My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
43# Mencari Penawar



Di pagi yang cerah, saat Angel dan Lucy memasuki kelas bersama. Mereka melihat Maria duduk di bangkunya sambil menulis. Merasakan hawa yang ia kenal mendekat, Maria pun mendongakkan kepalanya menatap kedua gadis itu.


Keduanya juga balas menatap. Meski telah mengetahui sikap buruk dari Maria tetapi kedua gadis itu masih perlu waspada. Dikarenakan Maria bukanlah manusia biasa, dia bisa melakukan apapun secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan orang lain.


Tatapan mata Maria masih mengikuti Lucy dan Angel sampai mereka lewat di depannya. Tetapi tatapan Angel juga tak kalah tajam padanya. Tidak ada rasa takut di dalam dirinya. Justru keinginannya untuk membebaskan Lei dari jerat Maria lebih besar.


Angel duduk di bangkunya, pandangannya langsung mengarah ke bangku Lei yang masih kosong. Membayangkan Lei memasuki kelas dan menyapanya dengan senyuman hangat. Kemudian menarik tangannya dan mengajaknya ke taman. Tapi sayang hanya sebuah khayalan karena sampai pelajaran dimulai pun Lei belum juga muncul di dalam kelas.


Waktu istirahat Lucy langsung memberondong Angel ke kantin. Lucy nampak bersemangat sementara Angel terlihat lesu. Mereka berjalan melewati koridor. Lucy memperhatikan Angel yang hari ini banyak diam dan wajahnya tak berseri seperti biasanya. Ia lalu mencoba bertanya padanya.


"Angel, dari tadi diam saja?"


"Apa ada yang perlu dibicarakan?" Angel malah balik bertanya.


"Malah tanya balik. Ada apa sih, sepertinya hari ini kurang semangat," ujar Lucy.


"Tidak ada apa-apa," jawab Angel.


"Tidak mungkin tidak ada apa-apa. Pasti ada yang mengganjal di pikiranmu. Ceritakan saja!" pinta Lucy. Ia berpikir sejenak sepertinya tahu apa yang Angel pikirkan. Lalu ia melanjutkan, "Em ... Pasti ada hubungannya dengan Lei! Iya, kan!"


Angel melirik Lucy kemudian mengangguk pasrah.


"Tidak biasanya dia tidak masuk sekolah. Apa karena kejadian sabtu kemarin, ya?! Apa dia menghindariku?" ucap Angel.


"Angel, jangan berpikir seperti itu dulu! Mungkin dia ada kerjaan lain, atau apalah. Mana mungkin menghindarimu!" hibur Lucy.


"Tapi ...."


"Angel, sebentar lagi kita akan pergi mencari penawar untuk Lei. Dia akan kembali menjadi Lei yang dulu. Jadi, bersemangatlah! Buang jauh-jauh pikiran kalau Lei menghindarimu. Dia pasti tidak akan melakukannya kalau dia ingat padamu! Ingat, Angel, yang dia cintai adalah kamu! Dan dia pasti kembali padamu!" ucap Lucy penuh keyakinan.


Angel mulai tersenyum mendengar ucapan Lucy yang penuh keyakinan itu. Perasaannya sedikit lebih baik.


"Trims, ya!" ucap Angel.


"Nah, seperti itu dong ... senyum! Sebagai sahabat aku akan selalu membantu," balas Lucy dengan girang.


Keduanya sampai di ujung koridor dan akan memasuki kantin. Tanpa mereka sadari seseorang membuntuti mereka dan mendengar semua pembicaraan mereka di koridor tadi. Orang itu lalu berhenti di ujung koridor sementara Lucy dan Angel telah berada di kantin.


Ia membalikkan badannya kembali ke kelas sambil bergumam di dalam hati. 'Penawar?! Aku akan mendapatkannya lebih dulu!'


Di jam pelajaran berikutnya bangku Maria telah kosong. Ia mengambil ijin meninggalkan sekolah lebih awal. Angel dan Lucy yang memang tak peduli dengan apapun tindakannya juga tak ambil pusing. Justru mereka merasa lega tidak ada Maria.


Bel pulang sekolah berbunyi nyaring memenuhi seisi sekolah. Dengan cepat Angel dan Lucy pergi meninggalkan kelas. Mereka berlari menuju taman sekolah. Tak lama Jeremy juga tiba di sana.


"Sebaiknya kita ambil jalan memutar saja. Terlalu ramai jika lewat di sini sekarang." Jeremy mengusulkan.


"Baiklah, terserah padamu saja," sahut Angel dan disetujui oleh Lucy.


Lantas ketiganya berjalan keluar dari area sekolah. Mengambil jalan memutar menuju belakang sekolah. Sesekali Jeremy menatap ke belakang dan sekelilingnya. Berjaga-jaga takut ada yang mengikuti terutama Maria. Tak lama mereka sampai di hutan. Mereka pun masuk menerobos hutan dituntun oleh Jeremy sebagai penunjuk jalan. Memasuki hutan yang cukup lebat. Jalan ini berbeda dengan jalan yang pernah dilalui Angel dan Louis dulu. Tidak ada jalan setapak, hanya ada pohon yang tumbuh tinggi besar menjulang. Sinar matahari pun hanya sedikit. Dengan tanah lembab tertutup dedaunan yang berguguran.


Penelusuran mereka akhirnya berhenti di sebuah tanah lapang dengan pepohonan yang jarang. Di sana cahaya matahari dapat menerobos masuk. Bahkan bunga liar tumbuh subur memenuhi tanah lapang itu. Jeremy segera mengeluarkan cermin dari saku celananya. Dan memantulkannya dengan sinar matahari ke segala arah. Tidak lama dari kedalaman hutan terdengar suara gemerisik dedaunan yang semakin lama semakin dekat ke tempat mereka berada. Dan dari dalam hutan muncullah dua sosok malaikat dengan jubah dan sayap putih yang berkilauan. Diikuti seekor Pegasus berwarna putih yang mengepak-kepakkan sayapnya dengan gagah. Di kepalanya bertengger sebuah mahkota kecil dengan Ruby dan Diamond yang berkilauan.


"Wow ... Cantik sekali!" puji Angel kepada Pegasus. Ia langsung berjalan mendekat.


"Jadi, seperti ini rupa malaikat?! Sungguh menakjubkan!" seru Lucy takjub dengan sosok yang di depannya kini.


"Terima kasih atas pujian kalian! Semoga kalian tidak lama menunggu. Dan perkenalkan, ini Crowny!" ucap Annabelle sembari memperkenalkan Pegasus kesayangannya.


"Salam kenal, Nona!" sapa Crowny sambil menundukkan kepalanya dengan hormat.


"Wah ... Bisa bicara!" seru Lucy kaget.


"Salam kenal juga, Crowny. Jadi, kamu yang akan membawa kami?" tanya Angel sambil mengusap leher Crowny.


"Iya, Nona!" jawab Crowny dengan suaranya yang lembut.


"Dia kesayanganku!" ujar Annabelle pada Angel.


"Sebaiknya kita bergegas sebelum hari keburu malam," kata Louis dan Annabelle mengangguk.


"Jeremy, kamu akan ikut?" tanya Annabelle.


"Tidak. Aku banyak tugas hari ini! Setelah kalian pergi aku akan pulang," jawab Jeremy.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang!" Annabelle mengeluarkan perintah.


Dengan bantuan Louis dan Jeremy, Angel dan Lucy naik ke atas punggung Crowny.


"Apa kami terasa berat untukmu, Crowny?" tanya Angel begitu dirinya dan Lucy duduk.


"Tidak, Nona! Aku sangat kuat!" jawab Crowny.


"Oh, syukurah!" ujar Angel.


"Semua sudah siap? Kita berangkat!" seru Annabelle lalu melayang menerobos pepohonan.


"Pegangan yang erat, Nona-Nona!" kata Crowny. Angel dan Lucy mempererat pegangan mereka menuruti ucapan Crowny.


Lalu Crowny mulai berlari sambil melebarkan kedua sayapnya dan ia pun terbang.


"Angel ... Kita terbang ...!" seru Lucy histeris.


"Iya," ucap Angel. Sebelumnya Angel pernah terbang dengan Neville jadi dia tidak begitu tegang.


Mereka terbang menerobos pepohonan kemudian keluar dari hutan. Dan melayang di langit terbuka. Annabelle memimpin di depan sedangkan Louis dan Crowny di belakangnya. Penerbangan mereka hampir mencapai ketinggian 2000 kaki dengan sangat cepat. Lucy sampai tak berani membuka matanya. Bahkan mata Angel pun tak bisa melihat apa yang ada di sampingnya selain Louis. Semuanya nampak berwarna putih.


Semakin lama mereka terbang semakin tinggi. Pegangan kedua gadis itu pun semakin erat pada Crowny. Setelah perjalanan yang cukup lama, kecepatan terbang mereka perlahan berkurang. Lucy membuka matanya saat merasa angin kencang sudah tak menerpa wajahnya. Hanya angin yang berhembus pelan mengikuti kecepatan mereka yang juga pelan. Angel sudah dapat menangkap pemandangan di sekitarnya tapi tetap saja semua nampak putih seperti awan.


Dari balik awan di depan sana muncullah sebuah kota yang indah. Yang dari kejauhan nampak berwarna-warni. Tidak ada istana yang besar, semuanya nampak sama.


Mereka kini terbang di atasnya. Di bawah nampak rumah-rumah beratap merah, ungu dan biru seperti rumah jamur. Sungai-sungai kecil yang mengalir dengan airnya yang biru berkilauan. Bunga-bunga dan pepohonan hijau tumbuh subur. Di depan sana nampak beberapa peri sedang sibuk. Entah apa yang mereka lakukan. Peri itu juga sangat cantik. Mereka memiliki sayap berwarna-warni seperti kupu-kupu. Pakaian mereka juga indah dengan warna yang cerah. Mereka juga menghiasi kepala mereka dengan mahkota bunga. Ukuran tubuh mereka juga tidak berbeda jauh dengan manusia.


Annabelle akhirnya turun di sebuah rumah beratap merah. Diikuti Louis dan Crowny. Louis kembali membantu Angel dan Lucy turun. Setelah itu mwreka berempat masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka. Mereka memasuki rumah yang tidak begitu besar itu. Ada botol-botol berbagai bentuk dan isi yang berbeda tersusun di rak yang menempel pada dinding. Namun banyak botol tergeletak di lantai bahkan ada yang pecah dengan isi yang tumpah.


Annabelle menatap keadaan rumah yang berantakan dengan heran. Begitupun yang lainnya. 


Lucy yang berada dekat di samping Angel berbisik, "Berantakan sekali!"


Annabelle menyipitkan matanya, "Aneh!"


Mereka berjalan masuk ke dalam ruangan yang dipisahkan oleh dinding mozaik. Dan di sana Peri Amorry beserta seorang peri lain sedang memungut botol-botol ramuan yang pecah dan berserakan di lantai.


"Peri Amorry, apa yang terjadi?" tanya Annabelle begitu melihat Peri itu.


"Nona Anne," seru Amorry kemudian menunduk memberi salam diikuti seorang peri lain.


"Ada apa gerangan sampai-sampai membawa manusia datang kemari?" tanya Amorry usai melihat dua orang asing yang berada di belakang Annabelle.


Angel dan Lucy tersenyum sambil menundukkan kepala pada Amorry. Peri Amorry sangat cantik. Wajahnya lancip dengan mata yang berwarna ungu nampak bersinar dan pandangannya meneduhkan. Rambutnya berwarna putih dengan mahkota yang melingkar di atas kepalanya. Sedangkan sayapnya berwarna putih bening.



"Ada yang ingin kami bicarakan!" jawab Annabelle pada Amorry.


Amorry lalu menyuruh peri yang membantunya itu untuk meninggalkan mereka. Setelah peri itu pergi Amorry memulai pembicaraan. "Apa yang ingin kalian bicarakan?"


"Sebelumnya kenalkan dua sahabatku ini, Angel dan Lucy. Sebenarnya sahabat manusiaku ini membutuhkan bantuanmu. Mereka sedang mencari obat penawar!" jelas Annabelle sembari memperkenalkan Angel dan Lucy pada Amorry. Kedua gadis itu mengangguk begitu Annabelle menyebut nama mereka.


"Penawar?" ucap Amorry dengan suara keras sambil menggelengkan kepalanya.


"Begini ceritanya, adikku Mary telah membohongimu. Dia pernah meminta ramuan Clema padamu, bukan? Dia telah memakai ramuan itu untuk membuat seseorang jatuh cinta kepadanya. Bukan pada pemuda yang mencintainya. Ramuan itu telah disalahgunakan olehnya. Jadi, kami ke sini ingin meminta bantuan Peri untuk mendapatkan penawarnya. Agar pemuda itu bisa terlepas dari pengaruh ramuan Clema. Karena ramuan Clema, pemuda itu telah melupakan gadis ini. Orang yang sebenarnya dia sukai. Peri pasti punya penawarnya, bukan!?" jelas Annabelle pada Amorry sembari menunjuk Angel.


"Ku mohon, Peri! Bantulah kami!" Angel memohon.


"Aku bukannya tidak ingin membantu. Namun, penawar itu sudah tidak ada," ujar Amorry serius.


"Tidak ada?" Annabelle mengulangi kalimat Amorry.


"Seseorang telah mengambilnya," lanjut Amorry.


"Siapa?" tanya Angel dan Annabelle bersamaan.


"Nona Mary," jawab Amorry. Annabelle dan Angel saling menatap.


"Tadi Nona Mary datang kemari meminta penawar itu. Aku tidak memberikannya, aku katakan tidak ada penawar untuk ramuan itu. Tetapi, dia tidak percaya dan langsung memporak-porandakan tempat ini. Dia bersikeras untuk mendapatkan penawar itu. Dia mengancam akan menghancurkan semua isi rumah ini jika aku tidak memberikannya. Aku menyerah, dan akhirnya memberikan penawar itu sebelum dia benar-benar menghancurkan semua yang ada di sini. Aku minta maaf, Nona Anne" Amorry melanjutkan dengan rasa sesal.


"Kamu tidak perlu minta maaf. Aku tidak percaya Mary sampai melakukan hal ini. Ini sangat keterlaluan!" ucap Annabelle geram.


"Peri Amorry, bukankah engkau bisa membuat penawar itu lagi?" tanya Lucy.


"Tidak bisa. Hanya ada satu penawar untuk satu ramuan. Jikapun harus membuatnya lagi, itu membutuhkan waktu yang sangat lama," jawab Amorry.


"Jika penawar itu sudah tidak ada ... Lalu kita harus bagaimana? Aku tidak bisa menyelamatkan Lei ... Lei tidak akan pernah mengingatku lagi," lirih Angel yang mulai putus asa.


"Angel, tenanglah! Pasti masih ada cara lain," hibur Lucy yang berada di sampingnya.


"Pantas saja tadi Maria meninggalkan sekolah lebih cepat, ternyata dia .... Ck, kita terlambat selangkah darinya," lanjut Lucy.


"Lantas, adakah cara lain untuk melepaskan efek ramuan itu, Peri?" tanya Annabelle.


"Cara lain ...," gumam Amorry sambil berpikir. Ia lalu berjalan ke arah Angel dan menatapnya. "Mungkin ada satu cara. Tapi, aku tidak jamin cara ini akan berhasil."


"Apa itu? Aku akan mencobanya," sahut Angel cepat.


"Cobalah ingatkan dia tentang apa yang pernah kalian lakukan bersama. Mengulangi kembali apa yang pernah kalian lakukan sebelumnya," jelas Amorry.


"Seperti deja vu!" seru Lucy. Amorry beralih menatapnya sambil tersenyum.


"Benar. Tapi, sekali lagi aku tidak jamin ini akan berhasil. Butuh waktu dan kesabaran," ujar Amorry sambil berlalu dari hadapan kedua gadis itu.


"Tidak ada cara lain lagi?" tanya Annabelle.


Amorry menggelengkan kepala.


"Baiklah, terima kasih atas bantuanmu. Aku sangat menyesal atas perbuatan adikku. Kami harus segera pergi! Maaf, telah mengganggu waktumu, Peri," kata Annabelle.


"Tidak perlu merasa sungkan. Semoga berhasil!" ujar Amorry.


Mereka berempat lalu berjalan meninggalkan kediaman Amorry. Amorry mengantar mereka sampai di depan pintu. Angel dan Lucy menaiki Crowny dibantu lagi oleh Louis. Setelah semuanya siap mereka melayang ke udara. Mereka pulang kembali ke dunia manusia. Dengan kecepatan yang sama seperti tadi. Lucy dan Angel tiba di rumah malam harinya.


...🍂🍂🍂...


Sore yang tenang di danau Venue. Maria berdiri seorang diri di tepi danau. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil lalu membuka penutupnya. Dia kemudian menuang semua isi dalam botol itu ke dalam danau. Serbuk ungu berkilauan jatuh dan menghilang larut oleh air. Setelah semua isi dalam botol habis, dia membuang botol itu begitu saja. Sambil menyunggingkan senyum penuh kemenangan Maria berkata seorang diri.


"Sekarang tidak ada yang bisa memisahkanmu dariku. Neville, kau adalah milikku selamanya!"


Maria pun berjalan pergi meninggalkan danau itu.



^^^To be continued....^^^