve sambil mencium pipi Caroline.
"Tidak apa, Aunty!" balas Caroline dengan manja.
"Lihat, anak kucing ini! Kamu suka? Aunty membelinya untukmu!" kata Eve sambil menunjukkan kucing itu.
"Wah, lucu sekali!" ucap Caroline. Dia segera menggendong anak kucing itu sambil mengelusnya.
"Kamu suka?" tanya Eve.
"Aku suka. Terima kasih, Aunty Eve!" kata Caroline.
"Sama-sama. Oh ya, kenalkan ini teman Aunty. Namanya Astru," ujar Eve mengenalkan ku kepada Caroline.
"Halo, Uncle Astru. Aku Caroline," sapa Caroline dengan senyum manis.
"Halo, Caroline. Selamat ulang tahun, ya! Ini hadiah untukmu!" kataku sembari memberikan paper bag itu.
Caroline menerimanya. Dia langsung mengeluarkan isinya yang berupa kotak kecil. Kemudian Caroline membuka kotak itu dan melihat sebuah kalung dengan bandul boneka yang lucu. Dia terlihat senang sekali.
"Cantik sekali. Terima kasih, Uncle!" ucap Caroline.
"Sama-sama. Kamu mau Uncle memakaikannya untukmu?" tanyaku pada Caroline.
"Boleh," jawab Caroline penuh semangat. Ia memberikan kalung itu padaku dan segera membalikkan badan. Aku pun mengambil kalung itu dan memakaikannya di leher Caroline. Ia sangat senang.
"Sekali lagi terima kasih Uncle dan Aunty Eve untuk hadiahnya," ucap Caroline.
"Sama-sama!" balasku berbarengan dengan Eve. Kami tertawa.
"Di mana mamamu, sayang?" tanya Eve.
"Ada di dalam. Ayo!" kata Caroline. Ia berlari ke dalam rumah sedangkan kami mengikutinya.
Mama Caroline berada di ruang makan bersama dua orang tamunya. Caroline langsung memanggilnya dan naik ke pelukannya.
"Mama ... Lihat! Aunty Eve memberikan kucing lucu ini sebagai hadiah ulang tahunku. Dan, Uncle Astru memberiku kalung cantik ini," kata Caroline memberi tahu mamanya tentang hadiah yang dia dapat.
"Hai, Selda!" sapa Eve.
"Oh, Eve. Lama tidak bertemu," balas mama Caroline yang dipanggil Selda itu. Keduanya berpelukan.
"Akhir-akhir ini banyak pekerjaan. Karena hari ini ulang tahun Caroline jadi aku sempatkan diri untuk datang," jelas Eve.
"Ayo, duduklah! Mereka ini tetangga yang tinggal di sebelah rumah," kata Selda mengenalkan dua tamunya.
"Oh ya, perkenalkan ini temanku ... Namanya Astru. Astru ini kakakku, Selda!"
"Hai, salam kenal!" sapa Selda. Ia mengulurkan tangannya.
"Senang bertemu dengan anda!" ucapku membalas jabatan tangan Selda.
"Ayo, kalian duduklah! Aku akan ambilkan minuman," kata Selda yang berlalu ke dapur.
Caroline kembali bermain di luar bersama anak kucing dan teman-temannya. Kami di ruang makan hanya mengobrol santai saja. Selda kembali dengan dua gelas minuman beserta sepiring penuh cake. Lalu ia ikut bergabung mengobrol bersama kami.
Aku merasa sedikit kurang nyaman karena lawan bicara ku semuanya wanita. Jadi, aku minta ijin meninggalkan ruangan. Aku lihat Caroline berada di teras sedang memberi susu pada anak kucingnya. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Uncle, kucingnya minum banyak sekali!" katanya polos.
"Mungkin dia haus," kataku.
"Uncle, anak kucing ini bagusnya diberi nama apa, ya?" tanya Caroline.
"Kamu suka nama apa?" aku bertanya balik.
"Tinkerbell atau Snowbell?" tanya Caroline meminta pendapatku.
"Em ... Karena ini kucing betina, bagaimana kalau kita beri nama Tinkerbell saja?" kataku.
"Hem ... Oke! Kucing manis sekarang namamu Tinkerbell, ya!" kata Caroline pada anak kucingnya. Kucing itu hanya mengeong.
Saat itu Eve muncul dari dalam rumah bersama Selda dan kedua tamunya. Kedua tamu itu pamit untuk pulang. Eve ikut duduk di teras. Sedangkan Selda kembali ke dalam rumah untuk beres-beres.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Eve.
"Aunty, aku dan Uncle sepakat memberi nama Tinkerbell pada kucing ini. Bagaimana menurut Aunty?" ujar Caroline.
"Oh, nama yang bagus. Dia pasti suka nama itu," kata Eve antusias.
"Benarkah?" tanya Caroline.
"He-em," gumam Eve sambil tertawa.
Aku terus memperhatikan Eve. Dia nampak sangat menyayangi Caroline. Aku pun suka melihatnya tersenyum. Ada sesuatu di senyumannya yang membuat jantungku berpacu. Aku merasa ini aneh. Aku baru bertemu Eve tapi aku sudah merasakan perasaan yang khusus kepadanya.
Eve menatapku yang terdiam. Dia kembali tersenyum. "Hari sudah sore. Sebaiknya kita pulang sebelum keburu malam," katanya.
Aku mengangguk menyetujuinya. Setelah kami berpamitan pada Selda dan Caroline barulah kami pergi meninggalkan rumah itu. Kami berjalan dalam diam. Aku sedang mencari waktu yang tepat untuk memberikan gelang yang tadi ku beli padanya. Aku memutuskan mengajaknya ke sebuah tempat.
"Eve, apa kamu keberatan kalau kita pergi jalan-jalan sebentar?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Tidak. Memangnya kita mau ke mana?" tanya Eve.
"Kita ke alun-alun kota saja. Banyak hal yang ingin kuketahui tentang dirimu," kataku.
Eve langsung menatapku mendengar aku berkata demikian. Aku tersenyum. Lalu aku mulai bertanya padanya mengenai pekerjaannya, di mana dia tinggal, kegiatannya, keluarganya sampai hobinya.
"Apa itu penting untukmu?" tanya Eve sebelum dia menjawab semua pertanyaanku.
"Menurutmu?" tanyaku balik.
Eve tertawa sambil menggelengkan kepala. Namun akhirnya dia memberi tahu semuanya juga padaku. Di mana dia bekerja, tempat tinggalnya dan semua yang ingin kuketahui tentang dirinya. Terakhir giliran dia yang mengajukan pertanyaan yang sama padaku.
Aku menjawab pertanyaannya seperti kondisiku saat ini. Aku tidak memberitahunya mengenai jati diriku sebenarnya, belum sampai waktunya tiba. Aku sangat ingin bersamanya. Lelah menyusuri jalanan alun-alun kota, kami memutuskan duduk di sebuah bangku kosong yang mengarah ke sungai. Aku pikir mungkin sekarang waktu yang tepat untuk memberikan gelang itu padanya. Aku merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Kuraih tangannya dan kuserahkan kotak itu kepadanya. Dia kaget dan menatapku dengan tanda tanya.
"Apa ini?" tanyanya.
"Buka saja! Itu untukmu!" kataku.
Eve masih nampak bingung. Dan dengan pelan membuka kotak itu. Dia langsung tersenyum.
"Ini indah sekali!" katanya.
"Kamu suka?" tanyaku lagi.
Eve mengangguk. Namun ditutupnya kembali kotak itu dan diserahkan kembali padaku.
"Aku tidak bisa menerimanya," ucapnya.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Ini bukan hari ulang tahunku. Lagipula kita baru kenal. Aku tidak mau dianggap macam-macam karena menerima suatu pemberian dari orang asing," jelas Eve hati-hati.
"Sudahlah, anggap saja sebagai hadiah perkenalan. Atau ucapan terima kasih karena telah mengundangku ke pesta ulang tahun keponakanmu," kataku sambil menyodorkan kembali kotak itu.
Tapi Eve diam saja. Akhirnya aku membuka kotak itu dan mengambil gelang itu. Lalu ku tarik tangan Eve dan memakaikan gelang itu ke tangannya. Gelang itu sangat cantik di tangan Eve yang kurus. Eve masih merasa tidak enak. Dia berniat melepaskan namun aku mencegahnya.
"Pakailah terus! Jangan pernah kamu lepaskan!" pintaku.
Eve akhirnya menyerah. Dia mengangguk dan berucap, "Terima kasih!"
Kami tiba di depan rumah Eve saat petang menjelang. Aku sengaja mengantarnya sampai ke rumah meski awalnya Eve menolak. Kami masih berdiri di depan rumah sebelum Eve masuk.
"Apa kita masih bisa bertemu?" tanyaku penuh harap.
"Kalau kamu berharap begitu, ya mungkin bisa," jawab Eve.
"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi!" kataku senang.
"Ini kartu namaku!" Eve menyerahkan selembar kartu nama dari dalam dompetnya. Aku menerimanya dengan senang hati.
"Aku masuk dulu!" pamitnya.
"Ya! Sampai bertemu lagi!" kataku sambil melambaikan tangan. Dia juga membalasnya.